Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Nasi Uduk Sambal Terasi


__ADS_3

Gemuruh hujan, menghantam atap rumah. Suaranya sangat keras, tetapi tak membuat penghuni bangunan sederhana itu terbangun.


Masih bergelut selimut, dia memeluk bantal guling. Ada sedikit air liur di sudut bibir. Ia menyekanya begitu mencium aroma tak sedap.


Kendati demikian, ia masih tak beranjak. Sepertinya hujan kali ini sukses membuatnya betah berlama-lama di atas ranjang.


"Halo." Tiba-tiba ada panggilan telpon. Dia pun menjawabnya, tetapi masih menutup mata.


"Mana sarapanku, Yumi?!"


Adalah Yumi, barusan mendapat panggilan telpon dari Fabian. Pria itu meneriakinya, hingga membuat kuping Yumi kesakitan.


Seketika Yumi pun bangun, lalu memperhatikan layar ponselnya dengan seksama.


Semula ia mengira Erika yang menghubunginya. Ternyata Fabian lah orang yang telah mengganggu paginya.


"Apa kau pikir aku adalah istrimu?! Dasar aneh!" Yumi mengakhiri panggilan itu tanpa memberi aba-aba.


"Kupingku seperti mau pecah. Benar-benar keterlaluan. Pagi-pagi menanyakan sarapan padaku. Dia pikir aku asistennya? Dasar payah!" Yumi bergumam, tanpa ia sadari, bahwa waktu telah menunjukan pukul sembilan pagi.


"Aakk..." pekik Yumi begitu melihat jam dinding. Wanita itu mulai panik.


"Pantas saja Fabian menghubungiku," gumam Yumi semakin cemas.


Lima belas menit kemudian, Yumi siap untuk ke kantor.


"Sarapan dulu," kata Zara.


"Aku sudah telat, Ma," sahut Yumi sembari memasukan roti ke dalam mulut, lantas meminum susu.


"Makanya kalo dibangunin itu, ya jangan ngelunjak. Tadi Mama udah bangunin kamu, eh kamunya malah tarik selimut," protes Zara.


"Yaudah, aku pamit ya. Assalamualaikum." Masih dengan roti di mulut, Yumi bergegas pergi.


"Hati-hati," teriak Zara.


"Anak itu selalu saja."


"Udahlah, biarin aja. Dia hanya sedang menikmati kerjaannya." Berbeda dengan Zara yang lebih vokal, Gautam justru tampak santai. Pria paruh baya itu membaca koran sembari menyeduh secangkir teh.


Sementara itu, di luar. Yumi tengah bersiap-siap ke kantor. Dengan mengenakan motor metik putih miliknya, Yumi pun menembus rintik hujan.


Akan tetapi, di tengah perjalanan mendadak Yumi teringat ucapan Fabian yang meminta jatah sarapan.

__ADS_1


"Astaga, mampus aku. Apa sebaiknya aku beli nasi uduk Mas Tukul saja, ya? itung-itung menutupi kesalahan karena telat datang," gumam Yumi, masih mengendarai motornya.


"Beli aja, ah. Aku mana sempat masak. Bangun aja kesiangan." Kemudian Yumi mampir ke rumah makan Mas Tukul, langganannya bersama Erika.


"Eh, ada Neng Yumi. Mau pesan nasi uduk, Neng?" tanya Mas Tukul.


"Seperti biasa aja ya, Mas. Gak pake lama," balas Yumi terburu-buru.


"Neng Yumi buru-buru, ya?" tanya Mas Tukul sembari menyiapkan pesanan Yumi.


"Iya nih, Mas. Soalnya udah kesiangan."


"Pantas aja."


Tak butuh waktu lama, Mas Tukul pun memberi Yumi sebungkus nasi uduk.


"Ini, Neng. Lima belas ribu," kata Tukul.


"Kembaliannya, Neng." Yumi memberi Mas Tukul selembar uang dua puluh ribu.


"Buat Mas Tukul aja." Tampak Yumi terburu-buru. Bahkan ia tak sempat mengambil uang kembaliannya.


Yumi menancap gas motornya, sedangkan Fabian sudah sangat kelaparan di kantor.


"Selamat pagi, Pak." Yumi telah tiba dengan sebungkus nasi uduk di tangan.


"Ini sarapan, Bapak." Wanita itu pun menyuguhkan Fabian nasi uduk buatan Mas Tukul di atas meja.


"Apa ini?" Fabian bingung pada apa yang dilihatnya. Betapa tidak, bungkusan nasi uduk itu terbuat dari daun pisang.


"Sarapan buat, Bapak. Kan tadi Bapak meminta sarapan," jelas Yumi dengan santainya.


