
Janji temu antara Yumi dan Keva akhirnya terjadi juga pasca pertemuan formalitas itu.
Keva bukanlah orang sembarangan. Dia mampu mengubah keadaan dalam sekali telak. Contohnya seperti yang terjadi hari ini.
Keva memang seorang pengacara, dan melalui koneksinya lah dia sanggup mengelabui Fabian.
Betapa tidak, pria itu selalu saja menemukan cara untuk menghalangi dirinya dan Yumi. Seakan tidak pernah berada di posisi jatuh cinta.
Keva memang tahu, bahwa Fabian adalah mantan suami Yumi. Bahkan dia juga tahu pasti, bila pria itu masih menaruh hati pada mantan istrinya.
Dan kali ini Keva tidak ingin kehilangan Yumi. Dia sudah pernah kehilangan wanita itu sekali, tapi tidak dengan kali ini.
Pun Fahri, pria yang dua belas tahun juga tergila-gila pada Yumi. Namun, sayangnya Fabian menyalib pria tersebut dengan menikahi Yumi.
Janjinya adalah untuk menyatukan mereka berdua. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Fabianlah yang menjadi pendamping wanita tersebut.
Namun, kali ini mereka telah berpisah. Fahri tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Meski harus menghadapi banyak saingan.
"Apa kau tidak akan ikut bersamaku untuk ke kantor?" Fabian berdiri, lantas mengajak Yumi kembali ke kantor. Sedangkan masih ada Keva di antara mereka. Pria itu masih setia menanti waktu senggang untuk bersama Yumi.
"Tuan Fabian, bukankah urusan kantor sudah selesai? Setidaknya biarkan pegawaimu menikmati waktunya. Just enjoyed your life, Bro." Dengan santainya Keva memberi saran kepada Fabian. Namun, sayangnya dia menolak mentah-mentah.
"Aku tidak sedang bicara denganmu, Tuan Keva. Aku sedang bicara dengan sekretarisku," balas Fabian tegas.
"Yumi, apa kau ada waktu? Aku ingin bicara denganmu." Mendadak Fahri datang, seolah hendak menambah beban Fabian.
"Baiklah, katakan ada apa? Aku mendengarkan," ucap Yumi.
"Astaga pria ini lagi. Sebenarnya apa yang ingin dia katakan kepada Yumi?" gumam Fabian seraya menahan kesal.
Hari ini pria itu dibuat tak percaya pada dua lelaki yang berusaha merebut Yumi darinya.
"Aku ingin kita bicara empat mata," kata Fahri penuh harap.
Tatapannya tampak serius. Sedangkan Keva juga menaruh cemburu. Yumi adalah wanitanya, dia harus segera membawa pergi wanita itu dari dua lelaki menyebalkan.
"Tunggu dulu, sebenarnya ada apa ini? Mengapa kau ingin membawa Yumi pergi? Bukankah sekarang adalah waktu istirahat?" Keva terlihat mulai kesal.
__ADS_1
Sedangkan Fabian yang menyadari itu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia ingin menunjukan kepada Yumi, bahwa Keva bukanlah pria yang baik.
"Atau kita makan siang bersama saja, bagaimana?"
"Ide bagus."
Entah apa yang ada dalam pikiran Yumi kali ini. Lagi-lagi dia mengabaikan pendapat Keva yang menginginkan makan siang berdua.
Sialnya, Fabian turut serta. Seolah tak mau ketinggalan kereta. Dia selalu menjadi benalu di antara mereka berdua. Sepertinya Fabian bukanlah lawan yang lemah. Dia mampu bersaing apapun yang terjadi.
Kini Fabian duduk di sisi Yumi, sedangkan Fahri duduk tepat di depannya. Sementara Keva berada di antara Yumi dan Fahri.
Keempat orang itu akhirnya memesan makanan, dan kali ini mereka memesan hot dog serta shabu-shabu.
"Bagaimana rasanya? Enak, bukan?" Fabian mulai basa-basi untuk mencairkan suasana. Sejak tadi mereka terlihat cukup tegang.
"Makanan gratis memang enak," sahut Fahri tanpa sadar. Sehingga Fabian menyiku kaki pria tersebut.
"Ada apa? Bukankah saat di kampus kau menyukai makanan gratisan? Lalu apanya yang salah?" Sumpah demi apapun, Fabian sangat malu dengan pernyataan Fahri.
"Pantas saja waktu itu dia makan dengan lahap. Rupanya dia suka makanan gratisan," gumam Keva sembari terkekeh. Namun, masih bisa di dengar oleh Fabian.
"Apa kau tidak bisa diam? Kau benar-benar membuatku malu," bisik Fabian kepada Fahri.
