
Malam itu Zhafirah sengaja mengenakan Dress yang tak berlengan. Bahkan juba yang menutup pundaknya saja membuat Arkha terpana saaat keluar dari kamar mandi. Zhafirah sengaja melakukan itu. Empat tahun lebih membina rumah tangga bersama Arkha, ia melihat sang suami sudah tak lagi berhubungan dengan Selena. Itu sudah lebih cukup bagi Zhafirah. Suaminya tak berbuat maksiat, sudah merupakan kebahagian sendiri.
Bahkan pertemuan terakhir Zhafirah dengan Umi Siti yang membuat Zhafirah paham, bahwa tidak semua rumah tangga seindah drakor. Karena tidak akan ada suami yang begitu menggemaskan seperti di novel atau drakor. Jika ada yang tak di miliki suami maka jangan jadikan alasan untuk membenci suami. Sudah mencari nafkah, sudah tak bermaksiat, selagi tak KDRT. Maka itu lebih dari cukup bertahan di sisi suami. Maka Zhafirah pun mampu bertahan di sisi Arkha walau ia tak mendapatkan haknya di malam malam dingin. Tetapi senyum Arkha, tatapan yang tak lagi tajam. Itu adalah kebahagiaan yang wajib Zhafirah syukuri sehingga hatinya tak sakit lagi.
Malam itu, niat hati ingin membahagiakan suaminya, ia justru kecewa. Ia ingin mengambil inisiatif lebih dulu. Ia akan lebih dulu menawarkan pada suaminya untuk ikhtiar memiliki keturunan. Selama ini, Zhafirah hanya tahu jika Arkha sangat tidak ingin direpotkan untuk memiliki keturunan. Zhafirah tak tahu jika Arkha hampir setiap malam berjuang keras, setiap ia merasakan ingin memiliki Zhafirah seutuhnya. Ia harus tersiksa dengan rasa yang ia alami. Zhafirah tak tahu, jika baru me nge cup istrinya saja, ia sudah lebih du lu keluar. Bahkan saat pertama kali di korea, baru pa ha saja yang Zhafirah pegang. Arkha sudah merasa lemas.
Saat Zhafirah berjalan mendekati Arkha, Sarjana hukum itu harus terhenti langkanya. Bentakan Arkha membuat hati Zhafirah berdesir.
“Berhenti! Apa maksud kamu memakai pakaian begitu pendek seperti itu Zhafirah?” Tanya Arkha.
Zhafirah memandang wajah tampan suaminya. Ia hanya terpaku seraya mengumpulkan kekuatan untuk menyampaikan alasannya.
“Tidakkah kamu mau menyalurkan rasa cinta mu Mas?” Ucap Zhafirah lirih.
Kembali ia memegang jubah yang menutup lengannya.
“Aku bahkan setiap malam, selama empat tahun ini akan selalu menantikan saat dimana kamu menge cup dahi ku mas. Lantas alasan apa aku tidak mendapatkan hak ku dan kamu tidak menunaikan kewajiban mu disaat ada aku dihati mu? Harus sekuat apalagi aku bertahan mas… Sekuat hati aku bertahan, aku membutuhkan ungkapan cinta mu Mas…” Ucap Zhafirah yang telah berlinang air mata.
Zhafirah tak tahu jika Arkha justru sudah merasa lemas, ia berdiri memegang handle pintu kamar mandi. Arkha membuang pandangannya. Ia begitu terkejut jika selama ini Zhafirah pura-pura tidur saat ia menikmati wajah cantik istrinya.
“Apa kamu sakit mas?” Tanya Zhafirah pelan.
Arkha seketika naik pitam mendengar kalimat Zhafirah. Aib yang ia sembunyikan kini di pertanyakan oleh seorang istri yang harusnya menjadi tempat berbagi.
