Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Nokta Merah Perkawinan


__ADS_3

Jakarta, 2015.


Yumi tengah bersiap menemui suaminya di kampus. Fabian Abdullah, pria yang sangat ia cinta. Mengajar di salah satu universitas ternama.


Kesenian adalah jurusannya. Menggambar adalah hobinya.


Pagi itu Yumi sengaja menghubungi Fabian. Memberi tahu, bahwa ia akan segera datang. Sebulan tak bertemu, membuat Yumi rindu.


"Halo, hari ini aku pulang," kata Yumi melalui panggilan tersebut.


"Tidak perlu terburu-buru, nikmati saja dulu kebersamaanmu bersama Mama dan Papa. Lagi pula kau belum aktif di kampus. Dekan memperpanjang waktu libur karena satu dan lain hal." Alasan ini cukup klasik, tetapi Yumi tetap kekeh hendak pulang serta bertemu Sang suami.


"Tapi aku sedang dalam perjalanan. Aku sungguh merindukanmu," lirih Yumi.


Walau hatinya tercubit, Yumi tetap semangat. Alasan Fabian tak mempengaruhi tekadnya.


"Tapi aku sedang sibuk. Aku tidak bisa menemanimu di rumah setiap waktu." Lagi-lagi Fabian memberi alasan. Sehingga kali ini sukses membuat dada Yumi berdenyut.


Wanita itu meremas jemarinya yang mulai berkeringat. Dia menggigit bibir bawahnya, pertanda kekecewaan mulai menghantam batinnya.


"Tidak masalah, aku bisa menunggumu kapanpun," kata Yumi pasrah.


Meski demikian, wanita berambut hitam tersebut tetap pada rencana semula. Dimana ia akan menemui Fabian di kampus serta memberinya kejutan.


Biasanya Fabian menghabiskan waktu di belakang kampus. Sembari menikmati masakan Yumi, pria itu pun mempersiapkan materi.


Kali ini Yumi membawa makanan kesukaan suaminya itu, hasil olahan Sang Bunda sebagai buah tangan dari mertua.


Yumi melirik kotak makan untuk Fabian. Di dalamnya ada nasi putih, semur sapi, perkedel, asparagus, serta sedikit sambal dan beberapa kerupuk.


Yumi pun tersenyum, membayangkan menyuapi Fabian di belakang kampus seperti yang sudah-sudah.


Lama menempuh perjalanan, akhirnya Yumi tiba di kampus. Ia pun turun dengan perasaan riang. Rindunya terhadap Fabian sudah tak dapat terbendungkan. Ingin rasanya memeluk serta menghabiskan waktu bersama di atas ranjang.


Yumi memasuki lobi kampus, menyusuri lorong kecil agar cepat sampai ke ruangan Fabian dan mengajaknya makan. Biasanya dia selalu melalui jalan pintas itu.


Dan betapa terkejutnya Yumi hari itu. Seperti hendak mengeluarkan air mata, ia menyaksikan suaminya tengah tertawa bersama seorang wanita yang entah siapa namanya.


Katanya dalam panggilan, Fabian sedang sibuk mengerjakan proyek baru di kampus. Dia tidak bisa diganggu. Bahkan untuk sekedar makan siang pun ia lewatkan.


Lantas apa yang baru saja Yumi saksikan? Bukankah kondisi itu menggambarkan seseorang yang tengah bersantai?

__ADS_1


Bersama Yumi ia selalu berkata sibuk dan lelah, sedangkan bersama orang lain Fabian selalu meluangkan waktu kapanpun itu.


Tidakah situasi itu sangat jelas? Dimana kehadiran Yumi tak dibutuhkan.


Kini Yumi hanya bisa bersembunyi di balik tembok putih kampus. Dengan berderai air mata, Yumi menekan dadanya.


Jantung wanita itu seolah bekerja keras memompa darahnya hingga mendidih.


"Bersamaku, kau selalu mengeluh lelah dan jenuh. Kau selalu menutup mata ketika aku memintamu bercinta. Hari ini aku telah menemukan jawabannya, bahwa kehadiranku tak pernah kau inginkan." Dengan berderai air mata, Yumi bergumam lirih.


Kembali Yumi menatap nanar kotak makan dari Ibunya. Fabian tidak akan pernah lagi menikmati isi kotak makan itu, bahkan untuk yang terakhir kali.


Kini Yumi menyeka air mata, berjalan pulang bersama buah tangan dari Ibunya.


Sementara itu, Fabian masih tetap asik bersama teman wanitanya, tiba-tiba ia mendengar suara benda jatuh.


Bug!


Fabian menoleh ke sumber suara, tetapi ia tak melihat siapa-siapa di sana.


Rupanya Yumi lah yang terjatuh bersama kotak makannya.


Hari itu Yumi tidak langsung ke rumah Fabian, melainkan ke rumah Erika. Di sanalah ia meluapkan keluh kesahnya.


