
Tiba di kota gudeg, Arkha dan Zhafirah sudah ditunggu sopir dari agen hotel yang telah di pesan oleh Bu Indira. Sedangkan sang ibu dan mertua menginap di kediaman kerabat Arkha. Seorang perempuan muda juga ikut serta menemani Bu Indira.
"Ar, siang besok kita ke beberapa hotel dan mall milik kita. Mama ingin mengenalkan Zhafirah ke semua karyawan juga pimpinan beberapa perusahaan disini." ucap Bu Indira seraya masuk ke dalam mobil yang menantinya.
"Kenapa ga besok-besok sih Ma." Protes Arkha. Sang ibu justru membenarkan posisi kacamata nya dan menatap putranya.
"Kamu itu mana sempat. Mumpung kamu disini. Zhafirah harus dikenal oleh disini. Jangan sampai kejadian kamu waktu pulang dari Jepang dulu terulang sama Zhafirah." Ingat sang ibu pada Arkha.
Ya,saat dulu baru pertama menginjakkan kaki di mall dan hotel milik almarhum Pak Bagas. Arkha sempat di usir karena mencoba masuk ke ruangan manajer. Arkha hanya tersenyum tipis mengingat kejadian menyebalkan itu.
Setelah mobil Bu Indira dan Bu Riana meninggalkan bandara tersebut. Arkha dan Zhafirah berjalan menuju mobil yang sedari tadi menanti mereka. Sepasang suami istri itu duduk di tempat yang berbeda. Arkha lebih memilih duduk di sebelah sopir. Sedangkan Zhafirah, ia duduk seorang diri di bangku belakang sopir. Zhafirah bisa melihat sang suami begitu sibuk dengan ponselnya.
Bahkan tiba di dalam hotel pun. Arkha masih sibuk dengan ponselnya. Padahal Zhafirah merasa lapar. Ia terbiasa makan sore atau malam. Sedangkan Arkha, lelaki itu terbiasa tidak makan lagi di sore dan malam hari. Maka ia biasa saja, ia tak tahu bahwa Zhafirah mencoba menahan lapar. Ia takut Arkha kembali marah. Daripada rasa laparnya, Zhafirah justru khawatir dan gelisah karena belum shalat isya.
Saat Zhafirah membuka hijabnya. Sudut mata Arkha melirik Zhafirah. Ia bisa melihat rambut panjang yang tergerai. Dress yang dikenakan Zhafirah pun membuat Arkha mampu mengakui bahwa ada kecantikan yang Zhafirah sembunyikan di balik hijabnya. Namun Arkha terlalu fokus pada Selena yang sedang menghubungi dirinya melalui pesan.
__ADS_1
Itulah yang sering ia lakukan. Selena akan mengirimkan pesan atau menelpon Arkha disaat sang suami sibuk bekerja. Arkha pun akan meladeni kemanjaan Selena. Perempuan itu akan merengek manja juga bercerita banyak hal. Arkha akan mendengarkan. Itulah kenyamanan yang ia rasakan. Bahkan pandainya Arkha dan Selena. Mereka menggunakan aplikasi ruang ngobrol dengan akun palsu mereka. Maka tak heran selama ini komunikasi mereka tak terendus siapapun.
Saat malam kian larut, Zhafirah yang menanti dari tadi sang suami mengajaknya shalat berjamaah. Dan shalat Sunnah dua rakaat, Tetapi Arkha tampak asyik dengan ponselnya. Akhirnya Zhafirah mengerjakan shalat isya sendiri. Ia melihat tanda panah diatas langit-langit kamar hotel tersebut. Zhafirah pun membentang sajadah nya. Ia hanya menoleh ke arah Arkha.
"Mas belum mau shalat dulu?" Tanya Zhafirah karena melihat Arkha yang meletakkan ponsel di sisi tempat tidur, lalu masuk ke dalam selimut.
Arkha menoleh ke arah Zhafirah tajam.
