Because I'M Your Wife

Because I'M Your Wife
Bab 15 Pesan Dari My Heart


__ADS_3

Terbiasa di pondok pesantren berprilaku sopan, menghormati orang tua. Dan di didik untuk menata hati. Maka Zhafirah menata hatinya. Ia menikah dengan Akrha. Rasa suka pada lelaki lain pun ia tepis. Saat sang suami mulai memberikan ia kesempatan untuk menjadi istrinya yang baik. Maka Zhafirah memanfaatkan kesempatan itu untuk betul-betul menunjukkan high value nya.


Tentu saja niatnya. Karena Zhafirah tahu, segala sesuatu itu tergantung niatnya. Niat Zhafirah yang baik, maka itu memberikan kebaikan untuk dirinya sendiri. Hampir satu bulan menikah dengan Arkha, bukan hanya ibu Indira yang nyaman memiliki menantu Zhafirah. Namun Arkha juga merasakan kenyamanan. Akan tetapi karena dirinya terlalu lama mengenal Selena, maka Selena begitu menarik di matanya. Begitu sempurna dari Zhafirah. Zhafirah juga sudah melihat seperti apa perempuan yang diberi nama My Heart di kontak sang suami.


Perempuan yang memiliki postur tubuh tinggi, Rata-rata model. Selena juga memiliki rambut panjang nan hitam. Tubuh yang langsing. Zhafirah sedikit tak percaya diri karena ia melihat tubuhnya tak seperti Selena yang berbentuk indah lekuk tubuhnya. Namun ia kembali memasrahkan urusan hati suaminya biar Allah. Dia hanya akan menyebut nama suaminya dalam setiap doa. Ia akan menunjukan seperti apa istri yang baik. Bahkan ketika tepat tiga bulan saat Arkha menggigil demam di tengah malam. Bibir suaminya itu memanggil perempuan lain.


Ada rasa sakit di hati Zhafirah. Istri mana yang tak sakit hati. Hampir tiga bulan, tidur dalam satu kamar. Tetapi tak pernah diperlakukan sebagai seorang istri. Malam itu Zhafirah yang terbangun karena akan shalat malam, ia mendengar rintihan sang suami.


"Hhhhh.... Hhhhh...."


Zhafirah menghidupkan lampu utama. Ia melihat Arkha menggigil di balik selimutnya. Ia tampak ragu-ragu berjalan mendekati sang suami. Tapi mau tak mau. Wajah pucat Arkha membuat Zhafirah memberanikan diri menyentuh dahi sang suami.


"Astaghfirullah... Mas... " Ucap Zhafirah pelan.


Ia cepat berlari ke arah kotak P3K. Zhafirah mengambil termometer, ia menempelkan di bibir suaminya. Namun saat Zhafirah melihat benda itu. Tangannya gemetar, hatinya terasa sakit. Bahkan Zhafirah mengigit bibir atasnya dengan sedikit kencang.


"Sel.... Selena... Peluk sel... Dingin.... " Ucap Arkha.


"Tega betul kamu mas. Sudah tiga bulan kita menikah. Masih perempuan itu di sebut-sebut. Ku pikir kamu sudah melupakannya satu bulan ini."


Hati Zhafirah terasa panas dan sakit. Airmata menetes begitu saja. Ia pun bergegas menghubungi asisten rumah tangga lewat interkom. Ia meminta dibawakan baskom yang berisi air hangat untuk mengompres Arkha.


"Mbok minta tolong bawakan air hangat ya ke kamar, sama handuk untuk kompres." Ucap Zhafirah.

__ADS_1


Ia mencoba mematikan AC. Zhafirah mengusap dahi Arkha dengan tisu. Penuh kelembutan selama tiga bulan ini. Istri Arkha itu melayani suaminya. Bukan semata-mata karena ia ingin di cintai sang Suami. Tetapi melainkan karena Zhafirah ingin kelak di hari akhir nanti. Ia menjadi perempuan yang bisa masuk pintu surga manapun karena ia menjadi istri yang sholehah.


Maka rasa sakit hati, rasa kecewa di abaikan oleh Arkha. Ia tepis, ia telan sendiri dalam sanubari nya.


Setelah asisten rumah tangga mengetuk kamarnya. Zhafirah membuka pintu tersebut. Ia kompres Arkha, ia pijat kaki sang suami yang terasa dingin. Bahkan saat hampir fajar, Zhafirah masih telaten menyuapi Arkha air hangat-hangat kuku. Saat pagi tiba, Zhafirah yang membuat bubur untuk Arkha membuat sang ibu bertanya.


"Ada apa Zha? Kenapa kamu masak? Kamu cukup bicara sama Si Mbok. nanti biar disiapin." Ucap Bu Indira.


