
Allah Maha Mengetahui, maka secerdas apapun dokter yang memprediksi Zhafirah akan melahirkan satu bulan lagi. Tiga hari ditinggal Arkha ke China, Zhafirah tepat di pagi hari berteriak memanggil Mbak Darmi.
“Astaghfirullah…..” Ucap Zhafirah dengan raut wajah ketakutan dan khawatir. Ia baru saja bangun tidur. Zhafirah ingin menunaikan ibadah shalat shubuh. Akan tetapi, air yang begitu banyak di bawah kakinya. Ia menjadi takut.
“Mbak…. Mbak Darmi…” Teriak Zhafirah memanggil nama asisten rumah tangganya. Mbak Darmi tidur di kamar yang sama dengan Bu Indira.
Bu Indira yang mendengar teriakan Zhafirah, ia membangunkan Mbak Darmi.
“Dar… Dar… Darmi… “ Panggil Bu Indira pada asisten rumah tangganya. Ia pun menyenggol lengan Mbak Darmi. Ketika Mbak Darmi membuka kedua matanya, Bu Indira meminta asisten rumah tangga itu ke kamar Zhafirah.
“I-Iya… Bu.” Jawab Mbak Darmi gelagapan. Ia kaget karena juga mendengar suara Zhafirah yang memanggil namanya.
Mbak Darmi berlari ke kamar Zhafirah. Ia melihat Zhafirah duduk di tepi tempat tidur. Satu tangannya memegang pinggang dan satu yang lain ia letakkan di atas lutut. Wajah Zhafirah tampak pucat. Keringat mengalir deras dari wajah Zhafirah. Dan yang membuat Mbak Darmi kaget, ia melihat banyaknya cairan di bawah kaki majikannya. Dress tidur yang dikenakan Zhafirah bahkan terlihat basah.
“Astaghfirullah Bu… Ibu mau melahirkan.” Pekik Mbak Darmi.
Mbak Darmi pun membantu Zhafirah untuk berdiri. Zhafirah merasakan kram dan nyeri pada pangkal pahanya. Ia menggenggam erat tangan Mbak Darmi. Istri Arkha itu bahkan beristighfar berkali-kali karena menahan rasa nyeri pada punggungnya. Rasa seperti sedang datang bulan, namun lebih sakit dari itu. Zhafirah tampak gemetar saat berjalan ke arah kamar mandi. Ia meminta asistennya mengambil pakaian ganti. Bahkan ia tak mampu untuk membuka dressnya. Mbak Darmi yang sudah memiliki tiga anak. Ia pun membantu Zhafirah mengganti pakaian majikannya. Setelah itu, ia cepat membangunkan Reni. Bu Indira menemani Zhafirah di kamar. Sedangkan Mbak Darmi menghubungi taksi online. Namun kembali Zhafirah bingung karena ada air yang mengalir tanpa bisa dikendalikan.
“Astaghfirullah…. Kamu sudah pecah ketuban berarti tadi Zha.” Ucap Bu Indira karena ia menemani Zhafirah saat Mbak Darmi membersihkan air di tepi tempat tidur Zhafirah.
__ADS_1
Melihat air yang kembali mengalir. Zhafirah meminta Mbak Darmi menemaninya lagi untuk berganti pakaian. Saat di kamar mandi, Zhafirah mencium air yang keluar. Tak ada bau sama sekali. Ia menggunakan diapers. Saat beberapa lama, Mbak Darmi mebimbing Zhafirah menaiki taksi.
“Ma, Doakan lancar ya Ma,” Ucap Zhafirah sebelum meninggalkan Bu Indira dirumah, ditemani oleh Reni.
“Ren, jaga ibu. Saya nanti kasih kabar kalau sudah dirumah sakit.” Ucap Mbak Darmi.
Reni mengangguk tanda mengerti. Saat di mobil Mbak Darmi berrtanya pada Zhafirah. Zhafirah semalam menelpon Arkha. Perbedaan waktu antara China dan Indonesia yang hanya terpaut kurang lebih satu jam, membuat Zhafirah berpikir dua kali untuk menghubungi suaminya. Pagi ini, suaminya ditawari oleh salah satu teman investor yang juga tertarik akan kerjasama perusahaan yang Arkha tawarkan. Sehingga pagi ini, Arkha harus mempresentasikan kepada calon investor tersebut.
“Semoga semua usaha mu untuk mencari yang halal bagi aku dan anak kita diberikan kemudahan, Mas.” Ucap Zhafirah dalam hatinya. Ia pun meminta asisten rumah tangganya untuk menunggu keputusan dokter nanti. Cukup kirim pesan saja kepada suaminya.
Tiba dirumah sakit, Mbak Darmi ditemani oleh suaminya, mereka mengurus administrasi. Mbak Darmi yang berada di depan ruangan IGD semakin panik saat dokter meminta mereka mengurus surat untuk administrasi. Ketuban yang telah pecah, warna air ketuban yang sudah dirasa berwarna kuning, membuat Zhafirah harus di operasi.
