Because I'M Your Wife

Because I'M Your Wife
Bab 35 Tangisan Arkha


__ADS_3

Sepasang suami istri yang baru saja saling terbuka dengan isi hati mereka baru saja menikmati makan mereka di saung yang ada di pantai Anyer. Arkha menggenggam erat tangan Zhafirah. Mereka berjalan beriringan di tepi pantai. Menikmati keindahan sunset. Suasana pantai tak seramai saat siang menjelang sore tadi.


"Bagaimana jika mas tidak bisa sembuh Zha." Ucap Arkha menatap hamparan pasir yang ada di depan mereka.


"Hanya ada satu sakit yang tidak bisa disembuhkan mas." Ucap Zhafirah yang mengikuti pandangan sang suami.


Arkha menoleh ke arah Zhafirah.


"Penyesalan. Umi Siti pernah dawuh, Penyesalan itu ndak ada obatnya. Apalagi penyesalan karena tidak pernah mau berusaha atau menyia-nyiakan waktu atau kesempatan itu sendiri. Kita tidak usah fokus sama endingnya. Kita fokus ke usahanya ya Mas." Ucap Zhafirah yang mengerti bahwa suaminya ingin tahu maksudnya.


Arkha menarik tangan Zhafirah ke lengannya. Saat tiba di tepi mobil, pertama kalinya Arkha membukakan pintu untuk sang istri tulus dari hatinya. Ketika di mobil, Zhafirah bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Jangan bahas pengobatan dulu Zha. Mas Arkha masih butuh kepercayaan diri." Batin Zhafirah yang bermaksud mengajak suaminya kontrol ke dokter. Ia baru saja membuat suaminya nyaman bercerita dari hati ke hati. Tak ada orang yang suka di paksa untuk melakukan sesuatu yang ia takutkan sebelum mentalnya sendiri di bangun.


Ketika sudah berada hampir tiba di rumah. Artha menghentikan mobil secara mendadak.


"Ciiiit..... "


"Astaghfirullah.... " Ucap Zhafirah terkejut.


Arkha yang kaget pun menatap anak kecil yang berlari mengambil bola yang menggelinding ke jalan. Zhafirah cepat keluar dari mobil. Khawatir anak itu terluka. Beruntung Arkha menginjak rem disaat yang tepat. Dan saat Zhafirah melambaikan tangan ke arah anak kecil tadi. Tiba-tiba satu bola kasti mendarat di bagian sisi kanan mata Zhafirah.


"Awwwwhhh.. Astaghfirullah.... " Ucap Zhafirah seraya memegang sebelah matany.


"Zha....! " Teriak Arkha yang melihat istrinya terkena pukulan bola.


Seorang anak laki-laki mendekati Zhafirah dan Arkha dengan wajah ketakutan. Arkha sudah geram ingin memarahi anak tersebut.


"Maaf om. Tante tidak sengaja. " Ucap anak lelaki itu.


Zhafirah cepat mengusap lengan Arkha.


"Sudah Mas, aku tidak apa-apa kok." Ucap Zhafirah.


Arkha pun membuang nafas nya dengan kasar.

__ADS_1


"Hah! ya sudah. lain kali hati-hati. Jangan arahkan pukulan ke arah jalan. Berbahaya." Ucap Arkha seraya menyerahkan bola berwarna hijau itu ke bocah berbaju hitam.


Arkha mendekat ke arah Zhafirah. Ia memegang pipi Zhafirah dan menatap bagian yang Zhafirah tutupi.


"Beneran ga apa-apa Zha?" Ucap Arkha.


"Iya beneran ga apa-apa." Ucap Zhafirah.


Sebenernya terasa sakit sampai kedalam. Ia bahkan ingin menangis. Tapi Zhafirah tak ingin anak kecil tadi mendapatkan amarah dari Arkha. Ia sadar seorang istri harus mampu menjadi air disaat suami sedang memiliki amarah entah kepada siapa pun. Tak ingin menjadi bahan bakar agar emosi suami semakin menjadi. Zhafirah menahan rasa sakit di matanya tanpa menceritakan bahwa sakit sekali bagian matanya.


"Tapi berair Zha." Ucap Arkha lagi seraya mengelap sudut mata Zhafirah.


"Sisa air mata di pantai tadi." Ucap Zhafirah.


Arkha menarik sudut bibirnya. Ia pun membuka pinu mobil dan mempersilakan Zhafirah masuk. Mereka pun melanjutkan perjalanan ke arah rumah. Malam hari, tiba dirumah mereka. Bu Indira justru dibuat heran. Karena Arkha terlihat lebih bersemangat dari biasanya.


"Lah tumben pulangnya bareng?" Tanya Bu Indira.


Beruntung Zhafirah belum mengutarakan pada Arkha tentang keputusan nya pagi tadi untuk bercerai dengan Arkha.


Sepasang suami istri itu pun menuju kamar mereka. Malam itu menjadi malam pertama Arkha menjadi imam di sepertiga malam Zhafirah. Malam-malam yang biasa di lalui Zhafirah sendiri. Namun malam itu berbeda. Arkha bahkan berdoa dengan suara lirih serta airmata yang membasahi pipinya. Rasa sesak di dadanya, ia tumpahkan di doanya malam itu. Zhafirah yang duduk di belakang Arkha pun merasakan ketulusan doa dari suaminya. Pipi lembut Zhafirah tak luput dari banjirnya air mata.