“Apa maksud mu sakit? Jika selama ini aku bertahan dengan kamu, itu karena Mama. Sampai detik ini, aku masih mencintai Selena. Kamu… tidak akan mampu menggantikan Selena mau secantik apapun kamu berhias. Mau kesalon mana pun kamu pergi. Selena tetap yang paling cantik untuk ku Zha…” Ucap Arkha dengan susah payah. Dadanya sesak sekali ketika ia mengucapkan hal itu.
Zhafirah menutup mulutnya dengan tangannya. Kalimat yang Arkha ucapkan bagai sebi lah pi sau yang meng hu jam dadaanya. Penantian empat tahun, berharap mala mini ia mendapatkan haknya. Justru sang suami masih bercerita tentang perasaan cinta pada Selena. Kali ini Zhafirah merasa di jurang kesabarannya. Ia Lelah bertahan, Ia Lelah. Ia berjalan ke arah Arkha. Ia tatap Arkha dengan tatapan sendu dan pipi yang basah karena air mata.
“Ceraikan aku… Mas….Hiks…” Ucapan yang tak ingin Zhafirah ucapkan selama empat tahun ini. Ia Lelah berjuang untuk di cintai. Malam itu, ia bahkan merendahkan dirinya. Ia berhias, ia menggunakan pakaian yang ia sendiri tak nyaman. Namun kenyataan pahit yang ia terima. Ia ditolak saat siap melayani suaminya.
“Pergilah ke pengadilan Zha… gugat aku… aku tak akan menceraikan kamu. Aku tak ingin Kembali membuat Mama kecewa padauk… please…” Ucap Arkha.
Zhafirah menghapus air matanya. Ia Kembali menatap lelaki yang menatap kea rah pintu kamar,
“Say to me, pernah kah akua da di hati mu mas?”
Ucap Zhafirah. Arkha terdiam.
__ADS_1
“Mas, pernahkah sehari, satu jam atau sedetik saja kamu mencintai aku….” Ucap Zhafirah. Suara istri Arkha itu sudah sangat lirih.
“I’m Sorry Zha… I can’t beside you, and let you go.” Ucap Arkha.
Zhafirah terduduk di kursi yang biasa ia gunakan untuk menghadap cermin.
“Kamu… kamu egois mas, kamu menyakiti aku. Kamu menyiksa ku… baiklah. Mari berpisah… aku akan menggugat mu secepat mungkin agar kamu bisa Bahagia Bersama cinta kamu.” Ucap Zhafirah yang menatap kosong cermin yang ada di hadapannya.
Arkha hanya melirik Zhafirah. Ia meninggalkan Zhafirah sendiri. Zhafirah malam itu menangis sambil memeluk kedua lututnya. Ingin ia berteriak, namun itu bukan hal diajarkan Umi Siti ketika merasa sedih. Kembali ia dikecewakan makluk Bernama suami itu. Zhafirah duduk diatas sajadahnya. Sampai air matanya mongering dengan sendirinya. Zhafirah menangisi perjuangannya yang dimana ia harus mengambil sikap karena Arkha tak ingin Bersama dirinya.
“Biarlah aku simpan dengan airmata ini mas…Apalah daya, aku hanya insan manusia. Allah yang berkehendak. Aku pun tak ingin menjadi orang egois seperti kamu.” Ucap Zhafirah seraya bangkit dari tempatnya. Ia berjalan seraya menyampirkan sajadahnya.
Ia tatap foto pernikahannya dengan Arkha. Bahkan foto ketika ia dan Arkha memerankan Ayra dan Bram pun tampak begitu menarik di pandang.
Bagai tertusuk duri hati Zhafirah melalui rumah tangga bersama Arkha, ketabahan hatinya kini harus ia bayar dengan sebuah perpisahan. Rasa cinta pada ibu mertua membuat Zhafirah malam itu mengatakan jika taka da kecocokan dengan Arkha. Saat Zhafirah meredah dengan tangisnya. Arkha justru menangis sekencang-kencangnya di sebuah pantai. Ia berteriak kea rah lautan. Ia berharap rasa sakitnya sembuh. Ia berharap jika jika dengan berteriak, ia bisa mendapatkan ketenangan. Padahal, yang bisa memberikan ketenangan Allah, mau kemanapun ia berlari. Ia mengeluh, Allah sebaik-baik tempat berlari dan mengadu.
