
Zhafirah berdiri, ia melihat Umi siti bersama Gus Furqon berjalan ke arah saung mereka. Arkha pun mengikuti anak mata istrinya. Ia ikut berdiri dan berjalan menghampiri Gus Furqon. Tiba di dekat kedua pengasuh pondok pesantren Kali Bening tersebut.
Zhafirah cepat menjulurkan tangannya. Umi Siti pun reflek mengulurkan tangannya. Arkha pun melakukan hal yang sama pada Gus Furqon.
“Assalamualaikum, Umi.” Ucap Zhafirah sopan.
“Walaikumsalam.” Jawab Umi Siti.
Guru dan Murid tersebut tak menyangka akan bertemu di tempat makan itu. Umi Siti dan Gus Furqon biasa pergi makan saat sedang keluar. Pertemuan yang tak disangka itu membuat Gus Furqon meminta Arkha dan Zhafirah untuk bisa makan bersama.
"Kalian sudah pesan makanan?" Tanya Gus Furqon.
Arkha menjawab jika mereka sudah memesan makanan.
"Kebetulan sekali ini Pak Arkha. Kita bisa makan bersama? Ada hal yang ingin saya tanyakan terkait beberapa hal." Tanya Gus Furqon.
Arkha pun akhirnya mengajak untuk makan di tempat yang mereka pesan. Saat mereka berbicara seraya menunggu pesanan Umi Siti dan Gus Furqon. Putra sulung Kyai Rohim itu menjelaskan maksud dan tujuannya.
__ADS_1
"Jadi begini, saya ingin bertanya perihal anak SMK yang rencana akan magang. Ini kan tahun pertama anak-anak magang. Untuk jurusan administrasi dan Akuntansi, bisakah kerjasama dengan Pak Arkha. Karena kami kurang satu atau dua perusahaan lagi. Kalau Pak Arkha bersedia saya akan meminta guru yang menangani bidang ini untuk menemui bapak dan membawa surat kerjasamanya?" Tanya Gus Furqon.
Arkha yang merasa tak enak hati. Ia malu di panggil guru yang sering mengisi majelis taklim yang diadakan di sebuah masjid setiap malam rabu. Arkha bahkan istikomah mengikuti majelis itu, yang diadakan satu minggu sekali.
"Wah jangan panggip bapak, panggil Arkha saja Gus.” Pinta Arkha.
Gus Furqon sedikit tertawa, ia merasakan ada perbedaan dengan Arkha yang sekarang. Jika dulu kesan sombong dan angkuh begitu melekat. Namun kesan itu, kini tidak ada lagi pada diri Arkha. Umi Siti pun menatap muridnya. Ia merasa bahagia. Hati guru mana tak Bahagia melihat muridnya mampu bertahan saat hatinya Lelah, memilih berjuang disaat orang lain mungkin pergi meninggalkan. Mampu menyimpan rahasia rumah tangganya sekalipun air mata Zhafirah saat itu mengalir deras. Kala ia ingin bercerai dari Arkha. Ia menceritakan hal itu pada Umi Siti, namun kedua bibir Zhafirah terkatup rapat saat Umi Siti menanyakan hal apa yang membuat ia ingin berpisah, begitupun kala muridnya itu kembali bercerita dan bertanya apa yang harus dilakukan kala hati Lelah untuk bertahan. Saat dimana ia sudah tahu kekurangan suaminya. Namun ia tak menceritakan pada Umi Siti kejadian yang sebenarnya. Umi Siti mengingat kembali saat ia bertemu dengan Zhafirah disatu pengajian. Saat dimana Zhafirah merasa lelah menghadapi Arkha yang sering frustasi dengan keadaannya.
Flashback On
“Umi… Apa yang seorang istri harus lakukan untuk menambah kesabarannya.” Ucap Zhafirah dengan keadaan menunduk.
“Nggeh Umi.” Jawab Zhafirah seraya menundukkan kepalanya.
