Because I'M Your Wife

Because I'M Your Wife
Bab 24 Ada Apa ?


__ADS_3

"Bener-bener dapet feelnya. Betul kata Bu Zhafirah. Peran Santri jika memang santri yang memerankan akan begitu terasa feelnya." Ucap beberapa Kru yang baru saja membereskan peralatan syuting mereka.


Pagi itu lokasi diambil di depan pondok pesantren Kali Bening. Sehingga Umi Siti sengaja datang menghampiri sang santri yang sudah dua minggu disibukkan kejar tayang untuk menyelesaikan perannya sebagai Ayra.


"Umi.... " Sapa Zhafirah.


Zhafirah bahkan setengah berlari saat melihat sosok gurunya hadir di lokasi tersebut. Ia bahkan men c1um punggung tangan Umi Siti. Saat berada di hadapan Sang Guru. Zhafirah hanya menunduk saja. Terlihat dari pundak dak kepala Zhafirah yang 'ndingkluk. Karena postur Zhafirah lebih tinggi dari sang Guru.


"Mampir dulu ke Pondok Zha." Ajak Umi Siti.


Zhafirah dengan posisi menunduk melirik ke arah Arkha.


"Saya tanya dan izin suami dulu, Mi." Ucap Zhafirah pelan.


"Pak Arkha saya mau mengucapkan terimakasih dan kami ingin mengajak bapak untuk makan siang bersama." Ucap Gus Furqon.


Tiba-tiba sosok putra sulung Kyai Rohim itu muncul di halaman depan ponpes.

__ADS_1


Arkha yang melihat banyak kru yang mencuri pandang ke arah mereka. Akhirnya Arkha pun mengamini permintaan Gus Furqon. Bahkan Toro pun diajak oleh Gus Furqon karena sudah betul-betul memperhatikan untuk pengambilan gambar dan suasana yang betul-betul khas pesantren.


Arkha dan Toro terlihat sangat terpana. Saat mereka berjalan mengiringi pengasuh pesantren tersebut. Semua santri yang di depan berdiri dan menundukkan kepala mereka. Terlihat mereka memberi jalan untuk guru dan tamu mereka. Satu hal yang di anggap sebagian kelompok terlalu mengkultuskan sosok Kyai.


Kultus jika kita menganggap ulama atau Kyai tadi tidak pernah salah atau punya dosa. Tetapi sikap para santri menundukkan kepala ketika guru mereka berjalan di hadapan mereka, Atau mencium tangan mereka ketika bertemu itu adalah etika, adab bukan menuhankan Guru atau Kyai. Karena dalam beberapa hadist, kedudukan mereka yang memiliki ilmu seperti Guru atau kyai adalah orang yang memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Namun bagi Arkha, Toro. Hal ini betul-betul aneh dan asing. Bahkan Zhafirah tak luput dari penilaian Toro. Istri Arkha itu dari tadi hanya diam dan menunduk.


"Saya waktu itu tertarik mengangkat Novel PEsona Ayra Khairunnisa ini di filmkan. Karena tujuan awal untuk meraup keuntungan yang begitu besar. KArena penulis adalah yang mengalami langsung kisah ini. Belum lagi, beliau istri dari Pak Bramantyo yang sekarang menjabat Wakil Walikota. Namun semua sirna, niat saya tidak lagi mencari keuntungan ketika bertemu langsung dengan Bu Ayra. Cara berpikir beliau, cara beliau memandang hidup juga menjalani hidup betul-betul menampar saya." Ucap Toro pada Gus Furqon.


Ya, Saat Toro menemui Ayra. Ia penasaran bagaiamana kisah itu seakan hidup di mata pembacanya. Lantas, ia segera membuat janji dengan sang penulis novel tersebut. Ketika bertemu Ayra. Tujuan ia menulis novel tersebut bukan karena mencari keuntungan dari hasil penjualan novel tersebut. Melainkan memanfaatkan waktunya yang masih tersisa tapi belum dimanfaatkan untuk sesama perempuan. Ia yang akhirnya hobi menulis diary. Ia buatlah novel tersebut dalam sebuah novel. Niatnya berbagi pengalaman pada semua istri yang mungkin di era serba canggih ini akan merasa lelah nya menjadi istri. Sakitnya punya pasangan yang tak ideal. Dan memberi semangat, bahwa kebahagiaan itu bukan dari suami, harta, pangkat dan jabatan. Melainkan dari diri sendiri yang tak menggantungkan kebahagian pada makhluk. Berharap makhluk memperlakukan kita dengan apa yang kita harapkan adalah membuat sumber hati dan hidup menjadi tak bahagia.


