
Tak terasa hampir enam bulan sudah Zhafirah menjadi seorang ibu. Suasana pagi cukup dingin karena hujan deras membasahi bumi. Zhafirah baru keluar dari kamar mandi, sebuah ruangan yang dibuat terpisah dengan toilet, sengaja dulu Arkha meminta kepada arsitek yang ia percayakan untuk medesain rumahnya..
"Zha, kamu haid?" Tanya Arkha ketika melihat istrinya tadi masuk kedalam kamar mandi dan membawa pembalut serta beberapa kapas.
"Tidak mas. Keputihan. Harus di tambal pakai pembalut. Khawatir nanti keluar ketika sholat." ucap Zhafirah seraya mengenakan mukenah yang berwarna hijau army.
"Terus kapas nya buat apa?" Tanya Arkha polos.
Zhafirah menarik tepi mukenah yang berada di pipinya. Ia justru tersenyum mendengar pertanyaan polos suaminya.
"Shalat dulu ya, keburu Annisa bangun. oke? " Ajak Zhafirah seraya mengangkat ibu jarinya. Zhafirah mengenakan mukenah langsungan sehingga jari-jari tangannya terlihat.
Mereka pun melakukan shalat shubuh berjamaah. Arkha memang selalu shalat di rumah untuk waktu shubuh. Selesai shalat, Zhafirah masih ingin duduk di sajadahnya. Sedangkan Arkha, ia beranjak dari tempatnya. Ia mengambil satu map yang tergeletak di meja kerjanya. Satu meja yang terbuat dari kayu jati dengan warna Brown.
Di kamarnya sekarang sangat luas. Bisa 4 kali lebih besar dari rumah mereka yang lama. Arkha sengaja memilih kamar yang paling besar, agar buah hati mereka bisa tidur satu kamar, ia pun bisa sambil bekerja di dekat istri dan anaknya.
Arkha sesekali melirik istrinya. Tampak sekali Zhafirah sesenggukan diatas sajadahnya. Tak ada suara tangis, tapi dari raut wajah istrinya. Arkha bisa melihat air mata yang jatuh dan berkali-kali di usap oleh Zhafirah.
"Apa aku ada salah sikap sama Zhafirah? Apa Zhafirah ada masalah di kampus?" Gumam Arkha.
Tak ada suara, namun Arkha bisa melihat jika istrinya sedang bersedih. Ia pun sangat penasaran apa perihal yang membuat istrinya itu bisa menangis sesedih itu.
Arkha menandatangani satu lembar yang tertera namanya, ia menutup map tersebut. Ia duduk tepat di belakang Zhafirah yang tampak masih terpejam dan menunduk.
Hampir 15 menit Arkha duduk bersila di belakang Zhafirah. Tak lama, Zhafirah mengangkat kepalanya. Ia baru akan berdiri. Namun satu pelukan dari arah belakang menahan tubuhnya. Ia menoleh ke belakang.
"Mas, ngagetin aja." ucap Zhafirah yang kaget.
Arkha justru mengeratkan pelukannya.
"Kamu yang bikin mas kaget. Tadi ga kenapa-kenapa. Sekarang kok nangis sesenggukan." Ucap Arkha seraya melabuhkan dagunya di pundak Zhafirah.
Zhafirah menatap lurus ke depan. Ia genggam tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Lagi ada di fase sedih.... " Ucap Zhafirah.
__ADS_1
"Sedih kenapa?" Tanya Arkha penasaran.
Arkha bisa merasakan hembusan nafas istrinya terasa berat.
"Ada apa sayang? Cerita dong. Mas buat salah? Atau kamu punya masalah di kampus?" Tanya Arkha pada Zhafirah.
Zhafirah menyandarkan kepalanya pada kepala Arkha. Sehingga pipinya menyentuh pipi Arkha. Ia usah punggung tangan suaminya.
"Ada apa sayang? Masih mau me time? Atau kamu mau healing karena bosan? " Tanya Arkha lagi.
Zhafirah justru terkekeh. Ia tak menyangka suaminya bisa memikirkan sejauh itu. Mereka memang tidak pernah menggunakan istilah healing ketika akan pergi jalan-jalan.
"Sejak kapan istri mas ini butuh healing?" Tanya Zhafirah. Arkha justru mencubit perut istrinya pelan.
"Awhhh... Sakit... " Ucap Zhafirah pelan.
"Masa' sih sakit. Coba sini lihat... " goda Arkha.
Giliran Arkha yang mendapat tepukan pelan di punggung tangannya yang berada di perut Zhafirah.
"Aduh.... Beneran ga mau cerita? Kamu ga mungkin bisa nangis begitu kalau tidak ada masalah atau yang dipikirkan." Ucap Arkha yang menggendong istrinya.
"Aku tuh merasa sedih. Tapi ga berarti mengingkari nikmat Allah mas." Ucap Zhafirah pelan.
Arkha duduk di karpet. Ia biarkan posisi mereka berada di dua tempat yang berbeda. Zhafirah diatas sofa sedangkan dirinya duduk di atas karpet. Arkha menyandarkan satu tangannya di pangkuan Zhafirah.
"Iya, masalahnya apa sayang?" Tanya Arkha yang penasaran.
"Mas lihat kan, akhir-akhir ini. Zhafirah jarang baca Al-Quran. Zhafirah bahkan jarang hadir ke majelis taklim. Waktunya jadi kayak sibuk untuk dunia." Ucap Zhafirah pelan.
Arkha manggut-manggut. Ia paham dimana letak kegundahan hati istrinya.
