Because I'M Your Wife

Because I'M Your Wife
Bab 37 Masa lalu Arkha


__ADS_3

Flashback On.


Suasana satu rumah cukup sepi. Tampak seorang anak SD sedang berjalan ke arah rumah yang bertipe 36 tersebut. Bocah SD itu bernama Arkha Bagaskara. Ia baru pulang sekolah. Ia melihat pintu rumah tak di kunci. Lalu ia membuka pintu rumah dan masuk. Ia mencari keberadaan sang ibu. Namun ibunya tak ada. Arkha yang masuk ke kamar. Ia melihat adiknya masih terlelah di bawah kelambu kecil dengan tubuh di lilit kain bedong.


Arkha begitu gemas dan sayang pada adiknya. Ia begitu ingin mencium dan menggendong sang adik. Bocah kelas dua SD tersebut naik ke atas tempat tidur. Ia menyingkirkan kelambu kecil tersebut. Lalu ia pun memegang kain bedong pada sang adik.


"Wah. Adik pipis ya... Mama mana ya?" Ucap Arkha.


Anak itu pun mengambil satu kain bedong lalu ia tarik ke sisi adiknya yang baru berusia satu bulan. Ia pun yang berpikir jika sang ibi sering mengatakan 'nanti pedih kalau tidak langsung di ganti popoknya.' Maka Arkha berinisiatif menggantikan popok adiknya. Sang adik terbangun. Namun ia tak menangis karena perut bayi itu terasa kenyang. Arkha menatap pun yang masih anak-anak. ia kesulitan menggantikan popok dan bedong layaknya orang dewasa. Ia pun Menelungkupkan tubuh adiknya. Sehingga sang adik yang berjenis kelamin perempuan itu tak bisa bernapas.


"Sebentar ya Dek.... Mama lagi tidak ada. Sama kakak ya." Ucap Arkha kecil.


Tentu saja dengan kondisi yang cukup lama membuat adiknya seperti itu, sang adik harus me re gang nya wa. Arkha tak sadar jika ia telah kehilangan sang adik. Saat sang ibu baru dari menjemur pakaian di belakang rumah. Ia menjerit histeris.


"Arkha!"


Bu Indira segera berlari ke arah bayi cantiknya. Namun bayi tersebut telah terpejam. Bahkan Bu Indira berkali-kali mencoba memastikan bahwa bayi mungilnya masih bernafas. Isak tangis memilukan terdengar dari Bu Indira. Hingga para tetangga datang berbondong-bondong ke kediaman Pak Bagas yang sedang tak berada di rumah. Sejak saat itu, tanpa Pak Bagas sadari. Perlakuan sang ayah padanya membuat Arkha menjadi sosok yang pendiam, pendendam, ia juga cepat marah.


Sebuah bentakan yang hampir setiap hari Arkha dapatkan dari Pak Bagas selaku orang tua dari Arkha hampir setiap hari. Hanya karena lama mengikat tali sepatu, atau ketika di panggil tak menjawab karena tak mendengar. Arkha kecil mendaptkan bentakan.


Sebuah bentakan dari orang tua, mungkin hal biasa bagi Pak Bagas. Karena ia berpikiran dengan cara pikir orang dewasa. Belum lagi rasa kesal pada Arkha karena membuat adiknya mening gal dunia. Namun bocah kelas dua SD itu berpikir dengan caranya berpikir. Ia melakukan itu karena rasa sayangnya pada adik kecilnya. Tetapi Pak Bagas sebagai orang tua sejak hari itu selalu membentak Arkha hampir setiap hari.


Tanpa disadari bentakan tersebut memberikan dampak buruk pada Arkha yang harusnya di didik dengan lemah lembut. Ia jadi depresi tetapi orang tuanya tak tahu bahwa sang anak mengalami tekanan batin dari bentakan yang di dapatnya. Sejak kejadian itu, kondisi ekonomi mereka pun mengalami goncangan karena Pak Bagas kurang fokus. Sehingga Bu Indira kadang menjadi sasaran empuk pelam piasan kemarahan Pak Bagas. Bentakan pada Bu Indira, kadang merendahkan sang ibu juga menaruh luka di hati Arkha. Ia mencintai ibunya.


Setiap anak kecil tentu akan berpikir dengan cara mereka, bukan dengan cara pikir orang dewasa. Arkha beranggapan jika ia anak yang tidak dicintai orang tuanya. Gara-gara dirinya sang ibu juga kena dampaknya. Sejak hari itu, Arkha menjadi kasar pada teman-teman. Ia pun menjadi pendiam. Dan beban mental serta depresi kembali terjadi saat mereka pindah rumah. Karena rumah itu harus dijual untuk memulai membuka usaha CV Bagas.


