Because I'M Your Wife

Because I'M Your Wife
BAB 20 Filosofi Tisu


__ADS_3

“Kamu tidak ubahnya seperti tisu-tisu itu! Paham!?” Ucap Selena dengan tatapan tajam nya ke arah Zhafirah.


Istri Arkha Bagaskara itu menyingkirkan beberapa helai tisu yang menempel pada alis dan hidungnya. Ia pun membuka kedua matanya.


Zhafirah melipat kedua tangan di depan dadanya. Jaket tebal tak membuat Zhafirah kehangatan di tambah sikap Selena padanya. Bagi Zhafira di zholim, di sakiti, saat itulah sebongkah daging yang bernama hati, begitu berperan. Jika ada kesombongan dalam hatinya, Zhafirah akan marah. Namun santri Umi Siti itu merendah. Ia merendah Ketika dihina Selena. Bukan berarti ia rendah. Tetapi Zhafirah tahu jika orang-orang yang sering menghina, merendahkan seperti Selena ini yang akan mengikis dosa-dosanya.


“Ya, kamu benar. Aku memang seperti lembaran tisu itu. Lihatlah ini.” Ucap Zhafirah seraya menarik selembar tisu dari dalam wadahnya.


Ia mengelap tisu itu di tangannya. Lalu tisu itu ia buang ke dalam kotak sampah berbentuk steanlis.


“Lihat. Dias ama seperti aku. Sama-sama dibutuhkan, dibutuhkan untuk menghapus yang kotor. Menghapus air mata. Dan lalu ia dibuang saat ia menyelesaikan tugasnya tanpa ucapan terima kasih. Dan tak akan pernah diingat jasanya. Sama. Betul. Tisu ini sama seperti aku.”


Zhafirah merendahkan dirinya. Ia memang sama dengan nasib selembar tisu. Bagaimana dia diambil oleh Arkha untuk menjadi istri. Lalu ia diminta berpura-pura di hadapan ibu mertua agar terlihat harmonis. Ia juga menjalani tugasnya dengan baik selama menjadi istri Arkha Bagaskara. Arkha bahkan tak pernah mengucapkan terimakasih padanya. Kebaikannya selama tiga bulan melayani sang suami bahkan tak pernah diingat. Hanya istri orang yang diingat Arkha, Selena. Kini perempuan Bernama Selena itu sedang tersenyum Bahagia. Ia merasa sombong.


“Tapi ada kesamaan lain yang perlu anda tahu antara aku dan selembar tisu itu, Nona Selena.” Ucap Zhafirah lagi.


Selena menatap sinis ke arah Zhafirah.


Zhafirah melihat ada sebuah korek api di tas Selena yang sedikit terbuka. Ia mengambil benda itu, lalu ia menghidupkan korek tersebut dan membakar tisu yang baru saja ia tarik dari tempatnya. Lalu diletakkan tisu itu di dalam gelas yang ada di meja tepat di depan kaca besar. Tak butuh hitungan menit.


“Taaaarrrr!”


Gelas situ retak dan pecah.


Zhafirah cepat menyiram asap yang muncul agar alarm pemadam kebakaran tak berbunyi.


“Jangan bakar tisu itu dan kamu letakkan di dalam benda yang mudah mecah. Karena itu akan menghancurkan benda itu, dan kamu! Kamu bisa memilih untuk mengelap tisu itu di tubuh mu atau membakarnya. Kamu juga punya pilihan. Jika memanfaatkannya, kamu bisa bersih dan mengkilat. Tetapi jika kamu membakar aku, kamu sendiri menghancurkan dirimu. Bukan selembar tisu itu.” Ucap Zhafirah cuek.


Ia Kembali memberikan lip serum pada bibirnya. Ia menatap kaca dihadapnnya. Namun tatapan Zhafirah mengarah kepada Selena. Saat Selena akan menarik jilbab Zhafirah. Tangan Zhafirah sigap memegang pergelangan tangan Selena.

