Because I'M Your Wife

Because I'M Your Wife
Bab 53 Berbuah Manis


__ADS_3

Arkha tiba di tanah air, ia langsung menemui Zhafirah di rumah sakit. Ia Peluk tubuh istrinya. Kedua mata Arkha menatap bayi mungil mereka. Baru menjadi seorang ayah, Arkha tak berani menggendong putrinya.


"Cantik... Seperti mamanya. Semoga hatinya juga nanti secantik mamanya." Ucap Arkha di sisi box bayinya.


"Mas tidak mau gendong?" Tanya Zhafirah.


"Takut Zha. Nanti saja. Mas takut nanti salah gendong terus bayi kita kenapa-kenapa." Ucap Arkha.


Ia duduk di tepi tempat tidur Zhafirah. Ia meraih satu tangan Zhafirah. Ia ke cup ujung jari sang istri.


"Terimakasih karena kamu sudah menjadi istri yang baik, sabar dan mencintai aku dengan tulus. I love you Zha." Ucap Arkha dengan tulus.


Zhafirah mengangguk, ia tak mampu mengucapkan sesuatu. Hanya dirinya dan Arkha yang tahu apa yang telah mereka lewati bersama. Zhafirah bahkan tak pernah membayangkan bisa memiliki anak. Karena saat suaminya sudah mampu sehat, tetapi kualitas s p e r m a nya masih menjadi kekhawatiran dokter. Namun siapa yang bisa menolak apa yang akan menjadi kehendak dari Allah..


Sungguh tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.


"Mas tidak membayangkan, betapa besar kasih sayang Allah untuk Mas. Ia memberikan mas istri secantik dan sholehah seperti kamu." Ucap Arkha yang sudah menahan air matanya.

__ADS_1


"Mas... Tidak ada yang bisa menghalangi apa yang menjadi kehendak Allah. Karena hakekatnya kita tidak bisa melupakan bahwa Allah Maha Kuasa. Tetapi semua butuhnya kita menjalankan syariat." Ucap Zhafirah. Ia mengerti apa yang Arkha rasakan.


Flashback On


Saat pertama kali akan kerumah sakit, Arkha tampak masih ragu. Ia malu kalau orang tahu penyakitnya. Apalagi ia mencari informasi system pengobatan jika sudah ke dokter. Ia malu untuk melakukan pengobatan medis. Tetapi rasa cinta untuk Zhafirah juga begitu besar. Ia selalu teringat ucapan Selena. Disanalah peran Zhafirah sebagai teman yang memberi semangat Arkha.


“Mas, bukan berarti Zhafirah minta mas kedokter karena Zhafirah merasa tidak puas, atau mas tidak sempurna. Tetapi Zhafirah khawatir, psikis mas. Zhafirah bisa melihat hampir setiap kegiatan kita, mas selalu frustasi. Bukankah harusnya Zhafirah yang harus frustasi?” Zhafirah berusaha memilih kata dan menyampaikan maksudnya dengan pelan. Ia tak mau Arkha salah sangka karena dirinya membujuk suaminya untuk ke dokter.


“Kenapa Allah tidak mengabulkan doa mas ya Zha?” Tanya Arkha lirih.


Zhafirah bergelayut mesra di lengan suaminya.


“Kisah Nabi Musa? Kisah yang mana Zha?” Tanya Arkha yang tak tahu kisah apa.


“Sungguh di dalam dunia ini. Manusia hendaklah menggunakan dua ilmu dalam menjalani kehidupannya. Ilmu hakekat dan ilmu Syariat.” Ucap Zhafirah.


Kali ini ia berbaring di pangkuan suaminya, lalu melanjutkan kisah Nabi Musa yang hampir mirip dengan apa yang suaminya alami.

__ADS_1


“Sebuah kisah Nabi Musa yang kala itu sedang sakit. Nabi Musa mengadu kepada Allah saat perutnya sakit. Ia merasa sudah berdoa, akan tetapi rasa sakit pada perutnya tak kunjung sembuh. Saat Nabi Musa mengadu kepada Allah, kemudian ia diminta oleh Allah untuk mengambil sejenis daun yang ada di padang pasir. Saat nabi Musa mengunyahnya dan sembuh atas izin Allah. Beberapa waktu kemudian, Nabi Musa mengalami hal yang sama lagi, Mas.. Tetapi kali ini Nabi Musa langsung makan daun tersebut tanpa meminta petunjuk dan izin dari Allah.” Ucap Zhafirah dan ia memegang wajah suaminya.


