
Tiba di kediaman Arkha. Zhafirah disambut banyak asisten rumah tangga. Bu Indira juga sudah menyambut sang menantu. Bahkan saat Sang Mama dan istri sedang berbincang di ruang keluarga, Arkha membelalakkan kedua matanya saat tiba di kamar. Di dalam ruang ganti yang terdapat banyak pakaiannya, kini bertambah satu lemari kaca. Semua isinya pakaian perempuan beserta aksesorisnya.
"Ini apa-apaan Rin?!" Bentak Arkha saat Rini, salah seorang asisten kepercayaan yang biasa mengurus semua keperluan di kediaman Arkha.
"Maaf Mas, itu Ibu yang siapkan. Mas Romi yang ibu minta pesankan pada toko langganan Ibu." Ucap Rini.
Arkha membuka lemari itu. Ia membuka kotak-kotak yang berisi berbagai macam aneka perhiasan juga bros untuk wanita.
"Heh.... Sungguh kamu beruntung sekali. Bagaimana dia akan bercerai dari ku. Jika fasilitas yang mama berikan padanya begini banyak." Gerutu Arkha.
Betul saja, Bu Indira sedang memanjakan sang menantu. Ia memberikan dua kartu pada Zhafirah. Satu kartu debit dan satunya kartu kredit. Bu Indira juga memberi sebuah kunci mobil pada Zhafirah.
"Tapi aku tidak bisa menyetir mobil Ma. Kalau motor saja? " Tanya Zhafirah.
Bu Indira terkekeh-kekeh mendengar permintaan sang menantu.
"Kamu tahu Zha, kalau menantu lain sudah akan bertanya mobil jenis apa. Kamu malah minta ditukar motor. Sudah, ini nanti Mama siapkan sopir. Jadi kemana kamu mau pergi. Sopir akan mengantar. Kalau motor. Kamu bisa pakai semua motor yang ada di garasi." Ucap Bu Indira.
Zhafirah tersipu malu, Ia tak habis pikir. Alangkah bertolak belakang sikap anak dan ibu ini.
"Hidup di dunia ini memang tak ada yang ideal Zha. Jika mertua mu baik. Kamu diberi cobaan dari sikap suami mu yang tak baik." Ucap Zhafirah dalam hatinya.
Ia pun beranjak ke kamarnya. Ia diantar oleh Rini. Perempuan itu berusia 30 tahun.
"Mbak nya sudah lama kerja di sini?" Tanya Zhafirah.
"Ya mbak. Panggil Rini saja." Ucap asisten rumah tangga tersebut.
__ADS_1
Zhafirah menolak, karena ia menganggap Rini lebih tua usianya dari pada dirinya.
"Ga ah. Mbak lebih dewasa." Ucap Zhafirah.
Rini pun mengatakan bahwa Zhafirah bisa menghubungi dirinya jika butuh sesuatu melalui interkom.
Malam hari, Zhafirah menanti-nanti Arkha sibuk dengan Selena melalui ponselnya. Tetapi satu kejadian membuat Zhafirah merasa tak nyaman dengan tindakan Rini.
Perempuan itu masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu. Tepat disaat Arkha sedang membuka baju. Suami Zhafirah itu baru saja mandi. Tampak, Rini membawa handuk baru dan keset baru ke dalam kamar. Ia juga mengambil keset yang tergeletak di depan kamar mandi. Ia mengganti dengan yang baru. Zhafirah mengamati perempuan itu. Saat Rini akan keluar dari kamar.Zhafirah memberanikan diri bertanya pada Arkha.
"Apakah mbak Rini terbiasa masuk kamar tanpa mengetuk pintu?" Tanya Zhafirah.
Arkha yang sudah duduk diatas tempat tidur menoleh ke arah Zhafirah. Ia tak menjawabnya. Zhafirah mengerucutkan bibirnya. Arkha tak menjawab pertanyaannya. Ia sudah bagaikan seorang diri di dalam kamar. Ia pun baru akan naik ke tempat tidur, Tiba-tiba suara Arkha menghentikannya.
"Tidur di sofa." Ucap Arkha.
"Baiklah Arkha Bagaskara. Sampai kapan kamu akan membully istri mu ini." Ucap Zhafirah.
"Tunggu kalau butuh aku." Lanjut Zhafirah sambil menangkap bantal dan selimut yang dilempar Arkha.
"Jangan mendelik begitu. Ini kamar ku. Aku tidak suka aroma tubuh mu!" Ucap Arkha bagai silet.
Dengan pelan Zhafirah menuju Sofa. Ia berbaring di sofa yang lebarnya cukup untuk tidur. Ia pun mencium ketiaknya. Yang kanan dan kiri.
"Ga bau..., apa Selena itu wangi sekali... penasaran sama My Heart mu itu, mas. Kita lihat, apakah Selena mu itu akan bisa bertahan di hati mu kalau aku membawa gundah hati ku pada pemilik hati ini." Batin Zhafirah seraya menatap suaminya yang masih terkekeh menatap layar ponselnya.
Lelaki itu masih berbicara dengan Selena, Ia terlihat santai dan bahagianya. Zhafirah memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Seraya mencoba terlelap, Zhafirah bisa mendengar tawa renyah suaminya.
"Biar saja tidak kamu mencintai aku mas, kita buktikan. Kuat cintamu pada My Heart mu itu atau tirakat ku untuk pernikahan kita ini." Ucap Zhafirah sebelum ia melakukan aktivitas nya sebelum tidur.
...Ia akan membaca...
... اَللهُ اَكْبَرُ...
... , سُبْحَانَ اللهِ,...
... اَلْحَمْدُ لِلّهِ...
...sebanyak 33 kali....
[keterangan di atas bersumber dari sebuah hadits dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim]
Begitulah Zhafirah, ia selalu tak lepas daei doa. Dari bangun tidur dan hendak tidur. Maka bagaimana ia bisa merasa insecure dan merasa patah semangat kala suami yang baru menikahinya belum dapat mencintainya. Zhafirah masih menghadirkan Allah dalam rumah tangga nya.
Sedangkan Arkha hanya melirik istrinya. Ia sampai hapal rutinitas Zhafirah sebelum tidur. Bahkan istrinya tampak mengusap kedua tangan ke tubuhnya setelah berdoa.
"Dia betul-betul menjalankan melibatkan Allah dalam hidupnya." Batin Arkha.
Namun perempuan di layar ponselnya merasa kesal karena Arkha tak memandang dirinya yang sedang menunjukkan baju baru.
"Arkha!"
"Awwwh... Ada apa Selena. Aku menggunakan headset. Jangan berteriak." Gerutu Arkha seraya memegang headset di telinganya.
__ADS_1