
“Zhafirah, semua mata melihat ke arah kita.” Bisik Arkha pada Zhafirah.
Zhafirah tak memperdulikan banyak mata yang menatap mereka, bahkan ada beberapa yang merekam dan mengambil gambar mereka. Arkha pun melerai pelukan Zhafirah. Ia tak ingin menjadi pusat perhatian di area parker tersebut.
“Masuklah.” Ucap Arkha pada sang istri.
Zhafirah masih dengan pipi yang basah, ia masuk kedalam mobil hitam yang biasa Arkha bawa ketika akan bekerja. Suami Zhafirah itu pun bergegas menuju satu pintu lainnya. Romi pun setengah berlari untuk membuka pintu sang bos. Lalu asisten pribadi ARkha itu duduk di belakang kemudi dan menunggu perintah akan pergi kemana. Arkha menyebutkan sebuah pantai pada Romi. Rasa malu seakan hilang entah kemana. Zhafirah justru memeluk Kembali tubuh Arkha, ia masih menangis. Sedangkan Romi hanya berani melirik dari kaca spion dan focus ke stir kemudi. Arkha merasa merinding, bulu kuduknya berdiri terlebih di bagia dada dan lengan. Pelukan erat Zhafirah membuat Arkha salah tingkah. Ia bahkan meminta Romi focus pada kemudi dengan lirikan matanya yang setajam elang saat asistennya melirik Kembali melalui kaca spion.
“Apa yang membuat mu menangis dan memeluk ku begini Zha?” Tanya Arkha penasaran dalam hatinya. Sepanjang perjalanan, Zhafirah masih memeluk Arkha. Arkha pun tak bersuara. Ia tak tega untuk membentak dan melerai pelukan itu. Tangisan Zhafirah dengan sesenggukan begitu menyayat hati bagi yang mendengarnya. Bahkan Romi pun bertanya-tanya dalam hatinya. Apa gerangan yang terjadi dengan istri bosnya itu.
“Ada apa dengan Bu Zhafirah? Apa dia tadi membawa map hasil pemeriksaan kalau dia hamil… secara empat tahun lebih menikah belum punya anak… perempuan mana coba ga nangis kejer kek gitu…” Ucap Romi dalam hatinya yang ikut bersedih karena tangisan Zhafirah.
Itulah manusia, dia akan sibuk memikirkan apa yang terjadi dengan orang lain. Dan aka nada rasa ingin tahu sekali setia orang Bahagia atau sedih yang biasa di kenal kepo. Begitulah rasa Kepo Selena saat ia melihat selembar kertas yang tersimpan di dalam map. Dimana surat gugatan cerai dari Zhafirah yang belum di bubuhi tanda tangan Arkha.
__ADS_1
“Wow…. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Apa yang terjadi dengan kamu Arkha, dia perempuan yang pintar. Saat sudah mendapatkan gelar, dia akan bercerai dengan Arkha… Oh aku lupa, perempuan mana yang bisa bertahan dengan suami seperti Arkha… ah… setidaknya aku bisa dapat uang dari surat ini kalau ku jual ke yang berani bayar mahal untuk sebuah gossip.” Ucap Selena yang sudah berada di dalam mobilnya. Ia pun menghubungi seseorang.
Sedangkan Arkha dan Zhafirah telah tiba di sebuah pantai. Arkha meminta Romi Kembali ke kantor. Ia mengambil kunci mobil dari tangan Romi.
“Handle dulu pertemuan dengan Tim evaluasi. Aku tidak akan Kembali ke kantor siang ini.” Ucap Arkha.
Romi pun menunduk tanda patuh.
Setelah kepergian Romi, Arkha membuka pintu mobil. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya dengan satu tangan memegang pintu mobil dan satu tangan lainnya memegang kap mobil.
Zhafirah menghapus air matanya dengan ujung jilbabnya. Ia pun menatap pantai yang ada di hadapannya. Cuaca cukup terik tapi banyaknya pohon kelapa di pinggiran pantai tersebut menarik kedua netra Zhafirah yang memang jarang ketempat seperti itu. Anggukkan kecil dari Zhafirah membuat Arkha menarik sudut bibirnya. Ia pun berdiri dan mundur agar istrinya bisa keluar.
Ia pun melangkah lebih dulu kea rah pantai diikuti Zhafirah dan sebuah alarm mobil Arkha tanda terkunci.
__ADS_1
“Bip.Bip.”
Jika biasanya Zhafirah tak berani menyentuh suaminya, ia takut suami marah takut suaminya gusar. Kali ini ia tak takut apapun. Ia cepat menggandeng lengan Arkha layaknya sejoli yang sedang kasmaran. Ia tak perduli mata yang memandang, atau anggapan ia orang tidak sopan. Empat tahun setengah, Zhafirah menahan diri untuk selalu membuat suaminya tak kesal, tak marah pada dirinya. Hari itu ia rela jika memang harus dibentak oleh Arkha karena bergelayut mesra padan lengan Arkha yang terasa keras. Lelaki itu tiga tahun belakangan sering ikut fitness berharap ia menjadi lelaki per ka sa. Namun semua masih belum mem bu ahkan hasil. Arkha masih harus berjuang untuk tidak lemas lebih dulu saat suatu rang sa ngan ia rasakan.
Arkha hanya menoleh kea rah Zhafirah. Baru saja akan membuka mulutnya karena tiba-tiba di rangkul. Zhafirah lebih dulu mewakili isi hatinya.
“Kalau mas mau marah, nanti saja. Satu hari ini saja… satu hari ini mas ndak usah marah dulu. Satu hari ini saja jadikan aku teman mu mas. Dan jadilah tempat aku bersandar. Nanti kalau mau marah, mau bentak. Zha terima dengan lapang dada. Tapi jangan sekarang… Please…” Cicit Zhafirah pada Arkha seraya menatap pemandangan di depannya.
Pemandangan Pantai Anyer sangat indah. Pasir putih, pohon kelapa yang berbaris, membuat pemandangan indah dan menyejukkan mata. Zhafirah yang dari tadi merasa perih dan bengkak di bagian matanya karena dua malam ini dia selalu menangis. Pemandangan yang ada di pantai itu mampu membuat hati Zhafirah terhibur. Ia mengimbangi Langkah Arkha yang mendekat ke bibir pantai.
Tampak banyak orang yang berfoto di sana , ada beberapa yang hanya bermain air. Ada beberapa anak kecil dan orang tua mereka membuat istana pasir dengan wajah yang Bahagia dan canda tawa. Arkha memilih duduk di bawah satu pohon kelapa. Namun Zhafirah justru memilih duduk di pasir. Ia selonjoran kedua kakinya. Kedua tangannya ia tempelkan di pasir dan ia sandarkan ke belakang.
“Indah sekali…” Gumam Zhafirah.
__ADS_1
Arkha pun mengikuti Zhafirah, ia duduk di bawah tapi dengan bersila. Ia menarik dasinya dan membuka jasnya. Sepasang suami istri itu menatap berbagai kegiatan pengunjung pantai itu. Bahkan tampak beberapa keluarga tak hirau dengan kondisi panas, mereka masih merasa Bahagia bermain pasir di bawah teriknya matahari.
“Katakan apa yang terjadi?” Tanya Arkha.