
Zhafirah yang merupakan salah satu alumnus Kali Bening, ia mengerti jika di dalam pernikahan terkandung banyak keberkahan. Karena, ta'rif dari pernikahan sendiri An-nikahu 'Aqdun Ibahatin Laa 'Aqdu Tamlikin yang bertujuan untuk ibadah, mendekatkan diri kepada Allah, serta mengikuti sunnah Rasul, dan menghasilkan keturunan. Menikah dengan Arkha adalah satu ibadah baginya. Prinsip Zhafirah, konsep pernikahan yang pernah Umi Siti jelaskan padanya, bahwa pernikahan itu bukan karena cinta. Karena jika cinta dulu baru menikah, maka Ketika dalam perjalanan biduk rumah tangga akan putusnya sebuah ikatan pernikahan karena alasan tak ada lagi cinta.
...“Witing tresno jalaran soko kulino artinya kurang lebih adalah. Cinta hadir karena terbiasa"...
Sebuah motivasi awal bagi seorang Zhafirah untuk menyemangati dirinya sendiri, di hari pertama menjadi istri dari Arkha Bagaskara. Lelaki yang introvert, workaholic, dan tampan. Saat akan terbang ke Jogja. Zhafirah yang pertama naik pesawat, ia bingung memasang sabuk pengaman pada bangkunya. Ia melihat Arkha sudah memasang benda itu dengan cepat. Bu Indira membantu besannya, sedangkan Arkha ia harus mendengus kesal karena perempuan yang baru saja ia nikahi sudah mulai menyusahkannya.
“Inilah kenapa aku tidak mau menikah, aku paling tidak suka direpotkan!” bentak Arkha pada Zhafirah dengan suara setengah berbisik.
Zhafirah menutup rapat mulutnya. Aroma parfum sang suami memasuki rongga-rongga dadanya. Bahkan tubuh Arkha yang sedikit menunduk untuk memasangkan sabuk pengaman Zhafirah, mampu membuat Zhafirah berdebar dan menahan napasnya.
“Begini saja tidak bisa!” Bentak Arkha dengan masih bersungut. Ia tak ingin sang ibu mendengar suaranya.
__ADS_1
Arkha memasukkan besi yang berbentuk pipih ke bagian yang buckle lalu berbunyi “Klik”. Sebuah tanda jika sabuk pengaman sudah terkunci. Arkha Kembali berbisik di telinga Zhafirah.
“Kencangkan sendiri! Aku tidak suka perempuan manja! Nanti angkat buckle ini ke atas kalau mau membuka nya! Paham!” Ucap Arkha menatap lurus kedepan dan menghembuskan napasnya dengan kasar.
“I-Iya Mas, maaf merepotkan mas.” Ucap Zhafirah pelan.
“Hem.” Sebuah deheman dari Arkha seraya memejamkan matanya. Sadar jika sang ibu dari sisi kirinya sedang menoleh ke arah mereka. Arkha menarik tangan Zhafirah. Ia menggenggam tangan Zhafirah.
CEO Bagaskara itu menoleh dan tersenyum manis.
Anggukan kecil dari Zhafirah membuat Arkha Kembali menatap lurus ke depan. Ia memejamkan matanya, satu tangan masih menggenggam tangan Zhafirah.
__ADS_1
“Begini Apa rasanya menikah? Apakah betul yang Umi Siti ucapkan. Jika cinta akan hadir jika aku melibatkan Allah dalam hubungan ini. Akankah cinta hadir dalam pernikahan ku Rabb.” Batin Zhafirah.
Tangan Zhafirah berkeringat, ia merasa nervous. Karena genggaman Arkha begitu keras. Ia juga sedang mencoba menenangkan hatinya. Hati yang sedang merasa sedikit terganggu dengan Arkha, mata sipit dan wajah tampan Arkha juga kulit putih lelaki itu membuat Zhafirah merasa salah tingkah berada di dekat lelaki itu. Apalagi saat ini, Zhafirah sadar bahwa manusiawi jika ia terpikat dan terganggu dengan ketampanan Arkha. Karena manusia memang dibekali dengan nafsu. Seperti ia yang menyukai lelaki, begitupun Arkha yang menyukai perempuan. Tetapi Zhafirah tidak tahu, jika perempuan yang menjadi magnet bagi Arkha adalah Selena. Bukan dirinya.
Arkha tidak tahu jika cinta yang tumbuh sebelum pernikahan, cinta itu dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam sebuah kemaksiatan. Apalagi cintanya pada sang kekasih yang merupakan istri orang. Jika Arkha optimis dengan pernikahannya untuk menutupi hubungannya dengan Selena, Zhafirah juga optimis dengan hubungan pernikahan tanpa cintanya. Baginya sebuah ibadah akan diterima dengan dua hal, pertama niat dan kedua caranya. Zhafirah niat menikah untuk beribadah, agar ia terhindar dari Zina, agar ibunya bebas dari tuntutan kemarin. Dan caranya, caranya sudah benar. Ia menikah secara agama dan resmi dimata pemerintah. Tinggal lagi caranya sebagai seorang istri. Mampukah ia menjadi istri yang baik, sehingga seorang Arkha Bagaskara mencintai dirinya.
“Jadilah istri yang sholehah. Gunakan cara-cara yang sudah di contohkan istri-istri Rasulullah dalam menjadi seorang istri yang baik Zha. Insyaallah, jika niat dan cara mu sudah benar. Biar Allah yang hadirkan cinta di hubungan pernikahan ini, Zha. Allah yang akan membolak-balikkan hati suami mu. Cinta ku pada Allah tak akan membuat ku menghibah untuk kamu cintai mas. Aku hanya akan menghiba pada sang pemberi rasa cinta di hati anak manusia. Aku akan berusaha untuk cinta yang belum tumbuh diantara kita.” Ucap Zhafirah dalam hatinya.
Ia memejamkan matanya. Ia begitu lelah satu hari ini, berdiri dan menyalami tamu undangan. Bahkan bayangan lelaki yang Bernama Mawan muncul dalam pelupuk matanya. Zhafirah berusaha menyingkirkan bayangan lelaki yang cukup diidolakan banyak santriwati kala di pondok. Kang Mawan biasa dipanggil oleh beberapa santriwati. Lelaki yang dikenal sebagai sopir kyai. Karena Gus Furqon akan pergi kemana-mana diantar sopir. Dan ketika sang sopir tak ada. Maka Mawan adalah santri yang biasa Furqon minta mengantarkan dirinya dan sang istri.
Lelaki bernama Mawan itu sedang termenung di dalam apartment nya. Ia baru satu tahun menjadi artis di tanah air. Ia bergabung di Sebuah management artis. Dimana Arkha adalah CEO management tersebut. Mawan yang terkenal karena memerankan tokoh protagonis lelaki di sebuah layar lebar yang bernuansa islami. Ia sebenarnya berniat melamar Zhafirah. Ia sedang menunggu Zhafirah selesai pendidikannya. Namun ternyata ia dan Zhafirah tak berjodoh.
__ADS_1
"Sekuat apapun aku mengejar mu. Kamu bukan jodoh ku, Zha. Semoga kamu bahagia bersama pilihan mu. Dan semoga ada perempuan lain yang mampu menggantikan kamu di hati ku." Ucap Mawan seraya meremas beberapa foto Zhafirah yang ia simpan.
Ia memasukkan foto-foto tersebut kedalam kotak sampah disisi meja kerjanya. Ia tak ingin bermain dengan hati. Ia tak ingin mencintai istri orang.