__ADS_1


“Satu lagi, kamu bisa memanfaatkan dirimu untuk menghilangkan dahaga pemilikmu. Atau kamu memilih jalan yang bukan pada tempatnya. Kamu membakar selembar tisu dan kamu letakkan dalam hidup mu. Bukan aku yang akan menghancurkan kamu. Tapia pi yang kamu bakar, api itu adalah doa ku. Panasnya adalah sebab yang kamu timbulkan. Hati-hati, aku mungkin memaafkan kamu. Tapi itu urusan ku dengan Allah, sehingga aku tak terseret lagi dengan perlakuan mu pada ku kelak. Tapi urusan mu dengan Allah karena menyakiti hambanya tetap di hitung selagi kamu belum meminta maaf. Aku tak menuntut kamu meminta maaf. Tapi menjauh lah dari suami ku, Nona Selena. Sungguh Azab Allah begitu pedih baik di dunia maupun di akhirat.” Nada bicara Zhafirah sangat pelan. Bahkan ia setengah  berbisik.


Selena sudah tak bisa menahan napasnya. Ia bahkan kesulitan menghirup oksigen karena ucapan Zhafirah.


“Kamu mengancam ku?! Berani sekali kamu!” Bentak Selena,


Zhafirah masih menatap Selena penuh kelembutan.


“Aku tidak mengancam mu Nona Selena. Tetapi aku sedang mengingatkan kamu. Bahwa kamu sedang mengganggu lelaki yang haram kamu telepon setiap malam. Yang haram kamu tontonkan tubuhmu itu walau hanya lewat video. Tiga bulan, tigal bulan aku tak melakukan apapun. Aku khawatir, rasa sakit ini sampai ke Allah. Hingga azab itu datang menghampiri mu karena melakukan dosa besar. Tidakkah kamu menunggu hingga aku dan mas Arkha berpisah jika kamu betul ingin bersamanya. Dan kenapa kamu tidak menikah dulu dengan dia?” Ucapan Zhafirah membuat Selena mendengus kesal.


Ia mendekati Zhafirah.


“Sombong sekali kamu perempuan kampung! Aku tidak perduli dengan omong kosong mu. Jika kamu bicara bahwa kamu selembar tisu. Maka apakah kamu pernah mengelap m@ni Arkha? Hehehe.” Tawa Selena terdengar begitu senang.


Selena tahu jika tiga bulan menikah dengan Arkha. Zhafiran masih pe ra wan. Selena mencoba Manahan emosinya. Hati Zhafirah merasa panas kala perempuan lain bisa berkata perkara sensitive tentang sang suami.


“Oh ya satu lagi. Aku pastikan. Kami akan sama-sama menghabiskan waktu bersama di sini…. Malam pengantinmu tak akan pernah terjadi selagi masih ada aku dihati suami mu. Jika kamu ingin menjadi Ayra. Maka aku akan menjadi Selena. Bukan Helena atau Shela. Cam kan itu!” Ucap Selena seraya meninggalkan Zhafirah.


Zhafirah memegang wadah tisu di depannya.


“Tunggu!” Ucap Zhafirah dengan tegas.


Selena terhenti tepat di pintu keluar.


“Hentikan hubungan kalian sekarang atau aku akan membicarakan ini kepada suami anda Nona Selena. Agar suami anda bisa mendidik istrinya yang selalu menelpon suami saya hampir setiap suami anda tidak dirumah!” Nada bicara Zhafirah terdengar begitu dingin. Ia bahkan menatap wajahnya sendiri seraya mengatur napasnya.


Selena berbalik dan dengan angkuhnya berteriak kepada Zhafirah.


“Lakukan. Suami saya lebih percaya saya bukan kamu! Satu lagi. Hubungan kami ini, tak akan bisa terpisahkan walau ada seribu istri seperti kamu! Paham!”

__ADS_1


Lalu selingkuhan Arkha itu betul-betul meninggalkan Zhafirah sendiri.