“AAAAA…… Kenapa, kenapa harus aku… Kenapa aku tidak bisa Bahagia dengan cinta yang aku miliki….” Teriak Arkha.
Lelaki itu terduduk di hamparan pasir putih. Ia duduk berlutut menghadap kencangnya ombak pantai tersebut yang menerjang karang.
Mata yang penuh air mata itu Kembali mengenang pertemuannya dengan Mawan. Lelaki itu terakhir kali bertemu dengan Arkha ketika usai pemakaman Ibu Riana.
Flashback On
“Aku ingatkan pada anda Pak Arkha, Aku masih menanti Zhafirah. Kapan pun Anda melepaskannya, aku akan siap datang untuk membahagiakannya.” Ucap Mawan.
Arkha yang membersihkan tangannya dari tanah merah, ia menatap Mawan cukup dalam. Sejak saat itu, Arkha sering mencoba untuk menjadi suami yang baik untuk Zhafirah. Akan tetapi baru sekedar membayangkan istrinya saja, ia sudah lemas. Malam demi malam sering sekali Arkha mencoba memulai sesuatu yang mungkin diharapkan bagi sepasang suami istri. Namun semua sia-sia. Ia lebih dulu lemas. Maka hari Arkha yang mulai menyerah. Ia yang malu untuk berobat. Ia hanya menjaga pola hidupnya saja selama empat tahun Bersama Zhafirah. Tetapi tak membuahkan hasil. Bahkan setiap ia baru menegang, ia Kembali langsung lemas.
Flasback Off.
Dua hari sejak kejadian itu, Zhafirah berencana ke kantor Arkha. Ia sudah meminta salah seorang pengacara untuk menemaninya di gugatannya. Namun tiba dikantor Arkha. Zhafirah bertemu Romi.
“Maaf Bu, Pak Arkha tadi buru-buru pergi. Ini kebetulan saya ingin memberikan mapnya ketinggalan”Ucap Romi.
Zhafirah tak enak jika membicarakan hal ini Bersama Arkha. Namun Kembali hatinya sakit saat melihat Arkha duduk satu meja dengan Selena di sebuah restoran.
Rasa sakit dan cemburu membuat Zhafirah pun tak berani menemui Arkha. Ia bahkan me re mas map yang berisi gugatan cerai yang akan di tanda tangani Arkha.
__ADS_1
“Kamu mengecewakan ku mas… Kamu menghancurkan mimpi ku disaat aku baru akan menggapai mimpi ku…” Ucap Zhafirah.
Ia berlari meninggalkan Romi sendiri. Namun kepegergiaan Romi. Membuat Arkha cemas saat Romi berkata pada Arkha.
“Tadi Bu Zhafirah ikut sama saya Pak. Tapi tiba-tiba ga ada lagi di belakang saya..” Ucap Romi merasa heran.
Arkha mencari keberadaan Zhafirah. Kedua netranya menyusuri sudut-sudut restoran tersebut.
“Zhafirah….” Gumam Arkha.
Selena pun pergi meninggalkan Arkha setelah selesai dengan urusannya.
“Tak apa… setidaknya, ia pasti percaya jika kamu masih menyayangi Selena…” Ucap Arkha yang duduk Kembali. Tiba-tiba kakinya terasa lemah. Ia tak mampu menopang tubuhnya. Ia bisa merasakan sakitnya hati Zhafirah yang menduga jika ia masih mencintai Selena.
Belum lagi kemarin kabar jika Selena telah resmi bercerai dengan suamiya telah menyebar kemedia sosial.
