
Sungguh Allah tidak akan memberikan cobaan pada setiap manusia di luar Batasan kemampuan manusia tersebut. Seperti itu pula cobaan pada Zhafirah. Tidak mudah untuk mendapatkan hidup Bahagia dalam mahligai pernikahan tanpa usaha yang sungguh-sungguh apalagi jika ada orang ketiga, baik pebinor atau pelakor. Dua-duanya sama saja, sama-sama melakukan dosa besar dan haram.
Zhafirah memeluk Bu Indira cukup lama, ia bahkan menumpahkan tangis kesedihannya yang sempat ia tahan Ketika di kamar tadi. Bu Indira justru tertawa melihat air mata yang mengalir begitu deras.
“Zha, kamu mau liburan kok nangisnya kayak mau pergi kemana. Apa Arkha menyakiti kamu disana nanti jadi nangis begini?” Tanya Bu Indira seraya mengusap pipi menantunya.
Menantu yang selalu membangunkannya Ketika pagi, menantu yang tiga bulan ini menjadi teman bercerita, teman berbagi banyak pengalaman. Kesepian selama kepergian suaminya mulai berkurang, ia mendapatkan anak sekaligus sahabat setiap harinya. Bahkan Zhafirah sampai hapal kapan ia akan minum obat, dan jenis obat yang akan ia minum. Rini bahkan merasa senang karena Sebagian tugasnya diambil alih oleh Zhafirah. Walaau asisten rumah tangga itu masih tak suka dengan Zhafirah.
Arkha, sebenarnya ia tahu jika ia sedang melakukan satu dosa besar. Bahkan suami Zhafirah itu mengerti jika meminang atau melamar perempuan yang telah di khitbah oleh laki-laki lain itu dilarang. Apalagi mendekati dan merusak hubungan perempuan yang telah terikat hubungan pernikahan. Hal itu karena ada kesombongan dalam diri Arkha. Ia memang cerdas dan berilmu tapi kesombongan membuat ilmunya tak seiring sejalan dengan sikapnya. Karena kesombongan itulah yang membuat Arkha tidak sadar akan kesalahannya. Tak adanya bimbingan guru maka itu juga factor Arkha tak sadar jika ia sedang melawan arus dari ilmu yang oernah ia pelajari di waktu silam.
Berbeda dengan Zhafirah, ia berilmu tetapi ia memiliki salah satu sifat yang menjadi kunci untuk bahagia di dunia ini. Karena Allah akan memberikan setiap hambanya kebahagiaan kala seorang hamba itu mampu melalui cobaan dengan sabar. Seperti Zhafirah, ia bersabar menerima pernikahannya dengan Arkha. Pernikahan tanpa Cinta.
Bukan harta CEO Bagaskara yang membuat Zhafirah, tetapi rasa syukur karena memiliki mertua yang begitu menyayangi dirinya, mertua yang juga menghormati sang ibu. Suami yang menurutnya berhati baik. Zhafirah bisa melihat bagaimana lembutnya Arkha memperlakukan dirinya dihadapan ibunya. Belum lagi selama menikah dengan Arkha, ia belum pernah melihat sang suami membentak ibunya. Sang suami tergolong anak yang begitu menghormati dan menyayangi ibunya. Hanya saja ia terlalu sibuk bekerja. Bahkan saat di meja makan pun, Arkha masih memandangi tabletnya.
Saat dalam perjalanan menuju bandara, taka da obrolan di dalam mobil. Dari senyum dan rona wajah sang suami , Zhafirah bisa menebak jika Arkha sedang membalas pesan My Heart alias Selena.
“Sabarlah Zha, Allah hanya akan memberikan ujian yang berat kepada hambanya yang Tangguh.” Batin Zhafirah dalam menyemangati dirinya sendiri.
Ibunya tak tahu tentang pernikahannya juga isi hatinya. Ingin sekali Zhafirah meluruskan sikap suaminya terhadap huubunganya dengan Selena. Tetapi Zhafirah sadar, hal itu justru akan menambah keruh permsalahan dirinya dan sang suami. Arkha yang tak mencintainya, maka akan sulit untuk memberikan nasihat pada orang yang belum ada cinta di hatinya. Ingin meminta bantuan sang ibu mertua untuk menasehati Arkha. Itu tidak mungkin, karena Ibu mertuanya memiliki penyakit hipertensi. Yang Zhafira lakukan sekarang adalah menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ia masih harus melihat seperti apa rivalnya yang Bernama Selena itu. Karena untuk melumpuhkan lawan, kadang kita harus mengenal siapa lawan.
