Because I'M Your Wife

Because I'M Your Wife
Bab 63 Sumber Kekuatan sebenarnya 'Hati'


__ADS_3

Seorang lelaki mendekati Arkha. Ia berdiri tepat dihadapan Arkha. Zhafirah kebingungan dengan Mawan yang terlihat setengah berlari ke arah dirinya.


"Maaf Pak Arkha, saya mengganggu." Ucap Mawan yang tersengal-sengal. Tampak lelaki itu mengeluarkan satu saputangan dan menghapus keringat di dahinya.


Zhafirah keluar dari mobil. Ia berdiri di sisi Arkha. Arkha menatap Zhafirah sekilas lalu memandang Mawan heran.


"Ya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Arkha.


"Saya sebelumnya minta maaf Pak. Namun saya ingin sedikit meminta bantuan istri anda." Ucap Mawan.


Lelaki itu menoleh ke arah mobil yang terparkir. Jendela mobil terbuka dan terlihat istri Mawan di dalam sana. Hanya ada jarak sekitar 20 meter dari tempat mereka berdiri. Walau terhalang lalu lalang orang hang hadir, namun Zhafirah bisa melihat istri Mawan tersenyum ke arahnya.


Zhafirah pun tersenyum ke arah istri Mawan. Arkha pun penasaran, perihal apa yang ingin disampaikan Mawan. Apalagi menyangkut istrinya.


"Bantuan apa?" Ucap Arkha sedikit dingin.


Zhafirah memeluk lengan atas Arkha. Ayah Annisa itu pun menoleh ke arah istrinya.


Mawan pun kembali menoleh ke arah istrinya. Baru ia mengutarakan maksudnya.


"Begini, saya mohon izin Bapak. Istri saya sedang hamil lagi. Sekarang dia ngidam. Dulu ngidamnya sama, tapi tidak keturutan. Ini dia ngidam lagi, dia ingin sekali berfoto bersama Zhafirah dan ingin perutnya di usap Zhafirah." Ucap Mawan yang menatap Arkha dengan wajah yang terlihat berharap sekali.


Arkha dan Zhafirah saling pandang satu sama lainnya. Sungguh permintaan yang di luar dugaan. Mawan bahkan menundukkan kepalanya seraya mengusap tengkuknya. Arkha setengah tersenyum menjawab permintaan Mawan.


"Saya pikir apa. Selamat ya atas kehamilannya. Saya Terserah istri saya." Ucap Arkha yang di dalam hatinya merasa heran. Bagaimana bisa Mawan dan istrinya memiliki anak lagi. Sedangkan mereka memiliki balita.


'kejar target betul si Mawan ini.' Batin Arkha. Padahal ia dan Zhafirah tak tahu kisah cinta dan pertemuan Mawab dan istrinya.


"Saya tahu rasanya hamil, kalau mas mengizinkan. Boleh?" Tanya Zhafirah pada Arkha.


Anggukan dari Arkha membuat Zhafirah berjalan ke arah mobil Mawan. Sedangkan lelaki yang pernah menaruh hati pada Zhafirah itu berdiri di sisi mobil Arkha. Ia tak ingin ikut kesana. Ia berharap istrinya leluasa berbicara dengan idolanya.


Zhafirah menghampiri Umi. Mereka menyapa satu sama lain.


"Maaf Mbak, jadi merepotkan. Saya sudah bilang sama Mas Mawan. Tapi katanya beliau kenal Mbak Zhafirah." Ujar Umi sungkan.


Ia sedikit kram sehingga tadi tak mampu ikut mengejar suaminya.


"Saya pernah rasakan ngidam. Ya kalau memang tidak melanggar syariat kenapa tidak." Ucap Zhafirah.


Umi pun menceritakan pada Zhafirah bahwa ia memang hampir satu bulan ini merasakan ingin sekali bertemu Zhafirah. Ingin foto bersama dan diusap perutnya oleh Zhafirah.


