Because I'M Your Wife

Because I'M Your Wife
Bab 29 Alasan Zhafirah


__ADS_3

Arkha menikmati film yang dari tadi di tayangkan di layar besar dengan ruangan gelap. Bukan karena kisah itu. Ia menikmati momen kebersamaan nya dengan Zhafirah. Ia menikmati bagaimana wajah imu Zhafirah dan gigi ginsul Zhafirah yang akan membuat memori Arkha tak mampu mengingat perempuan cantik dengan tubuh tinggi semampai.


"Hah.... Sesak sekali rasanya." Bati Arkha yang tak ia sadari jika tangannya menggenggam erat tangan Zhafirah.


"Apakah aku mulai ada di hati mu mas? Tapi kenapa bibir dan tubuh mu tak selaras." Ucap Zhafirah yang masih begitu penasaran.


Ia begitu penasaran akan apa yang membuat Arkha tak lagi sering membentak dirinya atau Arkha tak lagi pernah menghubungi atau di hubungi Selena. Ada banyak pertanyaan yang tak berani Zhafirah ungkapkan.


Saat selesai, Zhafirah pun yang berniat ke kampus. Hari itu ia ada satu mata kuliah.


"Saya naik taksi saja mas." Ucap Zhafirah.


"Saya antar. Sekalian meeting saya juga di dekat sana." Ucap Arkha.


Sebenarnya ia sudah mengganti lokasi pertemuan dengan salah satu programmer yang menawarkan salah satu sistem untuk bisnisnya. Ia memilih lokasi di dekat kampus Zhafirah.


"Benarkah?" Tanya Zhafirah heran.


"Sekalian makan siang. Aku lapar." Ucap Arkha seraya menarik tangan Zhafirah.


Zhafirah tak protes, ia menikmati semua sikap Arkha padanya. Jangankan tangannya. Bahkan seluruh raganya adalah hak sang suami jika ia menginginkannya.


"Ada apa? " Tanya Arkha saat di mobil.


Zhafirah menundukkan kepalanya. Ingin sekali ia mengatakan jika di dalam mobil sudah tak ada wartawan atau para fans yang mengambil foto atau video mereka. Arkha baru sadar jika tangannya masih menggenggam tangan lembut mahasiswa bagian hukum itu.


Ia cepat-cepat melepas tangan Zhafirah.

__ADS_1


"Kamu kenapa ngambil hukum sih.? " Tanya Arkha mendengus untuk menghilangkan rasa malunya.


"Untuk membela perempuan seperti ibu dulu. Perempuan yang banyak menjadi korban lelaki." Ucap Zhafirah seraya mengeluarkan sebuah buku cetak yang berisi materi kuliahnya siang itu.


"Heh! Jangan salahkan lelaki. Perempuan saja yang tidak mau terdidik jadi di tin das." Ucap Arkha angkuh.


Zhafirah melirik Arkha. Sedangkan Romi melirik dari kaca spion.


"Suami tak punya hati bener.... mentang kaya raya." Ucap Romi dalam hatinya.


"Tidak semua perempuan bodoh." Ucap Zhafirah cemberut..


Arkha melihat dari pantulan kaca. Ia tertawa dalam hatinya. Bibir yang cemberut membuat Zhafirah terlihat menggemaskan di mata Arkha. Ia kembali memancing agar istrinya kembali cemberut.


"Iya tidak semua. Tetapi kalian selalu menjalankan hidup dengan rasa. Hidup itu dijalankan dengan Logika. Dengan akal bukan rasa." Ucap Arkha.


"Lalu bagaimana dengan Singa? Apakah ia menjalani dengan Akal atau rasa? Kadang dalam perihal hak kemanusiaan. Manusia bisa kalah jika disandingkan dengan Hak Asasi keh3wanan." Ucap Zhafirah.


"Sejak kapan ada hak keh3wanan? Apa di mata kuliah mu mempelajari itu? " Sungut Arkha.


Zhafirah tersenyum. Ia menutup Bukunya namun memberi batas jari telunjuknya di bagian yang masih ingin ia baca.


