
Arkha merasa senang sekali setelah mengajak Zhafirah ke Obgyn. Istrinya betul-betul dinyatakan hamil. Usia kandungan masih berusia hampir 4 minggu. Mau tidak mau rasa sayang, protektif pun bertambah. Bersyukur Zhafirah sudah sidang tesis. Ia sedang memperbaiki tesis. Arkha bahkan berkali-kali mengingat istrinya untuk istirahat.
"Zha, ga bisa besok lagi?" Tanya Arkha yang melihat istrinya masih fokus pada laptopnya.
"Mumpung badannya sehat Mas." Ucap Zhafirah dan kembali menatap layar laptopnya.
"Kamu bilang ada mahasiswa bu Sihombing yang disuruh bimbingan sama kamu? Ga jadi?" Tanya Arkha.
Zhafirah pun mengecek ponselnya.
"Mereka bilang jam 3 Mas. Ini baru setengah tiga." Ucap Zhafirah masih menatap layar laptop.
Bu Indira masih mengamati sepasang suami istri itu. Ia memang membaca buku tapi sesekali ia melirik menantu dan anaknya. Arkha tampak memberikan buah melon ke arah wajah istrinya. Zhafirah pun membuka mulutnya dan menikmati melon tersebut.
"Memangnya kamu tidak mual-mual apa pusing Zha?" Tanya Arkha penasaran.
Ia membaca beberapa artikel jika ibu hamil muda akan muntah-muntah dan pusing. Ia khawatir istrinya kembali berpura-pura kuat.
"Baik-baik saja Mas. Cuma kalau lihat sejenis daging baru mual." Jawab Zhafirah lalu tiba-tiba ponsel Zhafirah berbunyi. Tanda pesan masuk.
Ia melihat pesan yang masuk dan ternyata dari salah satu mahasiswa yang sudah membuat janji. Mereka akan menemui Zhafirah terkait beberapa revisi yang sudah di perbaiki dan Bu Sihombing meminta mahasiswanya menemui Zhafirah yang ditunjuk sebagai pembimbing skripsi 2.
"Laki-laki atau perempuan Zha?" Selidik Arkha.
Zhafirah menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Satu perempuan, dua lelaki. Kebetulan mereka ambil metode yang sama." Ucap Zhafirah. Arkha manggut-manggut.
"Besok anak kalian pintarnya kayak apa ya, Mama ga bisa membayangkan. Zhafirah cerdas, kamu cerdas. Mudah-mudahan anak kalian juga cerdas dan berhati baik seperti kalian." Doa Bu Indira.
Beberapa menit, panggilan telepon yang bersumber dari ponsel Zhafirah. Ia menerima panggilan tersebut. Ternyata dari salah seorang mahasiswi. Ia sudah berada di dekat komplek perumahan Zhafirah. Mau tidak mau, Zhafirah pun harus keluar rumah. Ia menuju teras. Tampak dua buah motor yang berhenti. Mereka mahasiswa yang sedang menyusun skripsi.
Dua lelaki itu pun hanya menganggukkan kepala ke arah Zhafirah tanda sopan. Mereka sudah tahu jika dosen mereka itu selalu beralasan menjaga wudhu nya ketika ada beberapa mahasiswa untuk bersalaman. Zhafirah pun mempersilahkan sang murid ke dalam. Satu buah tentengan yang berisi buah tangan dari mereka bertiga. Zhafirah hanya melirik buah tangan tersebut. Ia tak mengambilnya, Ia paham sebuah basa basi atau niat untuk dipermudah jika membawa sesuatu ke rumah dosen pembimbing.
Ruang tamu dan ruang tengah yang tidak tersekat oleh dinding. Sehingga Arkha dan Bu Indira yang pun bisa melihat ketiga mahasiswa tersebut.
"Jadi begini saja, ini ditinggal saja dulu. Hari kamis, kalian temui saya di jam 4. Insyaallah saya ada waktu untuk bimbingan. Jadi bisa konsultasi yang kalian kurang paham dimana. Saya periksa dulu." Jelas Zhafirah karena tak ingin sembarangan coret karena ini baru pertama diberi tugas Bu Sihombing untuk membantunya membimbing mahasiswa untuk menyusun skripsi.
