Because I'M Your Wife

Because I'M Your Wife
50 Rasa penasaran Zhafirah


__ADS_3

Arkha biasa menyempatkan diri untuk tetap memiliki quality time. Ia tak mau seperti dulu. Sibuk bekerja dan tak ada waktu buat keluarga. Kini ia mencurahkan waktunya untuk Zhafirah dan Ibunya, disaat Ia memiliki waktu senggang. Waktu libur pun kadang dimanfaatkan Arkha untuk jalan-jalan bersama Zhafirah.


Namun hari itu mereka hanya di rumah saja. Usia kandungan yang semakin membesar, membuat Zhafirah kesusahan memotong kuku kakinya. Arkha pun membantu istrinya. Namun saat Arkha memotong kuku tersebut, ia tersenyum. Ia ingat ketika proses syuting Pesona Ayra Khairunnisa.


Ada momen yang sama. Dan Zhafirah melihat Arkha tersenyum, ia bingung. Apa yang membuat suaminya tersenyum.


"Mikirin apa sih Mas?" Tanya Zhafirah yang melihat bibir Arkha yang tersenyum.


"Inget waktu syuting dulu." Jawab Arkha.


Zhafirah pun ikut menarik sudut bibirnya. Ia juga mengingat moment itu.


"Ih wajahnya mas itu waktu masih mode dingin, serem Mas." Ucap Zhafirah sambil menatap Arkha yang tampak menunduk. Suaminya masih merapikan kuku yang baru saja di potong.

__ADS_1


"Tapi tetep tampan kan?" Ejek Arkha seraya menahan senyuman.


"Iya tampan Ala Pak Bram." Ucap Zhafirah.


Arkha pun selesai merapikan kuku-kuku kaki istrinya. Ia duduk di kurai tepat di sisi Zhafirah. Suasana teras yang cukup sejuk. Berbagai bunga anggrek membuat suasana teras itu sedap dipandang. Arkha pun meminum kopi yang ia buat sendiri. Semenjak kehamilan istrinya kian besar. Ia semakin belajar mandiri. Jika biasanya akan ada pakaian lengkap diatas tempat tidur, ia tak membiarkan Zhafirah menyiapkannya. Ia sibuk mempersiapkannya sendiri.


Kopi buatannya bahkan tak seenak buatan Zhafirah. Tetapi ia ingin terbiasa mengurus dirinya sendiri. Karena ia membaca buku dan ia tahu, saat kehadiran buah hati mereka. Zhafirah justru akan banyak waktu untuk buah hati mereka.


Zhafirah meraih ponsel yang disodorkan suaminya. Ia pun mengusap layar ponsel milik suaminya. Beberapa tempat tidur, kereta dorong dan peralatan mandi tampak bernuansa biru. Zhafirah pun hanya melihat satu dua model kereta dorong yang ia anggap lebih nyaman dan aman untuk buah hati mereka nanti.


Namun tiba-tiba ponsel Arkha berdering. Panggilan dari Romi. Zhafirah yang melihat nama dan foto Romi. Ia segera menyerahkan kembali kepada Arkha.


"Mas ada telpon dari Romi." Ucap Zhafirah.

__ADS_1


Arkha menerima telepon tersebut. Ia melihat layar ponselnya. Lalu ia usap dengan ibu jarinya. Ketika ia menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Kedua alisnya bertaut. Zhafirah pun ikut mengangkat satu alisnya karena melihat Arkha seperti memikirkan sesuatu.


"Really?" Tanya Arkha dengan mimik wajah histeris.


Ia tampak sumringah. Satu genggaman di tangan Zhafirah terasa begitu erat. Zhafirah semakin penasaran berita apa yang di dapat suaminya. Arkha tertawa dan mengucapkan terimakasih kepada mantan asistennya. Tampak tangan Arkha menggenggam erat ponselnya.


"Ada berita apa Mas?" Tanya Zhafirah heran.


Arkha tersenyum lebar dan mencium ujung tangan Zhafirah. Ia duduk bersimpuh di hadapan Zhafirah, ia duduk dan memegang ujung jari tangan Zhafirah.


"Sayang, terimakasih untuk doa dan semua dukungan yang kamu berikan." Ucap Arkha.


"Ada apa sayang?" Tanya Zhafirah penasaran.

__ADS_1


__ADS_2