
Tampak Arkha melambaikan tangannya kepada penjual kelapa muda. Anak muda itu pun berlarian ke arah Arkha dan Kembali lagi dengan membawa dua buah kelapa muda dilengkapi dengan penyedot.
Zhafirah meraih buah kelapa itu, ia menikmati segarnya air kelapa muda itu. Setela itu, ia pindahkan kelapa milik Arkha ke sisi kirinya. Ia beringsut dan Kembali bergelayut mesra di lengan Arkha. Berkali-kali Zhafirah melakukan hal itu, berkali-kali Arkha merinding. Rambut halus di punggungnya bahkan berdiri tanda merinding.
Zhafirah menempelkan kepalanya pada lengan Arkha. Aroma keringat dari kemeja putih Arkha membuat hati Zhafirah betul-betul menghangat.
“Harusnya Zha yang tanya, ada apa dengan mas? Kenapa tak cerita? Kalau mas tak mau cerita sesuatu. Zha juga tak akan cerita apapun. Yang jelas Zha mohon, jangan pernah ucapkan dan niatkan untuk menceraikan Zha. Aku terlanjur jatuh hati sama mas, aku terlanjur cinta mas… Jika ada pengadilan cinta, Maka tak tahu hukuman apa yang akan Zha dapatkan karena selama ini menganggap kalau Zha korban, padahal mas lebih menderita…” Zhafirah tak mampu meneruskan kalimatnya.
Ia baru bisa merasakan setiap ke cu pan yang Arkha berikan pada nya di setiap malam. Saat ia mulai tertidur. Itu adalah perjuangan bagi suaminya, ia mengira jika ia di zolimi karena tak mendapatkan hak nya untuk perkara kebutuhan bi o logis. Ternyata suaminya tersiksa karena menginginkan nya tetapi tak mampu melakukannya.
“Apa maksud mu Zha?” Tanya Arkha yang hanya menatap kosong kea rah satu keluarga yang begitu riang membuat istana pasir.
Satu tangan Zhafira menggenggam tangan Arkha.
“Tangan ini yang menolong Zha ketika Ibu dan Zha tersiksa karena Pak Tito. Tangan ini yang dihadapan wali hakim jika semua tanggungjawab ibu dan almarhum bapak berpindah ke mas, tangan ini yang setiap malam menyibak rambut Zha, tangan ini yang ingin Zha genggam untuk menua. Ada atau tak ada nya kehadiran seorang anak diantara kita, Izinkan Zha menua Bersama mas Arkha… Izinkan Zha meraih pahala dari tangan mu mas, melalui ridho mu… Mulai hari ini, pahit, manisnya kehidupan. Kita lalui Bersama.” Ucap Zha yang Kembali menitikkan air mata.
Entah berapa kali sudah rambu-rambut halus pada lengan, punggung Arkha berdiri karena penuturan Zhafirah.
“Aku bukan lelaki yang sempurna Zha…” Tenggorokan Arkha tercekat saat akan melanjutkan kalimatnya.
“Kata siapa? Selena? Tak ada manusia yang begitu sempurna tanpa celah, Mas Arkha suami yang sempurna bagi ku. Walau kesempurnaan hanya milik Allah. Maka itu kita di ciptakan berpasang-pasangan untuk saling melengkapi hingga menjadi satu kesatuan yang sempurna. Langit jika selalu terang, bagaimana para penikmat sepertiga malam akan bertemu kegiatan yang menjadi waktu doa pasti diijabah. Maka ada malam, agar ada waktu istirahat, ada waktu untuk berduaan dengan sang pencipta, entah itu berdzikir, entah itu membaca kalam-kalam indahnya, entah itu shalat tahajud dan memberikan waktu untuk keluarga bagi para pencari nafkah yang sudah bergelut dengan kerasnya dunia ketika semua berebut menghalalkan untuk mencari uang.” Ucap Zhafirah seraya memejamkan matanya.
__ADS_1
Ia begitu menikmati rasa yang ada, udara semilir angin pantai Anyer yang membuat ia begitu merasakan saat dimana yang tak pernah ia bayangkan.
“Kamu tidak akan Bahagia Zha…” Kembali Arkha dengan suara lirihnya.
“Kata siapa?” Tanya Zhafira yang mendongakkan kepalanya menatap dagu yang selalu terlihat licin itu.
“Aku tidak bisa memberikan sesuatu yang kamu butuhkan Zha…” Kembali suara Arkha terdengar lirih.
Jika tadi Zhafirah memeluk lengan Arkha. Kali ini ia memeluk pinggang Arkha. Dan Kembali Arkha merasakan sen sa si yang membuat ia merinding.
“Emangnya apa yang Zha butuhkan?” Tanya Zhafirah pada sang suami.
Arkha yang merasa lemah, ia menyandarkan kepalanya di kepala Zhafirah.
