Because I'M Your Wife

Because I'M Your Wife
Bab 60 Menarik Perhatian Arkha


__ADS_3

Sebuah kegiatan yang sudah menjadi agenda tahunan di Pondok Pesantren Kali Bening. Dimana setiap bulan kelahiran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, selalu diadakan Puncak Acara Safari Maulid di Ponpes tersebut. Dimana kegiatan pembacaan maulid Simtudduror yang dilakukan satu bulan penuh. Kegiatan tersebut dilakukan berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lain. Dari satu musholah ke musholah lainnya yang terdapat di kecamatan Kali Bening. Maka saat puncak acara tersebut pasti diadakan di Pondok Pesantren Kali Bening.


Ada yang spesial di Puncak acara safari maulid kali ini. Acara tersebut di hadiri seorang Habib yang lahir di Solo. Arkha bahkan menjadi salah satu donatur untuk acara tersebut. Ba'da Ashar, Arkha telah tiba di kediamannya. Ia sudah berjanji akan menjemput istri, anak dan Mama nya. Mereka akan menghadiri acara shalawatan tersebut. Namun Bu Indira tak bisa ikut karena tubuhnya kurang fit. Sedangkan Zhafirah baru saja selesai menyiapkan kebutuhan Nissa dan menyimpannya ke dalam tas.


"Sayang, sudah siap?" Tanya Arkha saat ia telah mengenakan satu pakaian yang couple dengan anak dan istrinya.


Zhafirah tersenyum ke arah suaminya.


"Sebentar, tinggal ganti baju aja." Ucap Zhafirah seraya mengambil dress yang telah ia siapkan.


Ia pun mengganti pakaiannya. Namun saat selesai mengganti pakaiannya. Tampak Zhafirah beberapa kali menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Ia pun meletakkan kembali jilbab hijau polos tersebut. Lalu ia berjalan ke arah lemari yang menyimpan beberapa koleksi jilbabnya. Ia memilih satu jilbab yang ia anggap lebih cocok untuk ia kenakan.


Tiba di depan cermin, ia melirik Arkha dari cermin yang ada di hadapannya. Tampak Arkha mengusap-usap Tabletnya.


"Mas, bagus yang hijau ini atau yang kuning?" Tanya Zhafirah.


Arkha hanya melirik sebentar dan mengucapkan satu kalimat singkat, padat dan jelas.


"Hijau." Ucap Arkha yang masih sibuk dan asyik dengan tabletnya.


Zhafirah menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia menarik sudut bibirnya.


'Kambuh... kalau sudah ngadepin laptop atau gadget.' Batin Zhafirah.


Ia pun memilih jilbab yang pertama tadi. Ia kenakan jilbab tersebut setelah ia menggunakan make up yang cukup tipis. Namun karena ia baru mencoba satu merk lipstik. Ia sedikit ragu, khawatir terlalu mencolok warnanya atau menor. Baru akan bertanya pada suaminya.

__ADS_1


Zhafirah justru membuka Clutch bag yang berada di nakas. Ia mengambil ponselnya, ia arahkan kamera ponsel tersebut ke arah dirinya. Setelah melihat hasil tangkapan kamera tersebut. Ia mengirimkan hasilnya ke nomor ponsel yang berada di Tablet kerja Arkha. Tak butuh waktu lama, hanya beberapa detik pesan tersebut sampai di tablet Arkha.


Suami Zhafirah itu mengangkat pandangannya ke arah Zhafirah yang tampak mengenakan bros ke sisi kanan jilbabnya. Akan tetapi istri Arkha itu tersenyum dan memandang suaminya dari pantulan cermin yang ada di hadapannya. Sedangkan Arkha, lelaki itu mengerutkan dahinya. Bagaimana bisa istrinya mengirimkan pesan sedangkan mereka berada di dalam satu ruangan.


Arkha pun membuka pesan tersebut. Bibir Arkha menyunggingkan senyum menatap sebuah gambar yang baru saja Zhafirah kirimkan. Istrinya tampil cantik dan modis dan terdapat pesan di bawah gambar tersebut.


{Lipstiknya kelewatan ga warnanya. Dan ini istrinya cantik ga sih?}


Arkha membesarkan gambar Zhafirah dan fokus pada wajah istrinya. Lalu ia meletakkan kembali benda yang selalu membuat dirinya kadang lupa kalau sedang berada di rumah. Ia berjalan ke arah Zhafirah. Ibu Annisa itu pura-pura tak memperhatikan jika suaminya berjalan mendekati dirinya.


"Lipstiknya baru?" Tanya Arkha seraya duduk di kursi meja rias yang terdapat tiga sisi cermin.


Zhafirah pun menjawab dengan singkat.


"Kurang bagus?" Tanya Arkha seraya mengambil satu lipstik yang tergeletak di meja rias. Ia memutar lipstik itu dan membaca merknya.