"Aku sudah bilang, aku tidak suka diatur!" Ucap Arkha ketus. Ia pun membenamkan dirinya ke dalam selimut.
Zhafirah hanya mampu menarik sudut bibirnya. Ia tersenyum kecut menatap punggung Arkha.
Seketika ia teringat sosok ibunya. Yang ternyata hampir setiap hari menerima kekerasan dalam rumah tangga. Sedangkan di bentak dan di tatap sinis saja rasa hatinya sakit. Namun Zhafirah cepat menepis rasa sakit itu. Karena ia tahu, salah satu yang akan melancarkan urusan rezeki Arkha adalah jika ia dibahagiakan oleh sang suami. Maka Zhafirah cepat membuang rasa insecure pada dirinya. Setelah selesai shalat. Zhafirah beringsut masuk ke dalam selimut. Ia berbaring dengan memiringkan tubuhnya yang menghadap punggung Arkha.
"Jadilah seorang istri yang pantas untuk di cintai Zha. Jadilah seorang istri yang tak pantas disakiti, jadilah seorang istri yang yang mencintai suami mu." Ucap Zhafirah menatap punggung Arkha. Lelaki itu telah mendengkur. Ia memeluk guling disaat ada seorang istri disisinya.
__ADS_1
Zhafirah bisa melakukan itu. Karena ia punya sosok yang bisa ia jadikan teladan dalam menjalani peran sebagai seorang istri. Salah satunya yaitu sosok Sayyidah Khadijah. Dimana Ia adalah perempuan atau istri yang tidak pernah berkata 'Tidak' pada suaminya.
Saat pukul empat pagi, Zhafirah lebih dulu bangun. Ia pun telah selesai dengan sepertiga malam nya. Saat alarm ponselnya berdering. Ia mencoba membangunkan Arkha. Lelaki itu melenguh dan berteriak karena merasa diganggu.
"Kamu tahu kan aku tidak suka diganggu!" Bentak Arkha saat tangan lembut Zhafirah menyentuh lengannya. Niat hati ingin membangunkan suaminya untuk shalat. Namun justru kembali nada kasar sang suami menghunus ke dalam hati. Zhafirah pun kembali shalat Shubuh sendiri. Setelah selesai pun, ia menatap Arkha dari tempat sajadahnya di bentang.
"Cinta itu harus siap untuk sakit, Zha. Karena sejatinya cinta itu rasa Nerima apapun kondisi yang dicinta. Cinta itu adalah melihat orang yang kamu cintai bahagia, Zha. Jika dulu, Umi Siti bilang untuk jangan menyebut nama seseorang dalam doa. Kini aku rasa, aku harus menyebut namamu dalam setiap doa ku mas. Cinta mu halal untuk aku perjuangkan." Cicit Zhafirah.
Namun saat ia akan membuatkan kopi menggunakan teko elektrik yang ada di kamar tersebut, Zhafirah dikagetkan dengan satu pesan di ponsel Arkha. Sang suami sedang berada di kamar mandi. Zhafirah melihat sebuah pesan masuk. Tangan Zhafirah yang sedang memegang sendok pun bergetar. Kedua netranya terbuka sempurna. Satu tangan yang lainnya menutup mulutnya.
[My Heart]
Sebuah nama di ponsel tersebut membuat Zhafirah penasaran. Ragu-ragu, ibu jari Zhafirah menyentuh benda pipih tersebut dan pesan tersebut terbuka.
{Miss U Dear. Beneran semalam kamu tidak ngapa-ngapain sama istri status mu itu? Kamu nanti nyesel Lo Kha. Aku heran kenapa sih kamu tidak pernah mau eM El?}
__ADS_1
Zhafirah menahan sudut matanya. Ia yang mendengar pintu kamar mandi di buka kuncinya. Ia bergegas kembali ke meja kecil yang berada di dekat pintu masuk. Ia menundukkan kepalanya seraya menyeduh kopi untuk Arkha. Namun Zhafirah terhenyak ketika ia mendengar suara Arkha yang menggelegar di kamar itu.
"Zhafirah!"