"Astaghfirullah.... Harus hati-hati lo Mbak. Kan masih hamil muda." Ucap Zhafirah yang tahu jika istri Mawan itu baru tahu jika dirinya hamil dua hari lalu.


"Sebenarnya sudah menolak. Tetapi ternyata Mas Mawan Maksa. Katanya, yang kemarin ga keturutan masa' yang ini ga keturutan lagi." Ucap Umi.

__ADS_1


Tiba-tiba keluar seorang perempuan dari pintu belakang yang tak lain adalah Bu Sihombing.


"Ibu.... " Ucap Zhafirah yang melihat Bu Sihombing keluar dari pintu belakang.


"Apa Tante bilang. Zhafirah ini enak. Dia selalu memudahkan urusan orang lain." Ucap Bu Sihombing.


Dosen Zhafirah itu pun mengambil gambar keponakannya dengan Zhafirah. Zhafirah pun mengusap perut Zhafirah dan mendoakan istri Mawan tersebut. Dari pertemuan singkat itulah Zhafirah tahu bahwa Umi sendiri yang menyematkan nama Naadhira pada putrinya dan Mawan.


"Saya bahkan memberikan nama Naadhira pada putri saya karena saya mengagumi Mbak Zhafirah." Ucap Umi pelan.


Zhafirah pun kembali ke mobilnya begitupun Mawan. Saat melanjutkan perjalanan, Arkha pun membahas sosok Mawan dan Istrinya.


"Sepertinya perempuan shalihah hadiah bagi laki-laki shalih begitupun sebaliknya, pantas disematkan untuk Mawan dan istrinya ya, Zha." Ucap Arkha.


Zhafirah hanya menanggapi dengan senyum manisnya. Ia pun mengakui, bahwa Mawan bertemu dengan jodoh yang baik. Karena Mawan baik. Zhafirah justru malu karena sempat merasakan kekhawatiran jika Mawan masih memendam rasa. Ternyata lelaki itu adalah lelaki yang cerdas. Ia memilih menata hatinya untuk move on. Daripada mengenang rasa nya pada Zhafirah yang tak mungkin ia harapkan.


Tiba di kediaman mereka hampir tengah malam. Zhafirah mengambil alih Annisa dari gendongan Dian. Ia membawa putrinya kedalam kamar. Annisa begitu lelap. Sepasang suami istri itu pun membersihkan diri dan bersiap untuk istirahat. Zhafirah memejamkan kedua netranya seraya memeluk tubuh suaminya. Aroma khas dari sang suami menjadi aroma yang sangat di sukai Zhafirah.


"Mas, Bu Sihombing kembali menawarkan beasiswa yang masih tersisa quota satu." Zhafirah membahas apa yang sempat tadi di menjadi permintaan Bu Sihombing.


Arkha memiringkan tubuhnya. Ia menopang kepalanya dengan satu tangan dan menghadap Zhafirah. Suami istri itu saling bertatapan beberapa waktu.


"Kenapa harus ambil beasiswa. Tak mau ambil jalur umum saja? Agar tidak terikat." Ucap Arkha.


Ternyata istri Arkha itu bukan berpikir tentang dirinya saja. Melainkan, ia memikirkan satu langkah lebih maju untuk alumnus Kali Bening atau satu almamaternya.


"Zhafirah memikirkan apa yang Bu Sihombing bilang betul. Dan yang paling penting, jika Zhafirah bisa ikut jalur beasiswa tersebut. Maka kesempatan untuk Zhafirah seperti ibu Sihombing terbuka lebar. Bayangkan jika besok, ada banyak santri-santri yang berprestasi tapi tak mampu bisa istri mas ini beri link untuk beasiswa ini. Mas tahu sendiri, sekarang ini apa-apa harus ada orang dalam." Ucap Zhafirah.


Arkha justru mengerutkan dahinya.


"Nepotisme dong sayang.... " Komentar Arkha.


