
“Kamu ingat Mawan? Yang sering jadi Sopir Abi dan Umi dulu?” Tanya Umi Siti.
Zhafirah mengangguk, ia sedikit melirik ke arah Arkha.
“Film yang pernah kalian perankan, memberikan kesan sendiri untuk Mawan. Dan Umi menceritakan ini, agar kalian juga bisa belajar dan menjadi semangat untuk diri kalian. Karena secara tidak langsung, kalian memberikan energi positif untuk orang yang menonton film kalian. Dan Umi juga senang jika kalian bisa dalam dunia nyata pun, rumah tangga kalian seindah film yang kalian perankan.” Ucap Umi Laila.
Betul yang dikatakan Umi Laila jika Mawan keluar dari dunia akting. Ia memutuskan untuk berhenti, ia pun segera membuka usaha dengan membuka restoran juga kafe. Pada saat ia membuka Kafe itulah ia bertemu perempuan yang ia anggap justru aneh. Perempuan itu berjilbab namun pakaiannya cukup membentuk lekuk tubuh.Akan tetapi berkali-kali perempuan itu datang ke kafe tersebut dengan keadaan menangis. Hingga Mawan pun penasaran, karena tanpa sengaja beberapa kali ia melihat perempuan itu shalat di mushola kafenya. Dan satu kejadian dimana perempuan itu di tampar dan di pukul oleh lelaki yang ternyata menghamili perempuan tersebut. Sehingga Mawan akhirnya menolong perempuan tersebut, ia membawa perempuan tersebut ke Rumah Sakit. Rasa iba membuat Mawan melihat perempuan yang biasa di sapa Umi tersebut, perempuan tersebut tampak membutuhkan sosok yang bisa membantu dirinya.
Saat kedua orang tua Umi datang, bukan iba dengan kondisi sang anak, ibu dan ayahnya justru memarahi dan memaki anaknya. Disaat dukungan keluarga ketika seorang anak berbuat salah untuk kembali ke jalan yang benar, namun sosok itu tak ada di keluarga Umi. Ibu dan Ayahnya justru menambah luka kian dalam. Penyesalan semakin menjadi. Sesaat Mawan akan meninggalkan rumah sakit, Umi tampak berlari ke arah jendela kamar rawatnya. Ketika kedua orang tuanya sibuk menangis dan mencoba menenangkan, disaat itu Mawan mencoba menarik Umi ke dalam.
Isak tangis keluarga tersebut tampak memilukan. Caci maki dan ungkapan kecewa pada anaknya kini berganti permintaan maaf, Mawan tertahan di ruangan itu beberapa waktu, hingga ia tahu titik permasalahan gadis tersebut. Kembali dipertemukan oleh takdir, ketika satu bulan pasca kejadian tersebut. Mawan kembali bertemu Umi. Jalanan yang macet membuat banyak mobil berhenti. Ternyata banyak pengemudi berhenti untuk melihat seorang perempuan yang akan terjun dari pinggir jembatan. Disana kembali Mawan menyelematkan nyawa perempuan tersebut. Usut punya usut, Umi merasa frustasi. Ia tak ingin menggugurkan kandungannya, namun kedua orang tuanya ingin putri mereka menggugurkan kandungannya. Mawan pun menawarkan solusi yang membuat kedua orang tua Umi menyetujuinya.
Mawan pun menikahi Umi disaat orang tuanya ingin agar kandungan Umi di gugurkan, karena lelaki yang menjadi pacar anaknya itu tak ingin bertanggungjawab. Maka saat pertemuan pertama Zhafirah dengan istri Mawan adalah saat dimana Mawan sedang berada di luar kota, namun sesaat sebelum kejadian itu, mantan pacarnya meminta agar Umi bercerai dan menikah dengan dirinya. Ia menyesal karena saat itu meninggalkan Umi. Kekerasan dilakukan oleh lelaki tersebut membuat Mawan yang baru pulang langsung menjemput Umi kerumah sakit. Sehingga Zhafirah yang memandang hal itu sebagai sebuah KDRT yang dilakukan oleh MAwan.