Tanpa sebuah ilmu dalam membina rumah tangga, kembali Pak Bagas melakukan kesalahan namun tanpa ia sadari. Tinggal di satu rumah yang hanya memiliki satu kamar. Mau tidak mau membuat mereka tidur satu kamar. Memang setiap suami istri membutuhkan sebuah hubungan ba dan. Namun kegiatan yang itu dilakukan sepasang suami istri yang juga memperkeruh kondisi kejiwaan sang anak. Anak kecil akan bermacam-macam menerima apa yang mereka lihat dan dengar.


Jika anak yang sudah me nge nal pendidikan s e k s. Maka mungkin efek yang di dapatkan anak akan ikut-ikut penasaran melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda-beda atau tidak tepat dengan usianya yang seharusnya belum boleh melakukan hal tersebut. Namun Arkha yang memang sudah mendapatkan tekanan psi kis setiap hari dari bentakan demi bentakan. Sang ibu yang juga dibentak berhari-hari karena dianggap lalai menjaga anak dari satu kejadian memilukan hati Bu Indira juga tentunya. Karena ia yang melahirkan sang bayi. Namun ia tak pernah kasar pada Arkha. Tak pernah menyalahkan Arkha.

__ADS_1


Maka hampir setiap pagi hari. Saat malamnya Arkha mendengar rintihan sang Ibu. Rasa sakit hati, dendam pada Ayahnya semakin bertambah. Belum lagi tak ada waktu yang diberikan oleh Pak Bagas untuk Arkha. Sekedar satu minggu sekali atau bahkan sebulan sekali untuk menemani Arkha bermain.


Sering berkelahi di sekolah membuat Arkha di titipkan di pesantren. Pak Bagas merasa geram karena hampir setiap bulan ia akan dapat surat panggilan dari pihak sekolah karena Arkha berkelahi. Itu tak disadari adalah dampak yang Akha Terima dari kelas dua hingga ia sudah hampir kelas 6. Maka tiga tahun di letakkan di pesantren, tanpa kasih sayang dari awal. Niat yang salah menitipkan anak di pesantren. Menambah luka kian dalam dari sang anak.


Maka jangan heran jika sang anak yang merasa di buang ke pesantren justru semakin menjadi membuat ulah. Dari kabur melompat pagar. Atau merokok, juga mengambil uang temannya. Akhirnya Arkha kembali ke sekolah umum ketika hanya satu tahun berada di pondok pesantren.


Dan dampak psikologi Arkha betul-betul terganggu, tanpa disadari oleh Pak Bagas dan Bu Indira. Karena rasa sayang pada sang ibu, rasa bersalahnya pada Ibunya. Arkha sedari kecil berpikiran semua gara-gara dia, adiknya meninggal dunia. Ibunya disakiti oleh ayahnya. Maka Arkha mengalami kesulitan untuk e r ek si. Karena trauma, rasa tak tega melihat ibunya di bentak juga di sakiti oleh ayahnya. Dan itu berlanjut ketika Arkha kuliah di Jepang.


Kondisi lingkungan yang dimana penduduk Jepang atau teman-teman Arkha rata-rata juga tak ingin memiliki anak. Hal itu ikut membentuk pola pikir Arkha. Sehingga pacaran dengan Selena di Jepang. Membuat Arkha selalu menolak ketika ia diajak H B oleh Selena.


Dan semua yang Arkha dapatkan sedari kecil berimbas pada masa depan CEO Bagaskara. Ia tumbuh jadi anak yang cerdas walau tak kreatif karena sering di bentak ketika kecil. Ia tumbuh tampan dan gagah tapi siapa sangka ia justru menjadi lelaki yang tak gagah ketika bersama istrinya. Dampak buruk Arkha baru ia ketahui ketika ia menikah.


Flashback Off


Usapan lembut yang Zhafirah berikan pada rambut hitam Arkha. Membuat CEO Bagaskara itu tertidur saat ia selesai menceritakan kisah sedih di masa lalu dan rasa bersalahnya pada Bu Indira. Zhafirah bahkan ikut menitikkan air mata mendengar cerita dan rasa sesal di hati Arkha.


"Kamu anak yang baik Mas. Insyaallah cintamu pada Mama juga yang membawa kamu akan bahagia. Karena ridho orang tua adalah kunci bahagia kita untuk menjalankan rumah tangga kita." Ucap Zhafirah seraya memandangi wajah yang berapa hari ini terlihat stress karena statemen buruk dari netizen yang hanya bisa berkomentar jelek tentang rumah tangga Arkha dan Zhafirah. Yang ikut menyalahkan Arkha karena dianggap KDRT. Karena Netizen tidak tahu jika jempol yang cantik dan lancar mengetik hal-hal yang ia anggap benar karena ikut campur urusan rumah tangga orang, akan diminta pertanggungjawaban suatu hari nanti oleh Allah. Dan juga menyakiti hati orang yang dalam ka sus tersebut Arkha sebagai korban bullying netizen. Dimana perkara hati manusia yang tersakiti akan di bawa hingga mati.


