
Zhafirah sedikit merasa ringan karena Arkha sudah menyiapkan satu asisten rumah tangga. Ia pun yang memang merasa sedikit lelah tetap bisa mengerjakan kegiatannya. Tepat satu hati setelah wisuda. Zhafirah merasakan perutnya yang terasa tak nyaman. Ia hanya berpikiran kemungkinan pengaruh kegiatan yang ia lakukan semalam bersama suaminya.
Namun semakin siang, semakin merasakan tak nyaman di bagian perut.
"Ada apa Zha?" Tanya Bu Indira yang dari tadi melihat mimik wajah Zhafirah tampak seperti menahan sakit.
"Perutnya kayak mules Ma." Jawab Zhafirah.
Entah kenapa setelah kemarin Zhafirah merasakan sakit pada punggungnya. Hari ini perut pun terasa panas dan kembung. Merasa curiga akan cairan yang keluar. Zhafirah memeriksa ke kamar mandi. Alangkah paniknya Zhafirah saat ia melihat ada seperti d@rah yang keluar dari bagian intimnya. Seperti orang haid.
“Ma, kok ada d@rahnya ya Ma.” Tanya Zhafirah khawatir.
“Astaghfirullah… banyak Zha?” Tanya Bu Indira khawatir.
Zhafirah tampak mengangguk. Ia tampak termenung sesaat seraya melirik kea rah jam di dinding ruang keluarga.
“Ma, Zhafirah ke dokter ya? Mama sama Mbak Darmi dulu ya?” Tanya Zhafirah khawatir.
“Tidak telepon Arkha,Zha?” Tanya Bu Indira.
“Mas Arkha lagi pertemuan dengan beberapa calon investor Ma.” Jawab Zhafirah yang tak ingin membuat suaminya khawatir. Ia tak ingin merepotkan suaminya yang sedang mencari nafkah. Ia juga merasakan jika tidak ada yang salah, hanya khawatir d@rah yang keluar saja.
Akhirnya ia pun mendapatkan izin dari Bu Indira untuk memeriksakan kondisi untuk pergi ke dokter menggunakan taksi online.
“Hati-hati Zha…” Ingat Bu Indira ketika Zhafirah menc I u m tangannya, berpamitan.
Zhafirah selalu berdoa ketika akan pergi dengan melafazkan shalawat. Sungguh amal yang tak lain kemungkinan tidak diterima, tetapi shalawat amal yang pasti diterima. Tiba di rumah sakit, Zhafirah menunggu nomor antri setelah mendaftarkan diri. Ia melihat seorang perempuan yang tampak bermata sembab. Tampak sekali perempuan itu menyeka air matanya, Zhafirah sesekali melirik perempuan tersebut. Saat tiba giliran Zhafirah masuk kedalam. Tampak bagian wajah perempuan tersebut seperti ada bagian biru di pelipisnya. Zhafirah pun segera masuk kedalam ruangan pemeriksaan. Cukup lama Zhafirah berada diruangan tersebut.
“Faktor kelelahan Bu,. Makanya mengeluarkan d@rah. Saya akan berikan ibu resep, nanti ibu tebus di apotik. Saya minta ibu Bedrest selama dua minggu dulu nanti kita lihat perkembangan janinnya.” Ucap dokter tersebut.
__ADS_1
Tampak Dahi Zhafirah berkerut. Ia khawatir dengan kondisi janinnya. Mendengar kata pend@rahan.
“Maa dok, bayi saya tapi tidak apa-apa?” Tanya Zhafirah khawatir. Tangannya bahkan sedikit gemetar.
“Insyaallah janinnya baik-baik saja. Yang penting ibu Bedrest dulu ya, untuk beberapa hai kedepa.”Ucap dokter Obgyn tersebut.
Zhafirah bisa bernafas lega ketika mendengar kondisi janinnya baik-baik saja. Ia terlalu Lelah satu minggu belakangan. Karena terlalu sibuk revisi thesis dan wisudah. Sehingga kondisi fisiknya mempengaruhi kondisi Rahim. Beruntung janin di dalam begitu berjuang untuk sehat. Zhafirah pun memikirkan cara menyampaikan ke Arkha, ia khawatir suaminya meminta dirinya untuk berhenti bekerja sebagai dosen. Karena kemarin, tepat di hari wisudah. Ia dinyatakan sebagai salah satu wisudah dengan nilai terpuji. Maka secara perjanjian, Zhafirah bisa langsung menjadi dosen setelah meraih gelar ‘MH’.
Bagaimana dia tidak khawatir, karena saat akan pergi ke rumah sakit, ia bukan seperti mengeluarkan flek tetapi seperti orang haid.
“Tidak boleh stress dulu ya Bu, bayinya saja berjuang tadi di dalam kandungan. Ibu nya juga harus berjuang dan semangat.” Ucap Dokter menyemangati Zhafirah.
Zhafirah menyunggingkan senyumnya kepada sang dokter. Saat keluar dari ruangan tersebut, Zhafirah Kembali berpapasan dengan seorang perempuan yang tampak hamil besar dan berwajah sendu. Ia bisa melihat sisa-sisa air mata di sudut mata perempuan tersebut. Namun ia hanya melirik saja dan mengamati wajah yang tampak lebam. Seketika hati Zhafirah langsung berbisik.
