
"Dari sosok Ayra ini. Sebenarnya ada yang ingin ditekankan penulis dengan makna yang sebenarnya arti seorang istri." Ucap Zhafirah saat ditanya beberapa reporter yang hadir di hari launching film layar lebar Pesona Ayra Khairunnisa.
Kembali Zhafirah melanjutkan.
"Sebenarnya tokoh Ayra itu bersabar dengan kondisi sikap suaminya, masalah rumah tangga dan juga masalalu bukan karena ia ingin agar suaminya mencintai dia. Bukan juga agar dia bahagia. Tetapi karena Ayra ini tahu, jika ia bisa masuk surga lewat pintu manapun dengan menjadi istri yang sholehah. Masyaallah... saya kalau jadi Ayra. Saya ndak yakin mampu. Tapi seperti ini seharusnya seorang istri. Saat mungkin lelah atau kisah rumah tangga dan pasangan tak seindah yang dibayangkan. Maka menjadikan akhirat sebagai motivasi agar tetap sabar sebagai istri sholehah adalah salah satu motivasi terbaik untuk para istri." Ucap Zhafirah.
Arkha yang dari tadi menggenggam tangan Zhafirah. Ia melakukan itu sebenarnya karena memang ia mulai nyaman melakukan itu. Namun ia selalu beralasan pada Zhafirah jika itu ia lakukan karena banyak media.
"Kalau Mas Arkha sendiri bagaimana setelah memerankan Bram?" Tanya perempuan mengenakan id card berwarna kuning.
"Saya... Merasa belajar juga dari Bram. Bagaimana dia begitu menyayangi Ibunya. Pertama saya bingung. Itu si Bram bisa dapat istri Ayra. Apa yang membuat mereka berjodoh. Keikhlasan dia ketika menolong Ayra itu sendiri ketika di kali. Lalu bagaimana ia menyayangi Mamanya. Itu sih menurut saya. Dan itu membuat saya bertambah sayang sama Mama dan Zhafirah." Ucap Arkha yang sebenarnya tulus dari dalam hati.
Namun Zhafirah tak terlalu tersanjung dengan ucapan suaminya. Ia tahu itu adalah ucapan sekedar untuk membuat film itu semakin laris dilirik karena keromantisan tokoh utama di dalam hidup nyatanya.
"Andai yang kamu ucapkan betul. Aku sungguh istri yang beruntung." Ucap Zhafirah dalam hatinya.
Saat selesai konferensi pers. Beberapa kru dan semua pemeran utama film itu. sudah masuk untuk menonton film itu yang akan tayang perdana di bioskop. Sedangkan Mawan. Ia ketika diminta berganti peran sebagai Kang Furqon. Ia menolak. Bukan ia tak ingin itu, tetapi berperan Furqon atau peran apapun dalam satu lokasi syuting bersama Zhafirah, dengan status istri orang. Ia tak ingin kembali terlibat dengan rasa di hatinya. Rasa untuk mencintai namun rasa itu haram ia miliki. Maka ia memilih mundur dari proyek film itu.
Arkha yang pada siang itu melihat Mawan juga hadir. Ia tak sedetikpun melepaskan tangan Zhafirah. Namun di dalam hati Mawan. Ia menangisi perempuan yang ia harapkan bisa untuk berjemaah di setiap shubuh atau sekedar mendengarkan murajaah dari sang perempuan itu dengan status istrinya.
__ADS_1
Layar lebar itu sudah mulai menampilkan prolog kisah Ayra dan Bram. Ada rasa sakit di hati Mawan menatap layar itu dengan senyum Khas Zhafirah dengan gigi ginsul dan lesung pipi di salah satu pipinya. Membuat ia layak untuk dipandangi dengan rasa kagum dan ingin memiliki.
"Zha.... Apa yang kamu harap dari pernikahan mu. Dia tidak mencintaimu." Batin Mawan dalam hatinya.
