
"Ya Allah... Ya Rasulullah... Bener. Jalan ke Surga itu ga mudah. Berat buat untuk ke Surga. Suami ku jalan ku ke surga. Ini bener-bener butuh perjuangan. Berikan hamba kekuatan dan kesabaran untuk menuju surga ku melalui suami ku." Ucap Zhafirah menutup doanya.
Zhafirah melipat sajadahnya. Ia letakkan di sudut ruangan bersama Mukenah nya. Arkha hanya melirik Zhafirah. Perempuan itu memiliki kekuatan dan cinta luar biasa pada sang Pencipta. Itulah Zhafirah di mata Arkha. Bagaimana tidak, istrinya itu mengambil wudhu disaat cuaca begitu dingin di Seoul. Ia bahkan berada di balik selimut. Tapi perempuan itu masih tepat waktu menunaikan kewajibannya. Arkha bahkan pura-pura tidur. Ia pura-pura memejamkan kedua matanya dengan rapat saat Zhafirah mendekat.
Zhafirah melihat jam baker disisi tempat tidur. Ia sudah paham jika benda itulah yang mampu membangunkan suaminya tanpa marah. Karena jika ia yang membangunkan sang suami. Yang ada malah kata-kata kasar dan tatapan tajam dari Arkha. Maka tidak melakukan sesuatu yang tidak disukai suaminya lebih Zhafirah pilih dalam menjadi istrinya.
Arkha merasakan jika selimutnya di benarkan posisi nya oleh Zhafirah. Lalu perempuan itu tampak meracik kopi untuk Arkha. Tak lama jam baker tersebut berdering. Arkha pun bangun dan mematikan jam tersebut dari tempat tidurnya dengan posisi masih berada di balik selimut. Lalu ia bangun dari tempat tidur. Ia bahkan tinggal mandi saja karena air hangat telah di siapkan Zhafirah. Bahkan tanpa diminta, aroma terapi dan salt untuk Arkha biasa mandi pun sudah dibawa sang istri. Zhafirah betul-betul mengenali Arkha. Karena bagi Zhafirah, dengan mengenali siapa pasangan kita. Maka itu akan menumbuhkan rasa cinta di hati pasangan. Dan kita bisa diberikan kemudahan untuk menjadi partner yang menyenangkan karena sudah mengenali apa yang disuka dan tidak oleh pasangan.
Arkha bahkan menggelengkan kepalanya. Zhafirah masih sama seperti tiga bulan yang lalu. Istrinya itu masih mencuci dengan tangannya sendiri under wear miliknya. padahal dirumah ada pembantu. Di tempat mereka menginap saat ini terdapat jasa laundry.
Arkha yang menikmati kopi juga sandwich yang telah Zhafirah pesan beberapa saat lalu.
"Aku ingin keluar. Dan jangan tunggu aku. Aku pulang malam." Ucap Arkha pada Zhafirah seraya membuka bajunya dan menggantikannya dengan sebuah sweater berwarna cream.
"Aku ikut ya mas." Ucap Zhafirah.
Ia sengaja meminta pada sang suami. Ia tahu jika Arkha akan bertemu Selena. Ia tak ingin duduk manis sambil menangis atau meratapi nasibnya. Ia berjuang untuk rumah tangganya tidak setengah-setengah. Ia mencoba mencari celah bagaimana bisa mengenal lawannya yang begitu membuat sang suami tergila-gila.
Arkha mendelik ke arah Zhafirah.
"Dengar! Aku tidak ingin di ganggu privasi ku Zhafirah!" Bentak Arkha.
Kembali kedua mata Zhafirah terpejam karena suara kasar dari sang suami.
"Mas... Aku tak akan menggangu kalian. Aku hanya akan duduk saja. Aku tidak boleh mengenal dirinya? Toh kalian lebih bebas bertemu jika kamu bersama aku." Ucap Zhafirah.
Arkha memijat kedua alisnya. Ia pun tersenyum.
"Ah... ada benarnya juga. Aku bisa ke lokasi syuting Selena ditemani Zhafirah." Ucap Arkha dalam hatinya.
