
Arkha mengatakan jika ternyata Romi yang masih berada di Bagaskara Group memberikan kabar. Proposal yang ia buat bersama Romi untuk bekerjasama pengadaan barang untuk sebuah proyek, disetujui. Ia di minta menyiapkan kontrak perjanjian dengan perusahaan dari China tersebut.
Arkha begitu tak menyangka jika ia akan dengan mudah mengalahkan beberapa perusahaan yang telah lebih lama bergelut dalam pengadaan barang. Arkha sebagai pengusaha, ia sudah membayangkan keuntungan dengan kerjasama ini. Ia berpikir jika ini mungkin karena ia membahagiakan istri juga ibunya. Belum lagi janin yang kini berada dalam kandungan Zhafirah.
"Presentasi mas satu bulan lalu, direspon oleh perusahaan yang berasal dari China Zha. Alhamdulillah, besok mas sudah harus mengirimkan perjanjian kerjanya." Ucap Arkha dengan gembira.
"Alhamdulillah..... Kirain mas masih ingin menanam saham di Bagaskara." Jawab Zhafirah lega.
Beberapa bulan lalu, Romi sempat menawarkan Arkha untuk kembali menanamkan saham ke Bagaskara. Tetapi atas pertimbangan Zhafirah, Arkha menolak tawaran Romi. Ia khawatir jika Kembali bergelut dengan beberapa anak perusahaan yang menjurus ke riba. Kali ini, Arkha tak ingin Kembali mengotori rezeki untuk istri dan anaknya kelak.Ia akan mencari rezeki yang halal. Karena Bersama Zhafirah, ia banyak belajar dan mengingat kembali apa yang ia pelajari.
Hari demi hari berganti, Zhafirah dan Arkha telah mempersiapkan beberapa alat dan baju untuk calon bayi mereka. Dari hasil USG terakhir, bayi mereka di prediksi perempuan. Arkha mengatur jadwal kerjanya dengan sedemikian rupa. Karena satu bulan lagi, Zhafirah akan melahirkan. Maka ia pun memenuhi undangan untuk hadir di rapat Kerjasama dengan perusahaan yang ada di China.
“Mbak, nginep sekalian disini ya. Saya satu minggu pergi. Khawatir Zhafirah kalau malam Cuma bertiga sama mbak Reni.” Ucap Arkha.
Mbak Darmi pun mengatakan untuk meminta izin dulu kepada suaminya. Arkha mengizinkan asisten rumah tangganya untuk pulang agar bisa meminta izin. Sore nanti ia akan terbang ke negeri bamboo. Salah seorang caregiver yang Arkha kontrak untuk membantu merawat Bu Indira memang baru beberapa bulan bekerja. Reni, ia adalah cargiver yang di kontrak Arkha. Namun karena Reni masih berusia cukup muda, ia juga dikontrak hanya untuk merawat Bu Indira, maka Arkha lebih yakin jika istrinya Bersama Mbak Darmi.
“Zha, kalau ada apa-apa, beri kabar ya.” Ucap Arkha seraya menatap kopernya yang akan ia bawa nanti sore.
“Iya mas, Ada yang kurang?” Jawab Zhafirah singkat.
“Ada,” Goda Arkha seraya menatap wajah istrinya.
“Apa?”Tanya Zhafirah penasaran. Ia masih belum tahu jika suaminya sedang menggodanya.
Tiba-tiba Arkha menggendong Zhafirah.
“Kamu,.. Ada yang kurang seminggu yang akan datang, karena kamu tidak ada di sisi mas.” Ucap Arkha dengan setengah tertawa.
“Jangan nakal disana ya?” Seraya memencet hidung mancung Arkha, Zhafirah mengingatkan suaminya. Ia ingat terakhir kali suaminya pulang hampir jam sepuluh malam. Zhafirah bertanya kemana, dan ternyata ia memenuhi ajakan calon investornya untuk ke karoke. Alhasil, pulang dari tempat itu. Ia harus berterus terang pada istrinya. Karena istrinya merasa khawatir. Telepon dan pesannya tidak di baca oleh Arkha.
“Siap Bu. Besok akan laporan sama Ibu Zhafirah kalau akan bertemu klien ketempat yang aneh-aneh. Siap dihukum kalau nakal.” Ucap Arkha seraya memberi hormat kepada istrinya.