"Ya Allah yang maha mengetahui isi hati. Isi hati segala hambanya. Malam ini.Aku ingin bermanja-manja dengan mu Ya Allah. Aku ingin mengetuk pintu ampunan mu Rabb. Aku siap menjalani setiap takdir yang Engkau berikan pada ku. Asal Engkau Ridho dengan aku juga istri ku. Maka aku dan istriku akan ridho menjalani takdir ini ya Allah. Kuatkan hati ku Ya Allah. Semoga istriku senantiasa sabar dalam menerima kekurangan ku ku ini ya Allah." Doa Arkha dalam malam pertamanya menikmati sepertiga malam yang biasa ia lalui di balik selimut.


Inilah sesungguhnya penghambaan makhluk pada sang Pencipta. Ia tak mengharapkan solusi dulu. Nasihat Zhafirah betul-betul masuk ke relung hati CEO Bagaskara itu. Ia akan mencari keridhoan Allah dalam takdir yang sedang ia jalani. Mungkin selama ini, dia terlalu jauh meninggalkan Allah. Mungkin saat ini, Allah ingin mendengar tangisannya. Maka Arkha tak meminta solusi. Karena Allah lebih tahu yang terbaik untuk hambanya. Sungguh tidak ada orang mulia tanpa melewati ujian demi ujian kehidupan yang berat. Begitupun Arkha dan Zhafirah. Kehidupan rumah tangga yang dilihat Netizen sempurna. Justru ada kekurangan.


Saat selesai shalat Shubu, Arkha menahan tangan Zhafirah.


"Zha... matanya bengkak loh yang kiri." Ucap Arkha khawatir. Ia bahkan menahan dagu Zhafirah.


Zhafirah sudah melihatnya. Ia juga merasakan sakit saat membuka matanya. Namun ia tak ingin mengeluh atau merintih.


"Padahal semalam sudah di komprea loh mas." Ucap Zhafirah.


"Ke dokter saja ya? " Tanya Arkha.

__ADS_1


"Ga usah mas. Ga kenapa-kenapa kok. Mungkin lebam aja. Tapi untuk melihat jelas kok mas." Tolak Zhafirah.


Ia pun cepat bangkit dari tempatnya. Ia menggantungkan sajadah di hanger yang berada di sudut ruangan. Namun Arkha tiba-tiba memeluk Zhafirah dari belakang.


"Zha... " Ucap Arkha pelan.


Zhafirah paham apa yang suaminya rasakan. Pagi itu kembali mereka mencoba sesuatu yang sempat tertunda. Dan kembali kegagalan membuat Arkha justru merasa frustasi. Ia bahkan saat akan sarapan terlihat murung.


"Usaha itu ga ada limitnya mas.... Kita tidak tahu di tangga ke berapa kita berhasil. Apa.... " Ucapan Zhafirah tertahan. Ia khawatir Arkha tersinggung.


"Apa? " Tanya Arkha penasaran.


"Mas sudah pernah kontrol ke dokter?" Tanya Zhafirah pelan dan hati-hati.


Arkha menunduk malu. Ia pun membuang pandangan nya pada langit-langit. Merasa malu juga kecewa pada diri sendiri. Ia segera berjalan ke arah balkon.


"Aku malu Zha... " Hanya itu ucapan yang mampu Arkha ucapkan.


Zhafirah memeluk tubuh suaminya dari belakang.


"Malu kenapa sih? Aku temenin ya. Kita ga bisa usaha dan berdoa saja tanpa melibatkan ahlinya Mas.... " Ucap Zhafirah.


Arkha pun meraih tangan Zhafirah yang melingkar di pinggangnya. Ia menggenggam kedua tangan Zhafirah.


"Hah.... Lihat nanti ya. Mas malu. Tunggu mas siap ya Zha." Ucap Arkha.


Zhafirah mengangguk dan Arkha bisa merasakannya dari gerakan kepala sang istri di punggungnya..


"Setiap rumah tangga itu ada cobaannya mas. Kapan pun mas siap. Zha siap antar mas." Ucap Zhafirah saat Arkha membalik tubuhnya dan menghadap ke arah sang istri.


"Kalau perempuan lain. Mungkin sudah pergi meninggalkan mas jauh sebelum tahu kekurangan mas, Zha." Ucap Arkha seraya memeluk erat tubuh Zhafirah.


Namun ketukan di pintu membuat sepasang suami istri itu harus melerai pelukannya. Rini mengatakan jika ada beberapa media ingin menemui Arkha dan Zhafirah. Arkha mengatakan untuk menunggu. Rini yang menuruni anak tangga untuk meminta tamu Arkha menunggu di ruang depan. Ia justru sibuk dengan rasa ingin tahunya.


"Jangan-jangan benar... He... malang sekali kamu Zha. Zaman sekarang memang lagi marak-maraknya istri-istri pura-pura bahagia demi popularitas...." Ucap Rini seraya menuruni anak tangga.

__ADS_1


__ADS_2