
Langkah demi langkah Zhafirah, ia mencoba menahan air matanya untuk tidak jatuh. Air mata bahagia karena dulu ia selalu bermimpi bisa tampil seperti raja dan ratu yang mengenakan pakaian yang di dominasi warna merah dan perhiasan kuning emas. Karena satu-satunya foto yang ia miliki dari almarhum ayahnya adalah foto pernikahan sang ayah dan ibunya. Maka satu kejutan dari ibu mertuanya membuat Zhafirah betul-betul merasakan banyak rasa.
Rasa sedih ingat ayahnya. Rasa bahagia karena bisa menggunakan pakaian itu. Belum lagi kehadiran Umi Siti di hari itu menjadi kan salah satu kebahagiaan sendiri. Zhafirah menatap punggung Arkha yang juga menggunakan pakaian hiasan pembesar Palembang atau biasa disebut Aesan Gede.
Dimana pakaian tersebut di penuhi warna merah. Tubuh tinggi dan tegap Arkha membuat ia tampil tampan dan menawan. Ia berdiri karena MC meminta ia menjemput istrinya yang telah mendekati tempat duduknya. Zhafirah bisa melihat pakaian yang dikenakan Arkha di dominasi dengan benang emas dari tenunan kain songket. Salah satu citra Sumatera di masa lalu sebagai Swarnadipa atau pulau emas.
Saat Arkha berbalik, kedua netra Arkha terpesona dengan penampilan perempuan yang baru saja resmi menjadi istrinya, nuansa mewah dari baju kurung yang dikenakan oleh Zhafirah yang berwarna merah. Baju tersebut mampu mengeksplor kecantikan Zhafirah. Baju dengan motif yang bertabur bintang keemasan perpaduan kain songket lepus yang juga bersulam emas. Sebuah penutup dada dan mahkota yang terlihat untaian bunga yang juga berwarna kuning emas.
Zhafirah yang melihat satu tangan menjulur ke arahnya. Ia menatap pemilik tangan tersebut. Seorang lelaki yang tinggi, tampan dan bermata sipit. Lelaki itu tampil gagah dengan jubah yang juga bertabur bunga emas, songkok emas yang menghias kepala Arkha membuat Zhafirah terpesona menatap lelaki yang sudah menjadi suaminya.
Zhafirah tampak ragu memberikan tangannya. Namun Arkha cepat memeluk Zhafirah karena uluran tangannya tak disambut. Jantung Zhafirah terasa berdebar kencang. Bahkan Mahkota yang ia kenakan dikepala berasa tambah berat karena perlakuan Arkha. Saat duduk di kursi dan bersiap untuk menandatangani surat nikah. Zhafirah tertunduk sambil menanti gilirannya menandatangani surat-surat tersebut. Kedua netra Zhafirah menatap songket yang dikenakan dirinya dan Arkha. Satu memori, obrolan ia dan ibunya semalam tentang arti pakaian pengantin tersebut. Bu Riana menjelaskan pada Zhafirah tentang arti hiasan pengantin Aesan Gede.
"Keramahan, ketertiban dan saling menghormati. Itulah makna kain songket yang terdapat gambar zig-zag ini.... " Batin Zhafirah melirik kain yang dikenakan Arkha juga kainnya.
Netra Zhafirah melirik celana yang dikenakan Arkha. Celana yang terdapat bordiran berbentuk bunga. Sebuah simbol harus ada kegigihan dalam menjalani kehidupan.
"Berumah tangga itu harus ada kegigihan untuk mempertahankannya... " Kembali Zhafirah bermonolog di dalam hatinya.
Zhafirah melirik ke arah kepalanya dan Arkha. Ia tahu nama Mahkota yang ia kenakan itu bernama Kesuhan dimana untuk lelaki simbol keberanian. Sedangkan bagi ia perempuan simbol keibuan, kelembutan.
__ADS_1
Saat kepala Zhafirah bergerak sedikit, ia menunduk untuk menandatangani surat nikahnya dan beberapa administrasi. Bunga cempaka yang di atas kepalanya ikut bergerak. Dimana bunga itu memiliki simbol keindahan perilaku yang harus dijaga seorang istri. Rambut yang disanggul di balik jilbab Zhafirah pun bermakna bahwa ia sebagai seorang perempuan yang juga istri harus memiliki keanggunan dan ketenangan dalam menghadapi masalah.
Saat Arkha sedikit berbisik karena ingin memasangkan gelang sebagai mas kawinnya. Zhafirah kesulitan menatap Arkha karena benda yang bernama Tebeng Malu, sebuah penutup bagian samping kepala yang berbentuk bola warna warni yang terpasang di sisi telinga Putri Bu Riana, membuat Zhafirah kesulitan menatap orang yang ada disisinya. Sesuai dengan makna benda tersebut untuk menjaga pandangan sepasang suami istri ketika telah menikah. Sehingga hanya fokus pada pasangan yang ada dihadapannya. Pasangan yang halal untuk dipandang.