“Apa dia di pukul suaminya?” Batin Zhafirah.
“AStaghfirullah… Kepo sekali kamu Zha, hati ini pandai sekali setan berbisik disini.” Batin Zhafirah cepat beristighfar karena ia tahu bahwa hatinya sedang dibisiki setan yang sibuk menilai orang lain.
Setelah mendapatkan resep vitamin, Zhafirah pulang. Bu Indira sedari tadi menanti.
“Bagaimana Zha? Apa kata dokter?” Tanya Bu Indira penasaran dan khawatir. Ia bahkan sangat kuat dan cepat mendorong kursi rodanya.
“Alhamdulilah janinnya sehat dan baik-baik saja Ma. Dokter minta Bedrest dulu selama dua minggu Ma.” Ucap Zhafirah melihat obat dan vitamin yang berada ditangannya.
“Alhamdulilah. Ya Sudah, minum obatnya. Istirahat. Mbak Darmi biar nginap saja selama beberapa hari ini. Bisa kan Mbak?” Tanya Bu Indira.
Mbak Darmi mengangguk pelan. Ia bekerja hanya dari pagi hingga sore. Namun karena Zhafirah sakit, mau tidak mau ia juga kasihan pada majikannya. Kelembutan dan kebaikan Zhafirah pada dirinya membuat ia menaruh hati lebih. Zhafirah sering sekali kadang membawakan pulang sayur atau buah pada Mbak Darmi. Ia juga kadang kalau sedang banyaknya pekerjaan seperti pakaian yang di gosok, Zhafirah akan membelikan seperti susu atau buah dan dibawa pulang. Maka ia juga sebenarnya khawatir dari tadi akan kepulangan majikannya.
“Iya Bu, saya pulang sebentar. Beri tahu anak saya, khawatir nanti bingung.” Pinta sang asisten rumah tangga.
__ADS_1
Zhafirah mempersilahkan asistennya untuk pulang. Saat sore hari, Arkha pulang dengan wajah berseri-seri. Ia bahkan berkali-kali menc I u m Bu Indira.
“Alhamdulilah, rezeki buat cucu mama. Tiga-tiganya mau menanamkan modal di perusahaan Ma. Besok bahkan mereka langsung minta siapkan kontraknya.” Ucap ARkha senang.
“Alhamdulilah.” Ucap Bu Indira.
Namun kebahagiaan Arkha sedikit terganggu saat tak melihat istrinya.
"Zhafirah mana Ma?" Tanya Arkha penasaran.
“Mbak DArmi, Mama minta menginap beberapa malam disini. KAsihan Zhafirah kalau malam harus bantu Mama untuk buang air. Tadi Zhafirah pamit sama Mama. Dia pendaarahan. Dok-“ Belum selesai Bu Indira bicara, Arkha sudah memotong ucapan Bu Indira khawatir.
“Astagfirullah… Mama kenapa ga bilang dan telepon sih?” Tanya Arkha gusar dan khawatir.
Namun saat ia kekamar, Zhafirah yang bersandar di headboard sudah mendengar suara suaminya yang terdengar khawatir.
"Zhafirah... kenapa tidak telepon?"
Dengan wajah dihiasi senyum, zhafirah menyibak rambutnya ke balik telinga.
“Kalau Zhafirah telepon Mas tadi siang, terus mas pasti belain antar Zhafirah. Terus proses suami Zhafirah mencari rezeki untuk anak dan istrinya jadi terganggu. Zhafirah masih bisa membedakan kapan Zhafirah harus menelepon mas atau tidak. Dokter bilang janinnya baik dan sehat.” UCap Zhafirah dengan nada begitu lembut dan tenang.
“Bener?” tanya Arkha.
“Bener, Cuma disuruh Bedrest selama dua minggu.” Ucap Zhafirah seraya menggeser tubuh, untuk memberi Arkha tempat duduk.
Arkha hanya menatap istrinya penuh cinta. Ia sangat bersyukur menikah dengan perempuan yang begitu memiliki kedewasaan dalam berumah tangga. Padahal saat menikah dengan Zhafirah, perempuan itu baru tamat SMA. Namun sedari menikah, perempuan Bernama Naadhira Zhafirah selalu bersikap dewasa, sabar. Sungguh ketenangan dalam hati Arkha karena melihat istrinya yang ternyata mampu untuk menjadi dewasa seiring waktu.
Tidak semua perempuan mampu bersikap dewasa. Sang istri bahkan dari tadi masih melayani dia seperti biasa. Bahkan Arkha yang bertanya lebih dulu kondisi istrinya. Zhafirah sebenarnya akan menceritakan, tapi nanti. Ia menunggu suaminya sudah tenang dari Lelah bekerja. Sudah kenyang perutnya. Maka menanti momen yang pas adalah waktu yang baik untuk membuat suami bisa mendengarkan keluh kesah dirinya.
__ADS_1