"Iya, aku tahu. Tapi mengapa harus nasi uduk pakai daun pisang?" protes Fabian.


"Oh, jadi Bapak tidak mau pakai daun pisang. Yaudah, tunggu bentar ya, Pak." Yumi keluar dari ruangan Fabian menuju pantry. Di sana ia mengambil piring.


Sementara Fabian semakin kebingungan serta bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh mantan istrinya itu.


"Nah, ini dia. Selamat makan." Yumi menuang nasi uduk tadi ke atas piring, lengkap dengan ikan asin serta sambal terasi.


"Terasi? Apa kau ingin aku bau udang kering? ini lagi, mengapa kau memberiku ikan asin? Apa kau lupa, bahwa aku alergi ikan asin?!" Fabian mengomel sembari menutup hidungnya.


Sementara Yumi cukup santai menanggapi sikap manja Sang mantan.

__ADS_1


"Ya mana aku tahu. Memangnya aku asisten rumah tanggamu?" sahut Yumi tanpa dosa.


"Tapi kau mantan is--" Nyaris saja Fabian mengungkit masa lalunya bersama Yumi, tapi entah mengapa lidah pria itu mendadak keluh.


"Ah, lupakan saja. Sekarang katakan padaku, mengapa kau terlambat? Dan dari mana kau mendapat nasi tak jelas ini?" Fabian masih menutup hidungnya karena aroma terasi yang cukup tajam.


Sejak dulu Fabian memang alergi ikan asin.


Bukannya sengaja, tadinya Yumi memang tidak menyadari isi nasi uduk yang dijual Mas Tukul. Setelah Fabian memprotesnya, barulah Yumi sadar kebiasaan dari mantan suaminya itu.


"Aku tadi bangun kesiangan karena hujan." Masih dengan santainya Yumi menanggapi Fabian.


Tidak ada rasa takut ataupun risih, Yumi terus memberi jawaban tiap kali Fabian mengajukan pertanyaan.


Lagi pula Yumi hanya sebatas sekretaris, bukan asisten rumah tangga atau istrinya yang wajib menyiapkan sarapan.


"Mengapa tiba-tiba turun hujan di rumahmu? Apa di sana tidak ada pawang hujan?" Entah apa yang sedang dipikirkan pria tiga puluh enam tahun tersebut. Mendadak ia berlagak seperti orang bodoh. Mungkin cacing dalam perut membuat otaknya menjadi seperti udang, kosong.


"Memangnya kau pikir aku mengurus hujan serta pawangnya? Lagi pula mengapa kau marah bila turun hujan? Dasar aneh!" Yumi tidak ingin melanjutkan percakapan. Dia pun keluar dan menuju ruangannya.


Ruangan Yumi berada di sebelah Fabian. Hanya dinding kaca yang memisahkan mereka.


berrr...


Suara perut Fabian mulai berteriak kencang. Pertanda, bahwa ia sudah kelaparan.


Fabian pun melirik nasi uduk di atas meja. Antara ingin makan karena lapar, tapi takut alergi ikan asin serta bau terasi.


Cita-cita ingin menyantap masakan Yumi pagi ini, tahu-tahunya disajikan nasi uduk buatan Mas Tukul.


"Sialan! Mana bentuknya menggoda lagi," gumam Fabian.


Dia memang tidak alergi terasi, hanya saja aromanya sangat menyengat. Tidak pantas dikonsumsi saat berada di kantor.


Terlebih lagi pukul sepuluh Fabian harus menemui klien dari Amerika. Bisa jadi hari ini ia kehilangan proyek karena mulutnya bau terasi.


"Erika, tolong pesan satu paket makanan yang biasa dipesan karyawan saat rapat." Tak ada pilihan lain, Fabian terpaksa menghubungi Erika untuk meminta bantuan.


Sementara Yumi menyaksikan Fabian dari ruangannya. "Emang enak? Siapa suruh tidak sarapan dari rumah. Mengapa harus meminta sarapan dariku? Sekarang kau jadi sakit perut, kan?"


Terkesan kejam memang, tapi apa yang bisa Yumi lakukan? Haruskah ia memperlakukan mantan suaminya itu selayaknya pasangan? Menyiapkan sarapan setiap hari, serta menemaninya kemanapun ia pergi.


Yumi sudah cukup frustasi dengan menjadi sekretaris Fabian. Andaikan ia bisa meminta Rohani menggantikan dirinya, maka ia pun ikhlas lahir batin.

__ADS_1


Namun, sayangnya Fabian hanya menginginkan Yumi. Tidak boleh wanita lain.


__ADS_2