“Memangnya apa yang terjadi Umi?” Tanya Zhafirah penasaran.
Umi Siti tak menceritakan detail masalahnya, namun alasan Mawan menikahi Umi adalah benar adanya. Mawan terinspirasi dari kisah dan perjuangan tokoh Ayra yang di perankan Zhafirah.
“Umi tak bisa cerita banyak, karena khawatir jadi ghibab. Tapi kurang lebihnya Mawan sempat bilang begini ‘jadi ingat kisah Ayra dan Bram. Ayra di akhir cerita bisa meraih kebahagiaan karena tirakatnya. Kalau saya justru menarik kesimpulan yang lain dari kisah yang diperankan Zhafirah di film itu’. ‘pertama, jika semua yang baik untuk yang baik, lantas bagaimana yang tidak baik menjadi lebih baik.’. Dan Umi hanya berpesan pada Mawan saat itu, jika mampu membuat orang lebih baik, lakukan. Jika tidak, jangan main-main. Masyaallah Umi bangga dengan santri-santri yang tak hanya cerdas, manut guru. Jika di Pesona Ayra Khairunnisa ada Ayra yang berjuang. Di kisah Mawan, ada Mawan yang berjuang. Sungguh berumahtangga itu akan indah andai setiap pasangan memperlakukan pasangannya dengan baik. Seperti saat ini, Umi bahagia. Teruslah menjadi istri yang mencari Ridho suami dan Allah Zha.” Ucap Umi Siti.
Istri Gus Furqon itu ikut bahagia melihat perjuangan santrinya yang bernama Zhafirah, ia tahu bagaimana Zhafirah di awal pernikahan, saaat Zhafirah mengeluh ingin berpisah dan juga kala suaminya yang jatuh bangkrut. Bahkan disaat sang saumi jatuh bangkrut, Umi siti sempat bingung. Karena muridnya itu terlihat baik-baik saja dan bahagia. Tidak seperti disaat suaminya sedang diatas angin, ia jsutru ingin berpisah.
“Apakah istri kang Mawan menerima KDRT dari Kang Mawan Mi?” Tanya Zhafirah masih dengan kepala menunduk.
Umi Siti justru setengah menahan tawanya, ia menepuk punggung tangan Zhafirah.
__ADS_1
“Lah, kok sampai kesana pertanyaan mu Zha…” Ucap Umi Siti.
Zhafirah mengusap kepalanya, ia pun sedikit tertawa dan menyesal, bagaimana bisa ia bertanya perihal itu kepada gurunya.
Zhafirah pun akhirnya menceritakan hal sebenarnya tentang pertemuannya dengan istri Mawan.
“Lah, Ya itu. Hati ini Zha… susah di jaga padahal dibawa kemana-mana. Kita kadang cepat menyimpulkan masalah rumah tangga orang lain. Memang rasa penasaran tentang kekurangan orang lain lebih besar daripada rasa ingin tahu tentang kekurangan kita sendiri. Eh, kamu tahu Zha. Nama kamu itu tersematkan di nama putrinya karena istrinya Mawan sendiri yang minta. ‘lah saya suka sama tokoh Ayra di film Ayra Khairunnisa itu’. Katanya pas waktu Umi tilik kesana.” Ucap Umi Siti.
Zhafirah tampak manggut-manggut. Ia sudah ke ge-eran ketika melihat nama putri Mawan, yang ada namanya. Ia sudah khawatir jika Mawan belum bisa move on dengan rasa yang pernah ada. Justru dirinya dibuat malu sendiri akan rasa yang ada pada dirinya. Selepas pertemuan itu, Zhafirah selama di dalam mobil pun memikirkan tentang apa yang ia pikirkan selama ini. Arkha melirik dari spion mobilnya.