"Ya Ndak Nepotisme. Tetapi memberikan kesempatan kepada yang memang layak, berkompeten tapi bisa membangun bangsa kita ini. Bahkan ada beberapa oknum yang seperti Bu Sihombing itu memperjualbelikan peluang beasiswa seperti itu. Dan Zhafirah hanya ingin meneruskan apa yang Bu Sihombing sudah jalankan. Beliau suatu saat akan purna mada jabatannya Mas. Itu makna yang Zhafirah pahami kenapa beliau kedua kalinya menawarkan hal gang sama." Jelas Zhafirah.


Arkha membelai rambut istrinya.


"Sayang.... kamu ini selalu saja memikirkan orang lain... " Ucap Arkha kagum akan pemikiran istrinya.


"Bukan orang lain, tapi Zhafirah selalu ingat pesan Umi Siti. Perempuan itu harus terus belajar tidak hanya urusan rumah, tetapi apapun itu yang bisa mengeksplor dirinya dengan catatan ridho suami bersamanya. Dan Dawuhnya Umi Laila 'Saat tidak mondok lagi, dimanapun kamu berada, ambil bagian mu. Walau tidak mengajar. Setidaknya kita menghabiskan waktu, jiwa, tenaga dan pikiran kita untuk kemanfaatan'." Ujar Zhafirah seraya menuturkan kembali pesan pengasuh dan pendiri pondok pesantren Kali Bening.


Arkha pun merapatkan pelukannya pada sang istri.


"Zha, kapan mau program buat adiknya Annisa?" Ucap Arkha seraya tersenyum menggoda.


Zhafirah pun mengedipkan kedua matanya seraya membenarkan rambutnya. Ia sibak rambut panjangnya ke arah belakang. Ia setengah bersandar pada head board tempat tidur. Dengan wajah yang di buat seimut mungkin membuat Zhafirah terlihat begitu menggemaskan di mata Arkha Bagaskara .

__ADS_1


"Jadi ini kita akhir tahun ini, program untuk adik Annisa atau program lanjut S3?" Tanya Zhafirah.


Arkha pun menangkup kedua tangannya di wajah istrinya.


"Bagaimana kalau kita program buat adiknya Annisa di Belanda untuk menerima permintaan Bu Sihombing. Sekalian mama untuk operasi ginjal. Jadi sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui." Ucap Arkha.


Pemilik dari CV Ardhana itu sedang mengusahakan untuk donor ginjal ibunya, Bu Indira. Maka ketika ia melihat niat tulus Zhafirah untuk kembali melanjutkan pendidikan bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Tetapi untuk banyak kemanfaatan.


Seperti Zhafirah, bukan tentang finansial ia ingin terus belajar. Tetapi bagaimana ia harus bisa ikut andil untuk para perempuan, terutama orang-orang yang mungkin sama seperti dirinya. Bahwa keterbatasan ekonomi bukan sesuatu yang menjadi penghalang. Semua tinggal kita bersungguh-sungguh. Seperti Zhafirah, ia hanya bersungguh-sungguh mencari ilmu selama di pondok. Menikah dengan Arkha pun masih dengan niat agar bisa meraih ridho Ibunya. Sehingga Allah mewujudkan cita-citanya melalui suaminya.


Suami yang awalnya memiliki tabiat buruk, suami yang ketika mulai berubah namun memiliki kelemahan di satu hal yang mungkin menjadi kebutuhan bagi banyak pasangan suami istri lain. Kesabaran Zhafirah, niat yang lurus akan menjadikan pernikahannya sebagaimana jalan meraih ridho Allah. Kini berbuah manis. Seperti malam itu, jika dulu Zhafirah melihat suaminya tertidur karena dulu merasa frustasi. Kini hanya wajah suaminya yang lelah karena ia mampu menjadi partner yang baik bagi suaminya dengan keperkasaan sang suami.


Zhafirah mengusap keringat yang membasahi dahi suaminya.


