
"Zha, kalau lelah tetirah. Bukan menyerah. Kalau ingin cerita, Umi bisa jadi tempat mu bercerita. Apa kamu lebih nyaman curhat di media sosial daripada sama Umi. Apa Umi ndak kamu anggap guru lagi?" Tanya Umi Siti yang Sudah memiliki tiga anak.
Zhafirah adalah abdi ndalem Umi Siti. Ia sering melihat bagaimana sang guru diawal-awal menikah, sering menangis. Merasa tak bahagia. Merasa kecewa karena dijodohkan dengan Gus Furqon. Namun 6 tahun sering menemani Umi Siti dan Umi Laila. Zhafirah banyak belajar tentang arti sabar dan tawakal.
"Nduk..... " Ucap Umi Siti lagi kala tangis Zhafirah kian deras. Karena air mata perempuan yang baru hampir empat bulan menjadi istri Arkha itu menitikkan air matanya.
"Umi... Umi... maafkan Zha. Zhafirah tidak kuat. Zhafirah akan memalukan umi sebagai santri. Zhafirah ingin bercerai Umi.... Zhafirah ndak mampu Umi.... " Ucap Zhafirah lirih. Ia menangis dengan begitu pilu.
Umi Siti melirik ke arah satu santri yang juga mengenal Zhafirah. Santri tersebut mendekat dan mengambil putri bungsu Umi Siti dari pelukan sang guru.
"Nduk... Adiknya diajak keluar dulu. Nanti kalau ada yang nyari. Suruh tunggu di Gazebo nggeh." Ucap Siti yang sudah ada janji dengan beberapa irmas siang itu.
Umi Siti beringsut. Ia duduk tepat disisi Zhafirah. Ia merangkul santrinya.
"Kemana Zhafirah yang dulu begitu bersemangat tholabul ilmi. Kemana Zhafirah yang dulu tak menyerah dengan keadaan." Ucap Umi Siti seraya mengusap lengan Zhafirah.
Istri Gus Furqon tersebut bisa mendengar tangis santrinya yang memilukan bahkan berusaha untuk tidak di ungkapkan.
"Ceritakan Nduk. Jangan sampai kamu cerita pada tempat yang salah. Masalah rumah tangga?" Tanya Umi Siti.
Zhafirah mengangguk dalam keadaan tertunduk.
"Namanya rumah tangga ya pasti ada masalahnya. Nikah itu bukan menyelesaikan masalah. Tapi pinda dari masalah lain ke satu masalah. Tapi di sana banyak ibadah. Senyum tok sama suami wes ibadah, pahala. Apalagi melayani suami dengan baik." Ucap Umi Siti.
Zhafirah tampak sesenggukan. Empat bulan ia telan pil pahit pernikahan nya dengan Arkha. Kali ini ia tak mampu. Ia ingin berpisah. Suaminya betul-betul Dzolim pada dirinya.Itu yang Zhafirah pikirkan.
__ADS_1
"Saya diselingkuhin Mi. saki....sekali. Saya ingin berpisah Umi. Saya ndak bahagia. Saya di dzolimi.... Hiks.... " Suara Zhafirah meluncur begitu pelan. Dadanya sesak sekali mengucapkan isi hatinya. Tetapi ia tak mau rasa di hati menjadi bom waktu. Ia butuh gurunya untuk meminta pendapat.
"Apa kamu pikir kamu akan bahagia jika bercerai?" Ucap Umi Siti.
Zhafirah mengangguk.
"Nduk.... Kok ya kamu sudah mau menjadi Tuhan. Lah dulu kamu menikah pasti juga berpikir akan bahagia toh?" Ucap Umi Siti.
Zhafirah hanya diam. Ia hanya memandang lantai di hadapannya.
"Zhafirah, jika kita sudah mengoreksi diri kita. Tak ada kekurangan kita dalam menjalankan peran sebagai seorang istri. Dan suami mendzolimi. Berarti kamu ingin cerai karena merasa tersakiti? Terdzolimi?"
Tanya Umi siti lagi.
Tampak Zhafirah mengangguk pelan.
"Kamu ndak percaya rahmatNya Gusti Allah Nduk?" Ucap Umi Siti.
Menantu Pertama Kyai Rohim itu mengangkat dagu santrinya. Ia hapus air mata di pipi sang istri.
"Umi tanya. Apakah kamu berharap setelah bercerai dengan suami mu. Lalu kamu akan bertemu jodoh yang ideal di mata mu. Lalu kamu bahagia?" Ucap Umi Siti.
Kedua netra Zhafirah tak berani memandang wajah gurunya.
"Kamu bisa jamin jika menikah lagi lalu suami mu tak selingkuh?" Tanya Umi Siti.
__ADS_1
Zhafirah terdiam. Ia tahu jawabannya. Tidak bisa, tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan terjadi di masa depan selain Allah.