‘Apa kamu masih memikirkan Mawan…’ Batin Arkha.
Saat malam hari, barulah Arkha bertanya tentang apa yang ia khawatirkan siang tadi.
“Siap….” Ucap Zhafirah menutup satu skripsi tersebut dan duduk di sisi suaminya. Ia pun merebahkan kepalanya di pangkuan Arkha.
Usapan lembut Arkha berikan pada dahi istrinya.
“Zha. Di dalam mobil tadi, mas lihat kamu melamun loh… kamu ngelamunin apa sih?” Tanya Arkha seraya menatap Zhafirah.
Zhafirah menangkap aura cemburu dalam ucapan sauminya. Ia menyipitkan kedua matanya. Ia pun memegang dagu Arkha seraya mencubitnya pelan.
“Apa sih mas… Ga mikir aneh-aneh.
“Ih… Siapa yang mikir aneh. Kamu yang mikir aneh.” Ucap Arkha tertawa gemas seraya mencubit pipi Zhafirah.
__ADS_1
“Ndak mikir kang Mawan, tetapi mikir diri ini. Malu, kemarin-kemarin sempat merasa riya’. Lebih mudah jaga anak, suami daripada hati. Padahal dibawa kemana-mana.” Ucap Zhafirah.
Ia duduk dan bersila menghadap Arkha.
“Kemarin tuh Zhafirah sempat merasa bersyukur loh mas, saat lihat istrinya Kang Mawan kayak mengalami KDRT. Zhafirah juga sempat merasa kasihan dan berpikir buruk tentang Kang Mawan. Tapi dari cerita Umi Siti tadi, jelas Kang MAwan tidak seperti yang Zahfirah pikirkan. Tadi di mobil, Zha jadi mikir. Ini hati sulit sekali di jaga. Merasa lebih baik, dari orang lain. Zhafirah Cuma khawatir, kalau-kalau diri ini merasa menjadi orang baik” Ucap Zhafirah pelan.
Semakin hari, rasa cinta Arkha bertambah besar. Ia tak menyangka istrinya justru memikirkan hal yang ia sendiri mungkin tak memikirkan sejauh itu.
Zhafirah menceritakan pada Arkha jika dalam diri orang ahli ibadah kadang sering banyak bersumber dari hati, termasuk merasa diri akan selamat. Selamat ketika di akhirat karena taat beribadah. Merasa setiap ibadah yang dilakukan adalah satu kewajiban bukan kebutuhan.
“Termasuk bisikan bahwa diri ini lebih baik,lebih mulia dari orang lain. Termasuk hati ini yang merasa lebih baik dari Kang Mawan hanya karena melihat sesuatu yang kita tidak tahu kebenarannya.” Ucap Zhafirah pada Arkha.
“Masyaalllah… tambah sarang heo…. Tambah Wo Ai Ni… tambah I love You…. Mas bangga sekali punya istri kamu, Zha.” Ucap Arkha kagum pada pemikiran istrinya.
“Modus Ah….” Kilah Zhafirah.
Arkha tertawa riang melihat istrinya berlari kearah nakas yang berada di sebelah tempat tidur mereka.
“Pahalanya Gede lo Zha kalau minta duluan…” Goda Arkha seraya memeluk bantal yang ada di sofa.
Zhafirah Cuma tersenyum simpul seraya menyemprotkan face mist ke arah wajahnya, lalu menyemprotkan parfum favoritnya.
“Tapi pemimpin itu harusnya bangun lebih awal loh mas dari makmumnya, suami juga harus bangun lebih dulu dari istrinya…” Giliran Zhafirah yang menggoda Arkha.
“Repot dah punya istri cerdas. Kala mulu kalau urusan debat… “ Ucap Arkha seraya menepuk dahinya. Sepasang suami istri itupun tertawa karena berhasil saling menggoda.
__ADS_1