
Sabtu itu Yumi menghabiskan waktu di rumah. Berhubung libur, dia pun menikmati akhir pekan.
Membaca novel adalah salah satu hobi wanita itu. Masih terbiasa dengan menggunakan kacamata tebalnya dulu, Yumi menghabiskan waktu berjam-jam di dalam kamar
"Astaga, anak ini. Bukannya jalan-jalan, dia justru membaca novel tak jelas sejak pagi," omel Zara.
"Sayangku, ayo bergegas. Kau harus menemui seseorang sekarang." Zara mengambil novel Yumi dari tangannya.
Kelihatan masih terlalu asik, Yumi pun berdecak sebal.
"Ya ampun, Mama. Ini lagi seru-serunya tau," protes Yumi.
"Bukannya novel ini sudah lebih dari sepuluh kali kau baca? Lantas Apanya yang seru?"
Ya, novel itu bertemakan romantis. Sudah lebih dari sepuluh kali Yumi khatam. Tepatnya tujuh belas kali.
Entah mengapa wanita berkulit putih itu tak pernah bosan membacanya. Padahal masih banyak koleksi novel romantis yang belum sempat ia baca.
Akan tetapi, untuk novel yang satu ini Yumi kerap membacanya. Entah apa istimewanya novel tersebut.
Seakan tenggelam dalam alur, tak jarang Yumi meneteskan air mata.
"Ya ampun, Mama. Namanya juga seni. Jadi, meski dibaca berulang kali tetap saja seru. Tak membosankan, dan selalu menghibur. Jadi, biarkan aku menyelesaikan bacaan. Oke, Mama yang cantik?" Yumi merebut novelnya dari tangan Zara. Lantas kembali bergelut dengan bacaannya.
"Astaga anak ini!" Zara menepuk jidad, merasa heran pada Sang putri yang hidupnya tampak datar-datar saja.
"Persiapkan dirimu sekarang, karena kau akan kencan buta hari ini!" Kali ini perkataan Zara sukses menyita perhatian Yumi.
"Kencan buta? Sejak kapan Mama tertarik pada kencan buta? A... pasti Mama termakan hasutan Tante Reni, kan? Tebakanku pasti benar."
Seketika Zara salah tingkah begitu Yumi menebak isi hatinya. Wanita dengan rambut sebahu itu seolah tengah kedapatan mencuri.
Melihat raut Zara yang kelabakan, Yumi pun tersenyum. "Mama, ngapain coba aku ikut kencan buta hanya karena omongan orang? Lagi pula aku bahagia dengan hidupku. Aku menikmati setiap proses yang ku lalui setiap hari. Aku bahagia bersama Mama dan Papa. Aku tidak butuh siapa-siapa lagi," papar Yumi, meyakinkan Zara.
Trauma pernikahan delapan tahun silam, seolah masih menyelimuti hati Yumi. Dia tidak tertarik lagi pada yang namanya kaum Adam dan pernikahan.
Delapan tahun silam sudah cukup baginya memberi pelajaran. Rumah tangga, cinta, suami, serta anak, semuanya itu tak ada lagi dalam rencana hidup Yumi.
__ADS_1
Wanita itu menutup hati rapat-rapat. Bahkan ketika mengetahui mantan suaminya telah kembali.
Sialnya, ketika berada di dekat Fabian, jantung Yumi masih berdebar-debar seperti dulu. Apakah itu pertanda, bahwa ia masih mencintainya? Ataukah hanya sebatas rasa penasaran, karena lama tak bersua? Entahlah. Satu yang pasti, bahwa Yumi masih betah dengan kesendiriannya saat ini.
"Mungkin kau tidak butuh sosok suami, tapi Mama butuh sosok menantu di rumah ini. Apa kau ingin menghabiskan sisa hidupmu bersama kami?" lirih Zara dengan mata berkaca-kaca.
"Jadi, Mama tidak suka aku tinggal bersama Mama dan Papa?" Pura-pura Yumi bersedih, padahal ia tahu, bahwa Zara tak bermaksud demikian.
"Bukan itu maksud Mama, Nak. Mama hanya khawatir dengan masa depanmu. Bagaimana kalau Mama dan Papa sudah tiada? Siapa yang akan menjagamu? Siapa yang akan menemanimu? Jadi, Mama pikir, sebelum kami meninggalkan dunia ini, sebaiknya kau menikah, agar kami tenang, Nak. Sebagai orang tua, kewajiban kami akan tunai ketika anak-anaknya menikah."