"Iya, soalnya suami ku ini, lebih fokus ke tablet daripada istrinya. Besok mau beli yang baru saja." Ledek Zhafirah yang sadar kalau suaminya terpancing memperhatikan dirinya hanya karena ia mengirimkan gambar dirinya tadi.


Arkha tertawa. Ia menarik Zhafirah sehingga duduk di pangkuannya.


"Oh.... jadi Ummu Annisa lagi merajuk?" Tanya Arkha.


"Bukan merajuk.... Mas Arkha kebiasaan kalau ditanya. Bagus yang ini atau yang itu. Jawabnya tanpa melihat dulu. Cuma ngelirik.Nanti giliran udah keluar baru komen." Protes Zhafirah.


Arkha semakin tertawa, ia ingat kejadian saat Zhafirah mendapatkan satu dress hadiah dari mahasiswanya. Saat acara wisuda mahasiswa tersebut, Zhafirah ingin membahagiakan muridnya. Ia mengenakan dress tersebut di acara wisuda. Karena sebuah sikap sepele tapi mulai pudar di masa sekarang. Ketika di beri makanan tidak di makan, entah apa alasannya. Ketika diberi hadiah diremehkan.

__ADS_1


Sedangkan dahulu Rasulullah pernah diberi hadiah satu jubah oleh seseorang. Rasulullah langsung mengenakan Jubah tersebut. Dan baru beberapa saat jubah itu dikenakan oleh Rasulullah, jubah tersebut di minta oleh sahabat Rasulullah. Dengan seketika Rasulullah pun membuka jubah itu dan memberikannya kepada sahabat. Mendengar perihal ini, sahabat yang lain merasa keberatan. Karena mereka tahu, Rasulullah tak pernah menolak ketika orang meminta apapun yang ada pada Rasulullah. Ketika ditanyakan kepada sahabat yang meminta tadi, ternyata ia berharap jubah itu menjadi kain kafannya ketika meninggal dunia. Ia ingin kain kafan yang membungkusnya adalah pakaian yang pernah di kenakan oleh Rasulullah. Sebuah kisah yang bukan bisa di petik kebaikan hati Rasulullah. Tetapi bagaimana Rasulullah selalu menghargai pemberian orang lain.


Begitu juga hal dress yang dulu sempat menjadi perdebatan Zhafirah dan Arkha.


"Ya Allah. Perempuan... kalian makhluk Tuhan yang susah dimengerti. Kejadian udah berapa bulan masih diingat juga... " Ucap Arkha setengah terkekeh-kekeh.


Kejadian dimana dress yang dipakai Zhafirah itu sedikit ketat. Karena posisi Zhafirah baru melahirkan, nafsu makan bertambah. Maka tubuh Zhafirah pun terlihat lebih gemuk dari biasanya. Ketika sudah siap pergi, Arkha justru melotot melihat bagian belakang istrinya. Sontak Zhafirah saat itu berkali-kali membuang nafasnya dan berkata, 'sabar, sabar Zha. Tadi ditanya katanya pas, cocok. Giliran udah mau berangkat komen.'.


"Jangan sampai terjadi lagi, udah siap suruh ganti." Rengek Zhafirah yang berada di pangkuan suaminya.


"Hehehe.... Masyaallah.... Masih diinget aja sih sayang.... " Ucap Arkha gemas.


"Dendam tidak. Tapi inget, iya." Ucap Zhafirah meminjam kalimat yang pernah diucapkan oleh Mantan presiden Republik Indonesia yang ke 4.


"Iya... iya istri ku sayang. Jilbabnya oke. Bibirnya terlalu menyala. Coba berdiri." Ucap Arkha seraya memegang ujung jari tangan Zhafirah.


Zhafirah pun berdiri dan berputar.


"Oke. Perfect. Bibirnya aja yang harus di tipiskan." Ucap Arkha seraya mengangkat jarinya membentuk tanda 'oke'.


"Bibir atau lipstik nya?" Goda Zhafirah.


Arkha kembali dibuat tertawa bahagia. Ia sangat bahagia, diluar sana, istrinya terkenal begitu berwibawa, cerdas dan tegas. Tetapi di hadapannya, Zhafirah selalu manja dan kekanak-kanakan. Yang membuat Arkha bertambah sayang pada istrinya. Zhafirah pandai meredam masalah sekalipun itu hal sepele.


Hal sepele kadang bagi lelaki ketika diajak bicara pasangannya, namun lebih asyik ke aktifitas favoritnya. Maka butuh kesabaran dan kepandaian seorang istri mengolah rasa atau celah-celah yang bisa membuat rada benci hinggap di hati. Beruntung Zhafirah lebih fokus ke cara menarik perhatian suaminya daripada merasa sedih atau marah karena diabaikan. Sungguh potensi keributan dalam rumah tangga berawal dari hal-hal sepele dan jengkel kemudian mulai timbul rasa tak ikhlas melayani suami.

__ADS_1


__ADS_2