Sepasang suami istri itu masih menikmati waktu mereka berdua untuk bercanda dan berbincang. Setelah Mbak Darmi kembali kerumah, Arkha menghubungi taksi online. Ia pun berpamitan pada Bu Indira dan istrinya.
“Maaf ya mas ga bisa ikut antar ke bandara.” Zhafirah mengusap lengan suaminya yang sudah akan berjalan kea rah taksi.
Anak menantu dan ibu mertua itu masih diteras selepas kepergian Arkha. Bu Indira yang berbincang dengan Zhafirah. Ia sedikit tertegun ketika mendengar cerita Zhafirah, kalau nanti setelah melahirkan. Arkha mengajak mereka ke rumah yang sudah ia buatkan khusus untuk mereka.
“Alhamdulilah. Sungguh apa yang dikatakan oleh Bu Nyai Hj. Noor Khodijah Hasbullah, ‘Tirakatmu menentukan masa depan suamimu’. Dan Mama melihat Arkha bisa begitu cepat bangkit. Itu salah satunya karena tirakat mu Zha.” Ucap Bu Indira dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia begitu bersyukur karena Arkha memilih istri yang mau berjuang untuk rumah tangganya, ingin terus berbuat baik kepada ibu mertuanya juga suaminya, disaat susah ataupun senang. Bu Indira bisa melihat tirakat yang dilakukan Zhafirah. Dari shalat dhuha, tahajud, membaca Al-WAqiah di setiap pagi dan malam, surat yasin di setiap sebelum waktu maghrib. Padahal, Zhafirah melakukan itu bukan karena ingin meminta kekayaan, melainkan itu adalah kebiasaaan Zhafirah sewaktu di pondok pesantren dulu. Ia menjalani pesan Umi Siti. Jika tidak di pondok lagi, tetap amalkan apa yang biasa diamalkan di pondok pesantren. Dan tetap harus bersikap dan berakhlak baik. zhafirah juga masih menyempatkan mengaji. Kebiasaan Zhafirah yang masih menyempatkan diri hadir di pengajian saat ia justru sibuk dengan aktifitasnya kemarin, menularkan energi yang positif pada Bu Indira. Mbak Darmi bahkan Zhafirah temui saat berada di pengajian.
Dimana awal perjumpaan mereka, Bu Darmi yang merupakan jamaah majelis di komplek mereka. Setiap jumat siang, akan ada mejelis yang membaca kitab Al Barzanji. Mbak Darmi yang tak hadir sudah dua kali pertemuan, berita di dengar Zhafirah bahwa jamaahnya tersebut sedang kehilangan pekerjaan. Zhafirah yang datang ke kediaman Mbak Darmi melihat suaminya baru saja mengalami kecelakaan. Ia menceritakan di berhentikan dari bekerja sebagai buruh cuci karena suaminya kecelakaan dan tak bisa bekerja beberapa hari. Dan ketika sudah mau mulai bekerja walau terpaksa meninggalkan suaminya dirumah. Ia justru di pecat. Zhafirah yang merasakan iba menceritakan hal itu pada Arkha. Sungguh orang baik, akan dipertemukan dengan orang-orang baik.
__ADS_1
Zhafirah menatap Ibu mertuanya dengan satu tangan mengusap pinggangnya.
“Tapi ada rahmat Allah yang tercurah kepada Mas Arkha yang juga begitu lembut memperlakukan Mama sebagai perempuan yang telah melahirkan, membesarkannya. Dan Allah tidak pernah mengingkari janjinya. Mas Arkha memuliakan Zhafirah. Mas Arkha begitu lembut memperlakukan Zhafirah. Juga mau membimbing Zhafirah.” Ucap Zhafirah mengusap punggung tangan Bu Indira.
Delapan tahun menikah, Bu Indira bahkan tidak tahu jika Arkha pernah melalui masa-masa sulit. Ia dengan e r e k s I nya. Bu Indira tidak tahu jika anaknya diawal pernikahan menyakiti hati Zhafirah. Semua orang punya sisi baik dan buruk. Bu Indira, walau ia mungkin tak se sholehah perempuan lain. Tetapi ia selalu berdoa untuk anak satu-satunya. Ia selalu berdoa agar anaknya menjadi anak sholeh. Sungguh doa lansia itu dikabulkan saat ia sudah mulai menua. Sedari kecil, sampai Arkha menjadi anak balita hingga dewasa. Doa Bu Indira hanya satu. Semoga Arkha menjadi anak sholeh. Betapa lamanya Bu Indira mengetuk pintu untuk memiliki anak sholeh dengan kualitas ibadahnya apa adanya.
