Balikan Sama Mantan

Balikan Sama Mantan
Mantan Ayah Mertua


__ADS_3

Peristiwa delapan tahun silam seakan bermain kembali di pelupuk mata. Rasanya sungguh nyata.


Ayah mertuanya berdiri di depan. Sedangkan ada Anak kecil yang menginginkan ia menjadi Ibunya.


Lantas suaminya juga duduk di antara mereka. Astaga, betapa indahnya pemandangan itu.


Lalu segalanya berakhir setelah kehadiran Keva di sana. Pria itu mengacaukan rencana Fabian.


Sejujurnya bukan Keva yang menghancurkan hati pria tersebut, melainkan dirinya sendiri.


Delapan tahun lalu dia tidak menyadari pentingnya Yumi dalam hidupnya. Baginya, Yumi hanyalah objek di rumah, tanpa ia sadari wanita itu merupakan anugerah bagi pria lain.


"Apa kabar, Nak?" Abdullah, Ayah Fabian menyapa Yumi.


"Aku baik, Tuan Abdullah." Dengan kakunya Yumi menyebut nama mantan mertuanya itu.


Ini adalah kali pertama mereka bertemu setelah delapan tahun berlalu.


Yumi terlihat gugup, sedangkan Keva tampak biasa saja. Sementara Fahri telah mengundurkan diri sejak tadi. Pria itu tidak ingin mengambil resiko dengan mengorbankan masa depannya.


Cinta memang cinta, tapi butuh akal dan logika untuk menafsirkan cinta itu sendiri. Jika menyengsarakan diri dan dituntut untuk berkorban, apakah itu masih layak dikatakan cinta?


"Ah iya, perkenalkan. Dia adalah Keva." Yumi terlihat enggan untuk memperkenalkan Keva sebagai calon tunangannya. Berbeda dengan pria tersebut yang cukup lantang.


Sementara Kenzo masih di sisi Yumi. "Keva," kata Pria itu seraya mengulurkan tangan kepada Abdullah.


"Oh iya, kebetulan kami sedang makan siang bersama. Apakah Anda ingin gabung bersama kami?" ujar Keva, mengajak Ayah Fabian untuk makan siang bersama.


Sedangkan Fabian sendiri terlihat kurang setuju dengan ide Keva.


Semua orang tahu, bahwa hubungan antara Ayah dan Anak itu tidak harmonis. Mungkin di luar terlihat baik-baik saja. Namun, jika orang lain masuk ke dalamnya, maka mereka akan tahu bagaimana ikatan yang terjalin di antara mereka.


Tiga puluh tahun lalu, Abdullah meninggalkan Ibu Fabian tanpa alasan yang jelas. Fabian pun dibesarkan oleh Ibunya seorang diri.


Mungkin inilah salah satu alasan Fabian tak menganggap serius pernikahan. Dia telah melihat banyak air mata Ibunya. Dan hal itu sukses membuat batinnya terguncang cukup lama.

__ADS_1


Sementara Yumi hadir di waktu yang kurang tepat. Saat itu Fabian masih belum dewasa, hingga merasa perpisahan lah yang terbaik.


Fabian ingin rehat sejenak dari hirup pikuk pernikahan. Namun, sayangnya dia tidak menyadari, bahwa pernikahan itu bukanlah sebuah petak umput yang ketika dapat, maka bisa bersembunyi lagi.


"Kalian makan lah, aku sedang sibuk. Apa kau tidak ingin ikut bersamaku? Masih banyak yang harus diselesaikan di kantor. Desainmu masih belum rampung." Lihatlah, betapa arogannya Fabian. Pria itu enggan bergabung bersama Ayahnya sendiri.


Sepertinya luka tiga puluh tahun lalu masih membekas di dalam sana. Hingga sangat sulit untuk menerima keadaan.


Satu-satunya alasan Abdullah muncul kembali adalah karena kehadiran Kenzo. Anak itu seakan menyatukan semua yang terpisah.


Keva melihat sikap dingin Fabian menjadi heran. Sebenarnya ada apa dengan pria itu? Mengapa dia terlihat dingin terhadap Ayahnya sendiri? Rahasia apa yang coba ia sembunyikan?


"Kenzo, menurut lah kepada Kakek. Ayah mau ke kantor dulu bersama Nona Yumi. Kau harus menjadi Anak yang baik. Jangan buat Kakek repot." Di sisi lain, Fabian sangat peduli pada mental Kenzo. Meski hubungannya bersama Sang Ayah tidak harmonis.


Saat ini posisi Keva tidak sedang dalam garis mujur. Ada Abdullah di antara mereka. Pria tua itu seakan memberi restu pada hubungan Fabian dan Yumi.


