
Jalanan ke arah Desa Kali Bening cukup ramai. Semenjak masuk ke kecamatan Kali Bening, mobil yang di kemudikan oleh Sopir Arkha sedikit menurunkan kecepatannya. Tampak banyak mobil yang mengangkut Jama'ah pengajian yang akan menghadiri puncak acara Safari Maulid di ponpes Kali Bening itu.
Arkha bahkan menoleh ke arah kiri, ia melihat ibu-ibu yang mengenakan seragam duduk di bagian belakang mobil L300. Bahkan tampak beberapa diantara mereka membawa balita.
"Ckckck.... semangatnya ya Zha. Sampai anak dibawa gitu. Gimana kalau hujan ya?" Tanya Arkha pada istrinya tanpa melihat ke arah sang istri.
Zhafirah yang duduk tepat di belakang Arkha pun, ikut melihat pemandangan di sisi kiri mereka.
"Biasa itu Mas. Jangan heran kalau lihat ibu-ibu bisa seperti itu. Mereka semangat, pemandangan seperti ini jarang ada di luar negeri. Di Arab sekalipun, kata temen yang sempet belajar disana." Ucap Zhafirah yang melihat ibu-ibu di dalam bak mobil. ada yang berdiri dan ada yang duduk. Tampak mereka begitu semangat menghadiri acara tersebut.
"Memangnya kamu dulu juga sering begitu?" Tanya Arkha.
Zhafirah mengenang saat-saat ia dulu belajar di pondok pesantren Kali Bening. Yang terdapat kurang lebih 1000 santri baik yang laki-laki maupun perempuan. Kebetulan ia berada di bawah bimbingan Umi Siti. Ia juga menjadi abdi ndalem di kediaman Umi Siti selama beberapa tahun.
"Sering, kebetulan Zha kan jadi santri abdi ndalem nya Umi Siti. Kebetulan itu Umi Siti punya bungsu namanya Ning Binti. Zha sering ikut Umi karena Ning Binti itu dulu ASI. Jadi jarang sih ngerasain kayak ibu-ibu itu, naik mobil bak terbuka." Kenang Zhafirah.
"Wah enak dong Zha, spesial." Kata Arkh cepat.
"Ya tergantung, kadang santri-santri mikirnya enak jadi santri ndalem. Bisa iya bisa enggak, tergantung niatnya kita selama jadi santri ndalem." Ucap Zhafirah menanggapi komentar Arkha yang memang sering ia dengar dulu.
Karena jika mereka yang memandang hanya dari enaknya santri ndalem ketika Kyai atau Bu Nyai kemana-mana, mereka ikut serta. Hal itu tentu berlaku seperti Zhafirah dan Istilah SK atau sopir Kyai. Akan tetapi ada hal yang disadari oleh orang-orang bahwa untuk menjadi santri ndalem harus memiliki tanggungjawab yang baik terhadap tugas yang diberikan tentu saja tidak malas.
"Memangnya untuk jadi santri ndalem itu daftar atau di pili, Zha?" Tanya Arkha.
__ADS_1
"Kalau di Kali Bening sih ada dua mas. Bisa santri itu menawarkan diri secara langsung atau di tunjuk langsung oleh pengasuh." Jawab Zhafirah Ia menatap putrinya yang terlelap di pangkuannya.
"Kalau mas boleh menebak, Istri mas ini dulu menawarkan diri menjadi abdi ndalem?" Tebak Arkha seraya menoleh ke belakang.
"100 persen betul." Jawab Zhafirah mengangkat satu jempolnya.
Dian yang daritadi menikmati kehangatan keluarga Zhafirah. Ia beruntung bisa bekerja menjadi Baby sitter Annisa. Karena baru kali ini ia bekerja namun melihat suami istri yang malah rebutan untuk bersama buah hatinya. Dian betul-betul merasakan jika ia hanya membantu merawat Annisa bukan full merawat Annisa. Seperti saat ini, ia yang baby sitter duduk santai. Namun Zhafirah lebih memilih memeluk buah hatinya. Kehadiran Dian memang lebih sering merawat Annisa ketika Zhafirah dan Arkha sibuk, atau saat Zhafirah tak dirumah. Maka jika ibu satu anak itu ada dirumah, ia akan mengambil alih merawat buah hatinya.
