
Tangis bayi mungil Arkha dan Zhafirah terdengar di malam hari. Arkha yang tidur lebih dulu, ia pun terbangun. Ia duduk di sisi Zhafirah. Terlihat sang istri tidur dengan pulas nya. Arkha pun segera menggendong bayi mungil yang diberi nama Annisa Naadhira. Sebuah nama yang Arkha sematkan untuk anaknya berdasarkan pemberian dari Gus Furqon.
Saat akan melakukan aqiqah untuk sang anak. Ia menemui guru istrinya. Ia ingin gurunya memberikan nama untuk buah hatinya. Bukan Arkha tak mampu. Namun ia berharap sebuah nama yang diberikan oleh orang yang sholeh dan alim bisa memberikan keberkahan.
Ketika Arkha akan menggendong bayinya. Ia melihat sang bayi buang air besar. Cukup susah bagi Arkha yang tak terbiasa melakukan hal itu. Ia pun tak berhasil mengerjakan hal tersebut dengan cepat. Sehingga tangis bayi mungil mereka membangunkan Zhafirah. Istri Arkha itu terbangun, ia membuka kedua matanya.
Arkha mengusap tengkuknya. Senyum simpul tampak di bibir Arkha.
"Kenapa tidak membangunkan mas.... " Ucap Zhafirah segera keluar dari balik selimutnya. Ia menguncir rambutnya dan segera meraih satu lembar tisu dan ia membersihkan Anissa. Arkha bersandar di tepi box bayi mereka. Baru satu bulan menjadi ayah, ia sudah tahu rasanya menjadi orang tua. Waktu tidur yang terganggu. Kebersamaan dengan istrinya yang berkurang.
Setelah selesai mengganti pampers Annisa, Zhafirah menggendong bayinya. Ia duduk bersandar di head board seraya me nyu sui bayinya. Arkha pergi ke dapur. Tak berapa lama, Arkha kembali membawakan segelas su su ibu Me nyu sui. Melihat Annisa telah tertidur, Zhafirah menidurkan kembali bayi mereka ke dalam box. Arkha menyodorkan segelas su su yang ia buatkan tadi.
"Ini minum dulu, biar sehat dan ASI nya lancar." Ucap Arkha.
Zhafirah menghabiskan su su tersebut. Cukup lama Zhafirah menghabiskan su su tersebut. Karena sebenarnya ia kurang suka varian Vanila. Namun kemarin Arkha telah berkeliling ke beberapa supermarket dan apotik Varian coklat sedang tidak ada.
"Besok kalau ketemu mas belikan yang varian coklat ya." Ucap Arkha.
"Baru juga beli mas. Tunggu nanti habis yang tadi saja." Jawab Zhafirah cepat. Saat ia akan melangkah ke dapur. Ia menahan langkah istrinya.
__ADS_1
"Zha, Lusa kita pindah ke rumah baru ya?" Ucap Arkha seraya melingkarkan tangannya di pinggang Zhafirah.
Zhafirah berbalik dengan satu tangan memegang gelas. Ia tatap suaminya, ia hanya tersenyum dan mengangguk. Suaminya memang tak pernah mengikuti kajian atau majelis taklim yang diadakan oleh Gus Furqon. Tetapi beruntung, salah satu santri Gus Furqon menggunakan kecanggihan teknologi untuk berdakwah. Sehingga suami Zhafirah itu bisa ikut setip satu minggu sekali sebuah kajian kitab layaknya para santri melalui Google M e e t. Sehingga sedikit banyak Arkha mendapatkan ilmu sama seperti dirinya yang lama mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Bahkan yang mengisi kajian di kelas online tersebut adalah Gus Furqon langsung.
Sungguh sebuah metode dakwah yang cocok untuk orang seperti Arkha. Ia betul-betul nyaris hanya punya waktu di malam hari untuk belajar atau keluarga. Akan tetapi memiliki istri seorang Zhafirah, membuat ia juga ingin memiliki ilmu bagaiamana seorang suami yang baik untuk istrinya. Maka sebuah hasil dari kelas ngaji online yang beberapa bulan terakhir di ikuti Arkha menunjukkan sebuah hasil. Bahkan saat akan membuat rumah pun, Arkha merujuk pada hari Rabu. Sesuai kitab yang pernah ia pelajari di kelas ngaji online bersama Gus Furqon. Dimana kajian tersebut dalam kitab ta’limul mutaallim.
Zhafirah memandang wajah suaminya.
"Kalau dulu saja Zha selalu Sami'na Wa Atho'na, apalagi sekarang. Pokoknya Zhafirah akan manut Sama Mas Arkha." Ucap Zhafirah dengan mata yang berbinar bahagia.
Arkha pun menatap istrinya dalam. Ia merasa bahagia juga beruntung, hari demi hari ia lalui begitu bahagia, ringan dan indah. Berbeda dengan dulu.
Zhafirah menatap dalam suaminya.
"Karena yang mencukupi kita, yang membuat kita bahagia bukan harta Mas. Tapi Allah. Dan Bahagia bukan milik orang yang kaya atau miskin melainkan kebahagiaan milik semua yang mau qona'ah dalam kehidupan, ridho akan setiap takdir yang Allah berikan." Ucap Zhafirah.
Tiba-tiba perut Zhafirah berbunyi.
"Kruuukkk."
__ADS_1
"Wah... kamu akan tambah seksi Zha, tapi jangan khawatir. Mas tidak akan berpaling dari kamu karena bobot tubuh yang bertambah." Ucap Arkha seraya menggendong istrinya.
"Ih... suka banget bikin kaget." Ucap Zhafirah cepat karena kaget. Ia tak siap, karena Arkha tiba-tiba menggendong tubuhnya.
"Sssttt... nanti mama bangun. Mas masakin roti bakar atau mau nasi goteng? " Tanya Arkha.
Namun Zhafirah merengek.
"Mie instant ya Mas, please.... "
"No. Selain mie instant." Tolak Arkha pada Zhafirah.
"Please.... udah ngences lo Mas... dari hamil ga boleh makan mie instan.... " Rengekan Zhafirah meluluhkan hati Arkha yang akhirnya mengangguk.
"Baiklah, kali ini saja ya.... Dan ga pakek Cabe." Ucap Arkha lagi.
Zhafirah pun merasa senang karena puasa makan mie instant nya pun akan terbayarkan malam ini.
"Makasih Papa Arkha.... sayang, sayang Papa.... " Ucap Zhafirah girang.
__ADS_1
Sepasang suami istri itu tertawa bahagia disaat penghuni rumah lainnya terlelap dalam alam mimpi.