“Mas tahu, saat pertama sakit perut. Nabi Musa mengerti ilmu hakekat. Bahwa Allah yang bisa menyembuhkan. Sehingga berdoa dan meminta petunjuk pada Allah lalu ketika Allah berikan petunjuk pada Nabi Musa, maka beliau diberikan kesembuhan. Namun ketika sakit perut yang keedua, syariatnya. Nabi Musa, sama. Makan daun yang sama dengan penyakit yang sama. Tetapi tidak sembuh, karena hanya mengandalkan ilmu syariat. Tanpa melibatkan ilmu Hakekat. Sama seperti yang kita alami. Kita sudah berdoa dan berusaha. Tetapi kita lupa, yang bisa memberikan Kesehatan untuk mas, bukan doa kita dan usaha kita. Akan tetapi Allah, jika Allah berkhendak. Atas izin Allah.Dan untuk masalah kita, syariatnya. Kita harus ke dokter Mas. Ndak bisa Cuma usaha sendiri.” Penjelasan Zhafirah membuka hati dan pikiran Arkha.


Bagaimana Arkha akan sembuh jika ia hanya menjalankan ilmu hakekat yaitu memasrahkan pada Allah untuk kesembuhannya. Akan tetapi Arkha melakukan pengobatan, karena apalah arti doa tanpa usaha begitupun sebaliknya. Maka bagi sosok Zhafirah sebagai istri dari Arkha memiliki peran untuk kesembuhan suaminya. Akhirnya Arkha percaya diri untuk mengunjungi dokter yang membidangi permasalahannya. Itulah yang membedakan, ilmu syariat dan ilmu hakekat, tak bisa berjalan sendiri-sendiri. Mereka harus seiring.


Flashback off.


“Kok senyum-senyum sendiri?” Tanya Zhafirah yang melihat Arkha tersenyum seraya menatap Zhafirah.


“Senyum karena ingat momen manis, moment yang sekarang mas bersyukur memilih kamu. Dulu mas milih kamu jadi istri karena kamu akhlak mu pada Ibu, dan kini sungguh mas memiliki semuanya. Seungguh kecantikan akhlak salah satu yang penting ketika berumahtangga” Ucap Arkha kali ini menyematkan satu cincin di jari Zhafirah.


Zhafirha hanya menatap cincin yang tersemat di jari tangannya. Hadiah mewah pertama yang ia terima semenjak ekonomi suaminya terpuruk.


“Investornya jadi menanam saham?” Tanya Zhafirah.


Arkha mengangguk.

__ADS_1


“Jika aku dulu berpikir tak ingin memiliki anak, maka aku ingin memiliki banyak anak dari mu, Zha. Dan jadilah bidadari dunia ku, bukan hanya disaat aku susah. Kamu harus menjadi ratu di kehidupan ku, disaat kini suamimu menuju kesuksesannya.” Air mata Bahagia Arkha tak mampu ditahan.


Sepasang suami istri itu menangis di ruangan rumah sakit, mereka sama-sama bersyukur. Arkha bersyukur memiliki istri Zhafirah, walau istrinya tak secantik Selena, tak seseksi selena. Akan tetapi akhlak dan kesabaran istrinya mampu membuat Zhafirah layak dicintai. Sedangkan Zhafirah, ia Bahagia. Air mata dan kesabarannya, kini berbuah manis. Ia hanya menerapkan selama ini, apa yang harus seorang istri lakukan untuk suaminya. Karena ia merasa bahwa ia istri dari Arkha Bagaskara, maka ia tak meninggalkan suaminya disaat ia tahu kekurangan suaminya. Ia pun tak menyerah disaat mungkin banyak Wanita merasa insecure karena kekurangan sang suami. Alih-alih merasa insecure atau pergi. Zhafirah memilih jalan lain, yaitu mencari solusi untuk kekurangan suaminya, ia menyibukkan diri. Ia pun memberikan keyakinan untuk suaminya berobat. Tidak cukup itu saja, tirakat Zhafirah dalam setiap hari untuk suaminya. Baik itu doanya, shalawat, puasa dan shodakoh nya. Ia niatkan untuk kesembuhan suaminya.


__ADS_2