Because I'M Your Wife

Because I'M Your Wife
Bab 49 Mimpi Buruk Arkha


__ADS_3

Hujan lebat yang mengguyur komplek perumahan Zhafirah dan Arkha. Sepasang suami istri itu tampak nyenyak beristirahat dibalik selimut tebal. Cuaca dingin yang menusuk hingga ke tulang membuat Arkha yang bagian kakinya tak ditutupi selimut merasakan dingin. Ia bangun dan melihat selimut sudah tertarik dan menutup tubuh Zhafirah. Ia pun merapatkan selimut ke tubuh istrinya.


Arkha melirik jam yang ada di nakas. Ia termenung dengan duduk bersandar Head Board. Sesekali ia tatap wajah cantik Zhafirah. Istri yang selalu bertahan di sisinya disaat senang maupun susah. Arkha menyandarkan kepalanya di dua tangan yang ia lipat kebelakang. Ia tatap langit-langit kamar yang sekarang jauh lebih sederhana dari kamar nya dulu.


Arkha pun mengusap wajahnya berkali-kali. Ia baru saja bermimpi, hal itu membuat rasa sedih, khawatir juga takut. Ia pun bergegas membawa baju ganti ke kamar mandi. Setelah beberapa menit, ia pun segera shalat di balik pintu kamarnya. Tak ada ruang khusus shalat dirumah sederhana Arkha.


Dua rakaat saja sudah membuat Arkha merasa tak mampu menahan air matanya. Ia hanya menundukkan kepalanya. Ia terisak di atas sajadah. Bahunya berguncang kuat. Saat ia merasa lebih baik, Arkha pun melipat sajadahnya. Namun ketika akan menggantung kan sajadah di hanger. Ia justru melihat Zhafirah yang sudah bangun dan memeluk guling seraya bersandar di head board.


"Zha..." Ucap Arkha merasa kaget.


Ia pun tanpa mengganti pakaiannya langsung masuk ke balik selimut dan duduk di sisi istrinya.


"Sudah bangun dari tadi?" Tanya Arkha seraya membelai rambut panjang istrinya.


"Sudah. Tapi ndak berani ganggu. Sepertinya mas n i k m a t sekali dengan curhat nya Mas sama Allah." Ucap Zhafirah yang sedari tadi penasaran. Baru kali ini ia melihat suaminya menangis diatas sajadah sampai terisak.


"Hhhhh... " D e s a h a n nafas Arkha begitu berat. Ia merasa dadanya sedikit sesak karena mimpi yang mengganggunya.


"Ada apa sih? Mas khawatir aku melahirkan nanti?" Tanya Zhafirah penasaran.


"Mas mimpi buruk tadi. Mas jadi takut Zha." Ucap Arkha.


Zhafirah mendongakkan kepalanya. Ia tatap wajah tampan suaminya.


"Mas mimpi aku melahirkan?" Tanya Zhafirah penasaran.


Arkha pun menceritakan bahwa ia mimpi buruk. Ia bermimpi berada di satu gedung. Ia sedang memaksa mendobrak pintu kamar yang terkunci. Ia merasakan jika anaknya sedang berdua-duan dengan lelaki di dalam kamar. Ia begitu marah. Dan tiba-tiba ia terbangun.


"Cuma mimpi, bisa segitunya nangis.... " Ucap Zhafirah heran dan seraya mengusap lembut pipi suaminya.


"Bukan itu yang buat mas sedih." Ucap Arkha.


"Terus apa sayang? " Tanya Zhafirah.


"Mas sedih, takut, khawatir. Bisa ga besok membawa kamu dan anak-anak kita agar bisa berkumpul di surga. Lah secara Imam nya kayak mas, ini kayak gini. Mas shalatnya, amalnya masih begini. Belum lagi dosa mas di masa lalu Zha. Ga tahu berapa lembar itu catatan dosa mas yang dari baligh sampai mas jatuh hati sama kamu. Dan kamu mengubah semuanya." Ucap Arkha pelan.


Zhafirah menepuk punggung tangan suaminya.

__ADS_1


"Mas... Allah itu Maha Pengampun, bagi kita yang bersungguh-sungguh." Ucap Zhafirah menenangkan suaminya.


"Iya Zha... Tapi, Nabi adam saja hanya karena melanggar perintah Allah makan buah Khuldi. Itu dikeluarkan dari surga. Lah suami mu ini.... Dulu banyaaaak sekali perintah yang Allah di langgar dan perintah malah tidak dikerjakan." Ucap Arkha lirih.


Ia khawatir kalau-kalau dosa-dosa di masa lalunya akan berimbas kepada anaknya. Dan ia juga khawatir jika nanti di hari akhir ia akan menjadi orang yang malang karena terpisah dengan anak dan istri. Arkha sadar betul dosa-dosanya yang di masa lalu jika di timbang dengan amal ibadahnya sekarang, justru masih banyak catatan dosa yang ia lakukan.


