Because I'M Your Wife

Because I'M Your Wife
Bab 27 Rasa Yang Tumbuh


__ADS_3

“Mas Arkha…..”Ucap Zhafirah.


Ia melihat suaminya sedang tidur dengan posisi meringkuk di sofa. Zhafirah melihat selimut tebal membungkus tubuhnya.


“Tidak mungkin aku pindah kesini sendiri. Apa mas Arkha memindahkan aku semalam?” Tanya Zhafirah dalam hatinya.


Zhafirah tidak tahu jika semalam, ia bukan hanya di pindahkan ke Kasur tetapi juga mendapatkan sebuah kecu pan dari sang suami. Satu sentuhan yang dulu pernah ia rasakan tetapi harus berhenti di tengah jalan. Zhafirah melirik ke arah jam yang ada di dinding. Masih terlalu pagi untuk menghidupkan alarm. Ia pun beringsut dari tempatnya. Selimut yang tadi memberikan ia kehangatan, kini ia pindahkan ke tubuh sang suami.Zhafirah menatap wajah tampan, alis tebal dan hidung bangir Arkha.


Hanya ketika sang suami tertidur Zhafirah bisa memandangi wajah Arkha.


“Kamu kemana semalam Mas.” Ucap Zhafirah seraya duduk di sisi Arkha. Cukup lama Zhafirah duduk di karpet dan memandangi wajah Arkha, dengkuran Arkha pun menandakan bahwa suaminya begitu nyenyak. Zhafirah pun meninggalkan suaminya kala waktu sudah hampir masuk waktu Shubuh.


Saat sudah waktunya ia menghidupkan alarm, maka Zhafirah mengaktifkan alarm pada jam yang ada di sisi kamar. Seperti biasa, Arkha akan bangun dan meminum air dari kulkas. Zhafirah sudah menyiapkan handuk, pakaian ganti untuk sang suami. Pagi itu setelah selesai syuting untuk akhir Pesona Ayra Khairunnisa season 1. Mereka langsung pulang karena Arkha harus menandatangani berkas-berkas penting yang akan di bawa Romi ke kediaman mereka.


Sepanjang perjalanan taka da pembicaraan, yang ada adalah kebisuan sepasang suami istri tersebut. Tiba dirumah, Arkha hanya duduk sebentar di ruang keluarga untuk melihat kondisi Bu Indira. Hadirnya Romi dengan banyak berkas, membuat Arkha pun pergi ke ruang kerjanya. Saat Arkha pergi ke ruang kerjanya. Nyonya Indira justru mengungkapkan satu hal yang membuat Zhafirah terharu.


“Zha, kamu ini kenapa tidak bilang kalau kamu dulu ingin kuliah?” Tanya Bu Indira pada sang menantu.


Zhafirah memandang Bu Indira dengan tatapan kaget.


“Mama tahu darimana?” Tanya Zhafirah.


“Dari Ibu mu. Beberapa hari lalu, Mama singgah ke kediaman ibumu.” Ucap Bu Indira.


Tiba-tiba ada rasa rindu di hati Zhafirah untuk ibunya.


“Kamu rindu ibumu?” Tanya Bu Indira.


Zhafirah mengangguk pelan.


“Besok, kita kesana ya… atau kita undang ibu mu kemari?” Tanya Bu Indira.


Zhafirah ingin sekali sebenarnya bertemu dengan ibunya, ia ingin sekali saat seperti dulu. Saat ia pulang karena libur, ia akan tidur Bersama sang ibu. 5 bulan menikah dengan Arkha, ia tak berani meminta pada sang suami untuk menginap di rumah ibunya.


“Zha….” Panggil Bu Indira pada sang menantu.

__ADS_1


Zhafirah pun mengangkat pandangannya ke arah Bu Indira,


“Ya Ma, Zhafirah kangen ibu…” Ucap Zhafirah.


Bu Indira tersenyum.


“Ya sudah, nanti Mama minta sopir jemput Ibu mu. Sekalian minta ibumu menginap. Dan ini… kamu pilih mau kuliah dimana.” Ucap Bu Indira.


Ibu satu orang anak itu menyerahkan beberapa lembar brosur universitas ke arah Zhafirah. Kedua netra Zhafirah mengambil satu brosur yang dulu sempat ia ingin sekali mendaftar disana.