Zhafirah tersenyum menatap cermin. Ia membenarkan jilbabnya yang sedikit terlalu maju.


“Jika kamu berharap kisah ini akan berkahir dengan aku menangis dan menyerah. Kamu salah. Selagi kamu dan mas Arkha tak melakukan hubungan badan. Aku masih akan memperjuangkan suami ku…” Ucap Zhafirah dalam hatinya.


Namun di balik dinding Gedung itu. Seorang lelaki yang memendam hati pada Zhafirah merasakan kesedihan.


“Astaghfirullah… Zha. Cobaan macam apa yang kamu lalui.” Gumam lelaki  itu. Saat Zhafirah tampak keluar dari ruangan itu. Lelaki tadi cepat menghentikan Zhafirah dengan suara yang sangat Zhafirah kenal.


“Terbuat dari apa hati mu,Zha. Kamu memperjuangkan lelaki yang tak layak kamu perjuangkan Zha. Kenapa kamu bertahan, jelas-jelas taka da cinta di pernikahan mu.” Ucap Mawan yang ternyata merupakan lawan main Selena, perempuan yang baru satu tahun menjadi mualaf.


Zhafirah menoleh, hatinya berdesir. Ia tahu suara siapa itu,


“Kang Mawan….” Gumam Zhafirah.


“Kamu berhak Bahagia Zha.” Ucap Mawan yang kali ini tak membuang pandangannya. Ia memandang wajah Zafirah. Istri CEO Bagaskara itu hanya diam dan menunduk.


“Zha… Kamu jangan bodoh… Pernikahan ini bukan pernikahan yang harus dipertahankan. Suami mu jelas-jelas memiliki hubungan dengan Selena. Kang Mawan mendengar semuanya.” Ucap Mawan.


“Maaf Kang, saya rasa Kang Mawan terlalu jauh mencampuri urusan rumah tangga saya.” Ucap Zhafirah tanpa memandang lawan bicaranya.


“Zhafirah…” Panggil Mawan saat santri ndalem Umi Siti itu meninggalkan dirinya.


Jantung Zhafirah berdegup begitu kencang. Ingin sekali ia menangis di satu Pundak untuk menumpahkan semua rasa sakit di hati. Rasa Lelah, tetapi itu tak mungkin ia lakukan. Perjuangannya baru dimulai. Sedangkan Mawan tiba-tiba hadir. Wajah, suara sopir Gus Furqon Ketika mondok dulu, membuat Zhafirah cepat menepis rasa yang ada.


“AStaghfirullah… Sadar Zha. Ada cinta yang lebih halal kamu perjuangkan daripada rasa mu pada Kang Mawan. Kang Mawan tak halal kamu cintai. Apa bedanya kamu dan Selena jika kamu masih merasakan sakit ketika mendengar suara Kang Mawan. Kang Mawan masa lalu kamu. Suami mu, Mas Arkha. Dia yang akan menjadi kunci surga ku. Tanpa ridho-Nya, maka bagaimana kamu akan berjumpa Rasulullah. Bagaimana kamu bisa berdiri di barisan Sayyidah Fatimah kelak…. Buang jauh rasa mu untuk Kang Mawan. Aku mencintai mu mas… Ya Rabb hamba menunggu waktu dimana hamba melewati ujian ini dengan mendapatkan cinta halal dari suamiku.” Ucap Zhafirah yang terduduk di balik tiang bundar.


Tepat di tiang yang lain, Arkha mendengar semua ucapan Zhafirah.

__ADS_1


“Jadi dia punya rasa dengan lelaki lain…. Mawan. Siapa Kang Mawan itu. Bagus, aku ada alasan untuk menjadikan Kang Mawan mu itu rumor agar kamu menjadi tersangka disaat kamu korbannya Zhafirah. Jangan hara pada cinta di hatiku untuk mu.” Ucap Arkha. Lelaki itu lalu pergi meninggalkan Zhafirah. Ia menuju ke ruang makan lagi.


__ADS_2