
Tiba di bandara Arkha dan Zhafirah sudah ditunggu oleh banyak wartawan. Arkha segera memeluk erat pinggang istrinya. Beberapa wartawan mendekat ke arah Arkha dan Zhafirah. Arkha membisikkan sesuatu pada istrinya.
"Jangan terlalu Ge Er. Aku memeluk mu karena banyak kamera yang mengarah ke kita." Ucap Arkha seraya mendekatkan wajahnya telinga Zhafirah.
Zhafirah mengangguk pelan.
"Mas Arkha, kalau boleh tahu selama honeymoon kemana saja? " Tanya Salah seorang wartawan.
Arkha menceritakan perjalanannya selama tiga hari di Yogyakarta. Ia juga menceritakan rencana ke depan.
"Sementara, Dia aku minta di rumah saja. Aku orang nya lumayan posesif. Jadi, dia dirumah dulu saja." Ucap Arkha pada para pemburu berita.
Bagaimana ia tidak di buru oleh para pencari berita. Dari gosip ia dekat dengan artis dan pemain layar lebar. Gosip miring tentang dirinya dekat dengan Selena juga menyeruak ke media. Hanya saja, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa semua berita miring itu benar.
Arkha memang akan bertemu Selena ketika mereka di luar negeri. Itu pun sangat private.
"Dari dulu saya sudah bilang. Saya dan Selena hanya teman dekat. Dulu kita lama di Jepang." Jawab Arkha ketika ada salah satu perempuan bertanya akan gosip ia dan Selena.
"Jadi namanya Selena?" Gumam Zhafirah.
"Mbak Zhafirah dan Mas Arkha rencana punya momongan berapa? " Tanya wartawan.
"Sebanyak-banyaknya. Tapi tidak tahu ya dikasih berapa. Yang penting sekarang usaha dulu." Ucap Arkha.
__ADS_1
Semua wartawan tertawa karena melihat wajah Zhafirah merona karena malu. Suaminya menggunakan bahasa satir yang cukup mengganggu jantung Zhafirah. Ia begitu malu juga merasa aneh. Karena itu, Zhafirah melirik ke arah Arkha.
"Bagaimana ingin punya anak. Tidur saja, kamu Selalu memunggungi ku. Apakah perempuan bernama Selena itu lebih cantik dan menarik dari diriku? " Tanya Zhafirah dalam hatinya.
Setelah beberapa menit, Arkha dan Zhafirah menuju ke pesawat mereka.
Tiba di ibukota jakarta. Romi sudah menanti. Ia berlari ke arah Arkha dan menundukkan kepala. Tanda hormat pada bosnya. Ia cepat meraih satu koper yang di tarik oleh Zhafirah dan Arkha.
"Terimakasih." Ucap Romi.
Arkha yang begitu terganggu karena sejak di Yogyakarta kemarin Zhafirah selalu mengucapkan kata 'terimakasih' pada setiap pelayan atau room service yang datang.
"Tidak bisakah kamu tidak mengucapkan kata terimakasih? Mereka yang melayani aku dan termasuk kamu, mereka aku bayar. Jadi simpan ucapan terimakasih mu." Ucap Arkha.
"Maaf.... " Cicit Zhafirah.
"Heh!. Kata itu juga. Bisa tidak, jangan terlalu sering meminta maaf pada orang!." Ucap Arkha gusar.
Romi yang duduk di sisi sopir hanya melihat dari kaca spion mobil, raut wajah Zhafirah begitu sendu. Perempuan itu menunduk karena merasa malu di bentak di hadapan orang lain.
"Ini laki jahat banget. Istri kalem, lembut begitu dia bentak-bentak. Apa mentang-mentang orang kaya? Lah saya baru di plototin Cahya saja sudah tak berani berkata-kata." Romi bermonolog dalam hatinya. Ia tak habis pikir bagaimana Arkha begitu santai membentak sang istri.
