Because I'M Your Wife

Because I'M Your Wife
Bab 55 Rumah Baru


__ADS_3

Arkha dan Zhafirah tampak mengenakan baju yang berwarna putih dengan bordir di bagian pergelangan tangannya. Annisa pun tampak mengenakan dress berwarna putih. seluruh undangan yang hadir di acara syukuran rumah baru mereka pun mengenakan outfit berwarna putih.


Arkha sengaja mengundang saudara juga beberapa rekan bisnisnya di acara tersebut. Salah satu ungkapan syukurnya, ia mengundang anak-anak yatim piatu di salah satu yayasan yang dimiliki Gus Furqon. Satu wujud perubahan sikap Arkha saat ia memulai semua dari nol, ia tidak hanya mengusap kepala anak yatim tetapi ia memberikan dan menunjukkan kepedulian nya untuk anak-anak tersebut. Setiap bulan ia selalu sisihkan untuk anak-anak tersebut. Arkha bahkan tak pernah melibatkan media saat ia memberikan bantuan tersebut.


Pada acara syukuran itupun, Arkha tidak memberikan amplop itu di acaranya. Tetapi ia memberikan santunan saat satu hari sebelum acara di rumah barunya. Sebuah perhatian dan sebuah cinta dari Arkha pada anak yatim tidak hanya sampai di situ. Pagi itu saat acara akan di mulai. Arkha menahan gerahamnya. Ia yang mendorong kursi roda Mamanya, namun kedua netranya menatap anak-anak panti yang tampil rapi menggunakan baju yang ia belikan. Bahkan air mata menutupi bola matanya. Sebuah sentuhan di lengan Arkha membuat ia menoleh ke arah Zhafirah.


"Mas.... " Ucap Zhafirah karena melihat sesuatu yang ia sendiri merasa keberatan. Suami istri itu kini betul-betul punya prinsip hidup dan cara memandang sesuatu dengan sudut pandang yang sama.


"Nanti tunggu kita sampai di panggung ya sayang." Ucap Arkha yang paham maksud tatapan sendu istrinya.


Zhafirah memang sudah mengingatkan di awal. Jika memang ingin mengundang anak-anak yatim. Maka perlakukan mereka sama dengan undangan lainnya. Bahkan jika bisa di acara mereka, anak-anak yatim tersebut lah yang menjadi tamu spesial. Ternyata rencana yang sudah matang kadang tak terealisasikan karena miss komunikasi antara yang punya acara dan pelaksana.


Arkha dan Zhafirah pun tersenyum kepada anak-anak yang menatap mereka dengan senyum tulus dan lugu. Arkha menaiki panggung bersama Zhafirah. Ia dibantu beberapa pelaksana acara yang sengaja ia sewa. Beberapa orang tampak membantu mengangkat Kurai roda Bu Indira. Saat acara di mulai, Arkha berbisik ke arah satu lelaki yang merupakan penanggungjawab acara tersebut.


Arkha pun berdiri memegang microphone, ia berdiri menatap tamu undangan dan beberapa anak-anak yatim yang ia undang. Anak-anak panti tersebut tampak berjalan ke arah panggung, mengikuti arahan dari EO dari acara syukuran rumah baru Arkha. Anak-anak tersebut berjalan ke arah panggung dan duduk di sisi Zhafirah juga Bu Indira. Setelah semua anak-anak tersebut duduk. Arkha pun membuka kata sambutannya. Ia terdiam beberapa detik setelah mengucapkan salam. Tampak Arkha menundukkan kepalanya sebelum ia memulai kata sambutannya.


"Adik-adik... mau maafkan bapak dan ibu Zhafirah?" Tanya Arkha di awal pidatonya. Ia menatap wajah-wajah anak tersebut silih berganti. Ada rasa sakit di hati Arkha.

__ADS_1


Ia pun melanjutkan kalimatnya.


"Maaf ya... tadi kalian harus duduk di belakang sekali dan di pojokan.... Bapak minta maaf. Padahal kalian tamu spesial Bapak dan Ibu hari ini." Ucap Arkha seraya melemparkan senyum ke arah anak-anak tersebut.


Wajah-wajah lugu, imut dan tanpa dosa itu tersenyum menatap Arkha. Mereka menganggukkan kepala. Zhafirah tersenyum bahagia. Ia bisa melihat suaminya berkata seperti itu, tulus dari dalam hatinya. Zhafirah pun mengusap satu kepala anak yang ada di sisinya.


"Mohon maaf bapak dan ibu. Bukan berarti hadirin sekalian bukan tamu yang tak saya harapkan. Akan tetapi hati saya sakit, saya khawatir ibu, bapak... niat hati ingin kelak berada dengan Rasulullah karena memuliakan mereka... Tapi saya justru mendapatkan dosa karena saya memperlakukan mereka hanya sebatas pelengkap, hanya sebatas ceremonial setiap acara syukuran. Sungguh mereka pun tidak mau berada di posisi mereka. Tetapi mereka menjalani takdir dari Allah dengan senyum indah mereka." Jelas Arkha yang telah berlinang airmata.


