
Suasana kampus begitu ramai. Semua mahasiswa fakultas hukum tampak berhamburan ke arah parkir. Arkha sedari tadi menanti Zhafirah di depan gedung yang telah memiliki ribuan alumni tersebut. Zhafirah tampak berjalan dan mencari keberadaan Arkha. CEO Bagaskara itu melambaikan tangannya ke arah sang istri. Zhafirah menarik sudut bibirnya. Ia bergegas menuju mobil hitam yang menjadi sandaran sang suami.
Banyak mahasiswa yang menatap attitude Zhafirah pada suaminya. Asisten dosen yang sebentar lagi akan menjadi dosen jika telah meraih gelar S2 nya, begitu sopan pada suaminya.
"Gosipnya nih. Bu Zhafirah itu man dul." Komentar salah satu mahasiswa yang berada di bawah pohon beringin.
Belum lagi bisik-bisik mahasiswi yang terpana akan ketampanan Arkha. Satu tahun telah berlalu, Zhafirah sedang mengajukan judul untuk tesisnya. Arkha setiap sore selalu menjemput Zhafirah untuk pulang bersama. Dan akan mengantar sang istri ke toko buku. Seperti sore itu, sang istri mencari sebuah buku yang akan ia gunakan menjadi referensinya dalam mengambil sampel penelitiannya.
Arkha hanya mengekor di belakang Zhafirah. Saat tiba di lorong-lorong yang tersusun rak-rak buku. Zhafirah berhenti di buku-buku yang ia cari.
"Mas kesana ya Zha." Ucap Arkha seraya menunjuk satu rak buku.
Zhafirah mengangguk pelan. Namun judul di rak buku tersebut membuat kedua alis Zhafirah tertarik ke atas.
"Kamu sepertinya terbebani sekali dengan kondisi mu mas.... " Batin Zhafirah yang sudah menduga jika sang suami mencari buku yang bisa ia baca tentang kondisinya.
Satu tahun sudah menjalani pengobatan dan terapi. Arkha juga sudah lebih baik. Namun sungguh yang memberikan kesembuhan bagi hambanya adalah Allah bukan dokter atau psikiater juga obat-obatan. Arkha membeli beberapa buku. Dan saat keluar dari toko buku tersebut, Zhafirah mengeluarkan satu buku dari paper bag. Sebuah buku yang Arkha beli membuat Zhafirah bergelayut mesra di lengan suaminya.
"Mas.... Aku sudah bahagia. Mas tidak percaya?" Tanya Zhafirah
Arkha masih fokus dengan kemudinya. Ia menoleh ke arah sang istri.
"Mas percaya. Ini buat mas belajar saja sayang... Kita sudah mencoba berkali-kali. Apa ikut program bayi tabung saja Zha?" Tanya Arkha.
Zhafirah terdiam. Sungguh Allah Maha membolak-balikkan hati manusia. Jika dulu Arkha tak ingin memiliki seorang anak. Kini ia begitu ingin memiliki seorang anak dari Zhafirah. Namun lelaki itu sadar, jika ia adalah sumber hal itu tak mampu terjadi.
"Kita masih punya banyak waktu Mas. Jangan terburu-buru untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. Nikmati saja dulu perjuangan untuk tujuan kita. Allah Maha Mengetahui, maka tidak mungkin Allah akan membiarkan kita berjuang sendiri." Ucap Zhafirah menatap lurus ke depan.
"Mas, buka di luar yuk?" Tanya Zhafirah yang memang sering melakukan puasa senin kamis. Begitu pula dengan Arkha.
Zhafirah paha., dia perempuan dewasa. Begitupun Arkha. Sebuah masalah dalam rumah tangga harus pandai di siasati. Tak pernah mengeluh tentang kondisi biologisnya bukan berarti Zhafirah merasa itu bukan boomerang untuk dirinya sendiri di luaran sana. Ia lebih memilih puasa setiap senin dan kamis dan Arkha yang memberikan izin justru ikut melakukan hal yang sama.
Arkha memarkirkan kendaraannya di sebuah restoran yang ia pastikan tidak ada ang ci u atau mi rin yang digunakan restoran tersebut dalam mengolah makanannya. Karena label halal kalau ada ang ci u di dalam komposisi makanannya sama saja tidak halal. Karena bercampur dengan kh a mr.
Satu mangkuk sup tulang dipilih sepasang suami istri itu setelah kembali ke tempat duduk mereka setelah tadi menyempatkan ke sudut restoran yang terdapat ruangan mushola kecil. Restoran milik beberapa mahasiswa tersebut membuat Zhafirah sering mampir kesana jika ada pertemuan dengan beberapa mahasiswa.
__ADS_1
Satu tahun menjalani rumah tangga tanpa ada rahasia membuat hubungan keduanya semakin harmonis. Arkha bahkan hampir setiap waktu selalu menggenggam tangan Zhafirah.
"Maaf ya untuk yang semalam." Ucap Arkha setelah ia me nge cup punggung tangan istrinya.