“Maksud Mama?” Tanya Zhafirah yang meminta kepastian akan maksud mertuanya.


“Mama mau kamu melanjutkan kuliah mu. Kamu punya kecerdasan, nilai mu saat sekolah bagu-bagus. Mama tidak percaya walau di pondok pesantren tetapi nilai sekolah mu justru bagus-bagus. Sayang, apalagi kamu punya mimpi. Mama ingat kemarin saat Papa nya Arkha meninggal. Mama bingung bagaiamana mengurus semua bisnis. Mama termasuk bukan orang yang pandai berbicara di depan forum.” Kenang Bu Indira.


Tampak wajah itu terlihat sendu kala mengingat masalalunya dan sang suami.


“Zhafirah ndak berani bilang sama Mas Arkha Ma.” Ucap Zhafirah.


“Hehehe… lah wong itu kemarin Mama minta Arkha yang cariin universitas yang bagus untuk kamu. Terus pagi tadi Romi yang kemari. Sudah, siapkan berkasnya dan pilih mau universitas yang mana. Nanti biar Romi yang urus. Dia lebih paham.” Ucap Bu Indira.


“Wah tambah besar kepala saja ini perempuan…. “ Ucap Rini dalam hatinya.


Zhafirah pun menuju kamarnya. Didalam kamarnya, ia duduk di sofa. Ia usap satu brosur tersebut, sungguh Allah memberikan sesuatu yang kita butuhkan akan terasa begitu berarti. Dua hal yang membuat Zhafirah terharu, pertama ia bisa melanjutkan cita-cita untuk kuliah. Kedua, Arkha sendiri yang memilih Universitas yang baik untuk Zhafirah, semalam juga sang suami memindahkannya ke tempat tidur. Arkha hanya mengatakan jika semalam tubuh Zhafirah panas dan ia memindahkannya ke Kasur. Padahal dulu ia pernah mengigil dengan posisi tidur di lantai beralaskan bedcover, namun Arkha tak peduli. Ia justru sibuk berbicara dengan kekasih hatinya.


“Alhamdulilah ya Allah… Hamba akan menjalani tiap-tiap bagian yang engkau takdirkan untuk ku dengan sesabar mungkin, dengan sebaik mungkin sebagai istri Mas Arkha.” Ucap Zhafirah yang sudah menangis haru.


Tak lama, Arkha pun Kembali dari ruang kerjanya. Saat di bali, Zhafirah membeli beberapa piyama dan dress untuk ia kenakan di kamar. Ia ingin tampil menarik di mata Arkha, saat itu Zhafirah mengenakan sebuah silk dress sebagai baju tidurnya. Kedua netra Arkha yang baru masuk ke kamar tersebut cukup lama memandang Zhafirah lewat pantulan cermin. Zhafirah terlihat elegan dan stunning dengan dress yang dikenakan. Rambut Panjang sang istri pun sebenarnya sering menganggu Arkha. Ia lebih suka melihat rambut itu tidak di kuncir. Rambut yang tidak terlihat lurus saat digerai, ada gelombang-gelombang karena seringnya di ikat.


Saat Arkha telah berganti pakaian, malam itu Arkha yang sedang menenteng laptop berjalan ke arah sofa.


“Tidurlah di Kasur. Kamu belum sehat.” Ucap Arkha.


Zhafirah yang sibuk dengan dzikir sebelum tidurnya membuka kedua matanya. Ia tak percaya sang suami memandang dirinya dan mengajak ia berbicara.


“Ndak usah mas, biar Zha disini saja. Mas kan ndak biasa di sofa.” Ucap Zhafirah seraya bangkit dan duduk.

__ADS_1


Arkha memegang dagunya dengan ibu jari dan jari telunjuk yang menempel pada hidung.


“Apakah istri sholehah akan membantah perintah suaminya? Apakah tidur di Kasur melanggar syariat?” Tanya Arkha yang tampak biasa saja.


Zhafirah justru aneh, suaminya tak membentaknya atau mendengus saat ia merasa di tolak.


Melihat perubahan Arkha, Zhafirah tak ingin sang suami marah. Ia pun menunduk dan membawa bantal dan gulingnya. Baru akan melangkah, Zhafirah justru harus Kembali meletakkan selimut dan bantal serta guling miliknya.


