
Di ujung kota yang jarang dikunjungi orang. Ada salah satu pemuda tengah duduk bermuram durja ditemani dua temannya.
Mereka tengah minum bersama. Namun, pemuda itu seperti merasa hampa. Tidak ada gairah yang memenuhi hidupnya.
Hanya kelukaan serta sakit hati yang menemani dia.
Pemuda itu lantas meneguk kembali minuman beralkohol tersebut, lantas menyeka salah satu sudut bibirnya.
Adalah Keva Aprianza, pemuda tampan nan gagah, tetapi tak kunjung menikah, karena wanita yang dicintainya menolak untuk bersama.
"Kau kenapa? Apa kau sedang patah hati?" Rido, salah satu teman Keva, merasa heran karena pemuda berkaos hitam itu terlihat aneh.
Sejak tadi ia diam sembari meneguk beberapa botol minuman.
Sesekali air mata pria tampan tersebut jatuh berderai. Sehingga membuat sahabatnya keheranan.
"St, dia memang sedang patah hati. Itulah sebabnya dia mengajak kita kemari untuk menghiburnya," bisik Rafi, teman Keva yang satunya lagi.
Rido mengangguk paham. "Apakah karena wanita bernama Yumi itu?" tanya Rido, berbisik.
"Tampaknya sih begitu." Rafi tidak begitu yakin, bahwa wanita yang membuat sahabatnya itu bermuram durja adalah Yumi.
"Keva, apa kau ingin ke club malam ini?" Karena tak ingin melihat Sang sahabat bersedih, maka Rido pun mengajak Keva untuk menghabiskan malam di club.
Bersenang-senang bersama beberapa ledis di sana.
Rido sudah terbiasa melakukannya bila hendak menuntaskan hasrat. Baik itu dalam kondisi stabil sekalipun.
Rido sungguh hobi mencicipi tubuh wanita kupu-kupu malam.
Ironisnya, dia jarang memakai pengaman. Sehingga menyebabkan beberapa gadis hamil karena kebobolan.
Parahnya lagi, lelaki berkulit sawo matang itu tidak bersedia bertanggung jawab. Menurutnya pernikahan hanyalah hukuman serta membuang-buang waktu saja.
Baiknya hanya tidur satu malam, setelah itu mencari mangsa yang baru lagi.
"Hus! Apa kau sudah gila? Aku tidak mau ikutan." Berbeda dengan Rafi, pemuda dengan hidung mancung itu tak suka melakukannya sebelum janur kuning melengkung di depan rumah.
__ADS_1
Rafi sangat menghormati makhluk berjenis kelamin perempuan tersebut. Ia pun tak mengindahkan ajakan Sang sahabat.
Dia memang minum, tetapi kesadarannya seratus persen penuh.
"Hala... kau selalu saja begitu. Mau sampai kapan kau mempertahankan keperjakaanmu? Berapa usiamu, Bro? Kau bahkan tak pernah berciuman. Dasar payah!" ledek Rido.
"Biarin. Setidaknya aku tak sembarangan membuang sampah dalam tubuhku sepertimu. Aku sangat menjunjung tinggi kaum Hawa. Aku menghormati mereka, karena Ibuku juga seorang wanita," sahut Rafi dengan bangganya.
"Dasar munafik! Diam-diam kau pasti menginginkannya juga, kan? ngaku aja deh." Bagi Rido, pria seperti Rafi adalah makhluk munafik yang pernah ada di dunia ini.
Mereka diam-diam menolak bersetubuh dengan beberapa wanita sebelum wanita. Sedangkan nalurinya justru berkata lain.
Hasrat seksual meronta minta dilepas. Namun, harus berpegang teguh dengan prinsip hidup.
Sangat jarang pria seperti Rafi untuk sekarang ini. Seribu di antaranya, hanya ada satu orang.
"Aku tidak sepertimu Rido! Aku tidak salah menggunakan burungku dalam sembarang sarang. Jika sarang itu bukan tempatku bernaung, lantas mengapa aku harus memasukinya? Terlebih lagi sarang itu dipenuhi bakteri dan kuman. Tidakkah kita akan berpenyakit kelak nanti? Lantas setelah itu apa yang terjadi? Penyesalan. Maka semuanya pun terlambat begitu kau menyadari, bahwa semua yang kau lakukan itu sungguh salah," sarkas pemuda itu.