"Baik. Aku akui kamu cukup cerdas Zha." Ucap Arkha.
Zhafirah pun tersenyum senang. Ia memilih baju terbaik yang sengaja ia bawa dari Indonesia. Bahkan Zhafirah sengaja memakai jaket dan jilbab yang senada dengan Jaket juga sweater Arkha. Tiba di sebuah jembatan. Tampak beberapa kru yang berada di bawah manajemen Arkha sedang menggarap sebuah layar lebar. Dimana tema religi dengan beberapa scene di lokasi Korea.
Kedatangan Arkha tentu saja membuat para kru sibuk mencari tempat untuk sang bos besar duduk. Niat hati Arkha ingin bersembunyi-sembunyi bertemu Selena. Kini ia mencoba dengan datang bersama sang istri. Maka tak akan ada yang curiga. Bahkan Arkha menggunakan kacamata Hitam yang cukup besar agar bisa memandangi kekasih hati yang telah lama tak berjumpa.
__ADS_1
"Wow. Pak Arkha. Kenapa tidak bilang? " Tanya salah satu kru yang memberikan tempat duduk untuk Arkha dan Zhafirah.
Arkha hanya tersenyum tipis. Namun Zhafirah, anak mata santri alumni Kali Bening itu menatap seorang perempuan yang mengenakan hijab dengan gaya kekinian dan jaket tebal.
"Jadi dia Selena. Ah... Sungguu aneh. Kenapa pula sebuah novel islami yang diadaptasi menjadi film malah diperankan oleh figur seperti perempuan itu. Sayang sekali." Ucap Zhafirah dalam hati.
Zhafirah pun bertanya dan berbicara dengan beberapa para Kru yang terlihat welcome pada dirinya.
"Maaf ni Mas Toro. Tapi nih, saya cukup lama di pondok pesantren. Saya juga sudah baca novelnya. Kayaknya peran utamanya justru menghilangkan sosok sebenarnya dalam novel itu. Jilbab dan celananya." Ucap Zhafirah saat sang sutradara meminta pendapat dirinya terkait novel dan film tersebut.
"Maksudnya? " Tanya lelaki bernama Toro yang tak lain adalah sutradara film layar lebar yang diadaptasi dari sebuah novel religi.
"Begini. Pendapat saya ada dua. Pertama, kalau yang menonton film ini bukan santri. Mungkin pakaiannya dari tokoh utama bisa di terima. Tapi jika yang nonton santri, ini bakal senyum dan protes. Karena rata-rata jilbabnya itu kalau santri ga kayak gitu. Sekalipun dia pakai celana. Itu ga berbentuk seperti itu. Kedua, kalau yang menonton sudah lebih dulu baca novelnya baru nonton filmnya. Ia bakal ketawa." Ucap Zhafirah yang memang tak nyaman melihat pakaian dan karakter yang justru 180 derajat berbeda dengan tokoh di novel.
"Kok ketawa Bu? " Tanya Toro penasaran.
"Karena saya sendiri yang pernah baca novel itu bolak balik. Entah berapa kali saya baca novel itu sampai berkali-kali tamat. Karakter di Novel itu justru tidak hidup dengan pakaian yang di kenakan oleh artis yang saat ini sebagai Ayra. Saya pembaca Pesona Ayra Khairunnisa. Tidak dapat feelnya dari tokoh itu melalui cara dia berpakaian, bejalan, dan hiasan wajahnya. Sayang sekali. Andai yang memerankan adalah seorang santri betul, maka pasti penjiwaan akan lebih dapat dirasakan pembaca setia novel tersebut." Ucap Zhafirah panjang lebar.
Bukan Zhafirah tak suka pada Selena lantas ia memprotes hal itu. Akan tetapi, ia memang penggemar dan pembaca setia Novel Online di Platform Noveltoon yang berjudul pesona Ayra Khairunnisa karya Sebutir Debu. Maka melihat selama proses syuting berlangsung, Zhafirah tak merasakan sosok Ayra itu diperankan oleh Selena.
Tampak toro manggut-manggut.
"Ini pendapat saya yang ndak paham dunia perfilman. Maaf loh mas Toro." Ucap Zhafirah pelan.