"Tuan Keva, ayo kita makan siang. Kebetulan aku sudah lapar," kata Abdullah, mencairkan suasana.


"Bukannya tadi Kakek sudah makan? Apakah Kakek belum kenyang?" Memang dasar Anak kecil. Polos luar biasa. Kenzo sukses membuat Kakeknya malu.


Sementara itu, Fabian dan Yumi telah meninggalkan tempat itu menuju kantor. Keduanya naik mobil bersama.


"Jagalah sikapmu. Jangan lupa, bahwa Kenzo menganggapmu sebagai Ibunya," sarkas Fabian sangat dingin.


Sikapnya yang satu ini seperti menggambarkan seorang suami yang tengah cemburu terhadap pria lain. Sedangkan hubungan mereka tidak lain hanya sebatas Bos dan sekretaris.


"Apa kau ingin memanfaatkan Putramu untuk menekanku? Kau benar-benar kekanak-kanakan!" seru Yumi tak mau kalah.


"Terserah kau mau berkata apa, yang pasti aku lebih mementingkan kondisi mental Putraku. Dia masih terlalu kecil untuk patah hati!" Lagi-lagi Fabian membawa-bawa nama Kenzo dalam masalah mereka. Sedangkan Anak itu belum tahu apa-apa.


"Lalu bagaimana denganku? Apakah aku cukup dewasa untuk kau sakiti?" Kali ini Fabian tidak menyahut. Dalam hati ia membenarkan perkataan Yumi.


Kemudian pria itu fokus pada perjalanan mereka.


Sementara itu, di rumah Yumi. Zara sedang bersiap untuk bertemu Nadia, Ibu Keva.

__ADS_1


"Apa kau harus berdandan untuk menemui teman lamamu?" tanya Gautam seraya menikmati secangkir teh hangat. Berhubung cuacanya sedang gerimis.


"Tentu saja. Aku mungkin sudah tua, tapi bukankah cantik untuk suami itu bagian dari ibadah?" jawab Zara dengan entengnya.


"Kau berdandan untuku? Bukankah kau ingin menemui teman lamamu?" sangsi Gautam penuh selidik.


"Bukankah sekarang aku berdandan di depanmu? Kau yang lebih dulu menikmati kecantikanku ketimbang teman lamaku, Sayang." Zara menggoda suaminya dengan mengedipkan sebelah mata.


Di tempat lain, Fabian tengah berjalan memasuki ruangannya dan diikuti oleh Yumi.


Gerak langkah kaki pria itu cukup cepat, hingga Yumi tak sanggup menyamakan posisi. Dia tertinggal beberapa langkah darinya.


Brak!


Fabian menutup pintu ruangan cukup keras, hingga Erika yang baru menghampiri Yumi merasa terkejut. Dua wanita beda karakter itu tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


"Ada apa dengannya? Apakah kalian bertengkar lagi?" Setelah akhirnya Erika bertanya.


"Tadi kami makan siang bersama Keva. Lantas mendadak Kenzo dan Ayah mertua datang," lirih Yumi.


"Apa? Lalu bagaimana ekspresi Keva saat tahu Kenzo adalah Putra Fabian?" tanya Erika.


"Entahlah, aku selalu gagal paham terhadap sifat Keva. Pria itu terlalu baik untuku," sahut Yumi.


"Justru karena dia baik, Yumi. Kau harus mempertahankan hubunganmu dengannya. Apa kau ingin gagal lagi? Ingat, pisang itu hanya berbuah sekali." Memang benar kata Erika, bahwa Keva adalah pria yang patut disandingkan bersama Yumi. Dia sangat baik.


"Tapi aku kasihan padanya. Aku hanyalah seorang janda. Sedangkan dia masih bujangan. Ada banyak wanita yang menyukainya, tapi mengapa dia justru menginginkanku?"


"Itu karena dia ada maunya. Bukankah sudah ku katakan padamu, bahwa Keva adalah pria yang buruk?" Tiba-tiba saja Fabian menyela pembicaraan Yumi dan Erika.


Lelaki tampan itu memojokan Keva di depan keduanya. Padahal beberapa saat lalu suasana hatinya masih galau.


"Yang buruk itu adalah orang yang cepat merasa bosan dengan hubungan. Apa gunanya kebaikan bila tak disertai cinta dan tanggun jawab? Ingat, yang baik itu belum tentu benar," sarkas Erika, memberi peringatan kepada Fabian.


Lantas keduanya pun terlibat berdebatan, hingga Yumi hanya bisa menepuk jidat.

__ADS_1


__ADS_2