Because I'M Your Wife

Because I'M Your Wife
Bab 6 Menuju Hari Bahagia


__ADS_3

Empat hari dilalui Zhafirah dengan hanya dirumah saja, ia menghabiskan waktunya di salon. Sopir yang diutus oleh Arkha untuk mengantar jemput Zhafirah sore itu baru saja mengantar Zhafirah pulang. Tiba di kediamannya. Zhafirah melihat banyak orang yang tampak membawa barang-barang untuk esok. Termasuk satu kebaya pernikahannya.


"Zha ini Ibu langsung suruh letakkan di kamar mu ya. Besok pagi-pagi mereka kemari. Kita dari sini langsung dandan saja." Ucap sang ibu.


Zhafirah melihat satu kebaya yang terpanjang di patung yang di dalam kamarnya. Kebaya itu akan ia kenakan dari rumah ke hotel. Dan Tiba di hotel ia akan di ganti dengan pakaian adat Palembang.


"Oya tadi ada Romi. Dia bilang besok sesuai konsep ini. Ibu ga ngerti." ucap Ibu Riana pada Zhafirah seraya menyerahkan satu amplop.


Zhafirah membuka amplop tersebut. Ia melihat susunan acara cukup padat. Perempuan itu menaikan alisnya. Zafirah menyunggingkan senyumnya seraya menatap kertas susunan acara tersebut. Ia pun sedikit terhenyak saat Bu Riana memanggil namanya.


“Zha, sudah ditunggu mbak-mbak di dalam. Katanya mau pakaikan Hena di tangan mu.” Ucap Bu Riana mengingatkan putrinya.


Zhafirah pun menemui dua perempuan yang tentunya diutus oleh Romi. Lelaki itu seperti dia yang akan menikah. Karena ia yang sangat sibuk beberapa hari menjelang pernikahan Zhafirah dengan Arkha. Sedangkan Arkha, di H-1 pernikahannya. Ia masih sibuk berjumpa kliennya. Tiga hari kedepan ia akan berlibur. Lelaki workaholic itu tak ingin menyia-nyiakan waktunya. Ia memajukan semua jadwal bertemu rekan bisnisnya sebelum ia libur selama tiga hari.


Arkha mau tidak mau harus mengikuti apa yang menjadi keinginan sang ibu. Ibu Indira diam-diam sudah membooking satu paket honeymoon di Jogja. Kebetulan ia yang juga berencana ingin mengunjungi saudaranya di Jogja. Maka Bu Riana memesan paket honeymoon untuk Arkha dan Zhafirah di sana. Zhafirah tak mengetahui hal itu, Bu Indira sudah menyiapkan semuanya untuk anak dan menantunya. Ia hanya memberitahu Arkha terkait rencana berlibur di Jogja.


Dering ponsel Zhafirah terdengar saat kedua tangannya masih di poles hena. Salah satu perempuan yang menghiasi tangan Zhafirah, Ia membantu Zhafirah menerima panggilan dari Bu Indira. Calon mertua Zhafirah itu menelpon melalui sambungan video.


“Zha…” Ucap Bu Indira setelah sang calon menantu menjawab salamnya.


“Ya Bu.”


“Mama. Mama, Zha. Mama lupa, tolong bilang sama ibu mu. Besok selesai akad nikah, Ibu mu sekalian ikut Mama ya.” Kata Bu Indira.


“Ikut kemana Ma?” tanya Zhafirah balik.


“Ikut ke Jogja. Temani Mama, sekalian mau mama kenalkan dengan keluarga di Jogja Zha.” Jawab Bu Indira.

__ADS_1


“Baik Ma, nanti Zhafirah sampaikan. Ibu sepertinya sedang mandi.”


Cukup lama Bu Indira menikmati panggilan itu dalam diam. Ia menikmati wajah cantik Zhafirah. Hanya memandang wajah Zhafirah, ia merasakan begitu tenang. Wajah teduh, cantik dan selalu ada senyum di wajah cantik Zhafirah.Hal itu membuat mata Bu Indira begitu ingin memandangi wajah sang calon menantu. Namun tidak dengan Arkha.




Tepat di hari pernikahan Arkha dan Zhafirah. CEO Bagaskara itu sedikit pun tak merasakan nervous, penasaran akan kecantikan sang calon istri seperti sang ibu yang terpana akan kecantikan alami Zhafirah. Ia tampak asik mengamati trading forex melalui tabletnya. Bahkan saat menanti Penghulu tiba, lelaki itu masih asyik dengan ponselnya. Bu Indira yang melihat dari arah belakang sang anak, ia memberikan satu kode ke Romi. Lelaki itu bergegas berjalan ke arah Bu Indira. Ia menundukkan tubuhnya dan Bu Indira berbisik pada asisten pribadi putranya. Tampak Romi sedikit mengangguk-angguk.



