Because I'M Your Wife

Because I'M Your Wife
Bab 38 Sebuah Tabir Masalalu


__ADS_3

Tampak sebuah pohon mangga, sàwo dan juga pohon Beringin di area masjid yang cukup tua dan besar di kota itu. Zhafirah menatap suaminya. Ia sedang menerka-nerka apa yang akan suaminya lakukan dan ungkapkan membawanya ke tempat itu.


Arkha duduk di sebuah tempat duduk yang terbuat dari semen. Tempat duduk itu menempel di dinding. Sebuah dinding pemisah antara masjid dan taman. Posisi taman tersebut ada disisi barat masjid. Arkha duduk sejenak di sana Zhafirah mengikuti sang suami. Lalu Arkha menerawang ke arah langit biru. Ia pun melepaskan sepatunya. Ia duduk bersila dan menoleh ke arah Zhafirah.


"Kamu tahu Zha. Dulu waktu aku mondok. Aku sering kabur ke sini. Disini, aku kadang suka merokok diam-diam." Ucap Arkha.


Zhafirah mendengarkan cerita suaminya. Jika dulu semasa di pondok pesantren, kenakalan sang suami disebabkan rasa tertantang dari teman-teman yang mengatakan bahwa ia cemen atau anak mama jika tak. berani merokok dan kabur dari pondok. Maka untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia anak pemberani. Ia pun melakukan hal itu dan tentu saja akan berakhir dengan sebuah hukuman dari lurah pondok atau pengurus pondok.


"Berarti sering di botakin Mas?" Tanya Zhafirah penasaran seraya membayangkan wajah suaminya yang berkepala plo ntos.


"Sering. Mandi tengah malam di pinggir sumur dan ditonton banyak santri. Gara-gara ketahuan ngintip anak santriwati mandi. Padahal baru mau, belum ngintip Zha.... " Kenang Arkha seraya tertawa senang.


Zhafirah mengamati mimik wajah suaminya. Ia tampak begitu bahagia sekali. Zhafirah justru menyematkan senyumnya karena ia tak menyangka jika sang suami pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Walau tidak sampai tamat.


"Terus sejak saat itu mas sering belajar otodidak atau lewat internet. Termasuk mendengar ceramah yang menurut aku sesuai dengan nyamannya aku." Ucap Arkha.


Zhafirah bis mengerti jika sang suami tak belajar perihal akhlak atau tata krama. Karena ia belajar semua secara mandiri tanpa bimbingan guru.


"Ternyata betul... Walau teori mas kuasai. Prakteknya sulit. Mas justru seperti memanfaatkan agama untuk kepentingan mas. Jika ada ceramah yang menyinggung mas. Mas tak suka lagi dengan kyai atau ustadz tersebut. Tapi memang dulu Gus Damar pernah bilang. Jangan sampai hati kita memiliki kebencian pada mereka yang disebut ulama. Akan tertutup hati kita. Dan itu mungkin, mas tidak suka dengan Gus Damar." Ucap Arkha.


Zhafirah memanggil seorang penjual kerak telor yang tampak baru akan meninggalkan area tersebut.


"Mau coba?" Tawar Zhafirah pada Arkha.


"Sehat ga?" Bisik Arkha pada istrinya.


Zhafirah menarik sudut bibirnya dan membisikkan sesuatu.


"Kalau mau makan jangan tanya sehat atau ga. Tapi tanyakan juga halal apa ga. Bukan dari lebel halalnya." Bisik Zhafirah.


Arkha tersenyum tipis. Tak berapa lama, pesanan Zhafirah pun selesai di buat. Arkha melihat istrinya begitu menikmati makanan yang bernama kerak telor tersebut. Ia pun meminta pada Zhafirah untuk menghabiskan porsi nya. Dan saat istrinya berhasil menghabiskan menu kerak telor yang berada di tangan Arkha. CEO Bagaskara itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya berkali-kali.


Arkha pun menepuk tangannya yang terasa sisa kerak telor ditangan nya. Ia menaiki tembok yang menjadi pembatas atau pagar antara taman dan masjid. Lalu setelah melihat ke area seberang tembok, Arkha kembali duduk dan menoleh ke arah Zhafirah yang baru saja meminum setengah botol air mineral.


"Zha.... Kamu tahu ga. Suara kamu itu kalau lagi murajaah atau ndarus di kamar. Mirip sama suara anak kecil yang dulu sering sekali aku dengar suaranya dari balik tembok ini. Tapi sayang, dulu mas tak sempat mengintip wajahnya." Ucap Arkha.

__ADS_1


Zhafirah menautkan alisnya.


"Kamu cemburu?" Ucap Arkha.


Kini giliran Zhafirah yang melepeaskan sepatunya dan duduk bersila di hadapan Arkha.


"Jangan bilang. Mas suka atau masih punya rasa yang belum selesai sama perempuan itu." Ucap Zhafirah dengan menggembungkan pipinya.


Arkha memegang kedua pipi Zhafirah dan menggerakannya sehingga kepala Zhafirah menggeleng-geleng.


"Ih.... mas bilang mirip. Ya mas memang nyaman aja dulu denger suara dia kayak nyanyi. Tapi lebih indah suara istri mas dong.... " Ucap Arkha.


Wajah Zhafirah merona mendengar rayuan maut Arkha. Ia betul-betul sering dibuat malu. Karena Arkha sering sekali merayunya. Bahkan sekarang ia tak sungkan menggoda atau merayu Zhafirah saat di hadapan Bu Indira.