Maka Zhafirah akan membantu terapi dari psikiater untuk mental suaminya lebih dulu. Hari demi hari dilalui pasangan suami istri itu. Zhafirah yang tak pernah menonton film de wa sa maka tak membuat ia berekspektasi lebih saat berusaha bersama sang suami untuk kesembuhan Arkha. Maka tak timbul rasa kecewa. Diibaratkan bagiamana tahu bahwa berada di puncak Himalaya itu ada pemandangan indah jika Zhafirah tak pernah melihat nya atau menjalaninya.


Ia justru menghabiskan dengan hal-hal positif. Disaat pikiran dan gerak tubuh yang juga dilakukan untuk kegiatan positif. Zhafirah kembali mendapatkan timbal balik positif.


"Mas, ini ada tawaran beasiswa dari Bu Sihombing. Dosen ku kemarin. Tetapi aku harus jadi asisten dosen. Beliau menawarkan aku untuk jadi asistennya. Karena beliau sedang ambil S3 di Belanda. Bagaimana? Boleh?" Tanya Zhafirah saat hari itu Arkha sedang libur dan santai.


Arkha melihat surat tersebut.


"Tiga hari lalu. Kok baru bilang?" Tanya Arkha yang melihat tanggal di surat tersebut.


"Kemarin-kemarin lupa." Jawab Zhafirah.

__ADS_1


Padahal ia sengaja menunggu moment saat suaminya santai.


"Kenapa harus jalur beasiswa sih Zha. Kamu bisa kuliah lagi saja kalau mau." Ucap Arkha.


"Buat nambah pengalaman." Jawab Zhafirah seraya menyerahkan sepotong jeruk ke arah Arkha.


Arkha pun menyetujui hal itu. Karena ia tahu, Zhafirah tentu butuh kesibukan. Merasa tak bisa membahagiakan sang istri dari satu sisi. Arkha ingin memberikan kebahagiaan di hal lain untuk sang istri. Zhafirah tipe istri yang tak banyak menuntut. Tanpa Arkha sadari uang yang setiap bulan di transfer Romi ke rekeningnya. Nyaris tak pernah ia gunakan untuk bersenang-senang.


Maka tahun itu kembali Zhafirah melanjutkan pendidikannya ke S2. Tentu saja ia mengambil jurusan yang linear atau sama dengan jurusan S1 nya kemarin.


"Semoga kamu bahagia Zha... Karena mas belum bisa membahagiakanmu. " Ucap Arkha saat ia mengantar Zhafirah ke kampus untuk bertemu Bu Sihombing.


Saat kembali, Zhafirah memberikan kabar bahwa ia dipilih bukan hanya kemampuan nya.


"Ternyata Umi Siti banyak cerita tentang aku sama Bu Sihombing saat kemarin bertemu di acara lintas agama." Ucap Zhafirah pada Arkha


Di sepanjang perjalanan pulang, Zhafirah menceritakan bahwa ia dulu menjadi abdi ndalem Umi Siti betul-betul ikhlas. Tidak berharap aneh-aneh. Dan kini keikhlasan, kejujuran, kesopanan Zhafirah pada sang guru membawa ia pada kesempatan yang hanya satu mahasiswa dipilih.


"Nanti kapan-kapan kita sowan ke pondok ya Mas. Umi Siti sampai bilang sama Bu Sihombing 'Wes Bu, Zhafirah saja. Saya jamin anaknya bisa dipercaya dan giat'. Aduh. Zha jadi deg deg kan. Khawatir malah mengecewakan Bu Sihombing dan Umi Siti jadi kena imbasnya." Ucap Zhafirah.


Gigi ging sul Zhafirah yang menambah kecantikannya membuat Arkha mengusap kepala istrinya.


"Insyallah ndak akan. Kita ke suatu tempat dulu ya Zha." Ucap Arkha.


Saat mobil Arkha berhenti. Zhafirah menatap pemandangan tersebut dengan pandangan yang sedikit aneh pada Arkha.


"Ayo turun." Ucap Arkha.


bersambung.....

__ADS_1


(Halo readers. Jangan Lupa Votenya setiap senin untuk Zhafirah ya 🙏🙏🙏🙏🙏)


__ADS_2