Toro pun justru mengucapkan terimakasih. Ia memang kurang selektif ketika memilih tokoh utama. Saat Selena mendekati Arkha hati Zhafirah semakin panas. Apalagi saat Selena menjabat tangan Arkha cukup lama.
"Pak Arkha, lagi bulan madu pak? " Tanya Selena.
Zhafirah yang merasa tak suka dengan tatapan Selena padanya. Ia cepat menjulurkan tangannya.
"Wah, mbak artis yang terkenal itu ya? Masyaallah, cantik sekali. Lebih cantik dari di layar." Ucap Zhafirah yang memang dari hati.
"Pantas mas Arkha tergila-gila pada dia. Dia nyaris sempurna." Ucap Zhafirah dalam hatinya.
"Ah. Cantik saya belum ada apa-apanya. Ibu Zhafirah juga cantik, buktinya di pinang Pak Arkha." ucap Selena.
__ADS_1
"Alhamdulillah.... " Ucap Zhafirah yang sengaja Bergelayut mesra di lengan Arkha.
"S1al. Arkha ngapain sih ngajak istrinya kemari. Mau manas-manasin aku apa." Ucap Selena kesal.
Mereka pun berbincang-bincang hingga waktu makan siag bersama di satu restoran. Bahkan Zhafirah bisa melihat jika satu tangan suaminya berusaha memegang ujung jari Selena dai bawah meja.
"Ini ternyata alasan kalau makan diluar jangan duduk di sebelah suami. Dia jadi mandangin perempuan lain." Batin Zhafirah sebelum menyenggol gelasnya.
Zhafirah tak habis akal. Ia justru sengaja menyenggol ujung minumnya. Air itu lantas mengalir ke arah Selena yang duduk di hadapan sang suami.
"Astaghfirullah.... Maaf mbak... maaf ... " Ucap Zhafirah cepat.
Selena berdiri dan mengelap baju juga dressnya yang terkena tumpahan air.
"Tidak apa-apa." Ucap Selena seraya tersenyum manis ke arah Zhafirah.
Andai tak ada orang lain. Maka ia sudah naik pitam membentak Zhafirah. Namun di meja lain banyak para kru. Selena pun permisi ke toilet. Arkha justru berhenti ketika akan menyusul Selena.
"Para kru akan curiga mas. Bia aku yang memberikan tisu ini." Ucap Zhafirah seraya mengambil tisu fi hadapannya.
"Jangan macam-macam kamu Zhafirah! Aku tak akan memaafkan kamu jika Zhafirah kenapa-kenapa." Ucap Arkha seraya berbisik dan menyerahkan tisu tersebut kepada Zhafirah.
Zhafirah pun mendekati telinga sang suami.
"Tenanglah, aku tak mungkin menyakiti Your Heart." Ucap Zhafirah seraya berlalu.
Namun saat di toilet. Zhafirah mendengar jelas jika sang artis yang juga model itu sedang menggerutu.
"Ish! Kurang aja perempuan itu! Berani dia menumpahkan air ini dan mengotori aku." Ucap Selena.
Zhafirah membuka pintu ruangan yang terdapat 6 buah toilet di dalamnya. Zhafirah melihat Selena berdiri di depan kaca besar. Zhafirah melangkah dan memberikan tisu itu kepada Selena seraya menatapa Selena melalui cermin di hadapannya.
"Kamu tampaknya risih sekali ketika Dzohir mu Terkotori. Tapi untuk Batin mu. Kamu tenang-tenang saja." Ucap Zhafirah seraya menjulurkan tisu tersebut.
Zhafirah pun mengeluarkan lip serum miliknya dan mengoleskan benda itu di bibirnya. Selena berbalik menghadao Zhafirah. Ia merobek-robek tisu itu dan menatap tajam Zhafirah. Lalu ia hamburkan tisu itu di depan wajah Zhafirah.
__ADS_1
Zhafirah terpejam saat tisu-tisu itu ia lempar ke arah dirinya.
"Kamu! tidak ubahnya seperti tisu-tisu itu! Paham?!" Bentak Selena.