"Mas tahu ga, dulu Umi Siti pernah dawuh. Ada sebuah kisah dimana diceritakan di satu kitab. Jadi ada orang yang dosanya itu banyak sekali jadi ibarat jilid. Udah ga tahu berapa jilid. Nah, ketika di timbang. Dosa-dosanya orang tadi tuh, kalah berat sama satu amalan kecil dan sepele. Dan ternyata amalannya itu kalimat laa ilaaha illallaah ." Ucap Ayra.


"Masa' sih Zha. Jadi ga disiksa di api neraka? " Tanya Arkha.


"Tergantung kehendak Allah. Allah itu juga Maha Mengetahui. Termasuk setiap niat kita di hati. Allah tahu ni, kita sedekah buat Allah apa buat biar dibalas 10 kali lipat? kita shalat Dhuha buat kemudahan rezeki atau karena Allah? Maka kalimat Laa Ilaaha Illallaah juga Allah tahu niat kita bacanya buat Allah atau buat berasa alim. Termasuk kemarin Mama ikut thoriqoh. Itu di thoriqoh yang Mama ikutin, ada kalimat tauhidnya." Ucap Zhafirah.


Bu Indira memang baru satu bulan mengikuti sebuah thoriqoh di daerah tempat tinggalnya. Kebetulan yang mengisi kajian setiap hari selasa itu adalah Gus Furqon.


"Oh... pantes Mama lama sekali dzikir sekarang, kalau sudah shalat." Komentar Arkha.


Ia sempat bingung di awal-awal ibunya ikut majelis tersebut. Awalnya Bu Indira ikut karena bosan dirumah, Mbak Darmi yang juga merupakan jamaah dan berniat ikut Thoriqoh tersebut, Ia pun mengajak Bu Indira untuk ikut pengajian akbar. Dan ternyata Bu Indira mendapatkan hidayah lewat Mbak Darmi yang berusia lebih muda darinya 15 tahun.


Arkha sempat bingung karena ibunya akan memutar-mutar biji tasbihnya cukup lama. Dzikir yang di berikan guru thoriqoh tersebut di baca setiap setelah shalat. Ia sempat khawatir, karena bagi dirinya yang orang awam, hal itu seperti aneh dan ajaran asing. Belum lagi kepala Bu Indira akan berputar pelan dari kanan ke bawah lalu ke ke kiri. Tetapi istrinya menjelaskan bahwa thoriqoh yang diikuti mertua nya Mu’tabaroh.


"Kamu kenapa tidak ikut?" Tanya Arkha yang bingung kenapa istrinya tidak ikut.


"Jadi thoriqoh itu kan kita di bimbing guru. Nah, adabnya. Kalau Umi Siti dawuh, mau ikut yang baru. Yang lama udah istiqomah belum? Terus kita juga harus izin dulu nih sama guru kita yang sekarang kita ikutin. Lah Zhafirah mengamalkan yang dari Umi Siti saja masih keteteran. Belum bisa istiqomah, kadang di baca malam karena siangnya sibuk. Kalau Mama kan memang belum ikut. Apalagi diusia yang sudah senja seperti Mama memang harus banyak mengingat, melafazkan kalimat tersebut. Kembali ke kalimat tauhid tadi, maka secara tidak langsung, tubuh, lisan dan hati bergerak satu arah buat ngucapin atau mengamalkan salah satu pondasi untuk ke Surga kalau orang bilang." Jelas Zhafirah.


Ia ingat betul suaminya begitu khawatir jika ibunya ikut aliran aneh-aneh karena Dzikir yang sering di lafadzkan sang ibu setiap setelah shalat. Ternyata ia yang tak mengenal bahwa ada banyak jalan untuk mendekat dan mengenal Allah. Salah satunya yaitu thoriqoh. Dimana inti dari semua thariqah tersebut adalah dzikir La ilaha illallah Muhammad rasulullah dan dzikir sirrnya, yaitu Allah, Allah, Allah.


"Terus, mas mau ikut?" Tanya Zhafirah.


"Ga Zha. Masih malu. Masa' iya orang kayak mas ikut majelis yang sepertinya orang alim itu semua." Ucap Arkha yang berkilah ketika istrinya sudah bergelayut mesra di lengan Arkha.


"Justru karena kita ini tidak bisa mengandalkan amalan kita ini sendiri, maka kita butuh yang namanya bimbingan guru kalau di thoriqoh biasa di sebut Mursyid. Dan ga bisa sembarangan orang yang bisa menjadi guru. Termasuk saat ini kenapa kita harus punya guru yang nyata, bukan hanya lewat dunia maya dan streaming. Agar ada yang membimbing kita langsung." Ucap Zhafirah. Istri Arkha itu tampak menahan kantuknya.


Adapun beberapa thoriqoh yang dipegang oleh para Auliya diantaranya adalah Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, Syeikh Abu Hasan asy-Syadzili, Sayyid Ahmad ar-Rifa’i, Sayyid Ahmad al-Badawi, Syeikh Ibrahim ad-Dasuqi dan masih banyak tokoh-tokoh ulama yang lain. Maka tidak mungkin akan menyesatkan dengan ajarannya. Sebab, di pundak mereka ini terdapat amanah Baginda Rasulullah saw. Karena ulama adalah pewarisnya para nabi.