Hal itu bukan tanpa sebab, hampir 3 tahun bersama si kecil Binti, putri Umi Siti membuat Zhafirah belajar banyak hal, untuk menjadi ibu yang baik. Ia bersyukur dulu pernah menawarkan diri menjadi abdi ndalem. Niat hati ingin mengisi waktu luang, namun yang paling utama mengharapkan barokah dari pengasuh. Betul saja, pengalaman menjadi abdi ndalem membuat Zhafirah mendapatkan bekal dirinya dalam menjalani kehidupan nyatanya saat berumahtangga dengan Arkha.
"Memang ga capek Zha dulu? belajar, sekolah terus jadi abdi ndalem?" Tanya Arkha.
"Capek fisiknya ia sih mas. Tapi terasa nikmat karena bisa banyak belajar langsung dari keseharian Umi dan Abi. Tapi itu kan ada beberapa abdi ndalemnya di Umi Siti. Seperti Zha, dulu kalau urusan Ning Binti dan juga laden kalau ada tamu, itu sama Mbak Sekar." Jawab Zhafirah.
'Apakabar kamu mbak, kenapa kamu bak ditelan bumi....' Ucap Zhafirah dalam hatinya.
Arkha melirik Zhafirah dari arah spion.
"Ada apa Zha?" Tanya Arkha.
"Kangen temen, namanya Mbak Sekar. Dulu ada satu temen waktu mondok. Sekarang ga ada kabar. Semenjak menikah, beliau ga aktif sekalipun di medsos." Ucap Zhafirah.
"Siapa tahu nanti hadir." Komentar Arkha.
__ADS_1
Zhafirah berharap bisa bertemu teman-teman lama. Ia juga sudah rindu sekali aroma khas parfum di pesantren. Apalagi aroma Bukhur yang akan begitu semerbak ketika ada acara Maulid. Belum lagi setiap sudut tempat yang sering ia jadikan pelipur rindu pada ibunya, atau tempat-tempat mlipir* jika sedang berjalan namun berpapasan dengan santri laki-laki. Tanpa Zhafirah sadari, sudut bibirnya tertarik. Hal itu membuat Arkha ikut tersenyum.
'Zha, Zha. Istri-istri orang healingnya ke tempat makan, mall, atau wisata alam. Kamu diajak ke acara seperti ini semangat, bahagia. Bahagiain kamu itu mudah banget, ga semudah kamu berjuang untuk aku bisa bahagia seperti ini.... ' Batin Arkha.
Tak terasa hampir satu jam setengah, mereka tiba di area parkir. Dian berjalan di sisi Zhafirah seraya mendorong stroller bayi milik Annisa. Sedangkan Zhafirah mengampit lengan Arkha. Mereka berjalan cukup jauh, karena tiba setelah Ba'da Maghrib.
"Nanti biasanya di pisah yang perempuan sama lelaki, Mas. Nanti pulangnya kami tunggu di tugu ini aja ya." Ucap Zhafirah. Ia khawatir nanti ketika akan pulang bingung mencari keberadaan Zhafirah.
Arkha sudah merasa khawatir.
"Aduh, ga bisa bareng aja ya Zha?" Tanya Arkha.
Zhafirah tertawa, dan setengah mencubit lengan suaminya.
"Tenang aja mas. Istrimu dulu tinggal di sini selama 7 tahun. Jadi ga mungkin hilang, kesasar atau diapa-apain orang." Ucap Zhafirah.
Arkha menepuk jidatnya.
"Lupa... kalau Ummu Annisa pulang ke Zona aman dan nyamannya." Ucap Arkha.
Baru akan memasuki gerbang, namun Arkha dan Zhafirah justru di sambut oleh seseorang.
"Mbak Zhafirah.... "
__ADS_1
(Di inget nama Sekar Ayu Gumiwang ya. Otw launching tgl 1 Mei besok. Judulnya masih rahasia. Pokoke ga bisa jauh-jauh dari Umi Laila dan Abi Rohim.)