Romi pun setengah berlari ke arah Arkha. Ia setengah menunduk dan membisikkan pesan dari Bu Indira.



“Maaf Pak, Ibu bilang ponselnya biar ibu pegang dulu.” bisik Romi pada pimpinannya.




“Ok, baru kali ini aku punya asisten pribadi tapi mau diatur oleh orang lain.” Gerutu Arkha karena merasa kesal.



Ia tahu, Ibunya akan meminta apapun dan Romi menjadi penyampai pesan itu. Romi pun membawa ponsel tersebut, ia menyerahkan kepada Bu Indira. Namun ia Kembali kena semprot oleh ibu sang pimpinan.

__ADS_1



“Kamu ini, kenapa di kasih. Ini hari penting. Sudah tahu kalau Arkha itu workaholic.” Ucap Bu Indira seraya mendelik.



Arkha pun akhirnya hanya duduk menatap kearah beberapa tamu undangan. Senyum manis dari tamu undangan pagi hari itu membuat satu alis Arkha terangkat. Selena mengerlingkan matanya. Ia sebenarnya tak rela sang kekasih menikah dengan perempuan manapun. Suami yang berusia lebih dewasa 10 tahun darinya, belum lagi sikap yang tak romantic membuat ia mencari kepuasan dengan kata pasangan yang ideal dari Arkha. Ia selama ini menikmati perhatian-perhatian dari Arkha. Ia juga menikmati setiap rayuan maut Arkha. Hal yang tak pernah suaminya bisa lakukan. Suaminya yang memiliki satu jabatan penting di pemerintahan belum lagi ia juga pemilik satu rumah sakit swasta. Maka kesibukan suami dan dunia yang berbeda membuat Selena menyesal menikah dengan sang suami.



Sedangkan Arkha, ia menikahi Zhafirah hanya ingin sang istri bisa menjadi tameng baginya disaat rumor dirinya sebagai pebinor muncul. Ia tak ingin terikat pernikahan, kali ini ia hanya menganggap hubungan yang sakral itu sekedar permainan yang bisa ia selesaikan ketika Zhafirah tak lagi berguna.



“Setidaknya, Mama Bahagia dengan hubungan ku Bersama Zhafirah. Aku akan bertahan dengan ikatan konyol ini.” Ucap Arkha.



Memiliki banyak uang, bisa mengatur banyak orang. Hal itu membuat Arkha terlalu angkuh dan sombong. Ia sedang bermain dengan satu ikatan yang sangat sacral bagi Zhafirah. Gadis itu sangat menjunjung tinggi arti pernikahan. Berbeda dengan Arkha yang tak menghargai arti pernikahan. Ia tampak mempermainkan pernikahan nya dan Zhafirah. Hal itu karena Arkha belum memahami faidah dan hikmah di balik pernikahan.



Namun bagi Zhafirah, menikah adalah cara termulia untuk memenuhi kebutuhan biologis, naluri, dan fitrah manusia untuk saling mencintai satu sama lain. Satu rasa yang dititipkan Allah kepada manusia. Siapa pun tahu manakala kebutuhan, naluri dan fitrah itu tak terpenuhi akan membawa pemiliknya kepada kegelisahan, kekacauan, bahkan frustasi yang berujung pada berbagai tindakan tak terpuji. Gadis itu paham arti pernikahan. Paham ketika ijab dan qobul di ucapkan. Maka ia akan menjadi perempuan yang bisa masuk surga lewat pintu manapun yang ia kehendaki asal ia bisa menjadi istri Sholehah.



Hampir 1000 undangan yang hadir di pagi hari itu. Lafadz hamdalah di ucapkan para tamu undangan saat Arkha berhasil satu kali saja mengucapkan ijab. Saat MC meminta Bridesmaids untuk membawa mempelai wanita, semua mata tertuju pada satu pintu yang terbuka. Zhafirah tampil cantik dan anggun. Pakaian adat Palembang di kenakan Zhafirah tampil mewah. Bu Riana yang sempat mengobrol disaat acara seserahan. Almarhum ayah Zhafirah yang asli orang Provinsi Sumatera Selatan tersebut.

__ADS_1



Maka ingin pernikahan itu menjadi memori indah Zhafirah, Ibu Riana meminta WO menyiapkan baju adat khas provinsi Sumatera Selatan tersebut. Zhafirah pun yang di dampingi Bridesmaids menuju tempat Arkha yang sama sekali tak menoleh ke arah belakangnya. Hatinya bahkan tak berdebar. Ia biasa saja saat selesai mengucapkan ijab.


__ADS_2