“Alhamdulilah Gusti…. Maturnuwun… Mudah-mudahan Bu Zhafirah juga baik-baik saja.” Ucap Mbak Darmi.
Beberapa perawat tampak keluar. Ketika dokter keluar dari ruangan operasi. Mbak Darmi dan suaminya bisa merasa lega. Zhafirah melahirkan dengan selamat. Bayi perempuan Zhafirah juga lahir dengan sempurna tanpa kekurangan apapun. Mbak Darmi yang ikut ke ruangan bayi, Ia mengirimkan foto bayi mungil majikannya ke nomor Arkha.
{Pak, Bu Zhafirah baru saja melahirkan. Alhamdulilah sehat semua Pak. Ini putri Bapak.}
Pesan itu masih belum di baca sampai Zhafirah dan bayinya telah dipindahkan ke ruangan perawatan.
__ADS_1
“Terimakasih ya Mbak….” Ucap Zhafirah lirih. Ia menitikkan air mata. Kesedihan menyelimuti hati Zhafirah, bukan karena ARkha tak menemani proses bersalinnya. Melainkan, ia teringat ibunya. Ia merasakan sakitnya saat akan melahirkan.
“Bu, jangan sedih. Yang penting ibu dan bayi ibu selamat.” UCap Mbak Darmi.
Ia menyerahkan bayi cantik Zhafirah ke pelukan Zhafirah. Wajah mungil itu masih terpejam. Saat pukul 12 lewat, ponsel Zhafirah berdering. Bu Indira mengubungi Zhafirah melalui sambungan video. Ia begitu ingin melihat cucunya.
“Masyaallah cantiknya Zha… Mirip Arkha hidungnya. Kok besar ya Zha?” Ucap Bu Indira melalui sambungan video.
Zhafirah mengatakan jika bayinya lahir dengan berat badan 3,0 kg. Bagaimana bayi mungil itu tidak tumbuh dan berkembang dengan baik selama di janin Zhafirah. Selama proses kehamilan, hati Zhafirah selallu bahagia. Ia selalu positif thinking. Ia juga memaksa dirinya untuk makan sesuatu yang tak ia sukai, seperti buah labu kuning. Ia tak menyukai buah tersebut karena teksturnya. Akan tetapi karena saran ibu Indira dan Mbak Darmi untuk mengkonsumsi buah itu ketika hamil, Zhafirah memakan buah itu. Demi anak yang ia kandung. Rasa cinta pada anaknya mengalahkan bauh dan rasa tak suka Zhafirah pada buath tersebut. Buah yang mengandung protein, karbohidrat, zat besi, vitamin, kalsium juga niasin dan fosfor.
Belum lagi suasana hati yang selalu bahagia. Suami yang memberikan perhatian lebih, menjadikan tumbuh kembang bayi juga baik selama di kandungan ibunya. Karena sebuah r a n s a n g a n dari suara ayah, memiliki peran penting untuk tumbuh kembang bayi selama di dalam kandungan. Tidak hanya r a n g s a n g a n suara Arkha yang dilakukan Zhafirah agar bayinya tumbuh dengan sehat di dalam janin. Jika beberapa ibu memilih mendengarkan musik untuk anak mereka selama di dalam kandungan. Zhafirah justru menyenandungkan shalawat-shalawatnya. Bayi Zhafirah terlihat selalu memberikan respon saat istri Arkha itu membaca Al-Quran atau sedang menyenandungkan shalawat, seperti tendangan halus. Sebuah respon yang paling disukai Arkha saat ia berbicara dengan buah hatinya yang masih di dalam kandungan setiap ia berbicara seraya mengusap perut istrinya.
Puas melihat wajah cucunya, Bu Indira pun mengakhiri sambungan telepon. Telepon Zhafirah kembali berdering. Panggilan dari Arkha, Lelaki itu tampak duduk di sebuah taksi. Ia tampak was-was dan berwajah cemas. Zhafirah bahkan menitikkan airmatanya karena merasa bersalah tak menelpon suaminya lebih dulu. Bagaimana ingin menelepon. Menahan rasa sakit ketika akan melahirkan saja, Zhafirah sudah kehilangan tenaga.
“Zha… Maaf… Mas baru buka ponsel. Mas pulang sekarang ya…” Ucap Ucap Arkha.
Zhafirah hanya mengangguk pelan. Ia meminta suaminya untuk tidak tergesa-gesa. Zhafirah mengarahkan layar ke arah buah hati mereka. Arkha semakin tak sabar untuk pulang ke Indonesia. Ia tidak habis pikir bagaiamana istrinya tidak memberi tahu jika ia akan melahirkan. Namun itu tak menjadi masalah bagi Arkha. Ia bersyukur, Zhafirah dan buah hatinya sehat dan selamat.
“Anak pintar… Sama pintarnya seperti Mama. Tidak mau merepotkan Papa? Tunggu papa pulang ya Nak…” Ucap Arkha kala Zhafirah mengarahkan layar ponsel ke arah buah hatinya yang sedang tertidur di box bayi tepat disisi tempat tidur.
__ADS_1