Zhafirah tak pernah lelah menyunggingkan senyumnya untuk sang suami. Entah berapa kali permintaan maaf dari Arkha keluar dari bibirnya. Karena hampir bisa dipastikan, Zhafirah masih harus dibuat bersabar dengan kondisi dimana ia belum bisa merasakan ke pu asan saat menghabiskan waktu bersama. Bagi Zhafirah, menikah bukan tentang perkara kegiatan di ka mar. Tetapi tentang ikatan dimana akan di pertanggung jawabkan kelak di akhirat. Apakah kita menjalani peran kita seperti apa yang diajarkan oleh Rasulullah.
Daripada merasa insecure dengan ketidak puasan nya. Zhafirah justru lebih menyemangati dirinya bahwa kelak di akhirat nanti ia bisa berada do belakang barisan Sayyidah Fatimah karena sabar menerima kekurangan suami. Sabar menyimpan aib suami. Ia hanya menganggap ini adalah proses dirinya untuk bermesraan dengan Allah.
"Tidak perlu minta maaf mas.... Berarti Zhafirah perempuan yang beruntung. Karena mampu memberikan ketenangan pada suami Zhafirah." Ucap Zhafirah jelas.
Ia tahu, Arkha yang sering tertidur lebih dulu saat tak mampu melanjutkan dan bertanya tentang bagaimana kondisi istrinya. Karena sejatinya lelaki akan bisa tidur nyenyak disaat ia merasa tenang. Maka kenapa pula ia harus marah. Itulah pikir Zhafirah.
"Kebahagiaan dalam rumah tangga bukan hanya satu kegiatan itu. Zhafirah bisa menjadi asisten dosen seperti ini karena diizinkan mas. Udah suatu kebahagiaan. Mas setiap hari selalu ada waktu untuk mendengar cerita Zhafirah ketika di kelas adalah suatu kebahagiaan. Karena banyak teman-teman Zhafirah justru merindukan bersama suaminya sekedar duduk bersama atau jalan-jalan bersama di waktu senggang." Ucap Zhafirah.
Arkha selalu merasakan ketenangan saat bersama Zhafirah. Pasangan hidup juga mempengaruhi dalam menjalani kehidupan. Arkha lebih banyak belajar tentang arti sabar karena melihat istrinya begitu sabar. Disaat cinta kembali menguat, rasa sayang dan ingin saling membahagiakan telah hadir di rumah tangga Zhafirah. Kembali Zhafirah diminta bukti cintanya pada sang suami. Belum selesai dengan kondisi sang suami yang masih berjuang untuk mempertahankan e re k sinya. Kabar dari perusahaan Arkha malam itu membuat Zhafirah melihat Arkha berkali-kali mengusap wajahnya di depan layar laptopnya.
"Ada apa mas?" Tanya Zhafirah.
Arkha tampak mendonggakan kepalanya ke arah langit-langit kamar.
Zhafirah mendekati sang suami. Ia duduk di pangkuan Arkha. Ia pegang kedua pipi Arkha.
"Apa yang mas takutkan?" Ucap Zhafirah seraya menatap wajah suaminya dalam.
Arkha mengusap pipi istrinya dengan satu tangan.
"Zhafirah sayang.... kamu paham arti kata mas harus mundur? suami mu ini jatuh bangkrut. Suami mu yang CEO ini akan tak punya banyak harta lagi. Mas tidak tega jika bertahan dengan keinginan mas tetapi banyak kepala keluarga yang akhirnya akan menjadi menderita karena keegoisan mas agar tetap menjadi orang kaya." Ucap Arkha.
Zhafirah menatap jam bundar di dinding kamar mereka seraya menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
"Jadi mas takut miskin?" Tanya Zhafirah seraya mengukir tanda 'love' di dada Arkha.
"...... " Arkha tak mampu menjawab pertanyaan yang sebenarnya ia tahu jawabnnya.
"Mas.... mau ridho atau tidak kita dengan setiap apa yang Allah takdirkan kepada kita, takdir itu akan tetap tetua berjalan. Kita hanya punya dua pilihan. Tidak Ridho dengan takdir yang Allah berikan tetapi tidak mendapatkan pahala karena tidak mau bersabar akan ridho itu. Atau justru kita menjadi orang yang bahagia karena kita Menjalani takdir kita dengan ridho dan mendapatkan pahala atas setiap kesabaran kita atas apa yang Allah takdirkan sehingga menambah nilai cinta kita pada Allah." Ucap Zhafirah.
__ADS_1
"Zha.... kamu tidak akan semewah ini hidup mu.... " Ucap Arkha yang menahan rasa malu untuk dimasa depan. Ia sudah dapat membayangkan jika ia betul-betul menjadi lilin untuk hampir seribu karyawan Bagaskara yang tersebar di Indonesia.
"Kadang Allah mengurangi sesuatu karena ingin membersihkan yang tercampur dari hal yang tidak halal atau sedang ingin menguji kita. Apakah kita akan memilih setiap keputusan untuk mengambil yang paling sedikit mudharat nya? Sekarang Zha tanya. Apakah jika mas melepaskan Bagaskara maka Mudhorotnya paling sedikit untuk banyak orang?" Tanya Zhafirah.