Hatinya sakit sekali, ia ingin membahagiakan Zhafirah, ia merasa beruntung memiliki istri Zhafirah. Tapi kekurangannya, ia khawatir akan menyiksa istrinya jika tetap Bersama. Namun berpisah pun ia merasa berat, tak ingin mengecewakan ibunya Kembali, membuat Arkha selama ini tak pernah bersikap kasar pada Zhafirah apalagi menceraikannya. Hal itu akan Kembali membuat Ibunya kecewa.
Zhafirah merapatkan kepalanya pada dada Arkha.
“Kemana Zha akan menemukan suami seperti mas, Mas adalah sosok ayah yang bisa Zha jadikan kebanggaan untuk anak-anak kita kelak. Bahwa mas adalah sosok anak yang begitu menyayangi mamanya.” Ucap Zhafirah, namun perempuan yang baru beberapa hari meraih gelas sarjana hukum itu mengigit bibir bawahnya. Ia baru sadar bahwa ia salah memilih kalimat.
Arkha Kembali melerai pelukan Zhafirah. Ia memandangi kedua mata yang selalu ada celak yang membuat ia bertambah cantik.
__ADS_1
“Lalu bagiamana jika kita tak bisa memiliki keturunan?” Ucap Arkha.
Zhafirah memberanikan memegang kedua pipi Arkha dengan tangannya yang terasa dingin.
“Kata siapa kita tak bisa punya keturunan?” Tanya Zhafirah seraya menatap dalam kedua netra sang suami.
“Aku… A….”
Satu jari telunjuk Zhafirah menutup bibir Arkha.
“Sssst…. Allah sedang memberikan cintanya pada mu mas, Allah bukan sedang memberikan mas penyakit, bukan sedang menyusahkan mas, atau ingin kita berpisah karena ujian ini. Allah sedang ingin melihat mas mendekat kepadanya, Sepandai-pandai mas selama empat tahun menutupi ujian yang mas hadapi seorang diri dari Zha. Hari ini Allah membuka tabirnya, karena Allah ingin juga menguji Zhafirah. Mana cita-cita ingin jadi perempuan sholehah? Maka saat ini bukan hanya mas yang di uji, tapi Zhafirah. Mari kita lewati ujian ini Bersama, saling menggenggam. Jika kita berpisah, kita lari dari cinta Allah. Allah mungkin rindu tangisan kita Bersama mas, tangisan yang mungkin mengetuk pintu rahmatnya Allah, tidak ada yang tidak mungkin mas. Kun Fayakun. Ayo mas, Allah sedang ingin memuliakan mas dan aku melalui ujian ini… Beri kesempatan Zha, mendapatkan kemuliaan dengan tetap menjadi istri dari Arkha Bagaskara. Bukan karena hartanya, ketampanan.” Zhafirah sudah berlinang air mata. Dawuh Umi Siti tentang Allah akan mengangkat derajat hamba nya kala manusia itu sendiri tidak lari dari ujian yang dihadapinya.
Kedua netra Zhafirah melihat air mata Arkha jatuh membasahi pipi. Ia usap dengan ibu jarinya. Bahkan lelaki itu mendongakkan kepalanya agar air mata itu tak jatuh. Namun kedua tangan Zhafirah menahan kepala Arkha. Ia usap butiran bening yang jatuh, ia tatap wajah Arkha. Bibir CEO Bagaskara itu yang dari tadi ia tahan untuk terbuka, Kembali membuat Zhafirah mengucapkan hal yang sama.
“Why… Why Zhafirah… I’m not perfect. I’m not…” Arkha tak mampu melanjutkan kalimatnya. Dadanya sesak, matanya perih karena air yang tak mampu ia cegah untuk jatuh di sudut matanya.
(Kenapa…. Kenapa Zhafirah… Aku tidak sempurna.. Aku…”
“Because,I’m Your Wife.” Ucap Zhafirah seraya menatap dalam kedua mata suaminya.
Zhafirah paham bahwa bukan hanya Arkha yang mempunyai tugas untuk menciptakan ketenangan, ketentraman dan kesejahteraan dalam rumah tangganya. Tetapi ia sebagai partner dalam hubungan rumah tangga itu juga harus ambil peran guna menggapai tujuan dalam setiap pernikahan yaitu sakinah, mawadah wa rahmah. Untuk menggapai tiga hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan, terlebih untuk pasangan yang dimana salah satunya jelas-jelas ada kekurangan seperti Arkha. Dimana zaman sekarang alasan kekurangan pasangan menjadi alasan untuk berselingkuh. Naudzubillah min dzalik.
__ADS_1
Kehidupan Zhafirah baru dimulai, kehidupan rumah tangga yang tak seindah novel, yang tak seindah drama korea dalam menjalani hari-harinya. Tetapi semua kehidupan yang tak indah itu tergantung yang menjalani nya. Ia akan setegar Zhafirah kah dalam mengolah rasa agar menjadi bahagia disaat orang lain mungkin akan merasa tersiksa.