"Memang apa samanya?" Ucap Zhafirah yang sempat protes saat namanya di ponsel Arkha di beri nama 'my heart'. Ia tak ingin disamakan dengan Selena. Maka sejak itu oleh Arkha di ganti lah nama Zhafirah dengan 'My Soul'.


"Ga tahu, tapi ketenangannya." Ucap Arkha.


Ia dulu sering mendengarkan suara perempuan yang mungkin seusianya di balik tembok itu. Setiap minggu ketika ada kegiatan thoriqoh. Sedangkan Arkha akan kabur di hari itu karena akan lebih mudah kembali tanpa terciduk pengurus.


"Memang gimana?" Pancing Zhafirah.


"Lupa. Tapi ada kayak Ummi.... Innaa... na.... na... na... na... na..... " Gitu deh. Tau kelanjutannya. Tapi adeem banget deh denger suaranya itu. Mas sampai sering tertidur di sini. Ini dulu masih rumput Zha. Ga ada tempat duduk kayak gini." Ucap Arkha memegang tempat duduk yang terbuat dari semen tersebut.


Zhafirah tiba-tiba pergi meninggalkan Arkha tanpa alas kaki. Ia setengah berlarian ke arah sisi tembok yang tadi Arkha naiki. Arkha berpikiran jika istrinya kebe let ingin ke ke toilet. Namun saat ia baru berdiri dan ingin menyusul. Sebuah suara yang tak lain adalah Zhafirah. Dengan nada dan lirik yang sama persis ketika ia mondok dulu.


"Ummi.... Inna... Ku bawwakan... Ayyam... ditambbah... Sama Sambal.... semangkuk... Semangka... "


Ummi (أُمِّيْ)


Inna (إِنَّ)


Kubawwakan (كُبًاوَّكَنْ)


Ayyam (أَنْ يَّمْ)

__ADS_1


Ditambah (دِتَمْ بَهْ)


Sama sambal (سَمَ سَنْبَل)


Samangkok (سَماًقَقْ)


Samangka (سَمَنْكَ)


Berkali-kali Zhafirah menyenandungkan itu. Kalimat-kalimat itu adalah sebuah pelajaran tentang hukum bacaan ghunnah dan nun sukun atau tanwin ketika bertemu dengan huruf hijaiyah. Metode yang diajarkan oleh Umi Siti pada Zhafirah saat itu yang sering kesulitan untuk mempelajari ketika tanwin bertemu huruf hijaiyah.


Arkha yang merasa begitu tak percaya jika sang istri ternyata adalah gadis kecil yang dulu juga berada di balik tembok beton tersebut. Kini sepasang suami istri itu saling pandang di posisi mereka.


"Jadi kamu perempuan itu?" Tanya Arkha.


Zhafirah mendonggakan kepalanya ke arah sang suami. Mereka saling pandang seperti orang baru saja jatuh cinta.


"Jadi apa yang istri mas ini lakukan dulu di balik tembok ini? " Arkha kini sudah melompat dan berdiri di hadapan Zhafirah.


"Dulu, istri mas ini masih begitu bodoh. Sering menangis karena tak mampu memahami ketika nun sukun bertemu huruf hijaiyah itu ada yang harus di dengungkan. Dan itu tadi dimana salah satu metode Umi Siti untuk istri mas ini. Jadi setiap Umi siti sedang menghadiri kegiatan Thoriqoh setiap hari selasa disini. Aku akan sambil menggendong putrinya disini seraya menghapalkan syair tadi." Ucap Zhafirah.


Putri bungusu Umi Siti masih ASI saat itu. Ia harus ikut kemanapun sang ibu pergi. Maka Zhafirah yang begitu telaten dalam momong bocah. Menjadi salah satu santri yang sering di ajak kemanapun sang guru pergi. Terlebih Zhafirah yang jarang pulang saat liburan, maka hal itu membuat ia dikenal dengan baik oleh Umi Siti juga begitu dekat dengan putri bungsu Umi Siti.


"Ternyata... jodoh kita dimulai dari tembok ini ya Zha.... " Ucap Arkha. Kini ia memeluk istrinya erat sekali.


Rasa semangat untuk sehat begitu besar di hati Arkha. Zhafirah bahkan menangis dalam pelukan suaminya. Suatu kebenaran kembali ia dapatkan. Selama ini ia kira Mawan yang memberikannya sebuah coklat yang hanya di jual di supermarket. Ternyata lelaki itu adalah Arkha. Lelaki yang sekarang ia cintai.


"Jadi, coklat yang sering ada di balik batu hitam di sini dulu. Itu Mas yang berikan?" Ucap Zhafirah.


"Insyaallah itu halal Zha. Mas beli pakai uang jajan Mas . Bukan mencuri." Ucap Arkha.


Kini Zhafirah melingkarkan tangannya ke pinggang Arkha. Ia berpikir jika lelaki itu Mawan. Namun ternyata jika berjodoh tak kemana. Allah justru betul-betul menjodohkan dirinya dengan pemberi coklat itu.


"Mas tahu, Zhafirah dulu ga pernah berdoa meminta jodoh seperti yang Zha inginkan. Terserah Allah kasoh jodoh seperti apa. Dan ternyata Allah menjodohkan. " Ucap Zhafirah.


"Terimakasih ya Allah.. Cinta pertama ku justru istriku. Berikan kami kebahagiaan lewat jalan yang Engkau inginkan. Sekarang, aku tak perduli ada atau tidak buah hati diantara kami. Maka aku akan membahagiakan dirinya." Ucap Arkha dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2