Disaat ia tak berdaya dengan ekonomi Arkha yang melemah, Zhafirah justru hadir untuk merawatnya seperti anak kandung sendiri. Jika Bu Indira menganggap tirakat Zhafirah sebagai seorang istri yang membuat Arkha mendapatkan kesuksesannya kembali. Zhafirah justru beranggapan jika suaminya yang sekarang jauh lebih baik dari dulu. Ia selalu melibatkan Allah untuk mengambil keputusan. Beberapa kali pengajuan kerjasama gagal, Arkha tak frustasi. Ia beranggapan itu adalah yang terbaik bagi Allah untuk dirinya.
“Doakan Zhafirah ya Ma, mudah-mudahan bisa terus menjadi istri yang membahagiakan mas Arkha.” Ucap Zhafirah.
“Setiap doa mama, untuk kebahagiaan kamu dan Arkha. Tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat nak.” Ucap Bu Indira.
Namun seketika Zhafirah mengernyitkan dahinya.
“Ada apa Zha?” Tanya Bu Indira.
“Sepertinya dia senang dengan doa neneknya.” Ucap Zhafirah seraya mengusap perutnya. Ia merasakan pergerakan janinnya. Bahkan Zhafirah memegang satu sisi yang menyembul. Entah itu sikut, atau kaki. Tapi Zhafirah merasakan bahagia karena buah hatinya begitu aktif di dalam perut.
“Sabar ya nak, tunggu papa Pulang kalau mau keluar.” Ucap Zhafirah yang berbicara pada janinnya.
“Iya, anak baik, anak sholeh. Besok kalau lahir nangis yang kencang ya nak. Biar nenek bisa dengar suara kamu…” Ucap Bu Indira.
Ia ingat kisahnya ketika melahirkan Arkha, putranya itu membuat panik Bidan. Karena ia lahir dan tidak menangis.
Arkha mengatakan jika ternyata Romi yang masih berada di Bagaskara Group memberikan kabar. Proposal yang ia buat bersama Romi untuk bekerjasama pengadaan barang untuk sebuah proyek, disetujui. Ia di minta menyiapkan kontrak perjanjian dengan perusahaan dari China tersebut.
Arkha begitu tak menyangka jika ia akan dengan mudah mengalahkan beberapa perusahaan yang telah lebih lama bergelut dalam pengadaan barang. Arkha sebagai pengusaha, ia sudah membayangkan keuntungan dengan kerjasama ini. Ia berpikir jika ini mungkin karena ia membahagiakan istri juga ibunya. Belum lagi janin yang kini berada dalam kandungan Zhafirah.
"Presentasi mas satu bulan lalu, direspon oleh perusahaan yang berasal dari China Zha. Alhamdulillah, besok mas sudah harus mengirimkan perjanjian kerjanya." Ucap Arkha dengan gembira.
"Alhamdulillah..... Kirain mas masih ingin menanam saham di Bagaskara." Jawab Zhafirah lega.
Beberapa bulan lalu, Romi sempat menawarkan Arkha untuk kembali menanamkan saham ke Bagaskara. Tetapi atas pertimbangan Zhafirah, Arkha menolak tawaran Romi. Ia khawatir jika Kembali bergelut dengan beberapa anak perusahaan yang menjurus ke riba. Kali ini, Arkha tak ingin Kembali mengotori rezeki untuk istri dan anaknya kelak.Ia akan mencari rezeki yang halal. Karena Bersama Zhafirah, ia banyak belajar dan mengingat kembali apa yang ia pelajari.
Hari demi hari berganti, Zhafirah dan Arkha telah mempersiapkan beberapa alat dan baju untuk calon bayi mereka. Dari hasil USG terakhir, bayi mereka di prediksi perempuan. Arkha mengatur jadwal kerjanya dengan sedemikian rupa. Karena satu bulan lagi, Zhafirah akan melahirkan. Maka ia pun memenuhi undangan untuk hadir di rapat Kerjasama dengan perusahaan yang ada di China.
