Because I'M Your Wife

Because I'M Your Wife
Bab 10 Aku akan Menunggu


__ADS_3

"Zhafirah!" Bentak Arkha pada istrinya.


Baru satu hari, satu malam Zhafirah menikah dengan Arkha. Ia sudah di bentak berkali-kali. Sungguh cobaan setiap orang dalam berumah tangga akan berbeda-beda. Jika Bu Riana sering mengalami KDRT dalam keterbatasan ekonomi. Zhafirah justru mengalami tekanan batin dengan bergelimang harta. Gelang berlian, cincin berlian yang di berikan oleh Arkha, tak berarti apa-apa. Karena Zhafirah betul-betul tak merasakan kebahagiaan dari benda-benda mewah yang kini menempel pada tubuhnya. Yang ia miliki karena dirinya istri dari Arkha Bagaskara.


Zhafirah memejamkan kedua matanya saat teriakan Arkha menggelegar di kamar yang harusnya mendengar suara manja dari sang pengantin. Atau bahkan rayuan sang suami untuk membawa istrinya ke sebuah indahnya setiap sentuhan dalam mahligai pernikahan. Namun itu semua, tak Zhafirah dapatkan. Zhafirah membalikkan tubuhnya. Ia masih menunduk. Rambut panjang yang tergerai di kedua sisi dadanya membuat kedua netra Arkha menarik napas dalam. Entah kenapa setiap kali ia ingin meluapkan emosinya. Wajah sang istri yang teduh dan tertunduk membuat bibirnya tertahan.


"Hhhh..... " Arkha mende saah pelan.


Ia mengurai rambut hitamnya dengan satu tangan yang menegang pinggangnya.


"Kamu membuka pesan di ponsel saya?!" Suara ketus dari Arkha kembali keluar. Bahkan satu ponsel yang tadi sempat Zhafirah sentuh layarnya. Kini dilempar ke kasur oleh Arkha.


"I-Iya. Mas. Maaf. Tadi saya pikir ada telepon penting." Ucap Zhafirah.


Arkha menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sini kamu!" Bentak Arkha seraya memainkan keempat jarinya ke arah Zhafirah. Ia meminta Zhafirah mendekat.


Dengan langkah yang pelan, Zhafirah melangkah maju. Ia masih menunduk karena takut. Ia sudah bergidik mendengar suara dari sang suami. Jika ia bisa berani membentak Tito, karena lelaki itu bertindak kasar pada sang ibu. Kini ia tahu apa yang terjadi pada ibunya, disaat posisinya menjadi seorang istri. Ia juga mengakui bahwa ia salah. Ia membuka ponsel suaminya tanpa izin sang suami.


Satu tangan Arkha memegang dagu Zhafirah. Tubuh Zhafirah bergetar. Tangannya bahkan berkeringat dingin.


"Dengar! Ini peringatan untuk kamu! Jangan sentuh barang milik ku! Kamu ingat status mu. Kamu hanya istri sebagai status ku!" Ucap Arkha yang menatap tajam istrinya.


Zhafirah mengangguk dengan tertahankan. Karena cengkraman Arkha pada dagunya. Ia sedikit merasa kesakitan pada kedua pipinya karena jari-jari Arkha begitu menekan kulitnya.


"Satu lagi! Aku akan kirimkan kamu kebiasaan ku. semua rutinitas ku. Jadi kamu tidak menganggu ku! Paham?!" Ucap Arkha dengan penuh emosi.


"Paham mas." Ucap Zhafirah.


Ia pun kembali ke arah meja yang dimana telah ia seduh kopi untuk Arkha. Lelaki itu dengan santainya duduk dan menelpon seorang perempuan. Namun tak diangkat. Ia pun melirik kopi yang dibuatkan oleh Zhafirah. Saat selesai menyeruput kopi tersebut. Sudut bibir Arkha tertarik.

__ADS_1


"Enak juga kopi buatannya." Batin Arkha.


Zhafirah yang bingung harus apa, perut juga yang terasa keroncongan karena dari semalam merasa lapar. Pagi itu berbunyi cukup keras. Telinga Arkha bisa mendengar suara dari perut Zhafirah yang lapar.


"Kruuukkk..." Suara khas perut lapar yang berasal dari perut Zhafirah.


Arkha melirik.


"Hah! Merepotkan. Aku sangat tidak nyaman ada orang lain di kamar ku. Kalau kamu lapar. Turun saja. carilah makan sendiri. Atau kamu bisa telpon bagian resepsionis." Gerutu Arkha. Ia sebenarnya kesal karena teleponnya tak diangkat oleh Selena. Namun Zhafirah menjadi pelampiasannya.


"Mas tidak lapar?" Tanya Zhafirah.


"Saya pesankan sandwich saja!" Ucap Arkha tanpa menatap lawan bicaranya. Seolah ponselnya lebih cantik, lebih mengg@irahkan daripada istrinya.


Baru Zhafirah akan menekan angka pada telepon di kamar hotel tersebut. Sebuah interkom dari pintu kamar berbunyi. Zhafirah melihat ke arah pintu yang terdapat Layar. Ia melihat ada satu orang room service dengan sebuah trolley. Zhafirah bertanya pada Arkha dan kembali itu membuat Arkha mendengus kesal.


"Mas, ada room service." ucap Zhafirah.


Entah sudah berapa kali Arkha membentak perempuan yang harusnya ia perlakukan dengan baik agar rezekinya lancar. Beruntung istrinya adalah Zhafirah. Ia masih mencoba menerima perlakuan itu tanpa menyimpan rasa sakit. Karena ia tahu, ia istri Arkha Bagaskara. Karena ia istrinya, maka sudah tugasnya belajar memahami sang suami. Sudah seharusnya ia diam saat sang suami emosi.