Bagaimana pula para ulama yang takutnya hanya kepada Allah subhanahu wata'ala akan menyesatkan kita. Sehingga jelas bahwa thariqah yang bersumber dari para auliya’ Allah subhanahu wata'ala, tidak akan lepas dari al-Qur’an dan sunnah Nabi saw. Beruntung Bu Indira masuk salah satu thariqah, yang jelas kemu’tabarannya atau berarti silsilah guru-gurunya sampai kepada Baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.


Disaat usia Bu Indira yang mungkin memang kelak akan butuh di ujung nafas melafazkan atau terdapat kalimat tauhid di dalam hatinya. Bagaimana bisa kalimat itu tersemat dalam hati jika setiap hari kita saja tidak melafazkan, dan mengingatnya.

__ADS_1


Namun tak sengaja, Zhafirah pun membaringkan tubuhnya ke kanan sehingga memunggungi suaminya.


"Eh... eh... Masa' dikasih punggung ini suaminya.... " Komentar Arkha yang melihat Zhafirah berbaring kiri karena menahan pinggang yang kanannya terasa pegal.


"Ih.... modus saja ya.... " Ucap Zhafirah yang cepat membalik posisi tidurnya sehingga menghadap sang suami.


Seraya memeluk istrinya Arkha dengan terpejam matanya pun kembali bertanya.


"Berarti kalau cuma ngucapin kalimat tauhid bisa masuk surga. Ga usah shalat bisa masuk Surga Zha.... " Ucap Arkha polos.


Namun ia mendapatkan gigitan kecil di lengannya.


"Aduh.... Zha... "


"Ya ndak gitu konsepnya suami ku sayang. Kira-kira nih, mau shalat tapi ga wudhu. Sah ga shalatnya?" Tanya Zhafirah.


"Ya tidak sah dong.... " Ucap Arkha lagi.


"Shalat itu wajib, lah cuma ngandalin baca laa ilaaha illallaah berharap masuk surga. Ini yang sesat.... " Ucap Zhafirah seraya kembali mencubit perut Arkha.


Hal itu sontak membuat suami Zhafirah itu terkekeh.


"Katanya ga boleh pakai kekerasan kalau menyampaikan hal yang bathil. Lah ini KDRT. Hehehe.... " Ucap Arkha seraya tertawa.


Zhafirah pun ikut tertawa. Ia tahu bahwa suaminya hanya menggoda dirinya. Ia pun kembali menjawab dengan guyonan.


"Maaf, tadi mungkin pas minum teh. Gulanya ada semutnya. Jadi pelupa sama yang kemarin. Hehehe.... " Goda Zhafirah lagi.


"Sudah... tidur... ndak tidur-tidur kita kalau kita bahas apalagi." Pinta Arkha seraya beringsut mematikan lampu lalu menggantinya dengan lampu tidur.


Begitulah indahnya pernikahan mereka. Dulu disaat bergelimang harta, Zhafirah justru harus tidur di sofa. Tetapi saat hidup sederhana karena terpaksa. Mereka justru bahagia. Mereka bisa bahagia lahir dan batin. Itulah sesungguhnya bahagia, tidak bergantung kaya atau miskin tetapi bagaimana suami istri itu menjalani hubungan itu di semua kondisi.


Bersambung.... ,


(Bab ini aku usahakan jawab Pertanyaan yang masuk ke aku yang tanya tentang dzikir yang katanya di kampungnya ada dzikir dan itu nama nya thoriqoh. Cara membedakan nya. Selagi sanadnya jelas dan nyambung ke Rasulullah. Juga tidak menabrak syariat maka bisa dipastikan thoriqoh tersebut Mu'tabaroh.


Contohnya. Untuk haji ya harus tetap ke Mekah, ga bisa cukup setor uang ke guru. Atau menikah ya tetap butuh Wali, ga bisa tanpa Wali. Shalat ya harus wudhu dulu, ga bisa shalat tanpa wudhu. Shalat Jumat ya hari jumat. Setelah Nabi Muhammad ya ga ada nabi lagi. Itu beberapa yang bisa aku jelaskan. Semoga dimengerti. Mohon kritik dan saran jika ada salah penyampaian. Dan buat yang ingin ikut thoriqoh. Harus selektif. Jangan sampai salah pilih. Pilihlah yang mu'tabaroh. Jadi, jangan langsung vonis aliran sesat apalagi kafir kalau ada yang setelah shalat dzikir dengan tasbih dan kepalanya sedikit bergerak ke kanan dan ke kiri. Bisa jadi yang bersangkutan adalah jama'ah salah satu thoriqoh yang ada. Semoga yang kemarin japri bisa memahami maksudnya 🙏🙏🙏)

__ADS_1


__ADS_2