“Itu mau dibawa kemana? Selimut dan bantalnya tinggal disini. Kamu pakai selimut dan bantal itu saja.” Ucap Arkha.


“Baik Mas.” Ucap Zhafirah.


Kembali ia letakkan ketiga benda tersebut di sofa. Ia berjalan ke arah tempat tidur dengan banyak pertanyaan untuk dirinya.


“Kenapa mas Arkha berubah, kenapa dia meminta ku tidur di tempat tidurnya. Lima bulan menikah, baru kali ini ia berbicara dengan ku tanpa emosi dan tatapan tak suka. Apa Mas Arkha mulai membuka hatinya untuk ku.” Ucap Zhafirah dalam hatinya.


Namun baru saja Zhafirah masuk ke dalam selimut, suara Arkha membuat ia menautkan kedua alisnya. Semua pertanyaan nya di jawab oleh Arkha.


“Jangan mikir yang tidak-tidak. JAngan GR. Aku hanya sedang ingin menghayati peran Bram di season duan anti.” Ucap Arkha yang seolah tahu jika sang istri merasa aneh atas perlakuannya.


Justru Zhafirah semakin aneh, karena season dua Ayra, Bram dan Ayra justru kompak dengan merawat tiga anak mereka.


Zhafirah mencoba memejamkan kedua matanya. Aroma khas Arkha yang ada pada bantal yang tadi digunakan sang suami untuk bersandar di headboard membuat Zhafirah menghirup dalam aroma itu. Entah kenapa, Zhafirah merasakan kenyamanan dari aroma bantal itu. Saat Zhafirah selesai mengusap kedua wajahnya, ia mengucapkan terima kasih pada Arkha atas izin untuk kuliah.


“Mas, terimakasih. Mama sudah bilang tadi kalau mas memberikan aku izin untuk kuliah. Insyaallah akan aku manfaatkan untuk mencari kemanfaatan. Semoga tidak melupakan kewajiban aku sebagai seorang istri.” Ucap Zhafirah.


Arkha tak menoleh mendengar Zhafirah mengucapkan itu. Ia hanya berdehem.


“Hem.” Ucap Arkha.


Zhafirah tak sakit hati. Baginya saat ini, Arkha sudah lebih baik. Saat ia sudah pasrah dengan hubungannya, Arkha justru berubah dengan perlahan. Andai Zhafirah saat bulan ke tiga menggugat Arkha untuk brcerai, mungkin saat ini ia tak bisa tidur sambil menghirup aroma tubuh suaminya yang tertinggal di bantal dan selimut.


Malam itu, Zhafirah tidur begitu nyenyak. Bukan karena tidur di Kasur empuk. Melainkan karena aroma yang menemani malamnya. Sedangkan Arkha ia dari tadi hanya berpura-pura sibuk dengan laptopnya. Ia begitu terganggu dengan dress yang di kenakan Zhafirah. Rasa tak tega membiarkan sang istri tidur di sofa. Arkha pun meminta sang istri tidur di tempat tidur yang selama ini tak pernah di ti du ri sang istri.


Arkha memandang Zhafirah yang terlelap. Ia memeluk gulingnya begitu erat. Bahkan selimut pink Zhafirah membuat Arkha tenang, aroma tubuh yang pernah ia hirup kini menenangkannya. Malam itu Arkha memandang wajah cantik istrinya dari sofa yang begitu tidak nyaman bagi seorang Arkha. Tetapi selimut dan bantal yang baru saja di gunakan Zhafirah membuat ia bahkan menempelkan selimut pink itu di satu pipinya.

__ADS_1


“Terbanglah Zhafirah…. Cinta itu bukan mengambil sesuatu dari yang kita cintai. Cinta bagi ku adalah memberikan apa yang bisa aku beri untuk orang yang aku cintai. I Love you, Naadhira Zhafirah. Jadilah penghuni surga walau bukan lewat pintu ridho ku, Zha….Mulai hari ini. Jadilah perempuan yang Bahagia Zha…. “ Ucap Arkha saat matanya mulai Lelah memandang wajah cantik yang hanya bermodalkan wudhu yang senantiasa dijaga bukan karena mahalnya skincare.


__ADS_2