Ia sempat khawatir ketika melihat anak-anak yatim tadi duduk di bagian paling belakang, bahkan beberapa diantara mereka duduk di sisi tenda yang terpapar sinar matahari yang menjelang siang. Arkha menggenggam erat microphone yang ada di genggamannya. Ia pun melanjutkan sambutannya.


"Saya hanya ingin berbagi sebuah cerita yang dimana cerita ini disampaikan oleh istri saya. Istri yang begitu luar biasa hebatnya. Saya tidak tahu apakah amalannya, tetapi beliau mampu selalu bertahan disisi suaminya yang mungkin jauh dari kata sempurna. Bapak ibu tahu, istri saya itu ketika saya bertanya 'kenapa kamu bertahan disisi ku?', 'kenapa bisa sesabar ini mendampingi ku.' istri saya selalau jawab satu hal yang buat hati saya bahagia dan menangis haru. Ia selalu menjawab 'Because I'm Your Wife.' Terimakasih Zhafirah.... " Tampak Arkha beberapa kali mengambil nafas untuk menyelesaikan kalimatnya.


Ia pun menjelaskan cerita yang membuat ia mengerti dan ikut timbul cinta pada anak yatim setelah cerita itu ia dengar dari bibir istrinya yang selalu memberikan moodbooster pada dirinya disaat putus asa dan lelah. Sebuah kisah dimana Rasulullah ketika akan shalat idul Fitri. Saat itu beliau bertrmu sekelompok anak kecil bermain. Mereka menggunakan baju baru dan membawa permen.


"Namun Rasulullah berhenti bapak ibu, ketika beliau melihat seorang anak duduk di pojokan. Anak tersebut tampak sedih. Rasulullah pun bertanya kepada anak tersebut. 'Kenapa tidak bermain'. Lalu anak tersebut menjawab kalau dia tidak punya baju dan permen." Suara Arkha sudah terdengar sengau.


Kembali kedua netra Arkha menatap anak-anak yatim tersebut.

__ADS_1


Arkha pun melanjutkan kembali ceritanya. Rasulullah bertanya keberadaan ayahnya. Dan anak tersebut menjawab jika ayahnya telah syahid saat berperang bersama Rasulullah.


"Anak tersebut tidak tahu Bu, pak kalau sedang bicara dengan Rasulullah.... " Ucapan Arkha mulai terdengar lirih..


Arkha berkali-kali menarik napas dalam untuk melanjutkan kisah tersebut. Dimana Nabi membawa anak tersebut ke rumahnya. Rasulullah pun menunda untuk pergi ke masjid. Rasulullah memberikan baju, dan yang dibutuhkan anak tersebut. Anak tersebut pun bermain bersama teman-temannya.


"Sungguh saya dan istri selalu berharap menjadi orang mendapatkan kedudukan sangat dekat dengan Rasulullah. Dimana Nabi bersabda, 'aku bersama orang yang menyayangi anak yatim seperti telunjuk dan jari tengah.'" Kali ini bukan hanya Arkha yang berlinang air mata akan tetapi beberapa koleganya, teman juga istrinya sudah berlinang air mata.


Sungguh Arkha dan Zhafirah begitu ingin mendapatkan kedudukan dekat Nabi, karena orang tersebut yang menyayangi anak yatim. Karena orang yang menyayangi anak yatim, kebaikannya akan kembali kepada dirinya sendiri.


"Maka dari itu, saya sampai minta EO jemput dan antar anak-anak ini pulang. Lah ketika lihat duduknya di barisan paling belakang. Saya langsung sedih, khawatir. Kalau-kalau Allah tidak Ridho. Rasulullah saja sampai menunda untuk ke masjid hanya karena anak yatim. Lah saya manusia biasa ini sengaja mengundang mereka, kok saya biarkan mereka di tempat yang sembarangan. Kepanasan lagi... " Ucap Arkha lagi.


Beberapa EO pun menundukkan kepalanya. Arkha sengaja mengatakan hal tersebut di depan undangannya. Ia dan Zhafirah kadang sering mengelus dada setiap ada acara yang sama namun pemandangan dimana anak-anak yatim yang diundang duduk di tempat yang mungkin kurang layak. Namun kini diacaranya, ia tak ingin hal itu terjadi. Sungguh cinta Zhafirah dan Arkha pada manusia paling mulia itu bukan hanya di hati tapi semua mereka terapkan dalam hidup mereka.


Beberapa rekan bisnis Arkha yang penasaran kesuksesan Arkha yang begitu cepat kembali. Mereka menarik benang merah yang membuat mereka penasaran. Salah satunya ucapan Arkha yang pernah menjawab salah satu pertanyaan itu.


"Kyai istri saya atau biasa disapa Gus Furqon selalu dawuh sama saya dan istri. 'Kalo ingin rizki berkah dan berlimpah kalau kerja di niatkan Untuk membantu orang lain dan hasilnya jangan buat maksiat.'." Jawab Arkha pada mereka yang heran akan kesuksesan Arkha.

__ADS_1


Dan tentu masih banyak hal lain yang membuat Arkha berhasil secara finansial selain hal itu, dimana ia memuliakan istrinya, menjalankan kewajibannya sebagaimana seorang muslim.


__ADS_2