
Dua hari sudah Arkha tak ke kantor. Ia beristirahat di rumah. Pagi itu ia sudah keluar dari kamar. Ia makan bersama sang Ibu di meja makan. Tampak Zhafirah membantu menata makanan yang dibawa asisten rumah tangga dari dapur. Arkha bisa melihat bagaimana akrabnya Zhafirah dengan Bu Indira.
"Mama tak pernah seceria ini selama ini." Batin Arkha melihat interaksi istri dan ibunya.
"Sudah Zha, sedikit saja. Cukup." Ucap Bu Indira pada menantunya yang setiap hari selalu memperlakukan dirinya dengan baik.
"Kami kenapa malah bengong? " Tanya Bu Indira yang melihat Arkha tak memakan nasi dan lauk di dalam piringnya.
"Tidak nafsu ma." Ucap Arkha.
"Dipaksa, kamu itu terlalu sering makan yang Instan-instan. Tidak sehat untuk lambung mu." Ucap Bu Indira.
Arkha hanya menanggapinya dengan senyuman dan satu sendok nasi kedalam mulutnya. Setelah sarapan dengan Bubur tersebut. Arkha harus menahan rasa geram di hatinya. Ia biasa menceritakan pada Bu Indira tentang rencana bisnisnya.
"Ma, dua minggu lagi aku akan ke korea. Ada peluang kerjasama dengan perusahaan yang disana." Ucap Arkha.
"Bagus, sekalian ajak Zhafirah. Biar sekalian liburan. Kamu belum pernah ke Korea kan Zha?" Tanya Bu Indira.
Zhafirah tersenyum sumringah.
"Belum Ma, Memangnya ndak ngerepotin mas Arkha." Ucap Zhafirah yang sengaja berkata begitu.
"Ya tidak dong. Ya sudah sekalian booking tiketnya dua. Kamu itu jangan kerja terus Kha. Mama ini kapan punya cucunya." Ucap Bu Indira yang protes.
Ia bisa melihat sang putra yang akan pulang larut malam. Belum lagi,Zhafirah lebih banyak waktu bersama dirinya daripada bersama Arkha.
"Ma... Arkha itu cuma satu minggu disana. Nanti mama kesepian kalau Zhafirah aku ajak." Kilah Arkha yang sebenarnya sudah lama tak menghabiskan waktu bersama Arkha.
"Ya sudah mama ikut saja seklaian kalau kamu mengkhawatirkan Mama." Ucap Bu Indira.
"Oh no. Tidak usah Ma. Ya sudah Zhafirah ikut. Oke sayang?" Ucap Arkha seraya tersenyum manis ke arah Zhafirah.
__ADS_1
Zhafirah mengangguk. Ia sudah menyiapkan mentalnya untuk bertemu perempuan bernama Selena. Perempuan yang sudah memiliki suami tetapi masih suka tertawa, bermanja-manja dan menelpon lelaki orang yang juga sudah menjadi suami orang.
"Baik. Aku pastikan pulang dari korea. Kamu akan menangis dan bilang sama Mama kalau kamu ingin berpisah." Ucap Arkha.
Saat waktu keberangkatan ke Korea Selatan. Arkha yang melihat Zhafirah menyiapkan pakaian ke dalam koper. Arkha berdiri di sisi Zhafirah.
"Kita lihat, apa kamu masih bisa mengatakan jika kamu bertahan, bersabar berada disisi ku karena kamu istriku atau kamu akan menangis setelah dari Seoul? Ayolah Zhafirah, tidakkah uang setengah M lebih menarik daripada bertahan menjadi istri ku?" Tanya Arkha.
Zhafirah meletakkan jaket tebal yang baru saja ia lipat ke dalam koper. Mata yang memiliki bulu mata lentik itu menatap Arkha. Bibirnya menyunggingkan senyum.
"Jangankan uang setengah M,mas. Jika aku di minta memilih dunia dan isinya atau keridhoan Allah. Maka aku akan memilih keridhoan Allah. Perceraian memang di perbolehkan, tapi itu adalah hal yang di benci Allah. Maka aku akan berusaha mempertahankan ini." Ucap Zhafirah.
Arkha terkekeh-kekeh.
"Hehehe.... Zhafirah... Zhafirah.... Mana ada pernikahan yang bisa bertahan lama tanpa Cinta. Aku tidak mencintai mu. Dan kulihat kamu juga tak mencintai ku." Ucap Arkha seraya menyisir rambutnya.
"Tak apa mas tak cinta. Selagi saya berstatus istri mas. Maka saya akan melakukan kewajiban saya sebagai seorang istri. Walau mungkin hak saya tidak saya dapatkan." Ucap Zhafirah seraya mengunci koper yang cukup besar.
