
Sebagai wanita, hati Yumi hancur berkeping-keping.
Rahimnya memang belum pernah dibuahi benih selama berumah tangga. Harapannya pun masih sama, yakni memiliki buah hati.
Tidak mengapa wanita atau pria, asal dia mendapat kepercayaan itu dari Tuhan.
Anak adalah titipan yang mulia. Mereka bagian dari investasi kedua orang tua di dunia.
Sekali lagi, tidak ada Anak haram di dunia ini. Tuhan tidak menciptakan manusia dalam keadaan kotor atau hina.
Semua Anak terlahir suci dan bersih. Mereka tidak patut disalahkan.
Ada banyak pasangan suami istri yang menginginkan keturunan, tetapi Tuhan tidak berkehendak.
Sekali diberi, ada yang membuang, tidak diakui, hingga membunuh.
Sialnya, tak jarang dari kita yang mengaborsi. Sedangkan Tuhan telah memilih kita untuk dipercaya.
Andaikan tidak menginginkan Anak, paling tidak pakailah pengaman. Jangan sia-sia kan kepercayaan dari Tuhan. Kelak kepercayaan itu akan hilang dengan sendirinya sesuai dengan amal dan perbuatan.
Pada simpul ini, Yumi sangat sedih. Dia begitu mendambakan seorang Anak, tetapi Tuhan tidak mengabulkan.
Mungkin Dia memiliki rencana lain, salah satunya adalah memisahkan dirinya dari Fabian.
"Ayah!" Kenzo melihat Fabian berdiri di ambang pagar. Bocah itu berlari, lantas meloncat dalam gendongannya.
Fabian mencium kedua pipi Putranya itu. Situasi ini sungguh mengharu biru.
Sejujurnya kedatangan Fabian tidak diketahui oleh Yumi. Kenzo lah yang menghubungi pria itu setelah berhasil meminta bantuan wanita tersebut.
"Aku ingin bicara denganmu," ucap Yumi dengan nada dingin.
"Katakanlah, aku mendengarkan."
"Aku ingin kita bicara empat mata. Ini tentang orang dewasa." Yumi tidak ingin bicara di depan Kenzo. Anak itu masih terlalu kecil untuk menyaksikan perdebatan orang dewasa. Sebab, mentalnya bisa rusak.
"Baiklah. Kita akan bicara setelah sampai rumah. Biarkan Kenzo istirahat." Yumi tidak menyahut. Dia masuk ke dalam mobil Fabian.
"Apa kau sudah makan?" tanya Fabian kepada Kenzo.
"Apakah Ayah akan masak untuku?
__ADS_1
"Tenang saja, kita akan makan enak malam ini."
Entah apa rencana Fabian kali ini. Dia terlihat bahagia. Sedangkan Yumi tengah memendam amarah di dalam sana.
Lima belas menit kemudian, mereka telah tiba di rumah. Yumi tidak berniat untuk ikut bersama Ayah dan Anak itu, tetapi Kenzo memaksa.
Yumi yang tidak tega melihat mimik Bocah itu, akhirnya setuju. Sehingga dalam hati Fabian ber-iyes ria.
Kenzo adalah jembatan bagi hubungan keduanya.
"Pergilah mandi, setelah itu kita makan bersama, oke?" Fabian menurunkan Kenzo dari gendongannya.
"Duduklah, sepertinya kau lelah." Lantas beralih kepada Yumi yang sejak tadi diam membisu.
"Aku kesini bukan untuk duduk, melainkan bicara denganmu!" seru Yumi.
"Baiklah, katakan."
"Apa benar kau adalah Ayah Kenzo?" ungkap Yumi.
"Mengapa kau bertanya? Apa kau meragukan Anak itu?"
"Aku tidak meragukan Anak itu, jelas saja dia adalah Anak yang baik. Tapi aku meragukanmu. Kau terlalu sibuk dengan duniamu sendiri. Apa kau pernah menjadi teman dari Putramu? Apa kau pernah mendengarkan semua keluh kesahnya? Apa kau sudah memberinya yang terbaik? Apa kau tidak tahu betapa menderitanya dia? Cobalah untuk menjadi kawan bagi Putramu sendiri. Dengan begitu kau dapat melihat betapa besarnya penderitaan yang dialami olehnya," ungkap Yumi panjang kali lebar.
Bukannya membenah diri, Fabian justru menyalahkan Sang mantan istri.