"Memang tidak ada. Tapi coba bayangkan. Pernah ndak ada Singa lawan sekelompok singa?" Tanya Zhafirah.


Arkha mencebikkan bibir bawahnya dan mengangkat bahunya. Tanda ia tak tahu.


"Ih... kamu nggemesin banget sih Mas.... " Ucap Zhafirah berteriak dalam hatinya. Wajah Arkha pun terlihat menggemaskan dengan bibir bawah yang ia cebikkan.

__ADS_1


"Ya jelas ndak ada. Itulah jika secara logika saja. Termasuk julukan kita pada binatang bu@s. Padahal kita sendiri sebagai manusia lebih bu@s dari h3wan jika tidak dibekali iman. Jadi hidup di dunia ini tak hanya dibutuhkan logika. Tapi butuh rasa. Keimanan. Jika perempuan bertahan dengan satu kondisi bukan karena ia bodoh. Tetapi ia paham akan tujuan hidupnya. Namun kadang keimanan perempuan akan tujuannya untuk akhirat dan Ridho Allah dimanfaatkan sampai menyakiti fisik perempuan itu. Maka aku disana alasan aku mengambil jurusan hukum." Jelas Zhafirah pada Arkha.


Ia mengingat bagaimana ibunya ternyata menitipkan dirinya di Kali Bening karena ayah tirinya yang ringan tangan. Bertahan hanya karena sampai dirinya tamat sekolah. Membuat Zhafirah merasa miris dengan kondisi ibunya yang tak berani mengunggat ayahnya yang entah berapa kali sudah melakukan kekerasan fisik.


Zhafirah hanya berniat. Ia ingin hadir untuk perempuan-perempuan seperti ibunya. Tak ada ketakutan jika merasa tersik$a. Jika berhari-hari di pukul, di sik$a oleh suami.


"Lalu bagaimana suami yang di laporkan. Jika kamu bercita-cita menjadi salah satu pengacara nantinya. Apakah itu bukan istri sholehah. Bukankah ia mengungkapkan aib suaminya?" Tanya Arkha.


Zhafirah tersenyum..


"Ah.... manis sekali kamu Zha." Batin Arkha yang cepat mengalihkan pandangannya pada map yang di pegangnya.


"KDRT yang dilakukan suami bukan aib. Karena KDRT salah satu maksiat. Bagaimana bisa jika di Al Quran kita diperintahkan untuk memuliakan perempuan tetapi seorang suami justru menyakiti fisik makhluk bernama perempuan itu?" Ucap Zhafirah.


Arkha tersenyum mendengar jawaban Zhafirah.


"Semoga cita-cita mu tercapai, Zha." Ucap Arkha dalam hati nya.


Tiba di kampus Zhafirah. Kasak kusuk di kalangan mahasiswa pun semakin gencar. Kehadiran Arkha mengantarkan istrinya ke kampus membuat kampus itu hiruk pikuk karena beberapa perempuan minta foto bersama. Zhafirah seolah melihat suaminya tak nyaman. Ia tak bergeming di sisi Arkha.


"Buruan masuk mobil mas... kalau tidak mau di cubit sama mereka." Ucap Zhafirah.


Arkha pun segera masuk kedalam mobil saat Zhafirah meminta para mahasiswa memberi jalan karena suaminya ada rapat. Arkha pun mengelap wajahnya dengan tisu saat sudah di dalam mobil.


"Hah.... Mengerikan sekali." Ucap Arkha.


Setelah mobil itu meniggalkan kampus yang menjadi tempat istrinya menempuh pendidikan kurang lebih empat tahun untuk meraih gelar SH. Arkha pun menemui salah seorang programmer. Namun saat ia selesai dengan pertemuan itu, ia berniat akan menjemput Zhafirah. Seorang lelaki justru membuat Arkha kembali duduk di tempatnya semula.

__ADS_1


"Permisi.... Boleh saya minta waktunya sebentar Pak?" Tanya lelaki itu.


Arkha menatap tajam lelaki itu. Ia duduk dengan menggenggam tisu yang baru saja ia gunakan mengelap keringat di dahinya.


__ADS_2