
Perempuan itu menghapus sudut matanya. Ia menghubungi Romi tanpa membuka dan membaca pesan dari Selena. Karena itu bisa memicu amarah sang suami padanya. Zhafirah hanya berpikir, ia akan menunjukkan siapa dia bagi Arkha. Masalah hasil, ia masih memasrahkan pada Gusti Allah. Walau kian hari hatinya kian ringkih. Karena Arkha tak kunjung memberikan perhatian dan kasih sayangnya. Zhafirah tak pernah dianggap ada oleh Arkha.
"Tak suapin ya mas... " Ucap Zhafirah saat melihat Arkha masih menutup kedua matanya seraya memegang perutnya. CEO Bagaskara itu hanya membisu.
Zhafirah memberikan ponselnya pada Arkha. Zhafirah pun mengucapkan sesuatu yang membuat kedua mata Arkha terbuka lebar.
"Ini ponselnya. Romi 20 menit lagi tiba. Ada pesan masuk tadi dari My Heartnya Mas." Ucap Zhafirah seraya memberikan ponsel tersebut.
"Apa kamu bilang?" Tanya Arkha tak percaya jika sang iatri mengatakan Selena memberikan pesan dengan tatapan biasa saja.
"My heart mu ngirim pesan. Buruan di balas. Aku ha buka loh mas. Aku ga sengaja baca pas buka ponsel pas pesannya masuk. Kalau mau marah ya silahkan marah." Ucap Zhafirah duduk di sisi Arkha dengan kedua mata terpejam dan menunduk.
"Apa dia tidak sakit hati? Wajahnya, nada bicaranya. Perempuan aneh." Batin Arkha.
"Kenapa nunduk?" Protes Arkha karena Zhafirah menundukkan pandangannya.
"Lah biasanya, mas akan marah dan mencengkeram dagu saya." Ucap Zhafirah memandang Arkha karena diminta mengangkat pandangnya.
Arkha memijat dahinya yang tak sakit.
__ADS_1
"Kamu.... Ya sudah. Buatkan aku kopi." Pinta Arkha seraya mendengus kesal. Tiga bulan menikah, dengan cara ia mendiamkan Zhafirah,. Ia berharap perempuan itu menyerah. Tetapi Zhafirah masih seperti di hari pertama ia menjadi istri Arkha. Ia masih melayani Arkha dengan baik.
"Mas saya buatkan ari hangat saja ya. Lambungnya lagi bermasalah. Ya sudah kalau mau telepon my Heartnya. Telepon. Aku tak ke dapur dulu." Nada suara Zhafirah terdapat penekanan pada kata 'My Heart'.
Arkha semakin gusar melihat sikap Zhafirah.
"Kamu! Sini. Buburnya mau dibawa kemana? Saya belum makan!" Ucap Arkha kesal.
Zhafirah berbalik, namun sebelum berbalik. Ia sudah menarik napas dalam.
"Astaghfirullah... sabar Zha. Sabar, jangan sampai cemburu menguasai hati mu. Tak ada batin yang tak terkikis dengan hujan. Setidaknya suami mu tidak pernah berhubungan ba dan dengan Selena. Maka berjuang untuk menyelamatkan suami mu dari perbuatan Zina. Agar kamu bisa berkumpul di surga dengannya kelak." Ucap Zhafirah dalam hatinya.
Ia lalu berbalik.
"Baik, kita lihat. Batas mana kesabaran mu Zhafirah. Sampai kapan kamu akan bertahan dengan hubungan yang membosankan dan terikat ini." Batin Arkha.
Zhafirah tersenyum. Ia duduk di sisi Arkha dan Menyendok Kan bubur ke arah mulut Arkha.
"Baca doa dulu mas... " Ucao Zhafirah saat Arkha sudah membuka kedua matanya.
__ADS_1
Arkha hanya diam. Tetapi dalam hatinya. Ia mengucapkan doa. Zhafirah melihat suaminya tak membaca doa. Maka ia membaca doa makan seraya menyuapi Arkha di suapan pertama. Arkha pun di hadapan Zhafirah menelpon Selena. Jika biasanya ia berbisik. Kali ini ia memanggil perempuan lain di hadapan Zhafirah dengan panggilan sayang.
"Ya sudah Yank, Nanti kita bicarakan lagi ya. Aku lagi tidak ke kantor. Mungkin untuk besok hari jadi Bagaskara juga aku ga bisa hadir. Bye... Mmuuuaah."
Jantung Zhafirah memompa aliran darah dalam tubuhnya cukup kuat dan cepat. Sehingga tubuhnya terasa panas. Dadanya sesak, tapi kembali ia beristighfar. Ia sadar jika ia dinikahi bukan karena cinta. Marah, justru akan membuat sang suami semakin emosi. Mundur saat belum berjuang. Bukan karakter santri Umi Siti itu. Ia masih memasang wajah imutnya dan senyum yang mempercantik wajahnya saat kembali ia menyuapi Arkha di suapan terakhir. Bahkan ibu jari Zhafirah menghapus sudut bibir suaminya.
Arkha semakin penasaran. Bagaimana perempuan seperti Zhafirah bisa begitu tenang, begitu pandai mengolah rasa di hati. Tak ada nada kecemburuan, wajah masam, caci maki. Saat jelas-jelas ia memanggil perempuan lain dengan kata sayang.
"Tunggu!" Ucap Arkha saat Zhafirah sudah memegang handle pintu untuk keluar kamar. Ia ingin menumpahkan rasa sesak di hatinya, rasa perih di pelupuk matanya. Tapi tidak di hadapan makhluk Allah yang harusnya memberikan ia nafkah lahir batin. Zhafirah menghentikan langkanya. Ia menoleh dan menyunggingkan senyum. Senyum saat hati tersakiti. Senyum saat bibir ingin sekali memaki.
"Sabar Zha. Bukan hanya kamu yang diminta pertanggungjawaban kelak jika kamu berkata kasar, berwajah masam pada suami mu. Ibu dan Bapak juga akan bersedih nanti. Buktikan bahwa ibu dan bapak mu berhasil mendidik mu. dengan jadi istri yang sabar, yang tawakal." Ucap Zhafirah dalam hati saat memandang wajah sang suami.
"Kenapa kamu melayani masih begitu baik. Padahal aku tak pernah membahagiakan mu." Ucap Akrha penasaran.
Rasa penasaran pertama yang Arkha ucapkan pada Zhafirah. Komunikasi pertama yang dilandasi ketertarikan.
"Say to me Naadhira Zhafirah. Why?" Ucap Arkha mulai terlihat gusar.
Ia paling tidak suka jika pertanyaan nya tak ada jawaban.
__ADS_1
"Because I'm Your Wife, Mas." Jawab Zhafirah yang tersenyum kepada sang suami. satu lesung pipi Zhafirah membuat momen pertama Arkha menatap kedua mata sang istri.
"Heh. Kamu bisa bahasa Inggris juga rupanya." Batin Arkha mendengar Zhafirah mengatakan kalimat dalam bahasa Inggris.