"Aku tidak bicara tentang diriku, tapi aku bicara tentangmu dan Kenzo. Aku memang belum pernah dibuahi benih, apa lagi melahirkan. Namun, aku tahu cara menjaga perasaan Anak-anak. Apa kau tahu apa saja yang telah dilalui Kenzo di sekolah bersama teman-temannya? Anak itu mendapat perundungan. Dia dikatakan Anak haram. Mengapa kau tidak mempertemukan Kenzo dengan Ibunya? Apa mengabulkan permintaan Anak kecil sangat sulit? Kau benar-benar Ayah yang buruk!"
Luapan kekecewaan Yumi terhadap Fabian tak bisa dibendung lagi. Peristiwa tadi sore membuat hati kecilnya tersentuh sekaligus tercubit.
Kenzo tidak pantas mendapatkan semua penghinaan atas perbuatan kedua orang tuanya.
Sementara Fabian seperti sedang memendam sesuatu. Entah apa itu.
Namun, dia memahami, bahwa kemarahan Yumi kali ini karena dia sangat menyayangi Kenzo, terlepas dari apa yang terjadi.
Akan tetapi, entah mengapa bibirnya justru berkata lain. Sedangkan beberapa saat lalu ia telah melihat semuanya. Yumi telah menyelamatkan harga diri Putranya dari orang-orang yang sok tahu itu.
"Maafkan aku." Hanya dua kata ini yang bisa terucap dari bibir Fabian. Masih sangat sulit baginya untuk mengungkap jati diri Kenzo.
"Untuk apa meminta maaf padaku? Minta maaflah kepada Putramu." Masih meluapkan kekecewaan, Yumi enggan memberi maaf. Yang terpenting adalah Kenzo.
__ADS_1
"Terimakasih," ujar Fabian akhirnya.
Kali ini hati kecil Yumi mulai tersentuh. Ungkapan terimakasih itu terdengar sangat tulus. Meski demikian, dia masih belum melupakan yang telah terjadi.
"Sebaiknya aku pulang." Tanpa memberi jawaban, Yumi justru pamit pulang.
"Biar aku antar," ujar Fabian.
"Tidak perlu. Temanilah Putramu. Saat ini dia membutuhkan Ayahnya."
Yumi tidak menunggu jawaban, dia berlalu pergi. Sontak menggagalkan rencana Fabian.
Tadinya Fabian ingin makan malam bersama Yumi serta Kenzo selayaknya keluarga. Namun, tampaknya Yumi sedangkan tidak berselerah.
"Ayah, di mana Nona Yumi?" Setengah jam kemudian, Kenzo keluar dengan setelan piyama biru.
"Sayang, Nona Yumi sudah pulang. Malam ini kita makan berdua," sahut Fabian seraya mensejajarkan diri.
"Mengapa Ayah tidak menikahi Nona Yumi? Aku sangat menyukainya. Dia adalah wanita yang baik." Kata-kata Kenzo sukses menyentuh nurani Fabian.
Rupanya benar kata Yumi, Anak itu sungguh kesepian. Kenzo menginginkan sosok Ibu di sisinya. Dan pilihan itu jatuh kepada Yumi.
Dua kali bertemu, Yumi berhasil mencuri hati Kenzo. Sedangkan ada banyak wanita yang mengantri di belakangnya selama menjadi duda. Namun, tak satu pun dari mereka yang berhasil memenangkan hati Putranya.
Kehadiran Yumi kali ini bukan hanya menyelamatkan perusahaan, melainkan harga diri Putranya. Yumi benar-benar wanita yang baik.
"Ini adalah masalah orang dewasa. Anak-anak tidak boleh membahasnya." Bukannya tidak ingin membahas, tetapi Fabian tidak ingin memberi harapan kepada Kenzo.
Hubungannya bersama Yumi masih jauh dari panggang.
"Mengapa? Bukankah Ayah menyukainya?" Fabian ternganga tatkala Kenzo menebak isi hatinya.
"Sok tahu kamu." Fabian menyentil jidad Kenzo.
"Sekarang waktunya makan malam," imbuh pria itu.
"Apakah Ayah sudah masak?" Fabian menggendong Kenzo, lalu mendudukan di atas kursi.
"Kau akan melihat kehebatan Ayah di dapur," sahut Fabian penuh percaya diri.
"Bukankah Ayah hanya tahu masak mie instan dan telur goreng?" balas Kenzo dengan polosnya.
__ADS_1
"Itu karena Ayah terburu-buru. Kali ini Ayah akan menunjukkan kehebatan. Kau cukup duduk dan menyaksikan." Dua pria beda generasi itu pun mulai beraksi di dapur. Sedangkan Yumi masih berada di pelataran apartemen, menyaksikan lampu flat Fabian yang masih menyala.
Di flat itu dulu ia tinggal di sana. Menunggu suaminya pulang kerja. Selama dua tahun Yumi membuka serta menutup mata di flat itu. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri segalanya.