Zhafirah memasang jilbab di kepalanya. Lalu, ia pun membuka pintu kamar. Room service tersebut tersenyum dan menyapa Zhafirah. Ia mengatakan jika ia mengantarkan pesanan yang telah di siapkan sesuai oleh paket honeymoon mereka. Room servis tersebut menanyakan akan diletakkan dimana hidangan yang Tah ia bawa. Zhafirah meminta di letakkan di sisi sang suami. Room servis tersebut tampak mendorong trolley tersebut ke arah yang diminta Zhafirah. ia membesarkan trolley tersebut dengan cara membuka sayap kanan dan kiri trolley. Lalu ia mengunci trolley tersebut dengan baik.


Room servis tersebut bertanya apakah Zhafirah memerlukan pelayanan saat akan menikmati hidangan tersebut. Zhafirah menggeleng. Lalu lelaki itu mematikan heater yang terletak pada bagian bawah trolley. Setelah mengucapkan salam. Lelaki itu meninggalkan kamar tersebut.


Zhafirah pun membuka tutup stainless tersebut. Ia melihat sebuah sandwich yang begitu penuh daging sosis. Ia tahu, itu pasti untuk sang suami.


"Ini mas, sarapan dulu." Ucap Zhafirah pelan.


Arkha tak menjawab. Ia langsung mengambil sandwich tersebut dan memakannya di atas tempat tidur. Ingin sekali sang istri mengingatkan suaminya. Namun apa hendak dikata. Daripada kembali membuat emosi suaminya naik. Zhafirah diam saja.


Ia menarik satu kursi dan duduk menghadap trolley tersebut. Ia melihat satu piring nasi dan sup daging yang begitu menggugah selera makannya. Zhafirah pun menikmati sarapannya. Baru pertama menginap di hotel bintang 5. Itu membuat Zhafirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Menu itu begitu lezat. Sehingga tanpa Zhafirah sadari, sepasang mata suaminya menatapnya tak percaya.

__ADS_1


"Apa dia tidak pernah makan sup daging." Batin Arkha. Masih sambil mengunyah sandwich kesukaannya.


Arkha tidak tahu jika sang istri menahan lapar dari semalam. Ingin bertanya saja tak berani apalagi mengatakan atau merengek manja pada dirinya jika ia lapar. Arkha melihat betapa lahapnya Zhafirah makan karena nikmatnya menu tersebut.


"Jaga sikap mu jika lagi makan diluar. Aku tidak mau kamu makan seperti orang dari hutan!" Kata Arkha sambil meletakkan sandwich yang tinggal sedikit di atas meja. Lelaki itu meminum satu gelas air putih di atas trolley tersebut.


Zhafirah mengangguk pelan, tanda ia mengerti apa yang dikatakan sang suami. Namun kembali sikap Zhafirah membuat Arkha merasa ilfil. Satu potong sandwich yang hanya tinggal rotinya tersebut di lahap oleh Zhafirah.


"Hei! Apakah kamu masih lapar?! Jorok!" Ucap Arkha kesal.


Zhafirah bahkan hampir tersedak karena bentakan suaminya. Ia memejamkan mata untuk menelan sandwich yang ia kunyah. Lalu ia cepat membantu sandwich tersebut masuk kedalam lambung nya dengan bantuan segelas air.


"Mubazir mas." Ucap Zhafirah pelan.


"Heh! Mubazir kamu bilang. Makan setelah kenyang itu juga dilarang syariat kan?!" Kembali suara ketus Arkha membuat kedua mata Zhafirah terpejam. Namun kedua alis Zhafirah tertaut karena ucapan sang suami.


Ya, Arkha berbicara tentang syariat. Suaminya seolah paham satu dalil dimana makan dan minum yang tidak boleh berlebih-lebihan, karena Allah tidak menyukainya.


"Lalu membentak istri apakah itu di bolehkan di agama kita?" ucap Zhafirah yang terpesona akan kalimat suaminya barusan. Ia tak menyangka Arkha berbicara tentang syariat. Dari kemarin lelaki itu tampak seperti orang gersang akan agama. Ia bahkan tak menjalankan ibadah wajib dengan sempurna. Isya dan Shubuh tak ia kerjakan kemarin malam. Dan kini suaminya berbicara tentang syariat.


Arkha terdiam. Bibirnya terkatup rapat. Ia menatap Zhafirah dari tempatnya.


"Sudah cepat habiskan makanan mu! Kita harus ketemu Mama."


Ucap Arkha yang segera berlalu ke arah lemari. Ia mengambil satu kemeja dan celana panjangnya. Zhafirah cepat menunduk. Entah kenapa ia masih tak berani memandang sesuatu yang halal ia pandangi. Sedangkan Arkha. Ia merasa tertampar akan pertanyaan yang sebenarnya ia tahu jawaban itu. Namun rasa gengsi, kesal membuat ia tak ingin membahas masalah itu.


"Kamu tahu jawabannya mas. Karena itu kamu menghindar. Aku akan berjuang dan bersabar untuk cinta mu. Aku akan mencintaimu mulai hari ini. Karena aku istrimu." Ucap Zhafirah penuh keyakinan.


Ia akan berkomitmen untuk mencintai Arkha. Dan ia akan berjuang untuk perempuan yang pagi tadi bernama My Heart pada kontak sang suami.


.

__ADS_1


__ADS_2