"Elle! Lalu yang kau lakukan sekarang ini, apa? Apakah menurutmu baik dan sehat? Bukankah alkohol juga dapat menyebabkan sakit?" sangsi Rido, mematahkan paradigma sahabatnya itu.
Meski menikmati minuman khamar, tetapi Rafi sungguh menjauhi perbuatan zina. Dia memang jarang beribadah, apa lagi bersedekah. Akan tetapi, pola hidupnya masih di atas rata-rata. Dimana ia tak mempermainkan wanita seperti sahabatnya.
Satu-satunya perbuatan negatif yang masih ia geluti adalah menikmati khamar.
Rencananya Rafi ingin berhenti, ia pun melakukan secara pelan-pelan.
Hari ini pemuda itu kembali mencicipinya, karena Keva yang meminta.
Menurutnya, tidak seperti biasa Keva mengajaknya minum bersama. Pemuda dengan mata sayu itu bukan pecandu alkohol.
Lain halnya dengan Rido, selain suka bergonta-ganti wanita, dia juga pecandu alkohol sejati.
Maka tak jarang lelaki dengan bulu mata lentik itu ada di setiap club malam demi mencari sensasi berbeda.
"Dasar pria payah! Kalau kau sudah merasakan area ************ wanita, maka kau pasti akan ketagihan. Apa kau tahu mengapa wanita disebut sebagai surganya dunia? Karena mereka benar-benar membuat laki-laki terpanah hanya dalam sekali melebarkan paha. Begitu kau mengerang, maka kau akan ketagihan. Coba saja." Lihatlah, betapa mesumnya Rido.
Sikap dan perbuatannya sangat bertolak belakang dengan nama yang disandangnya.
__ADS_1
Tanpa merasa malu, ia menceritakan pengalamannya dalam berzina.
Sementara dua pria itu berdebat, Keva justru mengingat Yumi.
Wajahnya kerap bermain di pelupuk mata. Senyumannya pun merekah, seolah tengah mengajaknya bercanda.
Kemudian Keva pun mengingat momen kebersamaan mereka selama beberapa bulan terakhir.
Semuanya sungguh sangat indah. Kala itu tak ada yang mencurigakan. Sikap Yumi benar-benar membuainya sampai ke awang-awang.
Hingga akhirnya ingatan pria itu sampai pada peristiwa dimana Yumi menolaknya karena Fabian, Sang mantan suami.
Keva pun semakin emosional. Dia meneguk sebotol minuman keras hingga tandas.
"Hei, pelan-pelan minumnya. Nanti kamu tersedak." Rido memang pria mesum serta nakal terhadap kaum Hawa. Namun, jika menyangkut sahabatnya, ia rela pasang badan.
Itulah salah satu kelebihan Rido. Meski dikenal liar, tetapi hatinya masih menyisipkan kebaikan.
Ia pun merebut botol minuman itu dari Keva.
"Kembalikan!" sarkas Keva, meminta kembali botol minumannya. Namun, Rido menolak. "Tidak!"
Lantas Rido memberi Rafi botol minuman tersebut. Lalu ia pun berkata, "Sebenarnya apa masalahmu, em? Apakah karena wanita yang bernama Yumi itu? Apakah dia begitu spesial sampai kau seperti ini? Mabuk-mabuk tidak jelas!"
"Kembalikan minumanku!" Alih-alih menyampaikan masalahnya, Keva justru meminta kembali khamar tersebut untuk diteguknya.
"Tidak! Sebelum kau memberitahu kami apa yang sebenarnya terjadi." Lalu Rido menjauhkan botol minuman itu dari Rafi.
"Sialan!" Sehingga menyebabkan Keva murka. Ia pun menghantam wajah Rido sekuat tenaga.
Ini adalah bentuk pelampiasan yang sempurnah. Sejak beberapa hari terakhir, Keva ingin memukul seseorang. Kini ia telah mendapatkan kesempatan itu, meski dengan orang yang salah.
Rido jatuh terpental ke lantai. "Keva, apa yang kau lakukan?" Rafi melerainya. Sedangkan Rido mendengus, tanpa berencana membalas perbuatan sahabatnya itu.
Ada sedikit darah di sudut bibir Rido akibat dari pukulan membabi buta tadi.
"Jangan hentikan dia! Biarkan dia melampiaskan amarahnya padaku. Ayo pukul aku jika itu dapat membuatmu lebih baik." Rido sungguh setia kawan. Meski bibirnya sakit, tetapi ia tak peduli. Yang terpenting adalah mental Keva kembali normal.
__ADS_1