"Hak yang mana yang kamu maksud? Semua fasilitas, uang bulanan juga sudah aku berikan. Bahkan Mama membelikan mobil atas nama mu. Rumah juga untuk Ibu mu." Ucap Arkha yang tak suka mendengar kata 'Hak'.
"Mas pikir nafkah itu cuma uang? Cuma perhiasan? Cuma tempat tinggal?" Ucap Zhafirah.
Arkha menautkan alisnya.
"Jadi kamu minta di ga u li? untuk praktek kitab Fathul Izhar?" Ucap Arkha seraya memicingkan matanya.
Kembali hati Zhafirah di buat terganggu dengan kata-kata Arkha.
"Kemarin dia berbicara tentang syariat. Hari ini dia bicara tentang kitab yang biasa di kenal di pesantren. Sungguh kamu membuat ku penasaran Mas." Batin Zhafirah.
Zhafirah terdiam. Arkha kembali terkekeh dan berjalan mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Aku tidak ber naf su pada mu." Ucap Arkha seketika.
Hati perempuan mana yang tak sakit. Saat sudah melayani dengan baik sang suami. Namun di cemooh dengan arti lain, dia tidak menarik di mata sang suami.
"Apa Selena lebih menarik di mata Mas?" Ucap Zhafirah.
Arkha mendengus kesal saat Zhafirah menyebut nama kekasih gelapnya.
"Ya. Dia lebih cantik, lebih pintar dan lebih bisa membuat aku senang." Ucap Arkha.
"Sepertinya artis itu sudah menikah. Hati-hati mas, jika kemarin mas bicara tentang Syariat, hari ini mas bicara tentang satu kitab yang mengatur hubungan suami dan istri. Maka aku rasa, mas juga tahu jelas jika pihak ketiga baik ia perempuan atau lelaki yang menjadi orang ketiga dalam sebuah rumah tangga orang lain. Ia tidak dianggap sebagai pengikut Rasulullah." Jelas Zhafirah.
Arkha membalikkan tubuhnya. Ia paling tidak suka di gurui.
"Kamu. Andai aku bisa menyakiti hati Mama. Maka aku tidak akan bertahan dengan pernikahan dengan siapapun." Ucap Arkha.
"Saat ini kita mungkin belum membutuhkan cinta mas. Tapi kita harus menyelesaikan masalah yang ada pada kita." Ucap Zhafirah lagi. Arkha melangkah dan mendekati Zhafirah. Hanya berjarak setengah meter. Suami istri itu terlibat perdebatan cukup panas.
"So, Why do you won't divorce from me?" Ucap Arkha menatap tajam Zhafirah.
Zhafirah mengangkat pandangannya. Ia menatap lekat suami yang mau tidak mau wajib ia cintai, mau tidak mau harus ia perlakukan dengan baik dan sopan.
"First, Because I'm your wife. Second. Indeed, the divorce shook Arsy. I don't want to do what God hates. I want to enter heaven through any door because of being a pious wife. It's my choice. Regardless of whether there is love or not in this relationship. I will fight and survive for you, which is lawful for me to fight for." Ucap Zhafirah seraya menatap bola mata hitam Arkha.
[pertam, karena aku istrimu. Kedua, Sesungguhnya perceraian itu menggetarkan Arasy. Aku tidak ingin melakukan hal yang Allah benci. Aku ingin masuk ke surga lewat pintu manapun karena menjadi istri yang sholehah. Itu pilihan ku. Terlepas dari ada atau belum cinta di jalinan ini. Aku akan berjuang dan bertahan untuk kamu yang halal aku perjuangkan.]
"Perempuan yang tangguh. Kita lihat, seberapa tangguh kamu untuk menjadi istri ku. Untuk membuat kamu layak aku cintai. Untuk menggeser Selena di hati ku." Ucap Arkha seraya berlalu dari kamar. Ia meninggalkan Zhafirah sendiri.
"Bukan aku yang akan menggeser selingkuhan mu itu. Tapi Allah. Ya Allah... bantu aku.. bantu aku Rabb.. bantu aku menghadirkan cinta di hati Mas Arkha untuk ku. Bantu aku Rabb... " Ucap Zhafirah yang terduduk di lantai. Ia menangis seorang diri.
Hati istri mana yang tak sakit, disaat ia berjuang mati-matian untuk mempertahankan rumah tangganya. Sang suami justru sibuk meminta ia segera meminta cerai agar sang ibu mertua tak menyalahkan anaknya. Zhafirah sadar, sekuat apapun tenaganya. Sehebat apapun Selena meraih hati Arkha. Ada kekuatan yang tak bisa mereka halangi jika berkehendak. 'Kun Fayakun'. Maka Zhafirah meminta bantuan Rabbnya, Ia akan berjuang. Masalah hasil, ia pasrahkan pada Allah subhanahu wa Ta'ala.
__ADS_1