Tiga hari setelah hari itu, Fabian tak mencari Yumi. Padahal sebelumnya ia tahu, bahwa Yumi telah kembali.


"Halo, Fabian." Fabian mendapat panggilan telpon dari Ibu mertuanya.


"Halo, Ma. Apa kabar?" sahut Fabian.


"Kabar Mama baik, Nak. Apakah Yumi sedang bersamamu? Katanya dia akan menghubungi Mama bila sampai rumah. Aku menghubungi nomornya, tapi tidak aktif," ungkap Ibu Yumi.


"Yumi? Apakah dia di sini?" Kini mimik Fabian mulai resah, bagaimana bisa dia mengacuhkan istrinya.


"Sudah tiga hari dia kembali, apakah kau tidak bertemu dengannya?" Mendengar itu, Fabian pun teringat percakapannya bersama Yumi tiga hari lalu, bahwa ia sedang dalam perjalanan.


Hanya saja Yumi tidak mengatakan secara jelas tepatnya ada dimana.


Kini Fabian teringat akan suara benda jatuh kala tengah duduk bersama teman wanitanya di belakang kampus.


"Apakah itu Yumi?" gumamnya setelah mengakhiri panggilan Sang mertua.

__ADS_1


Fabian menghubungi Yumi, tetapi nomornya sedang tidak aktif. Di rumah pun Yumi tak memunculkan diri pasca hari itu.


"Yumi, kau dimana?" Fabian mulai panik. Dia mencari Yumi ke semua tempat yang biasa dikunjungi. Namun, hasilnya tetap nihil.


Kini Fabian teringat akan sosok Erika, sahabat Istrinya. "Halo Erika, apakah kau bersama Yumi?"


Setelah itu mereka pun bertemu. Namun, Yumi telah berubah. Yumi jadi lebih pendiam serta tak bergairah menatap Fabian. Padahal dia sangat merindukan suaminya itu.


"Maafkan aku, aku pikir kau belum kembali dari rumah Mama," kata Fabian sembari memegang tangan Yumi. Akan tetapi, Yumi menghindarinya.


"Ayo kita bercerai." Tiga kata itu tidak membuat Fabian terkejut. Ekspresinya datar dan lurus. Seperti tak merasa kehilangan sama sekali.


"Kau pasti lelah, ayo kita pulang ke rumah dan makan sesuatu, em? Kali ini aku yang masak." Meski tak merasa bersalah, tetapi Fabian masih berupaya untuk membujuk Yumi.


"Kita ke kantor agama saja. Aku telah menyiapkan berkas perceraian kita. Semuanya ada di sini. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan menuntut apapun darimu. Mengingat aku masuk ke dalam rumah itu tanpa membawa apa-apa."


Tidak bisa dipungkiri, bahwa hati Fabian mulai tercubit kali ini. Namun, ia hanya terdiam. Tidak berencana untuk menghentikan perceraian itu.


"Berikan aku talakmu." Dengan suara bergetar, Yumi meminta Fabian untuk menjatuhkan talak padanya.


Semula Fabian enggan, tapi Yumi terus mendesak. Lagi pula tak ada tanda-tanda sesal dari wajah pria berlesung pipi tersebut. Lantas apa yang harus dipertahankan dari pernikahan itu? Bila hanya salah satu dari mereka yang berjuang, sedangkan yang satunya lagi hanya diam, maka segalanya akan sia-sia.


"Yumi Zahra Gautam, hari ini aku menalakmu... aku menalakmu... aku menalakmu."


Luruh sudah hidup Yumi, kala untaian talak itu terlontar dari bibir tipis Fabian.


Sekujur tubuhnya gemetar, lidahnya keluh, mendadak lututnya kaku. Yumi tak dapat berkata-kata. Pernikahan yang ia dambakan, kini berakhir dalam nokta merah perkawinan.


Dua tahun membina rumah tangga, susah senang Yumi menanggung.


Dan di sudut ruangan itu, ia menatap nanar nokta merah perkawinannya.


Memang benar, bahwa ia yang menginginkan perceraian. Namun, sebab musababnya berasal dari Fabian.


Tak bisa dipungkiri, bahwa ada sejumput harap dalam hati Yumi agar ditahan oleh Fabian. Yumi ingin suaminya itu berkata, "Bolehkah jangan pergi?"


Akan tetapi, kalimat sederhana itu hanyalah angan-angan semata. Fabian tak pernah menahannya.


Fabian merelakan Yumi pergi. Wanita itu membuka pintu ruang tamu sembari menangis. Sedangkan Fabian duduk di kursi makan, tengah menatap datar surat cerai.


Ada dua tanda tangan di kedua sudut kertas putih tersebut, yang menandakan, bahwa ikatan pernikahan mereka telah berakhir.

__ADS_1


__ADS_2