"Sungguh kini aku paham akan arti sebuah kalimat yang sering di dawuh Umi Siti. Bahwa sumber kekuatan, keberhasilan tirakat seseorang adalah hati." Ucap Zhafirah seraya menatap suaminya. Ia pun kembali merebahkan tubuhnya kedalam pelukan sang suami.


Ya, hati adalah raja bagi manusia. Kuat, lemahnya seseorang dalam tirakat tergantung hatinya. Zhafirah termasuk istri, perempuan yang pandai membersihkan hatinya. Karena segumpal hati yang ada di dalam tubuhnya, mempengaruhi kekuatan jiwanya untuk setiap saat melewati cobaan hingga bukan menyerah tapi pasrah kepada Allah. Karena banyak orang kadang mengatakan pasrah pada takdir Allah namun dzohirnya tanpa ikhtiar. Hatinya bahkan masih diselimuti iri, dengki, amarah, benci. Hal-hal yang membuat hilangnya ketentraman, damai dalam kehidupan di dunia dan khususnya dalam berumahtangga.


Inilah sebuah kisah perjuangan seorang perempuan yang lebih fokus ke hati, niat dan tirakat. Ia jalani penuh kesabaran. Ia jadikan suaminya adalah jalan meraih ridho Allah. Ia tak menuntut suaminya sempurna. Tetapi karena hadirnya Zhafirah dalam hidup Arkha, hidup putra tunggal Bagaskara itupun menjadi SEMPURNA. Zhafirah hanya selalu mengatakan 'Because I'm Your Wife'. Satu kalimat yang selalu ia tanamkan dalam hatinya, dimana Seorang istri bisa meraih pahala yang begitu banyak melalui seorang suami. Kini ia bahagia, suaminya berakhlak baik, ia pun sehat sempurna, mereka telah memiliki anak. Dan kini, ia pun kembali meraih cita-cita nya. Kembali melanjutkan pendidikan. Allah bukan memberikan apa yang hambanya inginkan tapi sesuai dengan kemashlahatan hambanya.


...THE END...


To All loyal Readers.


Terimakasih untuk kalian semua yang masih selalu mendukung Sebutir Debu. Sungguh semua masih banyak kekurangan, baik penulisan, tata bahasanya. Mudah-mudahan Sebutir Debu masih terus diberikan kesehatan, kesempatan untuk tetap terus belajar bersama melalui media Novel Online ini. Karena Author juga masih belajar menjadi istri, anak, ibu yang baik.


Alhamdulillah, berkat dukungan, komentar, gift kalian Semua. Zhafirah mendapatkan juara Favorit Pembaca di Lomba Terjerat Benang Merah. Sekali lagi Sebutir Debu Mengucapkan terimakasih. Tanpa kalian, siapalah Sebutir Debu.


Otw Endingin novel lainnya dulu. Doakan ini lagi garap Novel untuk ikut lombe Air Mata Pernikahan.


Kemarin banyak yang japri. IG (Sebutirdebu930). Saya jarang aktif di medsos. Sesekali saja, follow IG nya.


Sebelum Author akhiri, izinkan authro selipkan dawuh seorang ulama besar yaitu Syaikh Mutawalli Asy-Sya'rowi.


...{Barangsiapa yang ingin mencari teman yang sempurna (tanpa cela), maka dia akan hidup dalam kesendirian....


...Barangsiapa yang ingin mencari istri yang sempurna (tanpa kekurangan), maka dia akan hidup membujang....


...Barangsiapa yang ingin mencari kekasih tanpa rintangan, maka hidupnya akan senantiasa dalam keadaan mencari....


...Barangsiapa yang mencari kerabat yang sempurna, maka dia akan hidup dalam keadaan selalu memutuskan hubungan kekerabatan.}...


So buat yang jomblo jangan cari yang sempurna, buat kita yang terlanjur memilih dan dipilih. Jadikan kehadiran kita sebagai kesempurnaan yang menerima kekurangan suami/istri kita.


Maturnuwun Sekabehane, Editor, pembaca, suami, poro Guru, konco yang terus memberikan semangat, saran dan kritikannya. 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2