
Sungguh setiap rezeki makhluk di atas bumi ini sudah ada yang mengatur. Zhafirah dan Arkha memang sedang kesulitan ekonomi. Dari serba ada dan tinggal gesek di kartu debit maupun kredit. Mereka harus belajar hidup irit. Tapi suami Zhafirah itu kembali di buat jatuh hati pada sang istri. Bulan demi bulan, istrinya betul-betul mengatur pemasukan dan pengeluaran mereka setiap bulannya. Arkha membuka lembar demi lembar buku yang biasa digunakan Zhafirah.
Bahkan di catatan itu terdapat satu nomor yang Zhafirah buat dana tak terduga. Tak besar, tapi setiap bulan ada sekitar Rp. 300.000,-. Arkha siang itu baru saja mendapatkan satu proyek dari CV yang ia rintis. Ia membuka satu CV yang bergerak di bidang pengadaan barang dan jasa. Ia juga telah menyewa satu bangunan yang ia jadikan tempat usahanya. Siang itu, Arkha ingin memberikan kejutan pada istrinya. Ia membelikan Zhafirah 2 buah Water Heater. Ia pasangkan di kamar Bu Indira dan kamar Zhafirah.
Saat para tukang sedang memasangnya di kamar Bu Indira. Ibu Arkha Bagaskara itu mendekat ke arah sang anak. Ia putar ban kursi rodanya dengan kedua tangannya.
"Zhafirah tahu kamu beli ini?" Tanya Bu Indira.
"Tidak Ma. Sengaja buat hiburan. Kasihan kalau setiap mau mandi dia harus rebus air dulu buat Mama sama dia kalau pulang kemalaman." Ucap Arkha.
"Mama khawatir nanti Zhafirah marah Kha. S
Walau kalian tidak cerita. Tetapi mama lebih dulu makan asam dan garam dalam rumah tangga. Mama tahu apa yang terjadi dengan kalian. Kamu beruntung memiliki Zhafirah menjadi teman hidup kamu. Jadikan juga Zhafirah beruntung memiliki kamu sebagai suaminya." Pinta Bu Indira pada Arkha.
Seketika hati Arkha terasa perih. Ia tahu bahwa satu yang belum mampu ia berikan pada sang istri. Dimana ia belum mampu menjadi suami yang baik untuk satu urusan. Bahkan bulan-bulan terakhir ini, ia memang mengalami kemajuan dalam mempertahankan e r e k si nya. Namun ia tahu, Naadhira Zhafirah. Ia selalu terlihat baik-baik saja. Bahkan istrinya itu bisa berpura-pura bahwa ia sudah berada di puncak pendakian.
Cinta yang tulus dari hati Arkha, ia mampu merasakan jika senyum dan wajah bahagia sang istri hanya sebuah sandiwara untuk sang suami. Sandiwara bahwa ia sudah merasakan kebahagiaan di satu kegiatan mereka. Bahagia dengan penantian panjangnya. Bahkan sore hari itu, Zhafirah yang baru pulang dari rapat tahunan kampus, kembali berpura-pura. Dan Arkha bisa tahu itu cukup dari bola mata sang istri.
Saat ke kamar mandi yang berada di dapur. Zhafirah keluar dengan memeluk Arkha.
"Mas.... Terimakasih ya.... Beli dimana Water heater nya?" Ucap Zhafirah mesra. Ia bergelayut di pelukan sang suami.
__ADS_1
Arkha memegang wajah cantik istrinya yang hanya rajin menggunakan skincare. Ia tatap bola mata sang istri.
"Sampai kapan kamu akan berpura-pura Zhafirah?" Tanya Arkha yang menatap manik mata Zhafirah dalam.
Zhafirah menarik sudut bibirnya dan memberikan senyum yang merekah. Kini tangan mulus Zhafirah pun memegang wajah Arkha.
"Siapa yang pura-pura?" Ucap Zhafirah.
"Kamu tidak marah?" Tanya Arkha penasaran.
Zhafirah mendekati wajahnya ke wajah suaminya. Hidung mancung dua orang itu bertemu dan kedua alis hitam mereka pun menyatu.
"Kenapa harus marah? Mas beli itu untuk membahagiakan aku kan? mau buat aku senang kan?" Tanya Zhafirah.
"Kamu ga mau tanya harganya berapa?" Pancing Arkha.
Zhafirah menggelengkan kepalanya dan itu membuat hidung Arkha merasa geli.
"Kamu tidak eman-eman uangnya? Ini bukan kebutuhan loh Zha." Tanya Arkha lagi karena ia penasaran. Istrinya itu uang seratus ribu saja ia perhitungkan betul untuk membeli keinginan atau kebutuhan. Jika ada kebutuhan yang belum terpenuhi. Zhafirah kadang mengalahkan keinginannya. Maka salah satu kunci sukses istri Arkha itu mengatur pengeluaran keuangan keluarga mereka. Zhafirah akan melihat apakah pengeluaran tersebut kebutuhan atau keinginan.
"Siapa bilang?" Tanya Zhafirah seraya berjalan ke arah handuk yang tergantung di depan kamar mandi.
__ADS_1
Arkha melipat kedua tangannya. Ia menatap Zhafirah seraya tersenyum lalu menirukan kalimat Zhafirah saat istrinya mencoret satu bagian pengeluaran.
Flashback on
"Mas.... " Panggil Zhafirah manja.
"Ada apa? Min atau plus kah bulan ini?" Tanya Arkha seraya mendekat dan melihat catatan yang dibuat Zhafirah.
Ia melihat satu baris yang di coret oleh Zhafirah.
"Mas, Zhafirah bakal beli sabun paling wangi dan shampo yang wangi juga. Ini Zhafirah coret saja ya. Biar sisanya bisa di buat tabungan dana tak terduga." Tanya Zhafirah pada Arkha.
Arkha melihat biaya ke salon satu bulan sekali sejumlah tujuh ratus ribu untuk sekedar creambath dan facial.
"Kok tanya Mas?" Tanya Arkha penasaran.
"Ya nanya Mas dong. Ini kira-kira kebutuhan atau keinginan Mas. Kalau memang kebutuhan masih bisa di siasati. Cari salon yang agak murah setiap bulannya. Zhafirah ndak mau gara-gara irit tapi Mas nya terganggu dengan aroma tubuh yang dulu mas bilang tidak suka dari Zhafirah." Ucap Zhafirah menggoda suaminya. Ia ingat betul bagaimana Arkha mengatakan jika ia tak suka aroma tubuh sang istri.
Arkha merasa gemas, ia menggendong tubuh istrinya. Ia bawa ke atas tempat tidur.
"Ih.... itu kan dulu. Sekarang tidak lagi. Itu terserah kamu. Yang jelas kalau yang ini adalah kebutuhan." Ucap Arkha seraya memeluk erat istrinya.
__ADS_1
Maka sejak saat itu, Zhafirah hanya melakukan perawatan ke salon tiga bulan sekali. Itupun salon yang lebih murah dan biasa. Jika dulu setiap bulan ia melakukan perawatan ke salon. Kini ia juga tak bisa mengabaikan bahwa suaminya dulu pernah menjadi CEO. Sang suami juga terbiasa melihat dan dekat dengan Artis atau model sekelas Selena. Maka sudah menjadi tugasnya bagaimana agar suaminya tak mampu tergoda di luar sana. Apalagi wajah tampan suaminya tak menutup kemungkinan ada perempuan yang menyukainya.
Flasback Off