__ADS_1
Pengalaman menjadi abdi ndalem bersama Umi Laila dan Umi Siti, membuat Zhafirah tidak hanya cerdas dalam menghafal dan memahami kumpulan dari bait-bait penting sharaf yang disadur dari Alfiyah. Tetapi ia juga mendapatkan pelajaran yaitu hal-hal bersangkutan dengan batin. Ilmu itu tidak bisa di dapat Ketika duduk membahas kitab atau menghafal nadhom-nadhom, melainkan Ketika menghabiskan waktu Bersama guru, dan disini Umi Siti menjadi figru guru Zhafirah dalam kebatinan. Maka ia tak kaget jika Zhafirah memiliki kepekaan dan ketajaman dalam menjalani realita kehidupan di tengah masyarakat dan rumah tangganya.
Ia ingat betul Ketika di awal-awal ia menjadi abdi ndalem Umi Siti. Tak banyak yang tahu jika Umi Siti menikah dengan Gus Furqon tanpa rasa cinta. Ia menikah karena perjodohan. Bahkan Gus Furqon melamarnya karena Umi Siti memiliki pemahaman dalam bab Fiqh kewanitaan. Salah satu kriteria Gus Furqon untuk ia jadikan istri.
Saat di pesawat, Zhafirah hanya memejamkan kedua matanya, perjalanan cukup Panjang menuju Seoul, 7,5 jam. Arkah dan Zhafirah melakukan penerbangan menggunakan Airbus A330-300. Beberapa jam setelahnya, lampu dalam kabin mulai dipadamkan. Arkha pun tampak beristirahat. Tetapi Zhafirah lebih memilih memajamkan mata seraya membaca shalawat favortinya yanga dikarang oleh Habib Mahdi Abu bakar Al Hamid.
“البَتُول البَتُولالبَتُول البَتُول
أُمُّنا أُمُّناأُمُّنا أُمُّنا”
Hingga akhirnya tanpa Zhafirah sadari Ketika ia membuka kedua matanya, ia melihat kea rah jendela. Terlihat garis ufuk berwarna keemasan dan kontras dengan warna langit.
Arkha mendengus kesal. Karena ia menganggap sikap Zhafirah terlalu kampungan. Hanya melihat matahari terbit saja bisa begitu bahagianya.
“Matahari sama saja mau di Indonesia atau di Korea.” Ucap Arkha ketus.
Zhafirah menoleh dan menyipitkan kedua matanya.
“Lalu kenapa mas sampai rela meninggalkan pekerjaan mas hanya untuk menemui Selena jika langit masih sama biru antara Seoul dan Indonesia?” Tanya Zhafirah yang menynggingkan senyumnya.
__ADS_1
Arkha melotot kea rah Zhafirah.
“Kamu… suka sekali berdebat!” Ucap Arkha kesal,
“Tiga bulan menjadi istri mas, Hanya berdebat begini mas mau berbicara dengan ku.” Ucap Zhafirah.
Pertikaian suami istri itu terhenti karena ada pramugari yang mendekat. Pramugari berhenti di sisi Akha, ia mendorong trolley berisikan sarapan pagi.Zhafirah melihat ada dua pilihan yaitu menu western dan Asia. Zhafirah mengambil menu Western. Sebuah omelet, terdapat tomat yang sedikit dipanggang, kentang dan sosis. Zhafirah tak memakan sosis tersebut. Ia khawatir akan halal atau tidaknya sosis tersebut.
Tak terasa hampir tujuh jam Arkha dan Zhafirah melakukan penerbangan dari Indonesia ke Seoul. Suhu udara saat ini 4 derajat celcius.
“Pantas jaketnya tebal sekali.” Ucap Zhafirah yang mulai merasakan suhu dingin. Tampak tangan Zhafirah masuk kedalam kantung jaket miliknya.
Pertama kalinya Zhafirah menginjakkan kakinya di Bandara Internasional Incheon. Sebuah negara yang dikenal oleh pecinta drakor dengan negaranya Lee Min Ho.
“Selamat datang Korea, selamat berjuang Zhafirah. Tunggu aku datang Selena…” Batin Zhafirah yang mengikuti Langkah kaki Arkha.
Sedangkan Arkha, ia tak sabar bertemu kekasih hatinya. Dinegara itu tak akan ada paparazi yang akan mengambil foto dan videonya. Tak ada orang yang mengenal dirinya di negar itu.
"Ah... akhirnya bisa bebas lagi.... tunggu aku Selena sayang."~~~~
__ADS_1