“Mbak, nginep sekalian disini ya. Saya satu minggu pergi. Khawatir Zhafirah kalau malam Cuma bertiga sama mbak Reni.” Ucap Arkha.
Mbak Darmi pun mengatakan untuk meminta izin dulu kepada suaminya. Arkha mengizinkan asisten rumah tangganya untuk pulang agar bisa meminta izin. Sore nanti ia akan terbang ke negeri bamboo. Salah seorang caregiver yang Arkha kontrak untuk membantu merawat Bu Indira memang baru beberapa bulan bekerja. Reni, ia adalah cargiver yang di kontrak Arkha. Namun karena Reni masih berusia cukup muda, ia juga dikontrak hanya untuk merawat Bu Indira, maka Arkha lebih yakin jika istrinya Bersama Mbak Darmi.
“Zha, kalau ada apa-apa, beri kabar ya.” Ucap Arkha seraya menatap kopernya yang akan ia bawa nanti sore.
“Iya mas, Ada yang kurang?” Jawab Zhafirah singkat.
__ADS_1
“Ada,” Goda Arkha seraya menatap wajah istrinya.
“Apa?”Tanya Zhafirah penasaran. Ia masih belum tahu jika suaminya sedang menggodanya.
Tiba-tiba Arkha menggendong Zhafirah.
“Kamu,.. Ada yang kurang seminggu yang akan datang, karena kamu tidak ada di sisi mas.” Ucap Arkha dengan setengah tertawa.
“Jangan nakal disana ya?” Seraya memencet hidung mancung Arkha, Zhafirah mengingatkan suaminya. Ia ingat terakhir kali suaminya pulang hampir jam sepuluh malam. Zhafirah bertanya kemana, dan ternyata ia memenuhi ajakan calon investornya untuk ke karoke. Alhasil, pulang dari tempat itu. Ia harus berterus terang pada istrinya. Karena istrinya merasa khawatir. Telepon dan pesannya tidak di baca oleh Arkha.
“Siap Bu. Besok akan laporan sama Ibu Zhafirah kalau akan bertemu klien ketempat yang aneh-aneh. Siap dihukum kalau nakal.” Ucap Arkha seraya memberi hormat kepada istrinya.
Sepasang suami istri itu masih menikmati waktu mereka berdua untuk bercanda dan berbincang. Setelah Mbak Darmi kembali kerumah, Arkha menghubungi taksi online. Ia pun berpamitan pada Bu Indira dan istrinya.
“Maaf ya mas ga bisa ikut antar ke bandara.” Zhafirah mengusap lengan suaminya yang sudah akan berjalan kea rah taksi.
Anak menantu dan ibu mertua itu masih diteras selepas kepergian Arkha. Bu Indira yang berbincang dengan Zhafirah. Ia sedikit tertegun ketika mendengar cerita Zhafirah, kalau nanti setelah melahirkan. Arkha mengajak mereka ke rumah yang sudah ia buatkan khusus untuk mereka.
“Alhamdulilah. Sungguh apa yang dikatakan oleh Bu Nyai Hj. Noor Khodijah Hasbullah, ‘Tirakatmu menentukan masa depan suamimu’. Dan Mama melihat Arkha bisa begitu cepat bangkit. Itu salah satunya karena tirakat mu Zha.” Ucap Bu Indira dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia begitu bersyukur karena Arkha memilih istri yang mau berjuang untuk rumah tangganya, ingin terus berbuat baik kepada ibu mertuanya juga suaminya, disaat susah ataupun senang. Bu Indira bisa melihat tirakat yang dilakukan Zhafirah. Dari shalat dhuha, tahajud, membaca Al-WAqiah di setiap pagi dan malam, surat yasin di setiap sebelum waktu maghrib. Padahal, Zhafirah melakukan itu bukan karena ingin meminta kekayaan, melainkan itu adalah kebiasaaan Zhafirah sewaktu di pondok pesantren dulu. Ia menjalani pesan Umi Siti. Jika tidak di pondok lagi, tetap amalkan apa yang biasa diamalkan di pondok pesantren. Dan tetap harus bersikap dan berakhlak baik. zhafirah juga masih menyempatkan mengaji. Kebiasaan Zhafirah yang masih menyempatkan diri hadir di pengajian saat ia justru sibuk dengan aktifitasnya kemarin, menularkan energi yang positif pada Bu Indira. Mbak Darmi bahkan Zhafirah temui saat berada di pengajian.