Sebaik-baik rencana Arkha ingin berpisah dengan Zhafirah tetapi kekuatan cinta dan doa Zhafirah yang selalu mengetuk pintu rahmat Allah. Hari itu Zhafirah dibukakan tabir selama ini yang disembunyikan Arkha. Hari itu, seorang Naadhira Zhafira merasa malu dan bersedih juga senang. Malu karena beranggapan jika ia sudah merasa menjadi istri yang baik, tapi nyatanya ia takt ahu gelisah dan penderitaan suaminya. Bersedih karena ia takt ahu jika selama ini suaminya justru lebih tersiksa dengan pernikahannya. Senang karena ia tahu, bahwa Arkha justru mencintai dirinya karena cinta itu adalah ketika kita membuat orang yang kita cintai Bahagia. Arkha yang berencana berpisah dengan Zhafirah. Ia ingin zhafirah Bahagia setelah berpisah dengan dirinya.
Di dalam kamar mandi. Zhafirah baru saja mengusap air matanya. Ia mendengar suara perempuan yang tak asing ia kenal.
“Brengsek, ku pikir Arkha akan Kembali bisa aku manfaatkan setelah aku berpisah dengan suami ku. Heh. Sombong sekali dia menolak ku, dia pikir ada perempuan yang mau menikah dengan dirinya yang lemah sy a hwat itu? Ku rasa istrinya pun bertahan menjadi istrinya karena harta nya. Mana ada perempuan akan bertahan dengan lelaki lo yo begitu!” Gerutu Selena menghadap cermin dan membenarkan riasannya.
Zhafirah cepat keluar dari toilet. Ia bahkan tak memperdulikan Selena. Ia berlari seraya mengusap air matanya. Ia tak perdulu banyak mata menatapnya. Map yang ia bawa untuk di bubuhi tanda tangan Arkha tadi ia lempar entah kemana. Ia bahkan terisak menangis seraya melangkahkan kakinya sekuatnya. Ia ingin segera memeluk suaminya. Ia tak akan meniggalkan lelaki yang mulai menjadi lelaki baik. Hampir tiga tahun ia melihat Arkha tak meninggalkan shalatnya.
“Mas… Mas… Maafkan aku… Maafkan istri mu yang tak peka ini…” Seketika pandangan Zhafirah kabur karena air mata. Namun ia masih berlari ke arah restoran.
Tiba di restoran ia mengitari sudut demi sudut untuk mencari sosok suaminya.Namun ta kia temukan. Ia pun Kembali berlari kea rah parkir. Tiba di tempat Parkiri, Zhafirah berteriak begitu keras saat ia menemukan sosok yang ingin ia peluk, sosok yang ingin ia minta maaf karena takt ahu jika selama ini sang suami memiliki penderitaan sendiri.
“Mas…. Mas Arkha!” Semua mata yang ada di area parkir menoleh kea rah Zhafirah. Tak terkecuali Arkha dan Romi.
Romi yang membuka pintu untuk Arkha juga ikut menoleh, Arkha pun tak jadi masuk kedalam mobil. Zhafirah berlari dan memeluk Arkha erat. Ia tak perduli dibentak, tak perduli di lihat banyak orang. Romi justru menunduk malu karena Zhafirah memeluk suaminya tepat di hadapan asisten Pribadinya.
“Hiks… Hiks… Mas…. Terima kasih untuk cinta mu yang begitu besar untuk ku… Maaf untuk kebodohan istri mu ini….. Hiks…” Ucap Zhafirah seraya melingkarkan tangannya di pinggang Arkha.
Arkha hanya diam membisu. Jantungnya berdebar-debar. Suara tangis Zhafirah yang menyayat hati, membuat Arkha menahan rasa ingin tahunya, apa yang terjadi. Tangannya justru mengusap kepala istrinya. Sedangkan tangan satunya memeluk pinggang Zhafirah.
“Aku tidak akan keman-mana, dan aku tidak ingin kita berpisah mas…” Ucap Zhafirah lirih.
__ADS_1