"Nduk, jadikan amalmu. Kamu sebagian hambanya Allah. Jadilah mukminat, harus sabar sama ketentuan Allah. Kalau kamu bersabar, Pahala menantimu. Apa bedanya dizalimi orang lain dan suami. Kamu bisa sabar saat baju mu hilang, pasta gigi mu habis dipakai teman-teman mu. Apa bedanya dengan di dzolimi suami mu. Kamu tamak namanya jika kamu berpikir kamu akan bahagia jika bercerai dan berharap hidup bahagia setelah menikah. Cerai itu yang dibenci Allah. Barangkali, kamu belum mengenal siapa suami mu. Apa yang membuat dia tak menyakiti kamu. Kalian baru empat bulan. Gus Furqon e dulu hampir satu tahun memenangkan hati Umi. Kamu tahu kan ceritanya dulu?" Ucap Umi Siti seraya mengenang masa lalunya.
Ia menikah dengan lelaki yang begitu sabar. Karena begitu dewasa menghadapi sikap datar sang istri. Zhafirah bisa mengingat jika ia selalu diminta Umi Siti jangan pergi dari ruangan itu ketika sang suami tiba. Namun semua baru Zhafirah tahu ketika cinta diantara Gus dan Bu Nyainya tumbuh. Karena ia adalah saksi bagaimana romantisnya Gus dan Umi nya kala cinta hadir di hati Umi Siti.
Zhafirah mengangguk pelan.
"Kamu itu bisa jadi orang baik karena di dzalimi suami mu. Nikmati dulu sampai mana titik terakhir kamu berusaha mempertahankan pernikahan kamu. Sekarang cuma satu orang yang menzolimi mu. Tapi nanti kalau kamu nikah lagi. Terus di zholimi lagi. Jadi dua orang. Sudah bertahan dan berjuang dulu. Ndak ikut-ikut tren. Dikit-dikit cerai. Alasannya pelakor. Lah buktikan e, kualitas santri ne Umi ini. Masa di media online ceritanya, istri sah gugat suami. Minta cerai karena selingkuh. Mbok sekali-sekali, pelakor ituloh yang dibuat nangis. Atau suami yang menyesal dan akhirnya bahagia sama istri sah." Ucap Umi Siti.
"Tapi suami saya bukan lagi mendekati Zina Mi.... " Ucap Zhafirah.
"Kata siapa? Kamu ada saksi? Untuk mengatakan atau menuduh pasangan kita zina itu harus ada 4 saksi Zha. Kamu punya saksinya?" Tanya Umi Siti.
Zhafirah terdiam. Entah kemana rasa ingin bercerai dari Arkha. Ada ketenangan dalam hatinya saat sudah mencurahkan rasa sesak di hati.
"Hati-hati, setan itu ada yang ditugaskan untuk menggangu hubungan suami istri loh Zha.Kalau kamu ga lihat sendiri, ga ada empat saksi. Ya kamu ga bisa menuduh suami mu Zina." Ucap Umi Siti.
Zhafirah terdiam. Ia pun mengingat kejadian si Seoul. Ia memang tak melihat dan tak punya saksi.
"Bersabarlah Nduk. Baru seumur jagung Zhafirah. Masa' sudah mau menyerah. Coba jadilah istri yang seperti diinginkan suami. Dari pakaian, penampilan. Tingkah laku. Asal.... Tidak melanggar syariat dan menduakan Allah. Kasih waktu untuk rahmat Allah itu hadir di rumah tangga mu Zha. Itu perlu usaha. Kita loh, Allah ga perlu kita. Kita yang perlu Allah. Allah sedang ingin mendengar suara tangis mu Zha. Sedang memanggil-manggil nama mu untuk berduaan di sepertiganya malam. Di setiap dzikir yang kamu lafadzkan. Nikmat kan ibadah kalau lagi ada masalah? Manfaatin moment itu. jangan malah lari.... Udah ah jangan nangis terus. Ayo, ayo.. Semangat. Umi akan ada untuk ikut mendoakan kamu agar diberikan kekuatan. Masa' cari bahagia di dunia lebih milih cerai. Berjuang dulu dong Zha untuk tidak melakukan hal yang tidak Allah sukai." Ucap Umi Siti seraya memeluk santrinya.
Bagaimana tak terasa ringan setiap langkah seorang santri saat ada cinta di hati guru untuk dirinya. Pulang dari Kali Bening. Zhafirah terpekur di dalam mobil.
"Ya Allah.... maafkan hamba yang sibuk ingin dicintai sama hambamu. Padahal Engkau punya banyak cinta untuk ku. Maafkan hamba yang sibuk mengejar cinta Mas Arkha. Terserah mas Arkha deh. Mungkin Umi Siti betul. Aku belum menjadi istri yang ideal bagi suami ku. Bagaimana aku menuntut dia ideal di mataku." Ucap Zhafirah dalam hatinya.
__ADS_1
Hari itu menjadi titik balik perjuangan Zhafirah menjalani rumah tangganya bersama Arkha. ia menikmati malam-malam dinginnya dengan hangatnya air mata di sepertiga malam.
"Ya Allah.... n1kmat sekali malam-malam ku saat hati ini di zholimi." Ucap Zhafirah seraya memeluk Al Qur'an yang baru saja ia baca seraya terus meneteskan air mata.