Sedangkan dirinya yang sudah dua tahun menikah dengan Cahya, seorang dokter kandungan. Hampir setiap hari. Dirinya akan bergidik karena istrinya begitu disiplin dan teliti. Sehingga berbanding terbalik dengan kondisi rumah tangga Arkha. Seakan Romi iri, punya istri begitu penurut. Nyaris tak pernah mengomel.
__ADS_1
Padahal di balik kesabaran seorang suami ketika istrinya mengomel, ada pahala yang menanti. Cukup diam, pahala sudah hadir pada suami yang mengalah dan diam saat istrinya mengomel. Zhafirah menghibur dirinya. Ia berselancar di medsosnya. Ia yang khawatir kembali mendapatkan murka dari sang suami, lebih memilih membaca artikel.
"Kenapa jadi mirip kisah hidup ku.... Ini aku kebalikannya Rabb. Suami ku yang galak." Ucap Zhafirah pada dirinya sendiri. Ia pun menikmati artikel tersebut. Dimana sebuah artikel tentang curahan hati suami yang memiliki istri yang galak.
Zhafirah beberapa hari ini diam saat Arkha marah atau membentaknya. Dimana sang suami gampang sekali marah pada dirinya. Maka sudah tugasnya sebagai istri untuk berusaha mengatasi karakter sang suami yang cukup sulit di hadapi bagi sebagian perempuan.
Alih-alih mengkritisi Arkha, Zhafirah lebih dulu mengkritisi dirinya sendiri. Tiga hari menjadi istri Arkha, ia tahu bahwa suaminya akan marah jika ia menyentuh benda yang merupakan privasi sang suami. Maka Zhafirah tak menyentuh benda-benda suaminya. Bahkan ketika tidur pun Zhafirah tak berani membangunkan sang suami. Ia lebih memilih menghidupkan alarm pada jam yang berada di sisi tempat tidur.
Zhafirah pun paham, suaminya tak suka sesuatu yang berisik. Maka ia hanya membaca Qur'an dimana menjadi satu kebiasaannya di setiap malam, dengan suara lirih. Zhafirah pun ketika akan mencari makan, ia akan makan dan hanya mengirimkan pesan pada suaminya. Karena Arkha tidak suka di ganggu saat asyik dengan kegiatannya. Maka mengenal karakter, kebiasaan Arkha, Zhafirah berharap suaminya merasa nyaman ada dirinya. Ia akan perlahan meraih cinta sang suami.
Zhafirah sebenarnya sudah tidak sabar tiba dirumah, ia berharap Arkha sibuk dengan kegiatan nya. Karena ia begitu penasaran dengan sosok bernama Selena itu. Ia ingin mencari sosok perempuan itu melalui ponselnya. Tetapi itu pasti akan menyulut emosi Arkha. Maka Zhafirah hanya diam namun pikirannya sedang berusaha merencanakan mau di bawa kemana hubungannya. Harus bertahan atau menyerang kah dirinya.
"Kenapa jadinya kayak main bola si zha... "Ucap Zhafirah saat ia bermonolog dengan dirinya sendiri tentang sikapnya pada Selena untuk kedepannya.
" Kenapa senyum-senyum?! " Ucap Arkha yang mengagetkan Zhafirah. Ia tak menyanhka jika bibirnya menyunggingkan senyum dan sang suami memperhatikan.
"Lagi ngebayangin di mall kemarin. Lucu." Ucap Zhafirah.
Arkha menggelengkan kepalanya.
"Hhhh.... Sampai kapan aku harus bersama dia. Apakah harus seumur hidup... oh Tuhan... Semoga dia segera meminta cerai pada ku dan tak betah menjadi istriku." Ucap Arkha seraya memejamkan kedua matanya.
"Sungguh kasihan Bu Zhafirah. Sudah cantik, sholehah. Masih di bentak-bentak. Ini Pak Arkha belum pernah merasakan punya istri kayak singa kali." Batin Romi yang sesekali melirik spion di atas kepalanya.
__ADS_1