"Mas Arkha semalam menggigil Ma." Ucap Zhafirah.


Bu Indira menatap menantunya yang tampak cekatan di dapur yang serba canggih itu. Dulu menantunya akan kesulitan menghidupkan kompor atau mencari peralatan masak. Namun kini, sang suami justru selalu makan masakan istri yang tak pernah ia berikan perhatian, kasih sayang.


"Mama mau buburnya atau mau sarapan yang lain? Zhafirah cuma masak Sup ma." Ucap Zhafirah.


"Mama ambilkan satu mangkuk sup saja. Biar si mbok atau Rini yang ambilkan. Kamu rawat Arkha saja. Mungkin usus nya bermasalah. Ia sering makan-makanan instans Zha." Ucap sang Ibu.


"C u ih... Cari muka sama Ibu. Kalau bukan karena harta Bu Indira dan mas Arkha. Mana maj dia repot-repot masak begitu." Ucap Rini dalam hati seraya melirik Zhafirah dengan tatapan tak suka. Bahkan kedua mata perempuan itu bisa keluar jika Bu Indira tak berdehem.


"Ehm.... Rini.... ambilkan saya sup juga bubur yang di buat Zhafirah." Ucap Bu Indira.


Mertua Zhafirah itu bisa melihat tatapan sang asisten rumah tangga dari pantulan lemari pendingin yang ada di hadapannya.


"Kenapa Rini seperti tak suka pada Zhafirah." Batin Bu Indira seraya menatap punggung sang asisten.

__ADS_1


Di dalam kamar, Arkha telah duduk di tempat tidurnya. Lambungnya terasa sakit sekali. Bibirnya terlihat kering dan tubuhnya merasa lemah.


"Mas, ndak usah kerja dulu. Itu mukanya pucat sekali loh." Ucap Zhafirah dengan logat khas jawanya yang cukup medok.


Arkha hanya diam dan sekilas melirik istrinya.


"Telpon Romi. Suruh dia kesini." Perintah Arkha pada Zhafirah.


Ia betul-betul tak sanggup harus ke kantor pagi itu. Ia merebahkan tubuhnya lagi ke tempat tidur. Zhafirah tertegun menatap ponsel yang diberikan oleh sang suami. Benda yang hampir tiga bulan ini tak boleh di sentuh sang istri. Kembali hati Zhafirah terenyuh kala sang suami mengatakan bahwa layar kunci ponselnya huruf S.


"Layar kuncinya S." Ucap Arkha lirih.


Kembali tangan Zhafirah bergetar. Namun hati santri ndalem Umi Siti dan Umi Laila itu cepat menangkan aliran darah yang terasa panas dalam tubuhnya.


"Ayolah Zhafirah, jangan hiraukan Mas Arkha. Tak usah pedulikan ia mau bagaiamana. Ada Surga yang sedang menanti mu. Ada Sayyidah Fatimah, Sayyidah Khadijah dan Rasulullah di dalam Surga. Dan kamu bisa masuk lewat pintu manapun dengan melayani suami mu dengan baik.... " Ucap Zhafirah seraya memejamkan matanya dengan jari telunjuk nya membuat ukiran huruf S pada ponsel suaminya.


Kembali hati sang istri diuji kecintaannya. Cinta pada sang suami yang hanya makhluk atau cinta pada Maha Pencipta. Cinta Zhafirah seakan terus di uji oleh Allah. Cinta nya pada almarhum Ayahnya. Cintanya pada sang ibu. Cintanya pada Allah dan Rasul-Nya yang selalu mengajarkan arti kesabaran. Arti perjuangan untuk meraih ridho Allah.


Pesan yang tiba-tiba baru masuk kembali membuat Zhafirah terasa lemah. Namun ia harus tetap tegar, tetap terlihat baik-baik saja, Ia hanya akan menangis diatas sajadahnya.


[Kha, dua minggu lagi. Aku ada job ke Korea. Kita ketemuan disana ya? ]


Alih-alih Zhafirah berdoa dalam setiap doanya agar sang suami tak berselingkuh. Ia justru berdoa agar ia dan sang suami kelak berada di surga. Surga yang terdapat Rasulullah.

__ADS_1


"Ya Allah, kumpulkan aku kelak di akhirat nanti bersama suami ku. Hamba ridho untuk apa yang saat ini engkau tetapkan. Masih ada beberapa bulan lagi Zha. Berjuanglah untuk surga mu." Batin Zhafirah.


Perempuan itu menghapus sudut matanya. Ia menghubungi Romi tanpa membuka dan membaca pesan dari Selena. Karena itu bisa memicu amarah sang suami padanya.


__ADS_2