"Hem. Mas paham apa yang kamu pikirkan. Kamu jadi mikir, semenjak kehadiran Annisa, kamu lebih sibuk ke dunia. Kamu jadi berkurang waktunya untuk baca Alquran, berlama-lama shalat malam. Puasa juga jarang?" Tanya Arkha.
Anggukan dari Zhafirah membuat Arkha begitu gemas.
__ADS_1
"Kamu ini, Magister Hukum loh gelarnya. Beasiswa berprestasi lagi. Kok mikirnya jadi seperti gitu. Apa sangking pinternya?" Goda Arkha.
Putra tunggal dari Bu Indira itu duduk di sisi Zhafirah. Ia menghadap ke arah Zhafirah dengan kedua kakinya ia angkat ke atas sofa.
"Zha, dulu kamu berharap anak kan... Mas tahu kamu dulu sering bilang begini, 'ga apa-apa ga punya anak. Mungkin jalan menuju surga Allah bukan lewat jadi seorang ibu tapi dari pintu suami. Lewat jadi istri yang taat dan sholehah'. Terus sekarang sudah ada buah hati, kamu punya jalan buah menggapai Ridho Allah dengan merawat anak kita sesuai dengan Allah inginkan. Apa tidak tambah membahagiakan? Mas tahu dulu kamu bicara begitu biar mas tidak terlalu frustasi." Jelas Arkha panjang lebar.
Zhafirah memang merasakan jika ia terlalu sibuk dengan kampus, Arkha dan Annisa sehingga ia akhir-akhir ini merasa waktunya yang dulu lebih banyak dihabiskan untuk membaca Al-Quran atau berdzikir, kini lebih banyak habis untuk urusan dunia. Ia khawatir kalau-kalau ia menjadi insan yang menduakan Allah setelah diberi kenikmatan, rezeki disaat orang lain mungkin belum memiliki nya.
“Aku Cuma merasa khawatir mas. Khawatir kalau umur ini tidak aku isi dengan ketaatan. Mas lihat sendiri akhir-akhir ini aku jarang qiyam lail, jarang puasa, Zha khawatir jiwa dan raga ini tidak digunakan untuk taat pada Allah, Mas.” Ucap Zhafirah khawatir. Beberapa hari terakhir ini, ia sering bermuhasabah. Entah kenapa pikiran itu selalu berkecamuk dalam hati dan pikirannya.
“Zhafirah sayang, kamu tahu beda orang mati dan orang hidup?” Tanya Arkha.
“Kalau orang hidup bisa merasakan jika jasadnya di sakiti, kalau orang mati tidak.” Jawab Zhafirah.
“Betul, begitu juga dengan ini.” Ucap Arkha.
Arkha meletakkan salah satu telapak tangannya di dada Zhafirah tepat di bagian mana biasa orang mengatakan hati itu terletak pada manusia padahal hati tidak terletak di bagian dada.
“Begitulah, hanya hati yang mati yang tidak merasakan sedih, sakit jika kehilangan waktu, kesempatan untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Dan hati istri Arkha ini, hatinya hidup sama seperti jasadnya. Karena bisa sakit, sedih ketika berkurang waktu untuk beribadah kepada Allah.” Jelas Arkha.
Arkah memegang kedua pipi istrinya. Zhafirah tersenyum manis, ia pun mengucapkan satu kata yang membuat Arkha bertambah gemas.
“So sweet….” Ucap Zhafirah dengan nada suara terdengar manja.
“Ih…. Tambas gemes aja deh sama Ummu Annisa ini….” Ucap Arkha memencet hidung mancung istrinya.
Arkha tiba-tiba teringat satu hal yang bisa membuat istrinya senang. Ia tahu sekali bahwa istrinya adalah salah satu pecinta Shalawat. Jika di santri-santri dulu biasa di panggilan syecher mania.
"Kamu tidak ninggalin shalat lima waktu, kamu masih merawat aku, mama dan Annisa dengan baik. Maka semua itu adalah ibadah istri ku sayang. Allah justru tidak ridho jika kamu tidak menjadi istri yang taat, atau kamu durhaka sama mama, atau kamu tidak menjalankan kewajiban kamu sebagai hambanya seperti shalat hanya karena mengurus kami. Jadi, jangan sedih lagi. Kita ga akan healing. Tapi kita akan mencharger hati kita. Lusa, ada acara maulid Nabi di Kali Bening. Kabarnya di buka pengajian untuk Umum. Kita kesana ya?" Tanya Arkha.
Zhafirah mengangguk cepat.
"Mas tahu darimana? " Tanya zhafirah heran.
Ia memang tak sempat membuka grub di alumni ponpes atau membaca story wa teman-temannya. Ia begitu sibuk beberapa minggu ini untuk akreditasi kampus dan jurusan nya. ~~~~
__ADS_1
"Dari Gus Furqon, kemarin malam.” Jawab Arkha
"Yang spesial lagi, insyaallah akan dihadiri Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf." Ucap Arkha seraya menirukan gaya Khas sang Habib yang akan membawakan shalawat favoritnya yang berjudul 'Ya Hanana'. Itulah kebahagian rumah tangga Arkha dan Zhafirah. Arkha sekarang pandai mengambil sikap. Ia akan tetap disisi istrinya dan menghibur Zhafirah kala istrinya sedang lelah atau bosan. Namun jika ia melihat Zhafirah sedang marah atau kecewa akan sikapnya. Ia akan biarkan istrinya sendiri lebih dulu. Karena lambat laun, Arkha banyak belajar tentang perempuan terutama istrinya.