Dimana awal perjumpaan mereka, Bu Darmi yang merupakan jamaah majelis di komplek mereka. Setiap jumat siang, akan ada mejelis yang membaca kitab Al Barzanji. Mbak Darmi yang tak hadir sudah dua kali pertemuan, berita di dengar Zhafirah bahwa jamaahnya tersebut sedang kehilangan pekerjaan. Zhafirah yang datang ke kediaman Mbak Darmi melihat suaminya baru saja mengalami kecelakaan. Ia menceritakan di berhentikan dari bekerja sebagai buruh cuci karena suaminya kecelakaan dan tak bisa bekerja beberapa hari. Dan ketika sudah mau mulai bekerja walau terpaksa meninggalkan suaminya dirumah. Ia justru di pecat. Zhafirah yang merasakan iba menceritakan hal itu pada Arkha. Sungguh orang baik, akan dipertemukan dengan orang-orang baik.
Zhafirah menatap Ibu mertuanya dengan satu tangan mengusap pinggangnya.
“Tapi ada rahmat Allah yang tercurah kepada Mas Arkha yang juga begitu lembut memperlakukan Mama sebagai perempuan yang telah melahirkan, membesarkannya. Dan Allah tidak pernah mengingkari janjinya. Mas Arkha memuliakan Zhafirah. Mas Arkha begitu lembut memperlakukan Zhafirah. Juga mau membimbing Zhafirah.” Ucap Zhafirah mengusap punggung tangan Bu Indira.
Delapan tahun menikah, Bu Indira bahkan tidak tahu jika Arkha pernah melalui masa-masa sulit. Ia dengan e r e k s I nya. Bu Indira tidak tahu jika anaknya diawal pernikahan menyakiti hati Zhafirah. Semua orang punya sisi baik dan buruk. Bu Indira, walau ia mungkin tak se sholehah perempuan lain. Tetapi ia selalu berdoa untuk anak satu-satunya. Ia selalu berdoa agar anaknya menjadi anak sholeh. Sungguh doa lansia itu dikabulkan saat ia sudah mulai menua. Sedari kecil, sampai Arkha menjadi anak balita hingga dewasa. Doa Bu Indira hanya satu. Semoga Arkha menjadi anak sholeh. Betapa lamanya Bu Indira mengetuk pintu untuk memiliki anak sholeh dengan kualitas ibadahnya apa adanya.
Disaat ia tak berdaya dengan ekonomi Arkha yang melemah, Zhafirah justru hadir untuk merawatnya seperti anak kandung sendiri. Jika Bu Indira menganggap tirakat Zhafirah sebagai seorang istri yang membuat Arkha mendapatkan kesuksesannya kembali. Zhafirah justru beranggapan jika suaminya yang sekarang jauh lebih baik dari dulu. Ia selalu melibatkan Allah untuk mengambil keputusan. Beberapa kali pengajuan kerjasama gagal, Arkha tak frustasi. Ia beranggapan itu adalah yang terbaik bagi Allah untuk dirinya.
“Doakan Zhafirah ya Ma, mudah-mudahan bisa terus menjadi istri yang membahagiakan mas Arkha.” Ucap Zhafirah.
“Setiap doa mama, untuk kebahagiaan kamu dan Arkha. Tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat nak.” Ucap Bu Indira.
Namun seketika Zhafirah mengernyitkan dahinya.
“Ada apa Zha?” Tanya Bu Indira.
“Sepertinya dia senang dengan doa neneknya.” Ucap Zhafirah seraya mengusap perutnya. Ia merasakan pergerakan janinnya. Bahkan Zhafirah memegang satu sisi yang menyembul. Entah itu sikut, atau kaki. Tapi Zhafirah merasakan bahagia karena buah hatinya begitu aktif di dalam perut.
“Sabar ya nak, tunggu papa Pulang kalau mau keluar.” Ucap Zhafirah yang berbicara pada janinnya.
__ADS_1
“Iya, anak baik, anak sholeh. Besok kalau lahir nangis yang kencang ya nak. Biar nenek bisa dengar suara kamu…” Ucap Bu Indira.
Ia ingat kisahnya ketika melahirkan Arkha, putranya itu membuat panik Bidan. Karena ia lahir dan tidak menangis.