“Kamu lupa kisah yang pernah Umi ceritakan ketika bahas kitab itu?” Tanya Umi Siti lagi.
Zhafirah terdiam, ia mengingat kisah perempuan yang memiliki suami namun tidak berakhlak baik. Dimana sebuah keyakinan dan keistikomahan perempuan itu dengan sebuah kalimat Basmallah.
__ADS_1
“Ingat Umi, kisah dimana seorang perempuan yang memiliki suami dengan tabiat yang buruk. Suaminya yang sangat tidak suka akan kebiasaan istrinya yang selalu memulai sesuatu dengan menyebut kalimat basmalah, sehingga suaminya berniat ingin mengerjai sang istri. Ketika sebuah kantung yang di titipkan kepada istrinya namun saat istrinya menyimpan benda tersebut,sang suami membuntuti dan membuang benda tersebut. Ketika dalam waktu lama suaminya bertanya lagi perihal barang yang dititipkan kepada istrinya. Istrinya sempat lupa, namun atas izin Allah karena sang istri yang taat dan sholehah, ia memulai dengan membaca basmalah lalu barang itu kembali ke tempat semula. Semenjak kejadian itu, suaminya bertaubat.” Jawab Zhafirah mengenang kembali masa-masa bersama gurunya. Ia masih menunduk kala menjawab pertanyaan Umi Siti.
Ia memang sudah menjadi asisten dosen kala itu. Tetapi ia masih seorang santri, seorang murid di hadapan Umi Siti. Satu sikap Zhafirah sedari dulu yang membuat Umi Siti selalu ridho akan muridnya.
“Ada apa Zha? Kamu bilang rumah tanggamu kini sudah menjadi baik-baik saja. Apa kamu mulai bosan dengan pasangan kamu?” Tanya Umi Siti.
Ciri khas Zhafirah sedari dulu, ia akan menggenggam jari telunjuk dan jari tengahnya seraya menunduk. Ia tampak sedang memikirkan jawaban yang akan diberikan atas pertanyaan yang diberikan umi Siti.
“Begini Umi, setiap rumah tangga pasti ada cobaan sendiri. Akan tetapi, manusiawi kita kadang lelah Umi… hati ini kadang meminta pasangan untuk sempurna. Padahal kesempurnaan hanya milik Allah.” Ucap Zhafirah.
Umi Siti menerka apa yang sedang muridnya alami, ia bersyukur karena zhafirah mampu menyimpan mungkin yang tak harus diketahui orang lain.
“Zha, barang siapa bersabar atas keburukan kelakuan suaminya maka Allah memberi pahala kepadanya seperti pahala yang pernah diberikan kepada Asiyah istri Fir’aun. Kita perempuan punya cara dalam menggapai apa yang bisa kita harapkan disaat logika berkata tidak mungkin, doa. Berdoalah. Jangan remehkan doa, doa istri bukan hanya untuk kesuksesan dunia akhirat suami, tetapi doakan juga diri kita sebagai istri agar bisa selalu bersabar akan setiap tabiat, sifat dan kekurangan suami kita. Jangan pernah lupa memohon agar diri bisa terus menjadi istri sholehah bagi suami kita.” Ucap Umi Laila.
Zhafirah terdiam, Ia sadar. Selama ini, dirinya hanya berikhtiar dan bermunajat untuk suaminya, semua ia niatkan untuk suaminya. Namun disaat Arkha sudah mulai berubah. Dirinya justru dilanda rasa lelah karena suaminya terus merasa frustasi akan kondisi kekurangannya. Ia lupa meminta agar hatinya tetap baik-baik saja setelah suaminya berubah.
Flashback Off.
__ADS_1
Saat selesai makan siang, tanpa sengaja Umi Siti justru menceritakan sebuah kisah yang kembali membuat Zhafirah malu akan dirinya. Sebuah kenyataan yang kembali membuat ia sadar bahwa dirinya memiliki rasa riya' tanpa ia sadari.