Because I'M Your Wife

Because I'M Your Wife
Bab 43 Zhafirah, Ada Apa?


__ADS_3

Hujan tak begitu deras, Zhafirah menengadahkan tangannya ke langit. Jika banyak orang sangat kesal kala hujan turun. Tidak dengan Zhafirah, ia tak pernah mengeluh kala hujan turun atau pun panas yang kian berkepanjangan. Ya, Bibir mungil Zhafirah itu nyaris tidak pernah mengeluh. Ia adalah perempuan, istri yang selalu menggantungkan harapannya kepada Allah. Ia hanya berserah diri pada setiap takdir yang Allah berikan untuknya. Sekalipun tidak merasakan kepuasan kala bersama sang suami. Ia lantas tak meratapi dirinya bertahun-tahun. Ia temani, dampingi Arkha Bagaskara yang terlihat sempurna di mata orang lain. Lelaki yang memiliki alis mata hitam nan lebat. Tubuh yang tinggi dan tegap belum lagi rambut ikalnya menambah ia terlihat tampan nan berwibawa dengan dada bidangnya.


Empat tahun Zhafirah mencoba menjadi perempuan bahagia. Ia memerangi rasa sedih, depresi dan tertekan. Ya, Ia bahkan satu tahun terakhir merasa tertekan kala ada pertanyaan dari rekan sejawat atau temannya yang bertanya apakah ia belum juga hamil. Pertanyaan yang hanya untuk basa-basi atau memang karena rasa ingin tahu akan urusan orang lain yang begitu tinggi hingga tak sadar pertanyaan itu sebenarnya berpotensi menyakiti hati Asisten dosen tersebut. Beruntung, Zhafirah perempuan terdidik bukan karena gelar sarjananya, tetapi hatinya, jiwanya yang kuat. Maka ia tampak biasa saja disaat mungkin bagi perempuan lain sudah mecari tempat curhat, atau pergi healing. Tetapi dia adalah Naadhira Zhafirah, santri abdi ndalem Umi Siti yang banyak belajar dari sang guru, tentang bagaiamana esok jika ia menjadi seorang istri.


Bukan teori yang Zhafirah dapatkan tetapi ia melihat, mendengar langsung Umi Siti dalam menjalani hidupnya. Hampir sepuluh tahun berada di Kali Bening dan sering menemani Umi Siti. Hal itu membuat Zhafirah memiliki akar yang kuat kala menikah dengan Arkha. Menikah tanpa cinta. Di kala cinta datang, ia kembali merasa diberikan kesempatan untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya lewat pintu sabar. Kondisi kesehatan suami dan juga ekonomi rumah tanggannya datang secara bersamaan.


Sungguh Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini. Ujian demi ujian yang datang pada Zhafirah sedari ia kecil hingga kini ia menikah, tak sekalipun ia meratapinya. Ia sadar jika itu adalah wujud cinta Allah pada dirinya. Dimana ujian, cobaan tersebut Zhafirah anggap sebagai sesuatu yang bisa menghapus dosa-dosanya dimasalalu atau Allah sedang ingin mengangkat derajatnya. Maka Zhafirah hanya ridho akan setiap ujian yang ia hadapi. TErmasuk saat ia diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda. Dosen yang kini mendapatakan kesempatan menjadi dosen di Negara itu, Ia begitu puas dengan kinerja Zhafirah dan juga ingin memberikan kesempatan kepada para alumni Universitas di kampus mereka yang mengabdi. Namun Zhafirah terpaksa menolak kesempatan itu. Ia lebih memilih diangkat menjadi dosen tetap di Universitas tempat sekarang ia menimba ilmu untuk gelar S2 nya. Alasannya adalah rasa cinta Zhafirah pada ibu mertuanya. Ia tak mungking pergi ke Belanda untuk mengejar mimpinya. Sedangkan mertuanya membutuhkan dirinya.


“Belum Ma, Nanti malam rencana baru mau bicara sama Mas Arkha.” Jawab Zhafirah.


Ia pun membukakkan kursi roda milik Bu Indira kembali dan menggendong Bu Indira dengan punggungnya. Lima belas menit mereka berjalan di jalan komplek perumahan tersebut dan saat tiba di depan kediaman mereka, Zhafirah melihat mobil Arkha sudah terparkir di Depan rumah. Zhafirah mengucapkan salam saat membuka pintu. Arkha pun menjawab dari arah belakang. Tiba-tiba sosok itu muncul dengan menggunakan apron berwarna hitam di tubuhnya.


“Kemana Zha? Handphonenya ga dibawa juga.” Ucap Arkha yang terlihat berkeringat.