Rona wajah Fabian kini menjadi merah seperti udang bakar. Andaikan di situ tak ada Yumi, barangkali dia sudah menyumbat mulut cerewet Fahri.
"Tuan Fabian, kau adalah seorang CEO, lantas mengapa pegawaimu justru menjatuhkan harga dirimu? Bukankah kau mempunyai banyak uang?" Kali ini Keva berada di atas angin. Posisinya benar-benar aman.
Tiga pria itu berseteru seolah tidak ada Yumi di antara mereka. Sedangkan wanita itu masih duduk diam di sana. Entah kapan dia akan mulai bersuara.
"Tuan Keva, aku tidak suka membuang-buang uang untuk hal yang tidak penting. Jika masih ada orang baik yang bersedia mentraktir, lantas mengapa aku harus menolaknya? Bukankah itu juga bagian dari rejeki?" balas Fabian tak mau kalah.
"Apa kalian akan terus bicara? Setidaknya hargai aku di sini. Tidak bisa kah kita makan dengan tenang? Atau kalian lebih suka berdebat seperti orang gila?" Yumi mulai kesal, darahnya naik beberapa tensi.
"Dengar, waktu makan siang sudah berakhir. Kau ikut bersamaku. Jangan lupa, kau adalah sekretarisku. Kau bertanggung jawab atas diriku dan juga semua tugas-tugasmu. Jika kali ini kau alpa, maka aku tidak akan segan-segan memecatmu!" seru Fabian dengan tatapan tajam. Sehingga membuat Fahri tertunduk ketakutan.
Pria itu tahu, bahwa perkataannya bukanlah sebuah isapan jempol belaka. Fabian sanggup membuktikan ucapannya. Lantas siapa dia mau bersaing dengannya?
__ADS_1
"Yumi, bukankah kita sudah sepakat untuk hal ini?" Tampaknya situasi mereka semakin memanas. Sedangkan Fahri mulai mundur secara teratur.
Dia tidak ingin mengambil resiko dengan mengorbankan pekerjaannya. Dia memang mencintai Yumi, tapi apa yang akan dilakukan keluarganya bila akhirnya dia harus kehilangan pekerjaan hanya karena satu wanita?
"Nona Yumi!" Tiba-tiba saja Kenzo hadir bersama seorang pria tua.
Pria dengan uban serta kacamata rabun itu tidak asing di mata Yumi. Dia adalah mantan mertuanya.
Entah sejak kapan mereka berada di sana. Kenzo benar-benar gembira saat melihat Yumi.
Anak itu pun berlari, lantas mengecup gemas pipi Yumi. Wanita yang hendak ia jadikan Ibu.
"Kenzo? Sedang apa kau di sini?" tanya Yumi.
Satu keunggulan Fabian adalah dia memiliki Kenzo untuk memenangkan hati mantan istrinya.
"Aku jalan-jalan bersama Kakek. Kalau kau sendiri, sedang apa di sini? Dan siapa mereka? Apakah teman kantormu?" sahut Kenzo apa adanya.
"Perkenalkan, saya adalah Keva. Tunangan Nona Yumi." Entah apa yang dipikirkan Keva, hingga memperkenalkan diri kepada Kenzo dengan menyebut dirinya sebagai tunangan Yumi. Alhasil Kenzo sangat kesal. Hatinya benar-benar patah.
Pun Fabian, pria itu tak kalah kesalnya. Menurutnya, Keva tak pandai menjaga perasaan seorang Anak kecil.
Sedangkan Keva sendiri berpikir, bahwa dia tak ingin memberi harapan palsu kepada Anak itu.
Sementara Yumi, merasa tak enak hati pada semua orang yang ada di sana. Terutama kepada Kenzo dan juga mantan mertuanya yang turut menyaksikan percakapan mereka.
"Nona Yumi, apakah kau bersedia menjadi Ibuku? Jadilah Ibuku, dan aku akan menjadi anak yang patuh."
Permintaan Kenzo yang satu ini sontak membuat keempat pria itu terkejut.
Kenzo sukses membuat Yumi berada dilema. Di satu sisi dia ingin memulai hidup baru bersama pria pilihan orang tuanya.
Dan di sisi lain dia masih belum kelar dengan masa lalunya.
Dikiranya masa lalu itu telah usai, nyatanya dia telah kembali. Seakan ingin membuat kisah yang baru lagi.
Note : Silahkan add Facebook Author atas nama Suharni Adhe ya. Dan jangan lupa follow instagram Author @Suharni Adhe. Dan untuk pemenang kuis, silahkan inbox nomor HP nya ya. Terimakasih.
__ADS_1