Tak terasa air mata santri yang biasa menjadi sopir Gus Furqon dan Umi Siti itu membasahi pipinya. Satu jam di dalam ruangan yang tak ada cahaya lampu. Mawan menitikkan air mata kesedihan. Ia menangisi kisah hidup perempuan yang ia cintai dan ia anggap tragis.
"Hhhhh.... Sadar Wan.... Dia istri orang. Kenapa kamu bisa berpura-pura bahagia dan senyum saat hati mu pasti sakit Zha." Ucap Mawan. Beruntung ruangan itu gelap. Mawan memilih duduk di pojok dan barisan paling belakang. sehingga tak ada yang menyadari jika lelaki itu menangis.
Namun Arkha. Saat duduk di dalam ruangan itu pun, ia masih menggenggam tangan Zhafirah. Zhafirah justru tidak fokus melihat aktingnya. Ia justru fokus pada wajah Arkha dari remang-remang sinar layar yang ada di ruangan tersebut. Sesekali, Zhafirah melihat tangan Arkha yang menggenggam tangannya.
"Ya Allah.... sekedar kamu perlakukan begini saja. Aku sudah bahagia Mas.... " Ucap Zhafirah. Yang dimana sudah dua bulan ini mereka tidur dalam satu ranjang.
Flashback On
Seoul sedang begitu dingin. Arkha yang masih ingin tidur di sofa membuat Zhafirah merasa kasihan. Ia pernah merasakan dinginnya tidur di sofa. Ia pun menarik selimut tebal ke lantai. Lalu ia tidur diatas selimut itu. Arkha justru berang dengan tindakannya.
"Zhafirah! Apa kamu mau menyakiti dirimu? Cuaca sangat dingin! " Ucap Arkha.
Zhafirah justru memeluk kedua lututnya dan menatap Arkha. Lelaki yang menggunakan sweater hitam itu menatap Zhafirah dengan tatapan marah.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa tidur nyenyak di kasur. Sedangkan suami ku saja tidur di Sofa. Sayyidah Aisyah bahkan tertidur di depan pintu untuk menunggu Rasulullah pulang." Ucap Zhafirah yang memang sering banyak mencari tahu seperti apa Istri-istri nabi dalam melayani suaminya.
"Hhhhh.... Jadi maksud kamu. aku juga harus tidur di lantai?" Tanya Arkha seraya berkacak pinggang.
"Bukan Mas.... Jika mas tidak suka aroma tubuh ku. Aku akan membungkus tebal dengan bedcover agar tak menimbulkan aroma apapun. Atau aku tidur di sofa atau lantai. Mas di kasur. Dua bulan sudah kita tidak tidur di satu selimut." Protes Zhafirah.
Arkha mendengus.
"8 Bulan. Jangan kamu pikir aku tak menghitung waktu membosankan ini bersama kamu di satu kamar." Ucap Arkha kesal seraya membawa bantal dan selimutnya ke atas tempat tidur.
Zhafirah menyunggingkan senyumnya saat Arkha sudah berada di tempat tidur.
"Cepat naik kesini dan bungkus tubuh kamu. Jangan ada aroma apapun." Ucap Arkha seraya memunggungi Zhafirah.
Zhafirah pun tersenyum. Malam itu, Zhafirah tidur dengan membenamkan tubuhnya di balik selimut tebal. Sehingga hanya kepalanya yang menyembul dari balik selimut. Saat Zhafirah tertidur dengan posisi tele tang. Arkha justru membalik tubuhnya saat ia mendengar napas Zhafirah yang teratur.
"Apa yang harus aku lakukan Zha? Cinta ini datang disaat terlambat. Cinta ini datang hanya akan membuat ku bertambah zolim pada mu Zha... Sampai kapan kamu akan bertahan dengan kondisi ini.... Maafkan aku.... My Angel." Ucap Arkha seraya membenarkan rambut Zhafirah yang terlihat menutupi sisi kanan wajah Zhafirah. Satu yang Zhafirah belum tahu, jika setiap malam nya, Arkha selalu mendaratkan ke cu pan di dahinya. Arkha selalu memandang wajahnya.
Flashback Off
__ADS_1