"Ya, Kalau orang membaca novel tersebut. Mungkin mereka akan bilang jika usaha Ayra luar biasa. Tetapi jangan lupa. Ada peran Bramantyo disana. Lelaki yang awalnya keras, dingin kepada sang istri. Ia berkomitmen untuk mengenal istrinya. Ia pun belajar menjadi lelaki baik bahkan sebelum mereka jima'. Sungguh karakter yang mungkin sulit ada di dunia nyata. Dan Kesetiaan, Bramantyo mungkin pernah punya sisi kelam di masa lajangnya. Tapi ketika ia memutuskan menikah, dan memulai semua dari nol. Ia setia, Ini saya bicara perkara novel loh bukan orangnya. Nanti repot saya kalau di tuntut sama CEO MIKEL Group... hehehe..." Ucap Furqon yang sebenarnya bertujuan Agar Arkha memikirkan bahwa ia harus ambil peran untuk menjadikan rumah tangganya sebagai surganya.


"Dan saya sempat bersyukur ketika mendapat kabar di media jika peran Ayra dan Bram diperankan oleh sepasang suami istri. Dengan begitu, pesan pada penonton betul-betul tersampaikan. Kan ndak lucu kalau yang memerankan suami istri. Ada adegan berdua-duaan di kamar tapi bukan suami istri.Walau di lokasi banyak orang." Ucap Umi Siti seraya mengusap putri bungsunya.


Semenjak menjalani syuting, Arkha lebih banyak diam. Bahkan ketika menuju Bali untuk pengambilan syuting honeymoon. Di kamar yang cukup mewah, Arkha hanya menatap layar ponselnya dan menikmati secangkir kopi. Tetapi, sangking fokusnya ia pada ponselnya. Kopi itu tumpah, Zhafirah yang melihat itu. Ia langsung meletakkan naskah dialog yang akan ia perankan nanti. Ia bergegas mengelap bagian paha Arkha yang terkena Siraman kopi.


"Astagfirullah.... " Ucap Zhafirah seraya mengelap bagian paha Arkha.

__ADS_1


Arkha justru tertegun menatap perempuan yang sudah enam bulan ia nikahi. Zhafirah melihat sang suami memijat dahinya. Ia khawatir kalau sang suami kenapa-kenapa.


"Mas sakit? saya minta panggilkan dokter ya?" Tanya Zhafirah..


"Tidak. Aku mau keluar dulu,...." Ucap Arkha pelan.


"Celananya ga diganti dulu mas?" Tanya Zhafirah yang berdiri karena melihat suaminya berdiri,


Entah kenapa, Zhafirah selama dua bulan ini merindukan Arkha yang membentaknya. Arkha yang menatapnya tajam. Semenjak pulang dari korea, Zhafirah tidak pernah lagi ada alasan berbicara di dalam kamar. Sepasang suami istri terlihat romantis dan serasi saat berada di luar kamar. Di dalam kamar, mereka justru tampak asing.


Arkha meninggalkan Zhafirah seorang diri. Hari sudah larut malam. Zhafirah bahkan menunggu Arkha di sofanya. Entah sudah berapa shalawat yang ia baca untuk menemani dirinya selama menunggu sang suami ke kamar. Tetapi Arkha tak kunjung kembali ke kamar. Telepon yang juga ditinggal oleh Arkha membuat Zhafirah gelisah. Hingga tubuh dan matanya lelah. Ia tertidur di sofa.


Hampir dini hari, Arkha pulang dan membuka pintu begitu pelan. Ia melihat Zhafirah tidur dalam keadaan kepala mengadakan ke atas dan memeluk guling. Arkha berdiri tepat disisi sang istri. Ia tatap pemilik bulu mata lentik itu.


“Maafkan aku, karena aku. Kamu harus terjebak dengan kondisi ini. Terimakasih sudah menjadi istri yang baik dan menantu yang baik bagi Mama.” Ucap Arkha. Ia lalu berjalan mengambil selimut. Ia selimuti tubuh Zhafirah. Lalu ia pun merebahkan tubuhnya di Kasur empuk tanpa mengenakan selimut. Hingga lelaki itu tidur dalam keadaan meringkuk. Saat pukul empat pagi. Zhafirah terbangun, ia membuka kedua matanya. Ia melihat selimut tebal di tubuhnya. Selimut itu menutupi hingga leher. Lalu, kedua netra Zhafirah melihat tubuh suaminya yang meringkuk.


“Mas Arkha….” Ucap Zhafirah pelan.

__ADS_1


__ADS_2