Zhafirah mendorong kursi Roda Bu Indira ke arah kamar.

__ADS_1


“Mas masak apa? Kok sampai berkeringat begitu?” Tanya Zhafirah.


Belum menjawab pertanyaan istrinya, Arkha justru meraih tangan Bu Indira saat tangannya sudah lebih dulu di ci um oleh Zhafirah. IStri Arkha itu hanya mampu menggelengkan kepalanya. Ia pun membantu Bu Indira beristirahat di kamar. Ia menghidupkan televisi untuk Bu Indira.


“Mama mau istirahat sambil baca buku saja Zha.” Ucap Bu Indira. Zhafirah pun mengambilkan buku yang diminta sang ibu. Lalu ia bergegas ke dapur.


Saat tiba diantara perbatasan ruang dapur dan ruang tengah yang terhalang sebuah dinding partisi, Zhafirah berteriak seraya beristighfar.


“Hah!”


“AStaghfirullah…. Mas… Ih…. Suka banget ya…” Rengek Zhafirah yang memegang dadanya. Ia sangat tidak percaya Arkha melakukan hal yang biasa ia lakukan saat suaminya pulang dan mencarinya.


“Ampun Zha, ampun Zha..Hehehe…” Teriak Arkha karena istrinya mengelitiki pinggangnya. Ia pun memeluk istrinya cukup erat agar tangan Zhafirah tak lagi mengelitiki pingganngya.


“Mas hampir setiap hari lo Zha kamu gituin…” Protes Arkha yang menahan rasa gelinya.

__ADS_1


Zhafirah memang selalu menghibur dirinya dengan memberikan kejutan untuk sang suami. Tidak memiliki anak selama perniakahan mereka, membuat Zhafirah menjadi teman bercanda bagi Arkha. Bahkan hal-hal konyol mungkin bagi mereka yang melihatnya tetapi hiburan tersendiri bagi Zhafirah jika ia bersembunyi saat Arkha mencari dirinya, atau Arkha yang kadang-kadang akan mengganggu Zhafirah yang sedang fokus di dengan laptop atau memasak di dapur. Satu sentuhan atau senggolan Arkha di tubuh istrinya itu akan membuat bibir mungil Zhafirah tersungging.


“Mas kok bau sate.” Ucap Zhafirah yang menci um aroma khas daging bakar.


Arkha pun cepat ke arah kompor. Ia membalik daging yang terdapat diatas alat panggang daging yang sedang berada di atas kompor. Zhafirah pun memakai satu apron dan berdiri di sisi Arkha. Zhafirah tampak kesusahan untuk mengikat tali dibagian belakang. Arkha pun cepat menarik tali yang ada di belakang pinggang istrinya.


“Terima kasih sayang…  Sini biar aku lanjutin.” Ucap Zhafirah pelan seraya mengambil pengampit di tangan Arkha.


“Mas tadi pagi diajak makan di restoran mahal, ya buat mas biasa saja. Dulu juga sering makan steak. Tapi pas mau nelen dagingnya Zha, Ga bisa masuk tenggorokan. Ingat kamu sama Mama.” Jelas Arkha yang melihat Zhafirah tampak cekatan membalik daging-daging yang sudah setengah matang.


“Terus mas beli daging ini? Ga malu?” Tanya Zhafirah yang ingat betul saat baru-baru ia mengajak suaminya ikut ke pasar tradisional untuk berbelanja di hari libur. Arkha mencolek dagu Zhafirah sontak membuat Zhafirah mengerucutkan bibirnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Arkha.


“Seneng banget ya nyolek-nyolek. Terimakasih ya Mas.” Ucap Zhafirah dan ia tetap menatap daging yang mengeluarkan aroma yang menggugah selera.


Saat daging yang dipanggang telah terlihat betul-betul matang, Zhafirah pun menyiapkan untuk makan siang. Dan entah kenapa saat daging itu ia kunyah, rasa mual begitu kuat terasa pada perut Zhafirah. Ia bahkan memejamkan matanya untuk mengunyah steak tersebut. Zhafirah berhenti mengunyah dengan mata yang terpejam dan satu tangan menutup mulutnya. Lalu kembali ia mencoba mengunyah kembali. Namun yang ada rasa mual semakin menjadi. Ia akhirnya berlari ke arah kamar mandi.

__ADS_1


“Zha…” Ucap Bu Indira dan Arkha bersamaan. Arkha berlari mengikuti Zhafirah ke arah kamar mandi.


Berkali-kali Zhafirah mengeluarkan isi perutnya.  Wajahnya langsung pucat dan lemas. Ia bahkan merinding karena tiba-tiba suhu tubuhnya yang terasa dingin.


__ADS_2