Zhafirah sering mengajarkan sesuatu yang mahasiswa nya tidak pelajari di bangku kuliah. Salah satunya sopan santun dan etika. Ketika tiga mahasiswa tersebut ingin berpamitan. Mereka hanya berpamitan pada Zhafirah. Zhafirah menghentikan langkah tiga orang tersebut.
"Tunggu, besok-besok kalau kemari tidak perlu bawa oleh-oleh. Bukan menolak rezeki. Tapi saya tahu susahnya orang tua menyekolahkan anaknya. Kalian bilang tadi dari luar pulau dan disini ngekost. Dan satu lagi, kalian lihat disana?" Ucap Zhafirah dengan nada pelan dan lirikan mata ke arah Bu Indira dan Suaminya.
Ketiga mahasiswa tadi terlihat menundukkan kepalanya. Mereka tidak menyangka Zhafirah yang terkenal tegas namun jarang marah di kampus, hari ini justru terlihat marah.
Melihat tingkah ketakutan dan serba salah dari tiga orang tersebut, Zhafirah pun mengklarifikasi ucapannya.
"Saya tidak marah, dan insyaallah tidak akan mempersulit bimbingan skripsi kalian. Saya hanya ingin memberikan apa yang mungkin kelak kalian butuhkan di dunia kerja dan masyarakat dan tidak ada mata pelajarannya. Cobalah menghargai siapapun terlepas kalian butuh atau tidak dengan orang tersebut." Ucap Zhafirah dengan memasang wajah Ramah.
"Baik Bu, terimakasih. Maaf untuk sikap kami yang kurang sopan." Ucap salah satu mahasiswa tersebut.
Mereka pun akhirnya berpamitan kepada Bu Indira dan Arkha. Selepas kepergian tiga mahasiswa itu. Arkha justru dihadapan Bu Indira memperagakan apa yang Zhafirah ucapkan tadi. Hal itu membuat Zhafirah gemas ingin mencubit pinggang suaminya. Dan berakhir dengan Arkha yang duduk di sofa.
__ADS_1
"Kamu pasti mulai merasakan hormon ibu hamil Zha." Ucap Bu Indira.
"Maksudnya Ma?" Tanya Zhafirah.
Bu Indira menjelaskan jika setiap ibu hamil punya mood swing yang cepat berubah-ubah. Bahkan hal sepele kadang bisa langsung membuat emosi ibu hamil cepat meningkat. Zhafirah cukup tersipu malu karena ia juga baru menyadarinya. Ia hampir tidak pernah marah. Bahkan jika ada mahasiswa terlambat masuk kelas,ia tak langsung marah. Melainkan menanyakan perihal terlambat dan baru mempersilahkan masuk jika tidak terlalu lama terlambat.
Hari demi hari memang mulai terasa aneh, Zhafirah justru harus berjuang dengan dirinya sendiri. Ia kadang harus cepat mengontrol emosinya. Saat ia bertanya pada Arkha dan sang suami justru sibuk dengan ponselnya. Ia merasa seperti diabaikan.
"Hah. Seperti ini rasanya mood yang di rasakan ibu-ibu hamil ya." Ucap Zhafirah dalam hatinya.
Arkha yang baru saja menerima telepon beranjak naik ke atas tempat tidur. Ia menarik satu skripsi yang ada ditangannya.
"Sreet"
"Sudah, istirahat dulu." Ucap Arkha seraya meletakkan skripsi tersebut di meja yang berada disisi tempat tidur.
Zhafirah menatap wajah Arkha.
"Ada apa? ada yang salah?" Tanya Arkha.
"Bingung saja sama suasana hati, ga tahu kenapa satu dua hari ini rasa nya suka kesal kalau mas mengabaikan Zha." Ucap Zhafirah seraya memeluk suaminya.
Arkha mengernyitkan dahinya. Ia bingung dengan sikap istrinya.
"Jadi itu lebih banyak diam?" Tanya Arkha dan hanya di jawab anggukan istrinya.
__ADS_1
Arkha pun merasakan jika Zhafirah banyak lebih diam ternyata sang istri justru sedang berusaha melawan mood jelek atau pikiran-pikiran jelek pada dirinya.