
Salah seorang santri yang merupakan adik tingkat Zhafirah menyapanya. Ia bertugas menerima tamu. Saat kemarin, ia mendapatkan pesan khusus untuk Arkha di berikan tempat khusus. Alangkah senang hati Arkha dan Zhafirah. Maksud hati ingin hadir sebagai santri di acara tersebut Namun Umi Siti yang merasa berterimakasih atas bantuan Arkha sebagai donatur utama acara tersebut. Bahkan suami Zhafirah tersebut tak ingin di tulis dalam list untuk namanya.
Zhafirah sendiri tidak tahu jika suaminya memberikan bantuan yang biasa diberikan beberapa orang secara sukarela demi berjalan lancarnya acara tersebut.
"Em.... Neneng ya.... " Ucap Zhafirah.
"Ih.... seneng nya Mbak, namanya masih diinget sama Mbak." Ucap Neneng.
Ia adalah santri ndalem yang menggantikan Zhafirah menemani Umi Siti, setelah Zhafirah boyong.
"Lah, Ning Binti mana?" Tanya Zhafirah
"Sama Umi Kak. Hari ini di kasih tugas disini. Dan sudah dapat pesen. Kakak duduknya disana." Ucap Neneng.
Zhafirah melihat satu tenda disisi kanan tenda utama. Ia berharap bisa membaur bersama masyarakat dan santri, duduk diatas terpal dengan membawa kresek untuk menyimpan sendal atau sepatu. Tetapi kali ini, tampaknya Zhafirah tidak bisa menikmati shalawatan di tengah-tengah ibu-ibu atau para santri. Ia di minta Umi Siti duduk di bagian tamu dan para pengasuh pondok.
Ia pun mengikuti Neneng ke arah yang telah di sediakan.
"Ih, gemes. Anaknya kok chubby sekali sik Mbak. Umi sering sekali loh kak ngasih cerita dan kisah tentang kakak." Ucap Neneng yang sergap dalam semua urusan pekerjaan pawon dan lain-lain. Namun jika sudah bertemu kitab-kitab yang harus dipelajari, gadis itu memang tampak malas. Hal itu karena ia memang tidak memiliki kemampuan seperti halnya Zhafirah.Cepat menghapal dan begitu kuat keinginan dalam menuntut ilmu.
Tiba di sebuah tempat yang telah disediakan, Zhafirah duduk bersama Dian. Saat acara akan dimulai, tampak beberapa pengasuh ponpes Kali Bening duduk di tempat yang telah di sediakan. Zhafirah pun berdiri, tanda hormat pada guru-guru nya yang dulu mendidik dirinya selama ia mondok. Yang membuat Zhafirah sedikit tertegun adalah kehadiran Ayra.
Perempuan yang menulis kisah hidupnya itu tampak sedang hamil besar. Ia hamil anak pertamanya. Umi Siti yang berjalan bersama Umi Laila dan Umi Siti, membuat Zhafirah cepat ikut beberapa orang yang mendekat untuk mencium tangan perempuan yang dulu berjuang bersama suaminya. Dedikasinya untuk para santri, suami. Kini membuahkan hasil. Pesantren yang awalnya hanya terbuat dari papan dan dinding gedek, yang hanya memiliki satu bangunan yang tak lain menjadi tempat Kyai Rohim dulu tinggal, kini menjadi sebuah pesantren yang begitu besar. Bangunan yang dulu berdiri sebagai kediaman Kyai Rohim atau Kang Rohim masih berdiri, tepat di belakang masjid, sisi kanan masjid.
__ADS_1
Banyak yang berubah dari bangunan itu. Mulai dari ukuran bangunan yang lebih besar dari pertama. Hingga beberapa ruangan yang di tambah menjadi kamar, dapur dan beberapa ruangan untuk mengaji dan membaca.