Kini satu pasang suami istri itu saling tatap. Arkha mengangguk pelan. Zhafirah menggenggam tangan Arkha erat.
"Kaya atau miskin nya Mas. Zhafirah akan selalu ada disisi Mas. Mbah Yai Gus Dur dulu juga memilih melepaskan jabatannya bukan karena merasa salah. Tetapi itu yang paling baik untuk banyak orang. Kita hidup di dunia ini untuk beribadah dan mencari keridhoan Allah. Maka mau kaya, mau miskin asal kita Ridho untuk meraih Ridho Allah. Itu yang penting mas. Bukan kaya atau miskinnya kita." Ucap Zhafirah.
Dada Arkha terasa sesak. Ia melihat banyak video dan foto para pekerja nya. Malam itu ia sudah bertekad untuk melepaskan Bagaskara kepada para investor yang lebih memiliki modal untuk menbayar pajak dan gaji karyawan Bagaskara dua bulan kedepan. Ia lebih memilih menelan pil pahit itu sendiri daripada mengorbankan banyak karyawannya.
"Mungkin Allah ingin mas memulai semua dari Nol dan yang halal ya Zha.... " Ucap Arkha dengan tenggorokan yang tercekat.
Zhafirah sudah terbiasa menjalani kehidupan seperti orang biasa yang tidak dilayani oleh anak buah sedari kecil. Namun bagi Arkha, ia baru membayangkan saja sudah merasa tak sanggup. Namun kkeyakinan dan semangat istrinya. Ia pun mencoba tak menunjukkan kegalauan hatinya.
Ketika bulan demi bulan telah berganti. Arkha pun memilih menjual rumahnya untuk modal usaha baru.
"Kita tinggal dirumah yang Mama belikan untuk Ibu saja. Daripada menyewa apartemen. Jadi uang untuk sewa apartemen bisa untuk biaya kontrol Mama berapa bulan kedepan Mas." Ucap Zhafirah.
"Zha... mas malu kalau harus tinggal di perumahan biasa seperti it.... " Ucap Arkha lirih.
Zhafirah mendekat ke arah sang suami yang sedang membuat surat penjualan rumah miliknya.
"Malu kenapa sih. Mas bayangkan uang untuk sewa apartemen satu tahun. Itu bisa buat biaya perawatan Mama. Kita satu tahun kedepan itu bakal ga tahu yang terjadi Mas. Kita bisa hidup seandanya. Mama tetap butuh pengobatan." Ucap Arkha.
Sebenarnya Zhafirah masih memikirkan satu hal yaitu pengobatan sang suami yang masih harus rutin kontrol satu bulan sekali. Tetapi tak ingin membuat sang suami tersinggung disaat sedang banyak masalah memilih Zhafirah menjadikan Bu Indira sebagai alasan untuk tidak tinggal di apartemen. Zhafirah sudah merancang anggaran untuk bulan-bulan berikutnya jika memang ia akan tinggal dirumahnya. Ia bahkan tidak akan menyewa care give. Untuk merawat Bu Indira yang harus duduk di kursi roda.
"Kita bisa hidup bahagia dan cukup asal tidak ikut standar hidup dengan gaya orang lain mas ku sayang...... " Ucap Zhafirah.
"Satu lagi. Ini. Di kartu ini ada uang, yang Zhafirah sendiri tidak tahu saldonya. Dulu Romi sering mentransfer uang untuk kebutuhan Zhafirah tiap bulannya. Zhafirah nyaris tidak pernah menggunakannya." Ucap Zhafirah lagi seraya menyerahkan satu ATM berwarna hitam.
Arkha merasakan kebahagiaan sekali. Karena ia menikah dengan perempuan yang ia pilih dulu karena akhlaknya yang begitu patuh pada ibunya. Ia tak membayangkan jika ia dulu menikah dengan Selena, apakah bisa sedewasa itu dan sesabar Zhafirah dalam mengarungi biduk rumah tangga yang selalu datang masalah baru disaat masalah yang lain belum selesai.
Malam itu Arkha dan Zhafirah sibuk menyiapkan pakaian mereka dan Bu Zhafirah. Bu Zhafirah bahkan hanya mampu berdoa dengan kondisinya yang kian lemah.
"Terimakasih Zha. Sudah menjadi teman hidup yang baik untuk Arkha.... " Ucap Bu Indira lirih saat sang menantu membantu Bu Indira berbaring di tempat tidurnnya.
__ADS_1
Rini dan beberapa asisten rumah tangga pagi tadi sudah diberikan pesangon oleh Arkha. Maka besok pagi mereka tinggal pergi meninggalkan rumah tersebut. Satu-satunya yang Arkha yakin jika rumah itu tidak ada hasil dari perusahaan yang selama ini bergerak di pinjaman online dengan bunga yang mencekik. Ia ingin memulai usahanya dengan modal yang betul-betul halal.