Panjang lebar Zara memberi penjelasan kepada Yumi, tetapi wanita itu masih enggan untuk membuka hati. Sesakit itukah luka yang ditorehkan Fabian dulu? Begitu dalamkah perasaannya terhadap pria itu?
"Ya ampun, Mama. Aku--"
"Pokoknya kau harus menemui pria itu hari ini. Atau Mama tidak akan bicara lagi padamu. Bila perlu Mama mogok makan!" ancam Zara.
"Jadi, ceritanya Mama merajuk ni?" goda Yumi. Namun, Zara tidak membalas. Wanita setengah baya itu memalingkan wajah sembari melipat tangan ke atas dada.
Tatapannya tak bersahabat, wajahnya masam, serta enggan disentuh Yumi.
"Benarkah?" tanyanya.
"He'em," sahut Yumi singkat.
Meski terpaksa, Yumi tetap mengikuti permintaan Ibunya. Yumi memang tidak tertarik pada kencan buta itu, tapi demi bakti, dia rela mengenyampingkan ego.
"Alhamdulillah... akhirnya. Baiklah, sekarang kau siap-siap dulu. Mama mau menghubungi Nak Keva." Zara sangat antusias dalam menjodohkan Yumi bersama seseorang.
"Keva?" Namun, sayangnya Yumi masih belum tahu siapa sosok yang membuat Ibunya itu bahagia.
"Dia adalah pria yang akan kau temui hari ini. Keva Aprianza. Seorang pengacara ternama," jelas Zara menggebu-gebu.
"Kalau terkenal, pasti aku tahu," gumam Yumi.
"Apa?" Namun, masih bisa di dengar oleh Zara.
"Whatever. Intinya kau sudah setuju untuk kencan hari ini. Kau tidak boleh menarik kata-katamu lagi, oke?" Meski begitu, Zara tak ingin memperpanjang percakapan itu.
__ADS_1
Sekarang waktunya berbenah, serta memberitahu Keva, bahwa Yumi bersedia menemuinya.
"Iya, iya." Memang Yumi tidak bersemangat, tapi apalah daya, cintanya terhadap Zara sangat besar. Wanita itu tak tega menyakitinya.
Delapan tahun menjanda, suka duka dilalui, Zara dan Gautam lah yang menjadi orang terdepan dalam menghiburnya.
Proses penyembuhan itu memang cukup panjang, butuh waktu lama baginya untuk move on dari duka perceraian.
Zara dan Gautam tak pernah jera memberinya dukungan. Meski beberapa dari mereka menghujat status Yumi.
"Baju apa yang kau kenakan ini? Apa kau mau ke pemakaman?" Zara terkejut saat melihat penampilan Yumi.
Wanita itu mengenakan setelah kemeja hitam, persis seseorang yang tengah berduka.
"Lalu, apa aku harus mengenakan gaun? Bukankah Mama tahu sendiri, bahwa aku tidak suka mengenakan kain panjang itu? Terlalu ribet, Ma." Penampilan Yumi selama delapan tahun terakhir memang sangat berubah drastis. Namun, untuk selera pakaian, dia masih tetap sama. Tidak suka berpenampilan formal.
"Tentu saja kau harus mengenakan gaun, Sayang. Dan Mama sudah menyiapkannya untukmu. Kenakan ini." Zara menunjukan sebuah gaun cantik berwarna dusty.
Gaun itu sangat cocok dengan Yumi. Terlebih lagi Yumi memiliki kulit yang putih bersih.
Ada sedikit belahan di bagian paha, sedangkan dadanya sedikit terbuka.
Bukan gaya Yumi memang, tetapi Zara telah menjatuhkan pilihan terhadap gaun tersebut.
Tentu saja Yumi akan terlihat cantik dan manis bila mengenakannya.
"Ya ampun, Mama. Ini terlalu seksi. Aku tidak suka mengenakan gaun terbuka seperti ini." Seperti tebakan Zara, Yumi memprotesnya. Namun, bukan Zara namanya bila tak memenangkan perdebatan.
"Kau mau pakai gaun ini, atau Mama mogok makan dan tak mau bica--"
"Iya, iya, aku pakai. Apa Mama senang sekarang?" Kalimat Zara masih di pertengahan lidah, Yumi telah menyelanya.
Yumi tahu, bahwa dia tidak akan menang dalam melawan Mamanya itu.
"Tentu saja," sahut Zara seraya tersenyum puas.
Dengan sangat terpaksa, Yumi pun mengganti pakaiannya dengan gaun dusty pemberian Sang Bunda.
__ADS_1