Zhafirah berdebar tak karuan menatap kedua netra Arkha. Ia pun mengalihkan pandangannya pada hiasan di dada Arkha. Terate, benda itu menutupi bagian dada dan pundak Arkha. Benda yang memiliki makna sebuah kesucian dan kesabaran.
"Astaghfirullah.... kenapa berdebar-debar begini...." Cicit Zhafirah dalam hatinya.
Ia terlihat gemetar saat mengulurkan tangannya. Arkha tampak harus menahan pergelangan tangan Zhafirah sebelum ia memasangkan gelang yang di beli di toko khusus limited edition. Setelah itu, Zhafirah menciuuum punggung tangan Arkha beberapa detik untuk di dokumentasikan oleh para awak media.
Kemudian ia dan Arkha diminta awak media mengangkat buku nikah mereka untuk kembali diambil gambar terbaik mereka hari itu. Zhafirah berdiri sejajar dengan Arkha. Sebuah makna yang sesuai dengan Selempang Sawit yang ia kenakan bersama Arkha. Selempang yang dikenakan menyilang dari bahu kiri ke pinggang kanan dan sebaliknya.
"Sial. Kenapa dia malah sangat cantik hari ini. Apakah karena pakaian pengantin ini saja." Batin Arkha saat berdiri berhadapan dengan Zhafirah.
Berbeda rasa, itulah yang Zhafirah rasakan. Ia justru salah tingkah di tatap Arkha. Ia menunduk. Saat kecuupan Arkha mendarat di dahinya. Kedua netra Zhafirah yang menunduk. Ia menatap sepasang sandal yang Arkha kenakan. Hatinya berdebar tak karuan. Namun cepat ia menenangkan hatinya.
"Yakinlah Zha pelindung diri yang baik adalah agama..Maka bawa ilmu agama mu di dalam rumah tangga mu." Batin Zhafirah seraya mengigit bibir bawahnya. Ia begitu gemetaran. Dadanya berdebar-debar karena di ciuuum dihadapan banyak orang, belum lagi kilatan blitz yang mengarah ke padanya.
Zhafirah dan Arkha terlihat romantis dan bahagia pada hari itu. Senyum dari bibir Zhafirah mengembang. Bahkan tangan Arkha tak lepas dari pinggang sang istri selama proses resepsi pernikahan itu berlangsung.
__ADS_1
Umi Siti yang hadir pun ikut memberikan selamat. Satu bisikan dari Umi Siti setelah ia mendoakan Zhafirah, hal itu membuat Zhafirah menitikkan air mata.
"Menikah itu bukan berarti menyelesaikan masalah Zha. Tetapi menghadapi masalah dan bagaimana menyelesaikannya. Agama, akan memudahkan kita menjalani biduk rumah tangga." Bisik Umi Siti kala Zhafirah meminta untuk diambil foto untuk kenang-kenang bersama Gurunya.
Bahkan satu usapan pada punggungnya membuat Zhafirah menitikkan air matanya. Santri mana yang tak akan menangis haru, kala di hari bahagia, gurunya hadir dan mendoakan. Bahkan nasehat pun masih diberikan diatas pelaminan. Nama yang diingat oleh Gurunya saja sudah membuat Zhafirah merasa senang apalagi kehadiran sang guru. Hari itu betul-betul menjadi hari bahagia Zhafirah.
Namun semua keindahan, semua senyum Arkha hanya sebatas sandiwara dihadapan para tamu juga Zhafirah. Tiba di kamar saat akan istirahat sore. Arkha mulai menunjukkan keangkuhannya. Tak ada senyum manis.
Zhafirah yang duduk di depan cermin. Ia kesulitan membuka hiasan tersebut. Arkha dengan santainya mengganti pakaiannya di kamar itu. Zhafirah hanya menunduk malu dan ketakutan. Ia tak berani membuka kedua netranya. Namun ia terhenyak karena bentakan dari sang suami.
"Hei! Cepat bersihkan dirimu dan bersiaplah. Jam 7 kita segera ke Bandara. Mama akan berangkat bersama kita ke Jogja. Kita akan berlibur disana selama 3 hari." Bentak Arkha.
Zhafirah menatap Arkha yang sudah mengenakan pakaian santai. Ia pun duduk di atas tempat tidur. Ia menghubungi seseorang. Tak lama muncul beberapa perempuan yang tadi menghiasi Zhafirah. Zhafirah hanya diam membisu.
Dalam diamnya Zhafirah tak bersedih karena di bentak. Ia tahu diri bahwa ia dinikahi karena terpaksa.
"Butuh waktu untuk Mas Arkha mengenal kamu. Dan Kamu mengenal Mas Arkha, Zha." Ucap Zhafirah sesekali melirik Arkha yang sibuk dengan ponselnya dari arah cermin.
Tidak ada hasil yang indah tanpa perjuangan. Begitupun pernikahan, tak mungkin bisa bahagia tanpa usaha untuk menimbulkan rasa cinta sebagai salah satu pondasi hubungan itu dibangun.
__ADS_1