Umi Siti tersenyum ke arah Zhafirah, kala ia melihat santrinya berjalan mendekati dirinya
"Zhafirah.... Alhamdulillah kamu bisa hadir. Umi sudah pesan kemarin dengan Neneng kalau kamu hadir." Ucap Umi Siti yang menerima tangan Zhafirah.
"Alhamdulillah Umi, suami lagi bisa hadir. Kebetulan tidak ada kelas hari ini." Ucap Zhafirah.
"Ini Zhafirah bukan?" Ucap Umi Laila seraya menatap Zhafirah.
"Nggeh Umi. Sudah jadi dosen Umi." Jelas Umi Siti pada Umi Laila.
Mereka pun duduk seraya menunggu acara di mulai. Acara berlangsung dengan khidmat. Zhafirah betul-betul merasa memori nya membawa ia ketika dulu duduk bersama para santri. Saat acara selesai, Mereka pun masih berbincang. Dan tanpa Zhafirah sadari jika Bu Sihombing memperhatikan dirinya.
"Ibu.... " Ucap Zhafirah saat akan keluar dari tenda tersebut.
"Zhafirah.... " Ucap Bu Sihombing.
Mengerti akan mimik wajah keterkejutan Zhafirah, Bu Sihombing menjelaskan kenapa dirinya bisa berada disana.
"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa Ibu disini?" Tanya Bu Sihombing.
"Iya.... Ibu paling pandai membaca mimik wajah seseorang." Ujar Zhafirah.
__ADS_1
Bu Sihombing menjelaskan jika dirinya akan pulang kampung. Dimana perjalanannya melewati Kali Bening. Karena ia dijemput oleh Mawan dan istrinya yang ternyata adalah keponakan Bu Sihombing.
"Jadi istri Kang Mawan keponakan Ibu?" Tanya Zhafirah kaget.
"Ya. Ibunya adalah kakak perempuan ku. Beliau mualaf, kebetulan kita bertemu Zha. Ibu ingin kembali meminta kamu untuk melanjutkan pendidikan mu. Sayang sekali Zha. Masih satu quota lagi. Dan sayang jika diberi kepada mereka yang nanti menetap di Belanda." Ucap Bu Sihombing pada Zhafirah.
Ia sebenarnya sedikit kecewa kepada para mahasiswa yang dibiayai untuk kuliah di luar negeri. Saat selesai pendidikan, mahasiswa itu justru memilih menetap di negara tersebut.
"Mereka mencari pekerjaan di sana, dengan dalih salary yang lebih menggiurkan daripada di tanah air. Tetapi, itu menyakiti hati saya sekali. Karena, saya pribadi jika bukan karena suami bertugas disana, saya pun akan pulang dan mengabdi untuk ibu pertiwi. Walau penghasilan saya lebih besar di Belanda." Ucap Bu Sihombing.
Zhafirah pun hanya berucap sesuatu yang hal itu di dengar oleh Umi Siti.
"Saya tidak bisa memutuskan Bu. Saya harus bicara dan minta izin Mas Arkha. Bagaimana hebatnya saya diluar. Saya tetap seorang istri. Saya butuh ridho suami saya untuk melakukan apapun itu." Ucap Zhafirah.
Bu Sihombing pun meminta Zhafirah memikirkan permintaan nya. Ia akan menunggu keputusan Zhafirah dalam bulan-bulan ini.
Umi Siti yang kembali ke tenda bersama Umi atau istri Mawan.
'Sungguh perempuan yang betul-betul sholehah.... ' Batin Umi ketika ia ikut mendengar ucapan Zhafirah.
Malam itu, menjadi malam yang betul-betul tak disangka oleh Zhafirah. Ia bertemu Ayra, Bu Sihombing dan bertemu dengan istri Mawan.
Saat sedang berjalan ke arah Parkir. Suara seorang lelaki memanggil nama Zhafirah. Arkha harus menahan pintu mobilnya saat ia baru akan menutup pintu mobil. Zhafirah pun menoleh ke luar.
__ADS_1
"Zhafirah... Tunggu!" Panggil Pria tersebut.